Happy reading 🤗😍😘
Mobil yang dikendarai Albert sudah tiba di rumah Alice.
"Terima kasih ya Albert, kamu sudah mengantarkan saya," tutur Adrian yang hendak turun dari mobil.
"Sama-sama Pak, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Raymond, jika ingin berterima kasih, ucapkanlah padanya," jawab Albert sambil membuka central lock mobilnya agar Adrian bisa keluar.
Adrian keluar dari mobil dan memasuki halaman rumahnya, langkahnya begitu bahagia terlihat dari senyuman yang merekah pada wajahnya.
"Akhirnya aku sudah bebas, semua pasti berkat Alice, dia pasti sudah menemui Tuan Raymond, hingga ia membebaskan aku," gumam Adrian yang begitu tak menyangka akan bisa bebas secepat ini.
Adrian sudah berdiri di depan pintu. Tangannya mulai mengetuk pintu rumahnya. Ia sudah tak sabar untuk melepas rindu dengan Norin yang begitu sangat ia rindukan.
Tak berapa lama, saat pintu terbuka. Norin terperangah, ia tak mempercayai apa yang saat ini ditangkap oleh kedua bola matanya, Norin tersingkap bahagia, terlihat dari senyum yang merekah di wajahnya, air mata mulai bergelayut di kedua sudut matanya. Norin langsung mendekap tubuh suaminya dengan begitu erat, ia tak kuasa lagi menahan air matanya dan menangis sesenggukan.
"Sudah, sudah, jangan menangis lagi, sekarang aku sudah pulang, kita tidak akan pernah jauh lagi," tutur Adrian sambil mengusap punggung Norin untuk menenangkannya.
Suara tangisan Norin, membuat Alice yang sedang berada di ruang keluarga bergeming, ia mengikuti arah suara yang terdengar dari arah pintu depan rumahnya.
Alice bergegas menghampiri untuk melihat, namun di saat rasa cemasnya melanda, sekejap semua sirna seketika ia melihat Ayahnya sudah berada di rumah sedang memeluk Norin dengan penuh haru. Alice terkejut tak menyangka, bahwa apa yang disampaikan kepada Tuan Raymond ternyata benar adanya, kini Ayahnya sudah bebas dari penjara.
Penjara yang membuat Alice tidak bisa menyentuh atau bahkan memeluk Ayahnya, walau ia sangat ingin melepas rindunya.
"Ayah, aku bahagia, Ayah sudah pulang," ucap Alice sambil berlari memeluk Ayahnya yang sudah melepas pelukan Norin.
Mereka bertiga akhirnya melangkah bahagia menuju ruang keluarga.
🍁🍁🍁
Keesokan harinya.
Tepat jam 10 pagi, mobil mewah Raymond sudah keluar dari halaman rumah.
"Elliot untuk meeting hari ini aku ingin semua di tiadakan!" titah Raymond yang sudah duduk nyaman di kursi belakang mobilnya seperti biasa.
"Baik Tuan," jawab Elliot.
Mobil terus melaju membelah lalu lintas London yang hari itu masih terlihat renggang.
"Albert, setelah sampai di restoran Alice, segera ambilkan saya proposal kerjasama ke kantor Charles yang tidak jauh dari tempat restoran itu!" titah Raymond memicingkan senyumnya.
"Baik, Tuan," jawab Albert, namun ia merasa heran karena tugas seperti ini baru pertama kali ia diperintahkan.
"Jalan kaki, jangan gunakan mobil, mobil tetap tinggal di restoran, itu hukuman yang kemarin tertunda, kamu mengerti!" titah Raymond dengan suara arogannya.
Wajah Albert berubah pucat.
"Baik, Tuan," jawab Albert dengan terbata.
Lagi-lagi terjadi lagi, nasib, nasib.
Elliot memasang wajah datar mendengarnya.
"Lakukanlah dengan riang jangan menggerutu saja Albert," sindir Elliot yang melihat mulut Albert terlihat komat komit.
"Baik Tuan, apapun perintah Tuan Raymond saya akan lakukan," sanggah Albert walau berbeda dengan apa yang dirasakannya.
"Bagus kalau begitu," sahut Elliot mengakhiri ucapannya.
Mobil berhenti tepat di parkiran restoran. Elliot turun dari mobil, diikuti oleh Raymond yang sudah dibukakan pintu oleh Albert. Albert lalu memberikan kunci mobilnya kepada Elliot dan ia segera menuju Kantor Charles untuk melaksanakan perintah Raymond.
Raymond memasuki restoran, semua pelayan terlihat menghormati kedatangan Raymond, mereka sedikit membungkuk lalu memberikan salam kepada para tamu yang datang.
Raymond mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran. Memang tempat ini kelihatan sangat rapi, bersih dan tertata dengan baik, berbeda ketika melihatnya dari luar yang kelihatan biasa saja.
"Restoran ini sangat baik pelayanannya," ujar Raymond kepada Elliot.
"Iya Tuan, memang menurut data yang saya kumpulkan, restoran ini sudah mendapatkan beberapa penghargaan untuk segi pelayanannya dan kualitas masakannya," tutur Elliot memberitahu.
Elliot menanyakan tempat yang sudah ia booking sebelum datang ke restoran kepada pelayan, pelayan pun mengantarkannya menuju tempat VIP yang Elliot maksudkan.
Raymond menjadi perhatian pengunjung restoran yang lainnya, karena stelan jasnya yang sangat rapi berbeda dengan pengunjung lain, ia terlihat sangat memukau membuat banyak pengunjung wanita menjadi terkesima melihatnya.
Raymond dan Elliot sudah duduk di kursinya.
"Selamat pagi Tuan, ini menu yang tersedia di restoran ini," ujar Gladys menyodorkan daftar menu kepada Raymond dan Elliot.
"Saya hanya ingin memesan langsung kepada Manager restoran ini," pinta Raymond dengan suara arogannya.
"Iya tolong panggilkan Manager restoran ini bilang Tuan Raymond ingin menemuinya," timpal Elliot menambahkan.
Gladys langsung berlalu dengan membungkukkan sedikit tubuhnya untuk permisi kepada Raymond.
Gladys menghampiri Jenny dengan tergopoh-gopoh.
"Nona Jenn, ada yang mencari Bu Alice, katanya ingin bertemu, kedua Pria itu hanya ingin Bu Alice yang melayani pesanannya, namanya Pak Raymond," tutur Gladys dengan napas terengah.
Jenny menoleh heran melihat Gladys yang kelihatan lelah karena sedikit berlari.
"Baik, aku akan panggilkan Alice, kamu silahkan lanjutkan pekerjaan kamu yang lain, biar kedua Pria ini aku dan Alice yang layani," jawab Jenny sambil berlalu menuju ruangan Alice.
Raymond, bukannya Pria itu yang menjebloskan Ayah Alice ke dalam penjara.
Jenny terus melangkah dan mengacuhkan segala pertanyaan di kepalanya. Jenny langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Al, segera temui Pak Raymond di ruangan VIP, katanya dia hanya ingin kamu yang melayaninya," tutur Jenny.
Mendengar perkataan Jenny, Alice sampai tersedak salivanya sendiri, ia langsung bangkit dan melangkah dengan cepat untuk menghampiri Raymond meninggalkan Jenny di belakang, ia tak mau Pria yang sudah membebaskan Ayahnya itu menunggu terlalu lama.
Sesampainya di depan Raymond dan Elliot, Alice langsung memasang senyum merekah di wajahnya.
"Sebelumnya terima kasih Tuan, sudah membebaskan Ayah saya," tutur Alice mengingat kebaikan yang telah dilakukan Raymond.
Elliot menatap Raymond memberikan kode. Namun saat Elliot ingin memberitahu bahwa dia bukanlah Raymond, tiba-tiba rasa sakit terasa di bagian kakinya. Elliot akhirnya berbicara dengan mengaku menjadi Raymond sesuai dengan perintahnya.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menyelidiki informasi yang telah kamu sampaikan," ujar Elliot yang menahan sakit di kakinya karena saat ini Raymond sedang menginjaknya.
"Tapi tetap saja Tuan, semua berkat Tuan," sahut Alice dengan mata berbinarnya.
"Baik kalau begitu segera bawakan hidangan terenak di restoran ini beserta minumannya," titah Elliot sementara Raymond hanya diam terus menatap Alice.
"Baik Tuan, hidangan akan segera diantar, apa ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Alice dengan sopan.
Raymond terlihat berbisik di telinga Elliot.
"Kamu duduk di sini, temani saya," pinta Elliot sambil menunjukan kursi yang terletak berhadapan dengan Raymond.
Tuan Raymond ada-ada saja, kenapa aku harus menjadi dirinya.
Alice akhirnya duduk sesuai dengan tempat yang ditunjuk Elliot, ia merasa berhutang budi kepada Raymond tentang apa yang telah dilakukannya karena telah membebaskan Adrian, maka itu ia pun menuruti permintaan Elliot.
Raymond terus menatap Alice tanpa berkedip.
Gadis ini kenapa membuatku terus menatapnya.
"Jadi untuk membalas budi Tuan Raymond, apakah Anda, Nyonya Alice, mau menikah dengan Tuan Raymond?" tanya Raymond selorohnya yang membuat Elliot tersedak salivanya sendiri hingga ia batuk-batuk.
Elliot terlihat mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja untuk diminumnya, menghilangkan tersedaknya akibat perkataan Raymond.
Alice terhenyak mendengarnya, ia terdiam, hingga membuat wajahnya memerah merona karena tersipu malu dengan tawaran yang diucapkan Raymond.
Namun setelah Alice berpikir dengan cukup lama, ia pun menjawabnya dengan yakin.
"Maaf saat ini saya me.."
"Saya terima tawaran Anda, Tuan," timpal Adrian memotong ucapan Alice sambil menoleh ke arah Alice dan memberi kode padanya lewat kedipan matanya.
Adrian menarik kursinya untuk menemani Alice duduk di sampingnya. Alice langsung berbisik kepada Adrian.
"Ayah, aku kan belum mengenal Pria ini dengan baik," bisik Alice protes atas keputusan Ayahnya.
"Alice percayalah kepada Ayah, ini jalan yang terbaik untuk hidup kita yang saat ini sedang defisit karena Ayah sudah melihat restoran ini tidak ada pengunjung pasti karena ulah Pria ini, kalau sampai kamu menolaknya, kita bisa hancur Alice, Pria ini bisa melakukan apa saja dengan kekuasaan dan uangnya, apa kamu mau?" bisik Adrian menjawab penolakan Alice.
Alice pun pergi meninggalkan kursi yang di dudukinya. Namun walau begitu ia masih sempat mengucapkan permisi, kepada Raymond sebelum ia pergi sambil membungkukkan sedikit tubuhnya, tanda ia menghormati Raymond.
Raymond hanya menatap datar kepergian Alice, namun tidak Elliot yang tampak iba dengan Alice, jika harus menjadi istri dari seorang Raymond Weil yang arogan.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan dukungan kalian terus ya, berikan like dan komentar ya, jika kalian berkenan boleh lengkapi dengan vote juga ya. Terima kasih.
😘😍🤗😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Enung Samsiah
waaah cireymon lngsung ngjk nikah ni auto bucin nggk ya????
2023-03-16
0
Desi Deti
wahhhh semoga raymond baik ya ke alice
2022-07-13
0
Ria Yahya Ria
udah mulai tegang Thor😁
2022-07-02
0