Selamat membaca!
Mobil mewah Raymond sudah tiba di depan rumah Alice. Albert segera membukakan pintu mobil untuk Alice.
"Terima kasih Tuan Raymond untuk hari ini."
Dengan raut wajah yang muram, sambil melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Raymond hanya terdiam tak menjawab, pandangannya tetap tertuju kepada laptop yang dibukanya.
Alice hanya mengabaikannya, ia tetap berlalu dengan tersenyum menyapa Albert dan Elliot.
"Silahkan Nona Alice," ucap Albert dengan penuh hormat.
"Terima kasih Albert," jawab Alice lalu menoleh ke arah Elliot untuk pamit kepadanya.
"Selamat malam Tuan Elliot."
Albert membungkukkan setengah badannya, sebagai rasa hormatnya, terhadap calon istri Tuannya.
"Selamat beristirahat Nona Alice," balas Elliot dengan tersenyum.
Alice berlalu memasuki rumahnya, dengan membawa pengalaman yang tidak berkenan di hatinya.
Mobil pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Di dalam mobil.
"Elliot atur waktuku untuk berdua dengan asisten Will, buat Will jangan sampai mengetahui pertemuanku dengannya."
Elliot menjawab cepat perintah Raymond.
"Baik Tuan akan saya atur besok."
"Malam ini jangan besok, aku ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu malam ini."
Raymond membayangkan lekuk tubuh Greta, yang membuatnya tak berkedip, saat menatapnya di restoran.
Elliot langsung mengirim pesan kepada Greta, sesuai perintah Raymond.
Pesan Elliot bak petir yang langsung dibalas oleh Greta.
"Datang saja ke apartemenku di City Aldgate," tulis Greta membalas pesan Elliot.
Elliot membaca pesan itu.
Cepat sekali balasannya.
Elliot langsung memerintahkan kepada Albert, untuk memutar mobilnya menuju City Aldgate, mengabaikan rasa curiganya.
"Jadi dia tinggal di City Aldgate selama di London," tanya Raymond sambil menautkan kedua alisnya.
Raymond seperti tak sabar, untuk menghabiskan waktunya dengan Greta.
"Iya Tuan begitulah jawaban pesannya."
Elliot sungguh tidak membayangkan, di saat pertunangannya dengan Alice, hanya tinggal 3 hari lagi tapi Raymond masih bermain-main dengan wanita lain.
Kasihan Nona Alice.
Elliot menghela napasnya dalam-dalam. Ia merasa iba dengan kehidupan Alice, yang nantinya akan penuh luka dan pengkhianatan dari Raymond.
Maafkan aku Nona Alice.
Mobil pun sampai di depan lobi Apartemen.
Raymond bergegas turun dari mobil.
"Lantai 12 kamar no 119," ucap Raymond mengingat apa yang dikatakan Elliot.
Elliot hanya menatap nanar kepergian Raymond, sambil merebahkan tubuhnya dengan bersandar di kursinya.
Ia sejenak melepas lelahnya dari pikiran yang terus membebaninya.
"Tuan Elliot sepertinya sedang banyak masalah."
Albert bertanya karena begitu penasaran dengan wajah Elliot, yang terlihat sangat kusut.
"Tak usah ikut campur! Apa kamu mau dihukum lagi pulang dari sini dengan berjalan kaki?" bentak Elliot dengan suara arogannya.
Elliot tanpa sadar menirukan gaya ucapan Raymond.
Kenapa aku jadi arogan seperti Tuan Raymond.
"Maafkan aku Albert, ada yang sedang kupikirkan, ini membuatku merasa tak nyaman untuk berbohong.'
Albert membaca apa yang sebenarnya ingin Elliot utarakan.
"Pasti Tuan tidak enak kepada Nona Alice, dengan menyembunyikan perselingkuhan Tuan Raymond, secara tidak langsung kita juga mengkhianatinya, padahal Nona Alice sudah sangat baik."
"Kurang lebih seperti itu," kata Elliot membenarkan ucapan Albert.
Elliot mendesah kasar.
Ia tak punya kuasa untuk melawan keinginan Raymond, bahkan untuk menasihatinya saja itu sudah jadi hal yang kurang ajar untuknya.
Koridor Apartemen.
Raymond melangkah sambil mengamati nomor kamar yang terletak di depan pintu ruangan.
"119 ini dia."
Raymond menunjuk satu kamar, dengan nomor sesuai yang Elliot beritahu.
Raymond mengetuk pintu perlahan, lalu terdengar suara wanita memintanya untuk menunggu.
Tak lama pintu terbuka. Greta yang sudah mengenakan piyamanya, terlihat begitu seksi di mata Raymond.
"Apa aku mengganggu waktumu?"
Raymond bertanya tak enak, ia mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan, melihat sekelilingnya.
"Tidak, tenang saja aku sendiri di sini, Tuan Will menetap di rumah tinggalnya tak jauh dari apartemen ini."
Raymond masuk mengikuti langkah Greta.
Tibalah mereka di sofa ruang tengah.
Sofa merah dengan bantal besar di setiap dudukannya.
"Apa yang terjadi dengan wanita yang bersamamu di restoran Tuan Ray."
Raymond yang sudah duduk di sofa, seolah terkesiap mendengar pertanyaan Greta.
"Apa bisa saat ini, jangan bahas orang lain selain kita?"
Raymond terlihat menajamkan tatapannya, membuat Greta sedikit memainkan bibir merahnya, dengan menggigit bagian bawah bibirnya untuk menggodanya.
Greta seolah mengerti, apa yang diinginkan oleh Raymond, seorang CEO Tampan yang karirnya saat ini terbilang sukses di London, karena mampu menembus 3 besar Perusahaan dengan penjualan tertinggi di Inggris.
Raymond mulai melonggarkan kerah kemejanya, yang kini mulai terasa gerah.
Greta mulai mendekati Raymond.
Raymond semakin bergelora, seolah jiwanya berteriak memerintahkannya, untuk menyerang wanita yang sudah sejak tadi terus menaikan birahinya, yang sudah sejak lama terkurung oleh rutinitas kesibukan kantor.
Greta kini sudah berada tepat di samping Raymond, ia terus menatap Raymond semakin dalam, sambil terus menggodanya, dengan membungkukkan sedikit tubuhnya, untuk memperlihatkan apa yang saat ini jadi pusat perhatian tatapan liar Raymond.
Greta mulai menaiki pangkuan kaki Raymond yang terlihat gagah, ia mulai mendekatkan tubuhnya hingga merapat ke dada bidang Raymond yang kekar.
Didekatkan wajah Greta begitu dekat, hingga desahan napasnya beradu dengan napas Raymond.
Raymond mulai tak dapat menahan hasrat yang sudah meronta-ronta dalam jiwanya, ia begitu membabi buta memagut bibir Greta, hingga membuat tubuh Greta jatuh merebah ke sofa.
Raymond terus menyerang, dengan membuka piyamanya yang sangat mudah untuk dilepaskan.
Ia mulai mengecup mesra leher dan bagian dada Greta yang terlihat sintal, dengan keliarannya.
Greta hanya pasrah menikmati semua permainan Raymond, yang begitu buas memberikan sentuhan-sentuhan nikmat pada tubuhnya.
Desahan Greta semakin memburu napas Raymond yang semakin menggebu.
Malam yang panjang untuk mereka berdua.
Cahaya bulan tampak begitu terang, memperlihatkan kegagahannya sama seperti Raymond saat ini, yang begitu gagah menjamah Greta, hingga mampu membuat hasratnya memuncak hebat.
Kenikmatan yang keduanya rasakan seakan membawa mereka ke surga dunia.
Namun, tidak bagi Elliot dan Albert, mereka berdua adalah korban dari seorang CEO yang arogan, yang tak pernah memikirkan nasib bawahannya dan selalu bersikap semaunya.
"Aku kasihan dengan Nona Alice," seloroh Albert dengan wajah muramnya.
Elliot menoleh melihat ke arah Albert.
"Aku juga sama sepertimu Albert, tapi apa daya kita hanya bidak catur Tuan Raymond, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti segala perintahnya."
"Nasib-nasib, nelangsa banget ya kita Tuan Elliot."
Elliot tak menjawab, ia hanya mengangguk, lalu berusaha memejamkan kedua matanya, melepaskan penat dalam pikirannya.
Albert menghela napas begitu dalam.
🍁🍁🍁
Rumah Alice.
Alice sudah mengganti dressnya dengan pakaian tidurnya.
Sebelum tidur ia teringat dengan janjinya kepada Tara, untuk berbagi cerita tentang hal yang baru saja ia lewati.
Alice melangkah untuk menemui Tara di kamarnya.
Matanya membulat kaget, saat menemukan Tara sedang menangis di ranjangnya dalam posisi terlungkup membelakangi pintu kamar yang terbuka.
Alice begitu cemas mendengar rintihan tangisan Tara, ia menghampirinya dengan perlahan untuk mencoba menenangkan Tara.
Saat Alice akan menyentuh pundak Tara untuk membalikkan tubuhnya.
Tara berteriak menakuti Alice.
Alice terperanjat kaget, melihat wajah Tara yang sudah dipenuhi, dengan masker rumput laut.
"Kamu bohongin Kakak ya, dasar kamu," ucap Alice sambil mengambil guling dan memukul tubuh Tara dengan kuat.
Malam itu untuk pertama kalinya mereka berbagi tawa dan canda, setelah dipisahkan oleh jarak dan waktu.
Alice akhirnya menceritakan semua yang telah dialaminya.
Tara mencoba menenangkan Alice, yang kini sedang piluh akan nasibnya. Dirinya begitu iba terhadap Kakaknya, karena telah dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya.
"Aku akan bicara dengan Ayah, pernikahan itu sakral sekali seumur hidup, aku tidak ingin Kakak mengalami kejadian yang sama dengan Nenek, karena keegoisan orangtuanya membuat Nenek hidup tak bahagia dengan pilihan yang dipilihkan oleh kedua orangtuanya."
Tara tersenyum kecil untuk menenangkan Alice, yang saat ini sedang menangis dipelukannya.
🌸🌸🌸
bersambung✍️
Sehat dan bahagia selalu ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Enung Samsiah
reymon menjijikkan pingin muntah baca nya
2023-03-16
0
Febriy Febriy
iya jijik sama Raymond,, biar diA kena karna burungnya mati
2023-03-08
0
Susana
Hhh... ini menyakitkan sekali. 🤧🤧
2023-01-06
0