Selamat membaca!
Mobil Elliot sudah tiba di depan gerbang rumah Raymond.
Alice mulai mengedarkan pandangannya, ia begitu takjub melihat rumah Raymond bak istana sesuai dengan yang dibayangkannya.
"Tuan Elliot, apa ini rumah Tuanmu?"
"Betul Nona Alice," jawab Elliot dengan lugas.
Alice masih berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
Sekaya ini kenapa dia memilih aku untuk menikah dengannya.
Alice mencoba menyembunyikan keterkejutannya dari Elliot. Walau matanya begitu asing melihat apa yang menjadi kekagumannya saat ini.
Alice terpaku sambil memangku tangannya, menatap setiap inci bangunan yang membentang megah begitu luasnya, belum lagi jajaran mobil mewah yang terparkir di halaman rumah, membuat Alice sampai menelan salivanya berkali-kali.
Elliot menghentikan mobilnya. Ia lalu keluar untuk segera membukakan pintu untuk Alice.
"Mari Nona Alice, selamat datang di rumah keluarga Weil."
"Terima kasih, Tuan Elliot."
Alice keluar dengan perlahan dari mobil. Langkahnya mulai memasuki teras rumah. Beberapa pelayan rumah sudah menunggu kedatangan Alice, mereka menyambutnya layaknya Tuan Putri yang datang.
Alice melangkah dengan menginjak karpet merah yang membentang sampai ke depan pintu, di kiri dan kanannya tampak hiasan bunga mawar yang begitu indah dengan warna merahnya, selaras dengan dress yang dikenakannya.
Jantung Alice berdesir seakan mau copot, ruas-ruas jemarinya mulai basah dengan keringat karena rasa gugupnya. Ini adalah momen pertama kali seumur hidupnya, Alice disambut bak seorang putri raja. Wajahnya semakin memerah semu, dengan dihiasi senyuman kecilnya kepada setiap pelayan yang menyapanya.
Tiba-tiba saat Alice mulai masuk ke dalam rumah, terdengar suara arogan menyapanya.
Raymond terperangah menatap Alice, mata angkuhnya harus runtuh dengan pesona kecantikan Alice, yang membuatnya terus menatap tanpa berkedip.
Alice menoleh ke arah sumber suara, pandangannya saling beradu dengan sorot mata Raymond.
Jadi ini Tuan Raymond yang terhormat itu, yang telah membohongiku.
"Mari ikuti aku!" titah Raymond dengan suara arogannya.
Raymond menuntun Alice untuk mengikutinya, kini mereka sudah tiba di sebuah meja makan yang terbentang luas dengan hamparan makanan, minuman dan buah-buahan terhidang di atasnya.
"Silahkan Nona Alice, silahkan duduk," sapa Nicholas dengan suara bassnya.
Alice menoleh menatap Nicholas, dengan tersenyum.
Seorang pelayan menggeser kursi yang sudah tersedia untuk Alice duduk, Alice lalu duduk dengan wajah canggungnya.
"Nona Alice, selamat datang di keluarga Weil, terima kasih telah bersedia untuk menikah dengan Raymond, karena kebanyakan wanita hanya ingin harta dari Raymond saja, untuk berkomitmen menikah selalu saja menolak."
Nicholas berkata sambil mengerutkan dahinya sambil menoleh ke arah Raymond, yang kini wajahnya sudah merah padam karena malu.
Kenapa Daddy selalu membuka aibku saja?
Alice mengangguk lalu mulai membuka suaranya.
"Saya yang tersanjung Tuan, saya merasa terhormat bisa masuk menjadi bagian dari keluarga Weil."
Nicholas terpana mendengar jawaban Alice.
Wanita ini berbeda dari wanita lainnya.
"Alice apakah kamu mencintai Raymond?"
Nicholas mencoba mencari tahu, bagaimana perasaan Alice terhadap anaknya.
"Bagaimana aku dapat mencintainya Tuan Nicholas, jika pernikahan ini saja begitu terburu-buru."
Raymond tersedak oleh minuman yang sedang diminumnya, ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alice.
Nicholas pun terperangah dengan apa yang didengarnya.
"Jadi maksudmu apa Alice?"
"Jika Tuan tidak keberatan apakah aku boleh menunda untuk menikah dengan Tuan Raymond, biarkan kami bertunangan terlebih dahulu, itu akan memberikan aku waktu untuk mengenal Tuan Raymond dengan baik dan aku pun bisa mengetahui semua kebiasaannya, agar aku dapat menjadi istri yang baik untuk Tuan Raymond."
Nicholas tersenyum lebar menatap Alice.
Luar biasa wanita ini.
Apa dia tidak mempunyai rasa takut saat mengajukan permintaan itu.
"Baik Alice, aku setuju."
Raymond tak dapat menolak atau membantah segala apa yang sudah diputuskan oleh Nicholas.
"3 hari lagi, pertunangan yang megah akan terlaksana di rumah ini."
Alice tersenyum kecil.
Selama pertunangan itu, aku akan membuat Tuan Raymond mengubah keputusannya untuk melanjutkan pernikahan denganku.
Alice kembali melanjutkan makannya.
Raymond terus menatap wajah Alice penuh selidik.
Apa rencana wanita ini sebenarnya?
Lamunan Raymond pecah saat suara Nicholas memanggilnya.
"Raymond kamu urus semua acara pertunangan kamu dengan Alice, jangan melibatkan orang lain! Kalian harus sering menghabiskan waktu bersama ya."
"Baik Dad, nanti aku akan mengajak Alice untuk fitting baju di butik keluarga kita."
Alice tersenyum mengiyakan ucapan Raymond.
🍁🍁🍁
Bandara Heathrow London.
Will terlihat melangkah menuju mobilnya, diiringi oleh beberapa pengawalnya dan seorang asisten wanita di sampingnya.
Scarlett Greta Weins seorang wanita berusia 23 tahun, cantik dan mempesona itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok asisten Will ini. Ia sudah bekerja selama 3 tahun di perusahaan Will, namun karena Will terkesan dengan cara kerja Greta, akhirnya ia memutuskan menjadikan Greta sebagai asisten pribadinya.
🍁🍁🍁
"Tuan Will, saat ini Tuan Raymond sedang tidak berada di kantornya, baru saja Elliot memberi kabar bahwa saat ini sedang ada pertemuan keluarga karena Tuan Raymond akan segera menikah."
Will terhenyak tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Aku penasaran wanita mana yang berhasil membuat Raymond, mau untuk berkomitmen.
"Silahkan, Tuan," ucap Greta dengan tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk Will masuk.
Will pun masuk dan duduk nyaman di kursi belakang mobilnya.
Greta bergegas mengikuti dengan duduk di kursi depan, mobil langsung melaju dengan kecepatan sedang.
🍁🍁🍁
Pertemuan Alice dengan Nicholas berlangsung dengan banyak kejutan yang terjadi, mulai dari kekaguman Nicholas akan sosok Alice, hingga permintaan Alice yang meminta waktu untuk lebih mengenal Raymond, dengan menangguhkan pernikahan mereka dan menggantinya dengan pertunangan terlebih dahulu.
Alice dan Raymond terlihat berjalan sejajar menuju mobil untuk ke butik keluarga Weil.
Elliot sudah menunggu di depan mobil.
Raymond masuk ke dalam mobil, setelah pintu dibukakan oleh Albert, kemudian Albert juga membukakan pintu mobil untuk Alice masuk.
"Wanita ini yang berbaik hati waktu menawariku tumpangan, sekarang dia akan menjadi istri Tuan Raymond, apa wanita ini sanggup menjalaninya ya."
Albert sudah di depan kemudinya, ia kemudian menjalankan mobilnya untuk menuju butik.
Di dalam mobil.
"Tuan, baru saja asisten Tuan Will mengabari bahwa saat ini Tuan Will sudah tiba di London, beliau menanyakan kapan Tuan Raymond ada waktu untuk menemuinya."
Raymond terhenyak mendengarnya. Ia tak menyangka Will meninggalkan segala urusan dan perusahaannya di Swedia untuk menemuinya.
"Will sudah begitu meluangkan waktunya untukku, kenapa aku tidak bisa meluangkan waktunya?" tutur Raymond dengan suara arogannya.
"Elliot booking satu restoran, setelah aku selesai dari butik kita langsung menemui Will hari ini juga!" titah Elliot menambahkan ucapannya.
"Baik Tuan, segera akan saya laksanakan."
Alice mengacuhkan percakapan yang ia memang tidak tahu siapa Will itu. Alice hanya menatap sisi luar mobil, mengikuti arus mobil melaju untuk mengisi kejenuhannya.
Saat ini perasaan yang canggung terlihat begitu jelas di wajahnya, karena harus duduk berdampingan dengan Raymond.
Tanpa ia ketahui, Raymond terus menatapnya. Tatapan yang jarang ia berikan kepada seorang wanita kecuali wanita itu mempunyai daya pikat yang luar biasa di matanya.
"Wanita ini kenapa dia begitu berbeda, padahal kesehariannya terkesan tomboi tapi jika sudah tampil feminim, dia begitu cantik mempesona."
🍁🍁🍁
Bersambung✍️
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Jangan lupa berikan vote kalian ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Siti Aminah
keren thor....pemeran ny cantik2 dn tampan2...
2023-08-24
0
Saraheyo
nahlo Raymond,,,rasain klepek" ,,msih bisa ngomongkh maue berbagi istri ,,😤😤🤣🤣
2022-10-29
0
Muslimah Haja
penasaran jd nya Raymond dgn alice,alice mmg cantik
2022-07-14
0