Berkenalan

"Ar,"panggil Dira.

"Hemm ada apa.."tanya Arsen.

"Tadi kata kamu ada sosok lain juga ya di kamar ini,maksud saya bukan cuman satu,"tanya Dira ingin memastikan nya.

"Iya,kenapa..?"

"tidak apa-apa,hanya ingin bertanya saja."

"Sebaiknya kita berdua istirahat saja,"

"Ar,"panggil Dira lagi.

"Ada apa lagi..?"

"Bolehkan berbicara formal saja,"tanya Dira.

"Tentu saja,"balas Arsen.

"Orang-orang rumah pada kemana ya dan kedua orang tua kamu kemana..?"

"Ibu ku sekarang tinggal dengan ayah tiriku di jerman,ibu ku pulang setahun sekali,kalau ayah tiri ku sering pulang ke indo tapi dia jarang pulang kesini,sedangkan ayah kandungku sudah meninggal lima tahun yang lalu.Di rumah ini tidak ada banyak orang karena aku tidak suka keramain,bagiku mereka hanya menganggu ketenangan ku saja,di sini pembantu hanya ada dua orang itupun mereka berdua tidak tinggal di sini,"jelas Arsen panjang lebar.

"Oh begitu ya,kenalkan nama ku Anindira,"sambil mengulurkan tangannya.

"Aku sudah tau,"ucap Arsen tanpa membalas uluran tangan Dira.

"Cikkk,kita belum kenalan dengan baik-baik,"Dira pun menarik tangan Arsen untuk bersalaman.

"Kamu sendiri yang tidak mau berkenalan dengan ku secara baik-baik,apa kamu lupa hemm..?"sambil menatap Dira.

"Hehe,maaf habisnya kamu membuatku kesal saja,oh iya kamu kok kenapa setiap kali aku sedang dalam berbahaya selalu saja membuatku pingsan dan parahnya lagi kamu selalu memukul tengkuk ku,kan sakit tau bisa-bisa tengkuk patah juga nanti.,"tanya Dira heran sambil menahan kesalnya jika mengingat perlakuan Arsen terhadapnya.

"Aku hanya tidak ingin terlalu merepotkan aku,"ucap Arsen santai.

"Merepotkan kata mu...!"Dira meningikan suaranya karena emosi nya memuncak seketika mendengar perkataan Arsen.

"Ka...kau sunggu terlalu,lalu kenapa kamu mau menolong.Dan kenapa bisa kamu tau aku dalam berbahaya hah...?"

"Tentu saja aku tau, CCTV di kantor dimana-mana dan itu,"Arsen menunjukan komputernya.

"Waahh,kenapa kamu menolong ku di saat nyawa ku sudah hampir melayang hah.."kesal Dira.

"Ciiiihh,dasar tidak tau berterima kasih,syukur-syukur aku mau menolong mu,"

"Oh jadi kamu tidak iklas begitu menolongku ya,lalu kenapa mau menolong ku jika tidak iklas hah"Dira masih dalam kesalnya.

"Aku hanya kasihan saja,"balas Arsen.

"Ka..kau sungguh akhhhhh,"kesal Dira prustasi.

"Kenapa kamu sangat kesal sekali,"tanya Arsen.

"Aku tidak kesal hanya saja aku jengkel,"balas Dira.Sambil melipatkan kedua tangan di dadanya.

"Sama saja,"

"Eh kamu kok kenapa ngak pernah muncul ya di publik,bahkan ke kantor saja kamu tidak pernah,banyak tuh yang gosipin wajah kamu seperti monster itu,"

"Aku tiap hari ke kantor,kalian saja yang tidak tau,"

"Memangnya kamu lewat mana sih masuknya,sampai-sampai karyawan di sana tidak melihat kamu lewat,"

"Lewat ruang bawah tanah,"

"Hah memang ada ya di kantor,"Dira dengan wajah kagetnya.

"Tentu saja ada,"

"Oh pantesan,lalu kenapa kamu ke kantor kalau kamu tidak ingin menampakan diri di hadapan banyak orang,kan percuma mending kamu ngurungin diri aja di rumah ini sampai lumutan,"kesal Dira.

"Ciiihh aku punya alasan sendiri,itu tidak perlu kamu tau,"

"Itu saja sampai di rahasiakan,sayang punya wajah tampan begitu tidak bisa di gunakan,"Sindir Dira.

"Aku tau kamu tertarik dengan wajah ku yang tampan ini,"goda Arsen.

"Percaya diri sekali kamu,"

"Tentu saja,"balas Arsen.

"Sudah ah aku mau tidur,ini sudah tengah malam,"Dira pun kembali merebahkan dirinya di kasur,sedangkan Arsen hanya menatap Dira dari pinggir kasur.

Arsen kemudian keluar dari kamarnya mengambil sesuatu dari dapur,setelah beberapa menit kemudian Arsen kembali sambil membawa kotak yang berisi obat-obatan yang tak lain P3k.

"Wanita yang sangat pemberani dan kuat,banyak luka di beberapa tubuhnya saja tidak ia hiraukan sama sekali,justru malah tidur,"gumam Arsen sambil mengoles salep di beberapa bagian luka dan memar di tubuh Dira,sedangkan Dira sudah terlelap tidur,entah sampai di mana mimpi nya sekarang.

"Akkkkkhhh,"suara teriakan nyaring yang mengerikan berada di sebelah kamar Arsen ,yang tidak lain suara sosok tersebut yang berada dalam tubuh Vivi,sosok tersebut memberontak karena ingin melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan yang melilit berada di tubuhnya.Sehingga tubuh Vivi terluka dan memar karena sosok itu.

Lama kelamaan suara tersebut tidak lagi terdengar dari kamar Arsen.Sedangkan Arsen sudah terlelap tidur berada di samping Dira tanpa sepengetahuan Dira.

Di pagi hari....

Tanpak sepasang saling berpelukan berada di atas ranjang,kedua orang tersebut sangat nyenyak tidur hingga tidak sadar apa yang sedang terjadi sekarang.

Perlahan-lahan Arsen membuka matanya,namun saat ingin mengerakan tangan nya.Arsen merasakan tangan nya sedang di peluk seseorang.Arsen pun kembali tertidur karena merasa nyaman,terutama tidak ingin menganggu Dira yang berada di sebelahnya.

"Ehhhhhhmmm,"Dira mengerakan tubuhnya dan perlahan-lahan untuk bangun lalu duduk bersandar.

"Astaga gawat-gawat,"gumam Dira.

"Ar bangun Ar,"bisik Dira sambil mengoyangkan tubuh Arsen supaya bangun.

"Sebentar,aku masih ngantuk,"sambil memeluk Dira dengan erat.

"Ar cepat bangun,sebelum kamu menyesal nantinya,"ucap Dira lagi sambil mengoyang tubuh Arsen.

"Akhhhhh,"teriak Arsen merasakan sakit berada pinggang nya sakit karena Dira mencubitnya dengan.

"Sttttttttt,"Dira menyuruh Arsen diam namun Arsen tidak mendengarkan perkataan Dira.

"Kamu menyakiti aku Dir,"perlahan-lahan Arsen membuka matanya.

"S***l,auuuuuhh,"pekik Arsen langsung terjatuh dari atas ranjang karena terkejut melihat sosok itu menatapnya dengan mata tajam yang mengerikan yang tidak lain Vivi yang masih dalam pengaruh sosok tersebut.

"Kenapa kau,tidak membangunkan aku?"kesal Arsen.

"Aku tadi sudah membangunkan kamu,tapi kamu malah asik tidur dan memeluknya dengan sangat erat,"jelas Dira,Arsen yang mendengarnya merasa jijik dan bergedik ngeri.

"Baiklah sebaiknya kita berdua keluar saja,sepertinya kita harus mencari ide lain untuk menangkapnya,supaya dia tidak lagi lepas,"

"Tapi aku sangat mengkhawatirkan Vivi teman ku,bagaimana jika tersesuatu dengan nya aku tidak bisa meninggalkan nya sendiri di sini."

"Aku mohon saat ini saja kamu jangan keras kepala,"

"Tapi Ar,"namun Arsen langsung menarik keluar Dira dengan cara memaksanya,

Sedangkan sosok tersebut masih berada di tempatnya sambil tersenyum-senyum.

"Ar kita akan kemana..?"tanya Dira,setelah berada di gerasi mobil Arsen.

"Kita akan ke tempat yang paling aman,"sambil menarik Dira masuk ke dalam mobilnya.

"Kamu yakin tempatnya amankan..?"tanya Dira memastikan nya.

Terpopuler

Comments

Putri Minwa

Putri Minwa

Dendam mampir ya thor

2023-03-07

0

Aisy Hilyah

Aisy Hilyah

itu si Vivi gimana

2020-07-10

1

Nur Afiyah

Nur Afiyah

kasian vivi

2020-07-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!