Kematian

Suasana di kantor tampak sangat riuh, banyak karyawan mondar mandir dengan wajah yang sangat pucat dan ketakutan.

Terutama seorang bapak-bapak yang berusia sudah 50 Tahun, ia tampak sangat gusar. Dia Dianto seorang wakil direktur di perusahaan tersebut.

"Ada apa ini?" tanya pak Dianto heran.

"Itu pak, ada mayat seorang laki-laki di dalam Toilet," ucap salah satu karyawan tersebut, bapak Dianto pun langsung melihatnya.

" Astagfirullah, " ucap Pak Dianto, ia benar-benar sangat terkejut melihat keadaan mayat yang sudah tidak dapat di kenali lagi. Mayat tersebut nasibnya, sama seperti korban yang berada di dalam lif kemarin, namun lebih sedikit lebih mengerikan, karena kedua bola mata nya sudah hilang dan kaki kirinya terputus.

Entah apa penyebab kematian orang tersebut. Polisi juga tampak bingung saat mengecek semua scctv, tidak ada hal yang mencurigakan saat ini.

"Sebaiknya kita telepon pihak polisi saja dengan segera," perintah Dianto.

"Vi, ada apa ya rame-rame?" tanya Dira

"Entahlah Dir, yuk kita coba kesana!" ajak Vivi.

Mereka berdua pun langsung bergabung di tengah-tengah perkumpulan karyawan itu.

"Hey, ada apa?" tanya Vivi kepada salah satu karyawan tersebut.

"Itu, ada mayat di dalam Toilet," jawab gadis itu dengan wajah pucatnya.

"Astaga!" ucap Vivi memegang dada nya yang hampir copot, namun Dira hanya diam saja.

"Sepertinya orang itu ada hubungan nya dengan kematian para korban akhir-akhir ini," ucap Dira dalam hati, ia melihat seseorang dari lorong tampak tersenyum dengan wajah pucat itu. Dira yang ingin menghampiri sosok tersebut, tiba-tiba saja tangan nya di pegang.

"Kamu mau kemana Dir?" tanya Vivi.

"Aku mau kesana dulu," jawab Dira.

"Sebaiknya kamu jangan kemana-kemana dulu Dir, keadaan sekarang sedang tidak baik." peringat Vivi.

"Sebentar saja."

"Ya sudah kamu hati-hati ya."

"Hmm."

Dira pun berlari kecil mengikuti sosok tersebut, hingga tiba lah di lantai 45, di tempat ruangan kosong yang sangat kumuh. Tampaknya ruangan tersebut sudah lama tidak terpakai dan akhirnya seperti gudang.

"Tak, tak, " suara langkah kaki Dira.

"Prankk." Suara benda terjatuh dengan tiba-tiba, sehingga membuat Dira terkejut. Perasaan Dira semakin tidak tenang, tengkuk nya terasa dingin, bukan berarti Dira takut, namun seperti nya akan ada sesuatu terjadi kepada nya.

"Akh!" Dira terkejut, karena tiba-tiba saja merasakan ada orang mengandeng tangan nya, namun tidak ada.

"Keluarlah jangan menjadi pengecut!" Dengan penuh berani Dira menyuruh sosok tersebut langsung menghadapinya dengan secara langsung.

"Na, na, na." Suara seseorang yang sedang bernyanyi entah dari mana, namun suaranya sangat mengerikan.

"Berhentilah bermain-main, sekarang keluar kamu!" Suara Dira tampak terdengar sangat dingin.

"Kring, kring." lagi-lagi ada suara lampu hias di atas kepala Dira, Dira pun mendongakan kepala nya ke atas

"Brak!" Lampu tersebut Jatuh, namun tidak mengenai Dira, karena Dira dengan cepat menghindari nya. Dira pun menarik napas nya lega, tetapi lagi-lagi Dira merasakan rambutnya perlahan-lahan di tarik ke belakang.

"Lepaskan!" bentak Dira, namun tetap saja rambut Dira di tarik kebelakang, rasa sakit yang luar biasa Dira rasakan saat ini, rasanya kepala Dira seperti hampir putus dari lehernya. Dira yang sudah di tahan akhirnya mengambil sebuah balok dan berbalik memukul apa saja di dekatnya.

"Akh!" Suara teriakan tersebut seperti nya menjerit kesakitan, namun sosok yang tidak kelihatan. Sepertinya pukulan Dira mengenai sosok tersebut.

Saat Dira menghembuskan nafasnya dengan sangat lega, tiba-tiba saja darah mengalir dari atas. Dira pun langsung melihat ke atas, namun tidak ada apa-apa.

"Hey! Keluar kamu sekarang juga!" Dira pun lebih was-was lagi, karena ia merasa ada sesuatu sosok berada di belakang nya dan Dira pun menoleh.

"Buhg." Dira pun langsung terkapar di lantai.

Di sisi lain Vivi sedang gelisah, karena teman nya tidak kunjung datang setelah kepergian Dira 2 jam yang lalu, Vivi yang hendak menyusul Dira, namun ketakutan di dalam diri nya membuatnya tidak bergerak mencari Dira.

"Aduh, Dira kemana sih? Kenapa lama sekalj pergi nya, ponselnya juga kenapa tidak di bawa sih?!" kesal Vivi.

"Astaga!" Vivi seketika terkejut, karena tiba-tiba saja ada orang yang memegang pundak nya. Vivi yang tidak berani menoleh ke belakang hanya mengigit bibir nya, karena sangat takut, hembusan nafas di telinga nya semakin dekat, sehingga membuat nya merinding ketakutan.

"Ya Tuhan, tolong bantu aku," ucap Vivi di dalam hati, karena saat ini Vivi lagi sendirian di tempat parkiran mobil.

"Akh! " teriak Vivi, ketika melihat wajah itu.

"Ada apa sih Vi?" tanya sesorang dari belakang.

"Kamu kenapa tiba-tiba muncul dari belakang aku sih?" kesal Vivi ternyata itu adalah teman nya sendiri yaitu Rio.

"Hey, gadis matre! Aku cuman ingin nyamperin kamu doang, kamu ngapain di sini sendirian hah?"

"Kenapa kamu ngak bilang dulu, kalau mau nyamperin sih, biar akau tidak kaget." Vivi benar-benar sangat kesal dengan teman nya itu, di tambah lagi sekarang teman nya Dira belum juga kunjung datang.

"Dasar nenek peot! Malah di omelin. Ya sudah aku pergi saja," ucap pria lembe itu.

"Hey-hey tungguin dong, aku juga mau ikut."

"Ya sudah cepetan!"

Di lorong parkiran, tampak sosok yang terlihat tersenyum dari kejauhan, melihat ke dua orang itu yang baru pergi.

Disisi lain...

"Brak, duar." Suara barang-barang berjatuhan, kaca pecah berhamburan di mana-mana, karena sosok itu sedang marah besar.

"Aku sudah bilang kan, jangan sampai ada orang lain satu langkah pun, masuk ke dalam ruangan itu.Tapi sekarang kamu malah bekerja tidak becus!" ucap sosok tersebut kepada suruhan nya itu.

"Saya minta maaf pak, tadi saya melihat ada mayat di dalam toilet, jadi saya tidak memperhatikan orang tersebut masuk ke dalam ruangan itu, maaf kan saya pak, "ucap suruhan sosok itu, sambil membukukan badan memohon ampun.

"Cih, kali ini saya maafkan kamu, sekarang juga kamu keluar dari sini, cepat!" bentak sosok itu.

Sosok tersebut pun menghampiri Dira yang sedang berbaring.

"Aku berharap kamu tidak lagi terlibat lagi," gumam sosok itu, sambil mengusap kepala Dira.

"Emh." Perlahan-lahan Dira bangun dari tidurnya, namun sosok tersebut tiba-tiba saja ada di depan nya, hingga membuat nya terkejut seketika.

"Siapa kamu ?"Suara Dira terdengar dingin.

"Haha." Sosok tersebut hanya tertawa mendengar Dira berbicara.

"Kamu tidak perlu tau siapa aku, yang harus kamu tau itu adalah jangan pernah berani-berani kamu untuk ikut campur!"

"Ciuh saya tidak akan ikut campur, kalau itu tidak akan pernah membahayakan nyawa orang lain, ingat itu!" peringat Dira, Dira yang terlihat santai berbicara namun tersenyum devil.

"Kau berani?" suara dingin itu tampaknya benar-benar seperti mengancam.

"Apa hah?" tantang Dira sambil melipatkan tangan nya di dada nya.

"Diam!" bentak sosok tersebut terlihat sudah murka mendengar omongan Dira.

"Haha, ternyata kamu bisa marah juga." Dira tertawa mengejek.

"Sekali lagi, ini peringatan terakhir untuk mu, kalau kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan, bersiap-siaplah menangung resikonya!" Sosok tersebut langsung mendekati Dira dengan sekejab.

"Brugh." Dira seketika ambruk di lantai.

Terpopuler

Comments

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

ada apa sih, sebenarnya.

2025-03-28

0

Putri Minwa

Putri Minwa

hati-hati Dira.

2023-03-03

0

Nur Afiyah

Nur Afiyah

tegang banget kak..deg deg

2020-07-05

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!