Di sisi lain,Vivi tampak mondar-mandir kesana kemari,karena mengkhawatirkan temannya itu.
"Sebaiknya aku keluar saja mencari Dira,kalau di sini terus aku makin tidak tenang saja,"gumam Vivi.Vivi yang hendak membuka pintu seketika terkejut.
"Akhhhh,astaga,"
"Kenapa..?"tanya Arsen dan Dira yang sedang berada di depan pintu.
"Kalian berdua membuatku terkejut saja,"ucap Vivi.
"Siapa suruh kamu terkejut,"balas Dira.
"Ckkkk,ahhh Dira,akhirnya kamu kembali juga,"sambil memeluk Dira dengan kuat,"
"Ka....kau,"ucap Dira terbata-bata.
"Kamu kenapa Dira,kamu tidak apa-apa kan,"panik Vivi seketika.
"kamu memeluk ku atau mau membunuh ku hah..?"kesal Dira.
"Maafkan Aku Dir,"Vivi kembali memeluk Dira lagi.
"Viviiiiiiii,"teriak Dira lagi.Seketika Vivi melepaskan pelukannya.
"Diraaaa,kenapa kamu malah berteriak gendang telinga ku bisa rusak tau,"Vivi sambil mengelus-ngelus telinganya.
"Sampai kapan kamu membiarkan kaki mu itu menginjak kaki ku hah..?"Dira pun semakin kesal dengan temannya itu,bukannya malah mengobati lukanya Vivi malah menambahkan rasa sakit terhadapnya.
"Maaf-maaf aku tidak sengaja Dir."
"Hey kalian berdua sampai kapan kita berdiri di depan pintu ini hmmm,"Arsen pun juga ikut kesal.
"Ah maafkan kami,"ucap Vivi lalu membopong tubuh Dira masuk ke dalam rumah dan membiarkan Dira untuk duduk di sofa tamu.
"Vivi tolong ambilkan air minum dong,sama makanan juga ya."
"Baiklah,kamu duduk di sini dulu aku akan mengambilkannya untuk mu."
"Mereka berdua sepertinya tidak mengangapku sebagai tuan rumah di sini,lihatlah ke dua gadis ini tidak ada rasa sungkannya sama sekali,"batin Arsen,yang sedang duduk di samping Dira.
"Ehem,"Dira berdehem,karena dari tadi Arsen hanya memperhatikan nya.
"Ada apa..?"tanya Arsen.
"Kamu kenapa memakai topeng,memangnya tidak panas ya,?"
"Tidak,"
"Oh,"lalu Dira pun kembali diam,ia tidak tau harus berkata apa lagi dengan Arsen,karena Arsen sepertinya memang cuek orangnya.
"Dir ini makanan dan minuman nya,"ucap Vivi sambil meletakan nya di atas meja.
"Terima kasih Vi,"kemudian Dira segera meneguk minuman yang berada di gelas kaca itu hingga habis seketika.
"Kamu tidak makan,"tawar Dira kepada Arsen,dan Arsen pun hanya mengelengkan kepalanya .
"Dir setelah ini langsung mandi,kemudian obati luka kamu ya,"ucap Vivi sambil memperthatikan Dira makan.
"Emm iya,tapi aku ngak punya pakain bagaimana..,"bisik Dira,namun masih terdengar di telinga Arsen.
"Tidak usah mengkhawatirkan itu,nanti aku suruh pembantu di sini untuk menyiapkannya,lanjutkan saja makanmu dan setelah itu bergegaslah mandi,"Arsen pun langsung pergi ke lantai atas menuju ke arah kamarnya untuk beristirahat.
"Eh Dir,apa dia ya yang menolong kamu dari sosok itu,"sambil melirik ke arah Arsen yang sudah di atas tangga.
"Bukan,aku sendiri yang keluar,"sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Bagaimana bisa kamu lolos Dir..?"tanya Vivi.
"Karena aku memiliki otak yang pintar tidak seperti kamu,"jawab Dira.
"Ckkk,terserah kamu saja,memangnya kamu di bawa kemana sama sosok itu..,?"tanya Vivi lagi.
"Entahlah aku tidak mengenal tempatnya berada di mana, yang aku tau berada di hutan yang sangat jauh."
"Terus kamu keluar dari hutan itu bagaiman bisa,"tanya Vivi lagi penasaran.
"Ya asal menerobos saja lah,"ucap Dira berbohong,ia tidak ingin menceritakan tentang Riko kepada Vivi karena belum waktunya.
"Ohh begitu,"ucap Vivi percaya dan mengangukan kepalanya.
"Nih sudah,terima kasih ya Vi,"sambil menyodorkan piring kosong dan gelas bekas minuman nya.
"Sama-sama,ya sudah kekamar sana."
"Emangnya sudah di sediakan ya kamarnya."
"Emm sudah,angap saja rumah sendiri,"Vivi berbicara dengan percaya dirinya.
"Oh baiklah,aku kemar dulu kalau begitu."
"Mau aku bantu..?"tawar Vivi.
"Ngak usah Vi,aku bisa kok ,"tolak Dira.
"Ya sudah kamu hati-hati ya,"ucap Vivi manasehati Dira.
"Emmm iya,"Dira pun menuju ke kamar yang sudah di sediakan itu.
Tanpa mereka sadari ada seorang yang sudah memperhatikan mereka secara diam-diam di balik jendela,Orang itu tampak tersenyum devil,seperti melihat mangsa baru yang akan segera ia habisi.
Setelah sampai di kamar,Dira langsung bergegas mandi karena tubuhnya terasa lengket hingga membuatnya sangat risih.
"Ahhh,enak juga ternyata jadi orang kaya,punya bathup tempat berendam,"setelah setengah jam Dira merendamkan dirinya,ia pun membilaskan dirinya dengan air,namun airnya tidak bisa hidup,berulang kali Dira menghidupkan namun tetap saja tidak bisa.
"Ahhh kenapa bisa begini sih,"kesal Dira,lalu ia menghidupkan lagi.
"Byurrrr,"akhirnya air itu hidup kembali,namun ia tidak menyadari air tersebut bercampur ulat.
"Akhhhhh,"teriak Dira melihat ulat kecil di beberapa lantai dan di kulitnya,Dira pun cepat-cepat keluar dari kamar mandi.
"S***l menjijikan sekali,sebaiknya aku kemar mandi yang lain saja,"batin Dira.
"Brakk,"pintu kamar Dira terbuka,tampak Vivi sedang berdiri di depan pintu itu.
"Vi aku ke kamar sebelah aja ya,aku mau mandi,"
"Emm,"jawab singkat Vivi.
"Ya sudah kamu tidur duluan ya,"
"Iya,"jawab singkat Vivi sambil menatap Dira tersenyum.
"Aneh,"batin Dira yang memperhatikan Vivi,namun ia tidak memperdulikan nya lagi.
Setelah selesai membersihkan diri,Dira yang hendak masuk ke kamar yang tadi,tiba-tiba saja dirinya di tarik dan mulutnya di bekap.
"Emmmm..emmm,"Dira membrontak sekuat tenaga,namun tenaganya kalah,orang tersebut sangat kuat dari nya.
"Sttttttt,diam,"bisik orang itu yang tidak lain Arsen.
"Kamu,"Dira pun terkejut.
"Stttt sudah saya bilang diamlah,"bisik Arsen.
"Kenapa...?"balas Dira berbisik juga.
"stttttt,kamu jangan banyak tanya.Tetaplah diam nanti juga kamu akan tau."
Saat ini Dira dan Arsen sedang berada di dalam lemari Arsen,karena sosok tersebut sedang mondar-mandir,tersenyum-senyum.
"Vivi,"gumam Dira.
"Lepaskan aku mau mengahampiri Vivi,"bisik Dira.
"Diaam,jangan keras kepala.Lihatlah itu,"Dira pun kembali mengintip di balik jendela,tampak Vivi sedang memakan kucing kesayangan Arsen dengan sangat lahap.
"Tidak,tidak mungkin,"ucap Dira, ia sangat syok melihat temannya memakan kucing hidup itu seperti kelaparan.
"Kenapa dia seperti itu,"gumam Dira.
"Kamu kenapa tidak menyadarinya,"balas Arsen.
"Memangnya kamu tau sejak kapan..?"tanya Dira.
"Tadi waktu saya kedapur mau makan,saya melihat bola matanya pucat,terutama wajahnya juga dan tersenyum-senyum sendiri,awalnya saya tidak menghiraukan nya saya kira dia sedang tidak enak badan,tapi setelah saya melihat dia sedang memakan ayam mentah di kulkas saya terkejut,dari situ saya mengetahuinya bahwa dia bukan manusia,"jelas Arsen panjang lebar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Lita Pujiastuti
mengejutkan sekali...vivi kerasukan atau itu bukan vivi yg sesungguhnya?
2025-03-28
0
Aisy Hilyah
salam dari Abang penjual sate kakak
2020-07-10
1
Nuryani
hai kak semangat. jangan lupa mampir balik😊
2020-06-04
1