Hening.....
"S-sudah Kak... V-Varro kenyang.. " Ucap Varro menutup mulutnya menatap Vano yang memegangi sendok dengan bubur di atasnya.
"Sekali lagi"
"Tapi Varro su-"
"Hm...Jangan banyak bicara" Ucap Vano tersenyum tipis ketika ia menyuapkan bubur pada adiknya saat adiknya itu berbicara.Varro merasa sedikit kesal tapi takut untuk protes kepada Vano hingga akhirnya dengan berat hati menerima suapan demi suapan dari sang kakak.
"Kak... Minum" Ucap Varro pelan menatap minum di samping sang kakak.Sudut bibir Varro sedikit terangkat saat Vano benar-benar mengambilkan dirinya air minum dan membantunya untuk menahan, karena tangannya masih lemas.
"Baiklah... Tidur dan bangun pagi untuk sekolah" Vano beranjak dari kursi di samping kasur Varro sambil membawa mangkok dan gelas kotor bekas Varro.
"Kak... "Panggil Varro pelan tapi masih bisa didengar oleh Vano.Sebelum Vano membuka pintu kamar Varro, ia mendengar...
"Terima kasih Kak,Varro akan berusaha untuk mendapatkan nilai sempurna dan juara dalam lomba nanti"Ucap Varro tersenyum menatap punggung Vano.
"Terima kasih Kak, bubur buatan kakak rasanya masih sama..... Enak"Tambah Varro tanpa sadar membuat sudut bibir Vano terangkat sedikit,Vano kemudian melangkahkan kakinya keluar dan menutup pintu kamar adiknya itu.
"Selamat malam Kak, Paman.... "Gumam Varro membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya hingga ia memasuki dunia mimpinya.
Di ruang keluarga,
"Vano.... Bagaimana keadaan adikmu? "Ucap Chanwoo menatap Vano yang duduk di sofa samping pamannya.
"Baik" Singkat dan padat, itu yang Vano ucapkan. Chanwoo hanya bisa geleng-geleng kepala karena keponakannya yang satu ini.Selalu bersikap dingin dan kejam, tapi hatinya sangat lembut dan rapuh. Chanwoo tahu bahwa Vano hanya belum bisa mengungkapkan rasa sayangnya dan perasaannya kepada orang lain bahkan keluarganya sendiri.
~Hening~
"Van... "
"Hum?"
"Berapa umurmu? " Ucap Chanwoo membuat Vano yang tadinya fokus pada laptopnya kini menatap sang Paman dengan dahi yang mengernyit bingung.
"Jawab saja"
"Vano masih muda, 25 tahun"Jawab Vano membuat Chanwoo tertawa.Muda?
"Hahahaha muda?"
"Kenapa Paman tertawa!" Kesal Vano tidak terima karena merasa sang Paman mengejeknya.Tapi bukankah 25 tahun itu masih muda?"
"Di umurmu yang 25 tahun ini... Kenapa belum ada satupun perempuan yang dekat denganmu eoh?... Hahahaha.. Bagaimana bisa? " Ejek Chanwoo menatap Vano yang menahan rasa kesalnya itu.
"Apakah 25 itu sudah tua? "Tanya Vano dengan tatapan penuh arti menatap pamannya itu.
"Tentu saja"
"Kalau begitu bagaimana dengan Paman?....Paman sudah berumur 40 tapi?...Hahahaha" Vano tertawa puas ketika melihat wajah sang Paman yang berusaha menjadi....
"Huft.... Tapi Paman itu sangat populer kau tahu? "
"Kalau begitu kenapa Paman belum juga menikah? menikahlah Paman.... Vano juga ingin mempunyai keponakan" Ucap Vano tersenyum.
"Jika boleh jujur, Paman juga ingin segera menikah tapi... "
"Vano dan Varro sudah dewasa Paman..... Sudah saatnya Paman memiliki keluarga Paman yang sesungguhnya"Ucap Vano membuat Chanwoo menghela nafas panjang.
"Dewasa?... Kalian belum ada yang dewasa Van...Walaupun umurmu sudah 25 tahun, sikapmu masih seperti anak kecil. Dan Varro,,, apakah kau menganggapnya dewasa? "
"Tidak Van.... Adikmu belum dewasa, ia masih kecil dan masih memerlukan perhatian kita... Kau utamanya, jangan sampai ia mengalami masa inner child suatu saat nanti... Karena tekanan yang kau berikan it-"
"Paman...Cukup, jangan mengalihkan topik" Ucap Vano tidak suka membuat Chanwoo hanya bisa menghela nafasnya.
"Baiklah, kapan kau akan mempunyai pacar huh?"
"Paman!!! " Kesal Vano membuat Chanwoo semakin terkekeh dan...
"Paman ini sudah seperti Papa mu Van... Paman menganggap kalian sebagai anak paman sendiri, bolehkah Paman meminta sesuatu? "
"Apa itu Paman? "
"Carilah seseorang yang bisa merubah mu dan menerimamu apa adanya Van.... Juga bisa menyayangi adikmu"
"Tapi Paman... "
"Paman tahu jika perusahaan juga penting, tapi...Cobalah Van,sudah saatnya kau memiliki seseorang yang kau cintai dan mencintaimu" Ucap Chanwoo membuat Vano terdiam dan...
"Buka hatimu Van... Untuk orang lain, dan juga adikmu"
"Vano akan mencoba Paman"Ucap Vano pelan, tanpa sadar Chanwoo tersenyum dalam diam.
~Hening~
"Paman..... "Kini Vano yang membuka pembicaraan menatap sang Paman di hadapannya.
"Hum?"
"Terima kasih Paman" Ucap Vano pelan.
"Terima kasih? " Chanwoo yang tidak faham dengan maksud Vano membuat Vano sedikit jengkel tapi...
"Terima kasih karena Paman mau merawat Vano dan Varro selama ini.... Paman telah mengorbankan semuanya hanya untuk membesarkan Vano dan Varro... Bahkan.. " Vano menghentikan perkataannya dan...
"Paman... Terima kasih telah mengerti Vano,,, hanya Paman yang tahu tentang perasaan apa yang Vano rasakan.... Vano hanya belum bisa Paman.... Vano sebenarnya benar-benar menyayangi Varro tapi..." Vano tidak bisa melanjutkan perkataannya dan....
"Kau menangis? " Ucap Chanwoo terkejut karena melihat Vano yang jarang atau belum pernah menangis di depannya, kini menangis.
"Tidak... "Jawab Vano menunduk hingga...
Brugh...
"Paman memang pernah mengatakan jika laki-laki itu harus kuat dan tidak boleh cengeng, tapi bukan berarti laki-laki tidak boleh menangis.... Gwenchana (it's okay).... Sekarang hanya ada Paman" Ucap Chanwoo memeluk Vano membuat Vano terdiam dan...
"Hiks....Vano adalah kakak yang gagal Paman, hiks... Vano tidak tahu apa yang Vano inginkan dari Varro... Hiks.... Vano telah menyiksa adik Vano sendiri Paman hiks...Vano ingin seperti dulu Paman hiks... Tapi tidak bisa.. Hiks.... Saat melihat Varro, hati Vano tiba-tiba menjadi mati rasa dan... Hiks... Vano memang kakak yang gagal.. Hiks.. "Isak Vano mengeluarkan unek-unek yang bertahun-tahun ia pendam. Chanwoo terdiam dan mengusap pelan punggung Vano untuk membuatnya lebih baik. Baru kali ini Chanwoo melihat Vano seperti ini, dugaannya selama ini benar jika Vano hanya belum bisa menerima masa lalunya dan membuka hatinya.
"Paman akan selalu mendukung Vano... Varro juga"
"Terima kasih Paman...Maaf karena seperti anak kecil" Lirih Vano dalam pelukan sang Paman.
"Memang" Ucap Chanwoo terkekeh begitu juga dengan Vano.
"Seseorang yang dengan wajah dan sikap yang dingin belum tentu juga hatinya juga dingin, mungkin saja lebih rapuh dari yang kalian pikirkan"
Pagi hari,
"Berangkat? "Ucap Vano menatap Varro yang hendak keluar dari pintu utama.
"I-iya Kak... Varro berangkat" Ucap Varro tersenyum tapi...
"Mau berangkat dengan apa?siapa?... Pak Jo belum pulang, dan Paman sudah ke kantor" Ucap Vano datar.
"V-Varro bisa memesan taksi" Ucap Varro menunduk.
"Jangan buang-buang uang... Lebih baik dipakai beli buku"Ketus Vano.
" V-Varro bisa jalan kaki, Kak"Vano membelalakkan matanya dan...
"Kau gila?!!... Sekolah mu itu jauh!.. Aish, jangan sampai telat dan membuat nama baik kakak jelek"Ucap Vano menusuk Varro, rasanya sakit tapi...
"Ayo, biar kakak antar" Ucap Vano melewati Varro yang melebarkan matanya tidak percaya...Demi apa? Vano mengantarkannya? Vano menawarinya?
"CEPAT!!" Varro langsung berlari ke mobil saat mendengar suara sang kakak yang ketus dan menggelegar... Tapi, bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum menatap sang kakak yang kini duduk di dalam mobil... Di dekatnya.
"Terima kasih, Kak" Ucap Varro tersenyum menatap sang kakak yang tidak menatapnya sama sekali, ia tidak perduli... Karena dirinya sangat bahagia, sang kakak yang menawarinya untuk mengantar ke sekolah?.... Mimpi apa Varro semalam.
"Siang nanti Pak Jo mungkin sudah pulang, jangan kemana-mana" Ucap Vano diangguki Varro.
"Hari ini les mu libur... Kakak memberi kesempatan untukmu agar merefresh otakmu itu... Paman yang meminta ini"Tambah Vano membuat Varro tersenyum dan menatap sang kakak tidak percaya.
"T-terima kasih Kak!! "Ucap Varro keras membuat siswa yang lain menatap Vano dan Varro yang berdiri di gerbang sekolah.
"Hmmm....Belajar dengan baik" Ucap Vano mengusap lembut rambut Varro lalu memasuki mobil, dan menuju kantor.
Mobil Vano telah pergi dari tadi tapi Varro?
Varro terdiam membatu tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari sang kakak dan... Usapan lembut di rambutnya....
"A-aku tidak mimpi? "Lirih Varro tidak percaya mengusap rambutnya.
"K-kak Vano... Argh!!! Yeah!!!!!!!..... AKU TIDAK MIMPI!!! "Teriak Varro kesenengan dan berlari ke kelasnya.Tidak perduli dengan tatapan aneh para fansnya di sekolah.
Sesampainya di kelas,
Varro tersenyum karena kejadian tadi hingga dirinya menemukan sahabatnya yang termenung dengan wajah yang kusut.
"Sella... Pagi"
"Pagi Var... "Jawab Sella tidak bersemangat.
"Kamu baik-baik saja?" Ucap Varro duduk di samping sahabatnya itu... Sella yang tadi menunduk kini menatap Varro dan...
"Kau menangis?!! " Teriak Varro membuat Sella langsung membungkam mulut sahabatnya itu...
"Lepuas kwan.. " Varro berusaha melepas bekapan Sella dan...
"Menyebalkan!! " Ucap Sella kesal dan menangis menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangannya di atas meja.
"Sella... Maaf... Sel... Aku tidak bermaksud untuk.... Maaf Sel" Ucap Varro merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"Mereka bertengkar lagi ya? " Ucap Varro pelan menatap Sella yang masih dalam posisi seperti tadi...
"Iya... "Jawab Sella kini menatap Varro di sampingnya.Sella tiba-tiba saja memeluk Varro dan menangis....Kelas dalam keadaan masih sepi.
"Hangat... "Lirih Sella dalam pelukan Varro.
"Kau menyukainya? "Lirih Varro diangguki Sella.
"Pelukanmu menenangkan Var... "Lirih Sella tersenyum memejamkan matanya memeluk sahabatnya itu.
"Kalau begitu, peluk aku jika kamu merasa sedih... Aku akan selalu ada Sella" Ucap Varro tersenyum.
"Terima kasih... "
Jam pulang sekolah,
"Apa kau yakin ingin ke rumahku Var? "Ucap Sella tidak bisa berhenti menatap Varro sedari tadi.
"Tentu saja...Hari ini aku libur les, Pak Jo juga sudah pulang.... Siapa tahu dengan kedatanganku bisa membuat mereka tidak bertengkar" Ucap Varro tersenyum menatap Sella yang gelisah.
"Terima kasih... " Sella tersenyum menatap Varro yang berjalan di sampingnya... Mereka berjalan menuju mobil dengan Pak Jo yang berdiri di samping mobil.
"Aku menyukaimu"Lirih Varro pelan tapi...
"Apa?Kamu bilang apa tadi Var? "Ucap Sella berhenti berjalan saat mendengar kata yang ia yakin tidak yakin keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Tidak... Aku hanya mengatakan aku mendukungmu" Ucap Varro tersenyum.
"Terima kasih...Var"
"Aku akan selalu mendukungmu.... Kita adalah sahabat,,,,, Yah... Sahabat"
"Tentu saja!!!... Kita sahabat!!" Ucap Sella kemudian menggandeng tangan Varro membuat Varro diam dan mengikuti langkah Sella.
...
"***Bintang itu cantik...Sepertimu"
"Sella...Aku.... Sebenarnya aku.... "
"Var.... Aku menyukai seseorang***"
Jangan lupa vote, like, and comment!!! :)
Kamis, 23-02-23
Kim_na
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments