"Var... Dengar Kakak?...Hei... "Ucap Vano khawatir ketika sang adik sudah tidak lagi merengek dengan mata yang terpejam.
"Var... Ah!!... Panas sekali... Var!!...Hei.. Varro!!.. Varro buka matamu!!.. Dengar Kakak!!.. Hei!!.. PAMAN!!!! "Teriak Vano khawatir ketika sang adik ternyata pingsan dan demam tinggi.
"Var...Hei.. Varro... " Lirih Vano sambil menatap wajah sang adik yang benar-benar pucat... Baru kali ini dirinya benar-benar menatap wajah adiknya lekat-lekat.
Vano perlahan terisak dan tangan kanannya menggenggam tangan lemah sang adik lalu tangan kirinya mengusap lembut rambut sang adik....
"Maafkan kakak, Varro... " Lirih Vano mencium tangan lemah sang adik hingga....
Tap.. Tap.. Tap...
"Ada apa eoh? " Ucap Chanwoo dengan peralatan yang ia bawa.
"Varro pingsan Paman.,.. Hiks... Demamnya sangat tinggi.... Bagaimana ini Paman?... Vano takut.."Lirih Vano dengan tatapan yang penuh dengan rasa khawatir.
Chanwoo yang mendengar perkataan Vano pun langsung saja mendekati Varro dan...
"Ah...Demamnya benar-benar tinggi... " Lirih Chanwoo menyentuh dahi Varro lalu memeriksa ponakannya tersebut.
"Bagaimana paman... " Lirih Vano setelah 10 menit sang paman memeriksa adiknya itu.
"Demamnya belum turun.... Dan soal masalah mimisan,Paman belum tahu apakah itu memang penyakit leukimia Varro atau Varro yang kambuh seperti biasanya" Ucap Chanwoo menjelaskan keadaan Varro dengan kantong kecil berisi cairan merah di tangannya.
Vano hanya bisa diam menatap wajah pucat sang adik dan...
"Paman, Vano tahu pernah menjadi dokter spesialis leukimia dulu.... Selamatkan adikku paman...Hiks... Hanya Varro yang Vano punya.. Hiks" Isak Vano tiba-tiba membuat Chanwoo terkejut karena belum pernah melihat Vano menangis, apalagi karena Varro.
"Tenanglah... Paman akan berusaha, tapi sebelum itu paman akan mengambil darah Varro untuk sampel Tes leukimia.... Berdoa saja itu adalah sebuah kesalahan" Ucap Chanwoo memenangkan Vano yang terisak pelan, walaupun Vano keras kepada Varro.... Tapi dia tahu jika Vano sangat menyayangi Varro dan hanya ingin yang terbaik untuk Varro.
"Baiklah, Paman...." Lirih Vano tersenyum kecut.
"Tenang saja, jika itu benar.... Paman akan bener-bener kembali bekerja ke rumah sakit untuk menangani Varro.... Setelah ini Paman akan ke rumah sakit kenalan Paman dan membawa sampel ini.... Semoga saja tidak" Ucap Chanwoo berusaha tersenyum agar Vano tidak khawatir.
"Terimakasih Paman, Vano akan mengangkat Varro ke kamarnya" Ucap Vano kemudian mengangkat tubuh sang adik lalu dengan perlahan menaiki tangga ke kamar sang adik.
"Semoga saja tidak benar.....Apakah Varro berbohong?.... Atau dia benar-benar mengidap leukimia... Tapi,.. Aish...Jangan berpikir negatif, semoga saja hasilnya tidak sesuai apa yang Varro katakan" Ucap Chanwoo pada dirinya dan berjalan keluar dari pintu ke mobilnya.
Sementara itu,
"Aish.... Ada apa denganku.... Argh!!!... Kau benar-benar konyol Sella!!!!...Bagaimana jika Kak Vano memarahi Varro!!!.... Yak!!!!!... Paboya!! "Ucap Sella mondar-mandir di dalam kamarnya karena khawatir dengan nasib Varro.
"Apa aku harus menelpon Varro?.... Bagaimana jika dia dihukum?....Tidak!!.. Itu tidak boleh terjadi,,, aku akan ke rumahnya jika Kak Vano menghukumnya.... Ini semua karena aku"Lirih Sella yang akhirnya duduk di kursi belajarnya dan mengambil benda pipih di atas meja belajarnya.
"Telpon atau tidak yah..... " Lirih Sella ragu hingga....
"Halo? "
"H-halo.. " Ucap Sella bergetar ketika yang mengangkat telponnya bukannya Varro tapi...
"Anda siapa? "
"M-maaf s-salah sambung! " Ucap Sella langsung mematikan teleponnya.
"Argh!!!... Bodoh!!!... Sial!!... Bagaimana bisa aku mengatakan hal seperti itu!!.... Varro kan menyimpan nomorku!!!... Argh!!! " Teriak Sella kesal pada dirinya sendiri bahkan memukul kepalanya sendiri pelan.
"Huft... Oke... Aku akan menelpon nanti... Semoga saja Varro memang tidak dihukum" Ucap Sella berusaha tenang dan kembali mengerjakan kertas dengan coret-coretan di atasnya.
Di rumah sakit,
Cklek!
"Chanwoo ya!!!... Yak... Annyeonghaseyo" Ucap seorang pria baya yang mengenakan jas putih kedokteran memeluk Chanwoo yang datang.
Pria itu tersenyum menyambut kedatangan sahabatnya yang tidak lain adalah Chanwoo.
"Harry ah... " Ucap Chanwoo membalas pelukan sahabatnya itu.
Harry tersenyum dan melepaskan pelukannya pada Chanwoo lalu mempersilahkan Chanwoo untuk duduk.
"Kau membawa sampelnya?" Ucap Harry menatap Chanwoo di hadapannya.
"Hm... Aku membawanya, bisakah kau memeriksanya dengan cepat?... Kalau bisa aku ingin hasilnya cepat keluar" Ucap Chanwoo dengan wajah khawatir.
"Tenanglah.... Aku akan memeriksanya, tapi kau tahu bukan? jika tes ini memerlukan waktu" Jawab Harry pada Chanwoo yang terdiam.
"Kau juga masih berprofesi sebagai dokter, hanya beberapa tahun meninggalkan profesi mu itu bukan berarti kau melupakan keahlian mu... Atau tidak, kau bisa bekerja di sini sementara waktu untuk mengawasi hasil tes keponakan mu itu.... Dan jika itu benar kau mungkin bisa menjadikannya sebagai pasien pribadi"Tambah Harry mendapatkan balasan helaan nafas panjang dari Chanwoo.
"Itu juga rencanaku.... Aku akan mengambil profesi ini mulai besok... Dan, kapan paling cepat aku bisa mengambil tes keponakanku? "Ucap Chanwoo serius.
" Eung.... "
"Varro!!! " Teriak senang seseorang saat Varro secara perlahan membuka matanya.
"K-kak... " Lirih Varro lemas menatap terkejut dan tidak percaya pada kakaknya yang di sampingnya.
"Varro ya!! " Lirih Vano langsung saja memeluk Varro erat membuat Varro merasa sedikit sesak, karena dia baru saja sadar.
"K-kak... S-sesakh.. "
"Maaf!!... Maafkan kakak! " Ucap Vano langsung melepaskan pelukan sang adik dan...
"K-kakak m-menangis? " Lirih Varro terkejut melihat air mata Vano yang masih basah, sedangkan Vano langsung saja menghapus air matanya.
"Tidak... Kakak h-hanya senang karena kamu bangun" Ucap Vano dengan suara sedikit serak membuat Varro hanya mampu terdiam.
"I-ini jam? "
"Jam tu-"
"Hei... Apa yang Varro lakukan huh? " Ucap Vano terkejut menahan sangat adik yang ingin bangun dari tempat tidurnyatidurnya, akhirnya Vano membantu Varro untuk duduk.
Varro menatap sang kakak terdiam dan...
"V-Varro h-harus lesh... Kak" Lirih Varro lemah dan menunduk takut.
"Varro,... Tatap mata kakak"
Varro yang takut pun dengan segera berusaha menatap mata sang kakak dan...
Brugh....
"K-kak? " Lirih Varro terkejut ketika Vano memeluknya tiba-tiba.
"Maafkan kakak.... Mulai hari ini, kakak tidak akan memaksamu lagi.... Kakak tidak akan menghukum mu lagi....Kakak janji"
"K-kak? "
"Tapi.... Varro juga harus janji kepada kakak jika Varro akan berjuang.... Varro harus kuat untuk melawan penyakit leukimia Varro... Janji? " Ucap Vano membuat Varro terkejut di pelukan sang kakak teringat dengan pengakuan bodohnya itu.
"Kenapa sampai sejauh ini... Apa yang harus aku lakukan? "Ucap Varro dalam hati.
"V-Varro janji kak... M-maafkan Varro..Hiks... "Lirih Varro sesak karena membenci dirinya sendiri...Mengapa harus berbohong?.... Hingga dirinya pun terisak bersama sang kakak.
30 menit mereka menangis bersama hingga...
"Paman di mana? "Ucap Varro melepas pelukan sang kakak pelan.
"Paman sedang pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan sampel darahmu "Jawab Vano membuat Varro pun benar-benar terkejut dengan jawaban sang kakak... Apa yang harus Varro lakukan setelah ini?.... Dia benar-benar tidak habis pikir dengan ide Sella yang seperti ini.
" K-kak... "
"Heum? "
"Varro tidak mau ke rumah sakit.... Biar seperti ini saja... Varro tidak mau.. " Lirih Varro menatap sang kakak yang juga menatapnya terkejut.
"Apa maksudmu? "
"Varro tidak ingin.... Varro tidak mau melakukan kemoterapi... Varro tidak mau... Itu menyakitkan.."Ucap Varro berusaha meyakinkan sang kakak.
" Tidak.... Varro harus melakukan ke-"
Cklek...
"Paman... " Lirih Varro ketika mendapati sang paman yang masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah mendingan? " Tanya Chanwoo diangguki Varro tersenyum.
Chanwoo kemudian duduk di samping Vano dan...
"Bagaimana tesnya paman?... Varro tidak mengidap leukimia bukan? " Tanya Varro membuat Chanwoo terdiam.
"Maafkan paman.... "Lirih Chanwoo menghela nafas berat.
"Hasilnya akan keluar dalam 4 sampai 5 hari"Lanjutnya berusaha tersenyum menatap Vano dan Varro,rasa takut pun tidak lepas dari hati Varro setelah mendengarkan perkataan sang paman.
"Percayalah...Varro akan baik-baik saja" Ucap Chanwoo menarik Vano dan Varro dalam pelukannya.
"Aku mempercayakan Varro padamu paman" Lirih Vano dalam dekapan sang paman dan menatap adiknya yang menahan isakannya.... Vano berpikir jika Varro benar-benar terpukul karena takut dengan hasil tes leukimianya.
"Varro ingin sendiri.... " Liirh Varro menatap Chanwoo dan Varro di hadapannya.
"Selamat tidur eoh" Ucap Vano mengusak kasar rambut Varro yang membuat Varro cemberut sedangkan Chanwoo dan Vano hanya terkekeh.
Hari mulai larut, Varro masih saja terdiam di kursi belajarnya dengan kepala yang ia rebahkan di atas meja.
.
"Bagaimana ini.... " Lirih Varro menggumamkan hal yang sama dari dua jam yang lalu.
"Aku sangat senang Kak Varro seperti ini... Tapi, apakah baik jika aku terus saja berbohong? "
"Menyakitkan..... Mengapa? apakah aku harus sakit parah dulu?..... Huft... Kau tidak boleh berbicara seperti itu Varro" Ucap Varro pada dirinya sendiri dan mengangkat kepalanya.
"Aku harus menelpon Sella... " Lirih Varro kemudian mengambil benda pipi yang berada di samping tangannya.
"Halo... "
"Varro!!!... Akhirnya!!!... Apa yang terjadi?... Apakah kakakmu menghukum mu? "Ucap Sella membuat Varro hanya bisa menghela nafasnya panjang, toh ini semua karena sahabatnya ini.
"Paman Chanwoo mengambil sampel darah dan membawanya ke lab rumah sakit"
"Apa?!!!... Bagaimana bisa?.... Tapi siapa Paman Chanwoo? " Jawab Sella membuat Varro di sebrang telepon hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Pamanku.... Jadi bagaimana ini Sella? " Lirih Varro.
"Pamanku bilang jika hasil tes akan keluar 5 hari kedepan" Tambah Varro membuat Sella di sebrang telepon mengernyitkan dahinya.
"5 hari? "
"Iya... "
"Aku tidak yakin itu Var, tapi yang aku tahu tes akan keluar setidaknya 1-2 hari, dan tidak sampai 5 hari " Ucap Sella membuat Varro terkejut, apakah pamannya ingin mengecek kebohongannya?
"Apa yang harus aku lakukan Sella? "Ucap Varro pasrah.
"Hanya ada satu jalan keluar jika mau Kakakmu ataupun pamanmu tidak marah..... Menukar hasil tes leukimianya "Jawab Sella.
"Kau gila?!!!!.... Bagaimana bisa? "
"Aish... Maafkan aku, ini semua karena aku Var....Serahkan saja padaku, aku akan mengatasinya"
"Baiklah, kita akan pergi ke sana setelah pulang sekolah... Kak Vano memutuskan untuk mengurangi jadwal les ku" Ucap Varro.
"Really?!!!!! "
"Huum?.... Jadi, aku hanya akan les malam saja, Sebenarnya aku masuk lebih dari 10 tempat les... Setidaknya Kak Vano menguranginya hanya 5 les saja dan itupun di rumah" Ucap Varro tersenyum kecut.
"Baiklah...Aku akan mengurusnya...Jaljayo!!!"Teriak Sella mematikan telepon sepihak membuat Varro kesal dan....
"Aish.... Jaljayo!!!.. Oyasumi nasai!!!... "Ucap Varro kesal ketika sahabatnya itu mematikan telepon sepihak.
"Dasar si mulut tidak disaring" Lirih Varro tersenyum hingga.....
"Maafkan Varro....Varro harus melakukan ini"Ucap Varro dalam hati tersenyum menatap fotonya bersama sang kakak dan juga Chanwoo.
"Hasilnya....... P-positif?..... Varro positif leukimia?"
"A-aku.... Hiks... Tidak!!!!... Hiks bagaimana mungkin hiks... L-leukimia stadium 2..."
"Maaf"
Jangan lupa vote, like, comment!!! :)
08-01-23
Kim_na
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Helmi Sintya Junaedi
positif ap negatif sih thor.... ???
2023-02-08
1