Episode 10

Ring... Ring...Ring...

Akhirnya jam pulang sekolah tiba,Varro dan Sella yang masih berada di UKS akhirnya senang karena bisa keluar.

Ketika Varro dan Sella hendak keluar dari ruang UKS, tiba-tiba...

"Guru!!.. Var.. Ada guru... gimana ini? " Ucap Sella khawatir begitu juga dengan Varro hingga..

Varro merangkul Sella tiba-tiba dan...

"Loh... Varro sudah sadar? " Ucap guru seni budaya menyadarkan Sella dari lamunannya.

"I-iya Pak, s-saya akan mengantarkan Varro untuk mengambil sepedanya" Ucap Sella menatap gurunya itu.

"Tumben sekali membawa sepeda... Apakah Pak Jo tidak menjemput? "

"Tidak Pak, saya yang memaksa bawa sepeda"Ucap Varro tersenyum dengan ekspresi lemah.

" Sebaiknya kamu di sini dulu, Pak Jo sebentar lagi akan menjemput "Ucap guru seni budaya membuat Varro dan Sella membelalakkan mata dan..

"Bapak beri tahu Kak Vano? " Ucap Varro tiba-tiba diangguki gurunya itu membuatnya menatap panik kearah Sella begitu juga Sella.

"Tidak masalah bukan?.... Jadi Varro bisa menunggu se-"

"Den Varro!!! " Teriak seseorang dari jauh yang tidak lain adalah Pak Jo.

"Pak Jo" Ucap Varro dan Sella bersamaan, Pak Jo akhirnya sampai dengan ngos-ngosan.

"Pak Jo kenapa menjemput Varro? " Ucap Varro yang melepaskan rangkulan tangannya dari Sella.

"Maaf Den, Pak Jo hanya disuruh Den Vano untuk menjemput aden" Ucap Pak Jo menjelaskan sedangkan Varro menatap Sella penuh arti begitu juga dengan Sella.

"Baiklah, ayo aden... Den Vano sudah menunggu aden di rumah" Ucap Pak Jo membuat Varro membelalakkan matanya.

"B-bukankah Kak Vano di kantor? "

"Saya juga kurang tahu, ini perintah Den" Ucap Pak Jo kemudian menarik tangan Varro.

"Kami permisi" Ucap Varro sebelum mengikuti langkah Pak Jo.

"KABARI AKU!!! " Teriak Sella kencang membuat Varro mengangkat tangannya dan memberikan simbol "OK".

Di Mobil,

"Pak Jo... " Panggil Varro.

"Iya aden? "

"Kenapa kita menuju rumah? " Ucap Varro bingung karena jalan yang ditempuh Pak Jo adalah jalan menuju rumah dan bukan tempat les.

"Den Vano menunggu kita di rumah den... Ini penting" Ucap Pak Jo membuat Varro terdiam karena takut.

"Pak Jo... Apakah guru Varro menelpon Kak Vano?"Ucap Varro tiba-tiba membuat Pak Jo terdiam dan..

"Saya kurang tahu Den, yang jelas Den Vano meminta Den Varro untuk langsung pulang... Di rumah juga ada Tuan Chanwoo "Ucap Pak Jo membuat Varro menundukkan kepalanya dan...

"Apa yang harus aku lakukan" Lirih Varro memijat pelipisnya yang tidak pusing.

Sementara itu di rumah Nando,

"Sebenarnya ada apa Vano?.... Kenapa tiba-tiba meminta paman pulang?... Jam kerja itu masih sampai jam 10 malam" Ucap Chanwoo yang duduk di sofa menatap keponakannya di yang berdiri menatap pintu utama.

"Nanti paman juga tahu" Jawab Vano datar membuat sang paman hanya bisa menghela nafasnya kasar merasakan keponakannya yang memang pada dasarnya seperti itu.

Chanwoo terus berusaha bertanya kepada sang ponakan tapi jawabanya tetap saja sama hingga...

"Mereka datang!! " Ucap Vano kemudian keluar rumah diikuti Chanwoo yang bingung.

"Sudah pulang" Ucap Vano datar membuat Varro terkejut dan...

"K-kak" Lirih Varro menunduk, Chanwoo yang melihat itu pun langsung berpikir jika ada yang tidak beres karena biasanya Varro akan langsung pergi ke tempat les tapi sekarang?

"Kau tidak pergi ke tempat les? " Ucap Chanwoo menatap Varro yang menunduk dan...

"Aku yang mengizinkannya paman" Ucap Vano membuat Chanwoo terkejut, bagaimana bisa?

"Ayo masuk! " Ucap Vano datar dan menarik kasar tangan sang adik, sedangkan Chanwoo hanya bisa geleng-geleng melihat prilaku Vano.

Brugh!!!

Vano menghempaskan tubuh Varro ke sofa dan...

"VARRO!!! APA YANG KAMU LAKUKAN!! " Ucap Chanwoo terkejut dan langsung saja mendekati Varro yang menunduk di sofa.

"Kau baik-baik saja? " Ucap Chanwoo diangguki Varro perlahan, tubuhnya gemetar membuat Chanwoo terkejut.

"APA KAU GILA?... BAGAIMANA BISA KAU MENDORONG ADIKMU SEPERTI ITU?.. BAGAIMANA JIKA DIA TERLUKA? " Bentak Chanwoo membuat Vano terdiam dan...

"Ini adalah caraku paman... Jangan campuri caraku!!... Ini kesepakatan! " Balas Vano yang tak melepaskan pandangannya kepada Varro yang menunduk.

"TAPI... AISH!! " Teriak Chanwoo frustasi karena menyesal dengan kesepakatan yang dulu pernah ia buat dengan Vano sebelum pergi ke Korea.

Vano menatap Varro tajam dan mendekatinya.

"Varro...Tatap mata kakak... TATAP!! " Bentak Vano langsung membuat Varro menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca sedangkan Vano hanya diam.

Vano tiba-tiba menarik kerah seragam Varro membuat Chanwoo terkejut.

"Apa yang kau... Aish!! "

"APA YANG KAU LAKUKAN SAMPAI GURUMU MENELPON KAKAK? " Teriak Vano membuat Varro memejamkan matanya karena sesak dan juga takut.

"JAWAB KAKAK VARRO!!! "

"A-aku tidak mengerjakan tugas K-kak.. " Lirih Varro semakin memejamkan matanya karena takut.

Vano melepaskan kerah seragam Varro dan..

"Apa itu benar? " Ucap Vano lirih membuat Varro langsung menggelengkan kepalanya.

"M-maafkan Varro K-kak" Lirih Varro menunduk.

"Kakak memaafkan mu" Ucap Vano datar hingga...

"Tapi kau harus menjawab pertanyaan kakak dengan jujur" Ucap Vano menatap Varro tajam.

"B-baik.. K-kak.. " Lirih Varro gemetar.

"Guru seni budaya mu menelpon kakak, dia mengatakan bahwa kau pingsan di sekolah.. Apakah itu benar? " Ucap Vano membuat Chanwoo terkejut terutama Varro yang menunduk.

"I-iya K-kak... " Lirih Varro menundukkan kepalanya tanpa menatap sang kakak.

"Bagaimana kau bisa pingsan?" Ucap Chanwoo panik mendekati keponakannya itu dan membolak-balikan badannya.

"A-aku hanya sedikit kurang sehat paman" Ucap Varro berusaha tersenyum tapi....

"Gurumu mengatakan bahwa sahabatmu... Sahabat dekatmu menceritakan sesuatu hal yang kau sembunyikan dari kakak! " Ucap Vano membuat Varro membulatkan matanya dan..

"Apa ini? " Ucap Varro dalam hati.

"Benar atau tidak jika kau mengidap penyakit leukimia? " Tanya Vano membuat Chanwoo membelalakkan matanya dan menatap Varro di sampingnya.

"Varro? "Lirih sang paman tidak percaya.

"BENAR ATAU TIDAK?!!! "Bentak Vano ketika tidak mendapat jawaban dari Varro yang malahan menunduk.

"BENAR ATAU TIDAK HUH? " Bentak Vano semakin kencang dan...

"BENAR!!! " Jawab Varro lantang membuat Vano terdiam membeku begitu juga dengan Chanwoo.

"Itu benar... Hiks.. Dan Varro sebentar lagi akan mati!!!... Akan mati!!!! " Teriak Varro kencang menatap Vano yang diam membeku menatapnya begitu juga dengan sang paman.

"M-maafkan Varro Kak..Hiks Maaf...."Lirih Varro terisak... Hatinya sakit, benar-benar sakit karena mengatakan benar... Dirinya begitu jahat karena berbohong.

Vano mendekati sang adik dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dan...

Brugh!

Vano menubrukkan diri kepada sang adik dengan memeluknya erat membuat Varro terdiam membeku dan mulai menangis.... Varro berpikir kapan terakhir kali sang kakak memeluknya seperti ini?... Varro langsung saja membalas pelukan sang kakak dan...

"Maaf hiks... maaf" Lirih Varro membalas pelukan sang kakak tidak kalah erar, ia tidak perduli jika sang kakak akan memarahinya tapi...

"Maafkan kakak dik... Maafkan kakak... " Lirih Vano memeluk sang adik.

"Hiks.... Varro memaafkan kakak hiks... " Isak Varro semakin kencang.

Chanwoo yang melihat pemandangan itu pun berdiri dan...

"Bagaimana bisa?... Hiks.. Aku gagal menjaga Varro?.. "Ucap Chanwoo menangis dalam hati.

Setengah jam berlalu dan....

Vano benar-benar memeluk Varro dengan erat begitu juga dengan Varro hingga....

"Paman akan memeriksa mu"Ucap Chanwoo datar tiba-tiba membuat Varro terkejut.

"K-kenapa paman? "Lirih Varro.

"Mungkin saja diagnosis itu salah... Paman tidak percaya jika kau mengidap penyakit ini" Ucap Chanwoo lirih membuat Vano berusaha melepas pelukan sang adik tapi...

"Jangan..." Lirih Varro membuat Vano berhenti.

"Sebaiknya Varro mengikuti kata-kata paman"Ucap Vano lembut membuat Varro tiba-tiba menangis, kapan terakhir kali sang kakak berbicara lembut kepadanya?.. beberapa tahun yang lalu mungkin.

"Varro tidak mau.... Hiks.. Varro tidak mau... Biar saja seperti ini.... Varro hanya butuh kakak dan paman "Lirih Varro dalam dekapan Vano.

"Tapi ini hanya untuk mengecek saja Varro "Lirih Vano.

"Tap-"

"Ini perintah" Ucap Vano berusaha melepaskan pelukan sang adik tapi...

"J-jangan.... Varro ingin di peluk Kak Vano... hiks.. Akh" Lirih Varro tiba-tiba bersamaan dengan pelukannya yang melemah membuat Vano terkejut dan...

"Mimisan!!!.. Varro mimisan, Van!! " Ucap Chanwoo terkejut membuat Vano juga terkejut dan melepaskan pelukannya.

Vano terkejut ketika hidung sang adik tidak berhenti-hentinya mengeluarkan darah dengan sang adik yang memejamkan matanya.

"Varro... Ingin kakak...hiks sakit... "Gumam Varro dengan mata yang terpejam membuat Vano dan Chanwoo terkejut.

Chanwoo langsung saja berlari ke ruang kerjanya di rumah dan mengambil beberapa alat medis.

Vano membenarkan posisi sang adik serta membersihkan darah di hidung sang adik.

"Hiks.. S-sakit... " Lirih Varro tanpa membuka matanya membuat Vano tanpa sadar meneteskan air matanya.

"Adikku tidak mungkin mengidap leukimia" Lirih Vano sambil mengusap lembut rambut Varro.

"Varro sayang kakak"

"Nado....Uri dongsaeng! "

"Hasilnya akan keluar dalam 4 sampai 5 hari"

"Apa yang harus aku lakukan Sella? "

"Maafkan Varro....Varro harus melakukan ini"

Jangan lupa vote, like, comment!!! :)

Jum'at, 03-02-23

Kim_na

Terpopuler

Comments

Helmi Sintya Junaedi

Helmi Sintya Junaedi

lanjut,,,,

2023-02-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!