Jam menunjukkan pukul 21:00 malam. Di meja belajar tempatnya, Varro mengerjakan soal-soal yang menyebabkan dirinya di bentak oleh sang kakak. Awalnya Varro tidak ingin mengerjakan soal-soal itu karena Varro sangat lelah. Tapi karena Varro tidak ingin Vano kembali memarahinya, akhirnya dengan setengah berat hati Varro mengerjakan soal-soal itu dan mempelajarinya.
Varro memegangi perutnya selama mengerjakan soal-soal itu, ia belum makan dari pulang sekolah sore tadi.Varro ingin sekali mengambil makanan di dapur, tetapi sang kakak mengunci dirinya dalam kamar.
"Huft...Sampai kapan? " Lirih Varro menghela nafasnya dengan berat tetap mengerjakan soal-soal yang ia pegang. Perutnya sakit karena lapar,tubuhnya pegal karena lelah, dan matanya terasa sangat berat karena mengantuk.
"2x+5y sama dengan... " Lirih Varro memijat pelipisnya yang tidak pusing.Tangan kanannya memainkan bulpoint mencari tahu jawabannya, tapi akhirnya....
"Huft...Argh...Ada apa dengan dirimu ini Huh?!.Soal semudah ini tidak ingin mencari tahu jawabannya" Kesal Varro pada dirinya sendiri dan berdiri beranjak dari meja belajar menuju kasur empuknya.
"Huh~Apakah Kak Vano lupa jika mengunci kamarku? "Lirih Varro kecewa menatap pintu kamarnya yang tertutup. Jika saja kakaknya tidak mengunci kamarnya, mungkin Varro sudah memanjakan perutnya dengan cemilan yang telah Varro beli bersama Chanwoo tadi.
Varro membaringkan tubuhnya memegangi perutnya yang sakit dan menatap langit-langit kamarnya yang terang.Dengan meletakkan lengan kanan di atas wajahnya lebih tepatnya di atas dahinya.Tatapan kosong dan kesepian itu Varro tunjukkan saat menatap langit-langit kamarnya dan...
"Varro rindu kalian... "Lirih Varro menarik nafasnya berat seakan sesak dadanya memikul kebohongan-kebohongan yang telah ia lakukan selama ini.
"Maafkan Varro karena semakin cengeng...Maafkan Varro... "
"Ma, Pa... Varro sudah berusaha kuat... Sudah berusaha... Tapi, Varro sudah lelah Ma, P,...Capek...Tired... And all"
"Kapan ya.... Varro bisa ikut Mama sama Papa?... Kapan? "
"Varro ingin sekali bermain basket bersama kalian, Paman.... Dan Kak Vano"
"Kalian tahu?.... Varro rasa,,,, semakin kesini, Varro semakin gila... "
"Mama sama Papa ingin melihatnya? "
"Awalnya Varro hanya memikirkannya, tapi...."Varro menghentikan perkataannya lalu duduk. Varro membuka laci yang berada tepat di samping kasurnya dan mengambil sesuatu.
"Varro bisa saja melakukan ini.... Tapi, Kak Vano....."
"Bukankah Kak Vano memang menganggap Varro sebagai beban yah?.... Argh, telingaku sakit saat Varro mengingat itu Ma, Pa.. " Lirih Varro tersenyum kecut menatap benda tipis yang ia pegang.
Varro menatap lengan tangan kirinya dan...
"Brengsek!!! Brengsek!!!!!!!!!!!!..... Maafkan aku!!!... Hiks... Tidak!!! Kau tidak boleh seperti ini Varro..."Ucap Varro melemparkan benda tipis itu dan terisak memeluk lututnya.Tubuhnya bergetar dan lemas tiba-tiba, Varro rasa jika penyakitnya kambuh. Varro semakin terisak berpikir jika dirinya semakin tidak berguna dan memang seperti benalu yang kakaknya pikirkan.
Varro terisak pelan, tubuhnya tiba-tiba terasa sakit, perutnya, kepalanya pusing dan... Varro rasa jika sebentar lagi ia akan mimisan... Suhu tubuhnya tiba-tiba naik dan....
"S-selalu saja... Ck" Lirih Varro lemah merasa tubuhnya tidak baik-baik saja hingga ia mengingat bahwa ia memiliki sesuatu yang mungkin bisa membantunya.
"Obat..... "Lirih Varro berusaha bangkit dari ranjangnya menuju meja belajarnya, karena Varro ingat bahwa Varro meletakkan obat tidurnya di laci meja belajar. Varro dengan susah payah akhirnya sampai di meja belajar dan membuka laci mejanya itu.Varro dengan tangan gemetar membuka botol obat kecil berisi obat tidur dan menelannya 1 butir tanpa obat.
Perlahan Varro merasakan matanya memberat dan...
Bruk!
"V-Varro... lelahh... J-jaljayo..V-Varr..."Lirih Varro duduk di lantai bersandar pada meja belajarnya hingga akhirnya memejamkan matanya.
Varro pingsan?
Atau tidur?
Di ruang keluarga,
"Kau yakin akan membukakan pintu kamar Varro besok pagi?" Ucap Chanwoo menatap Vano yang berbaring di sofa sebrang.
"Bagaimana jika adikmu itu sakit?... Van,,,, jangan seperti ini... Kau keterlaluan, Varro belum makan Van..." Ucap Chanwoo tetapi diabaikan oleh Vano yang setia menonton TV.
Chanwoo yang merasa sedikit emosi pun mengambil remot di depannya dan...
"Kenapa Paman mematikan TV-nya?... Acaranya sangat bagus! "Ucap Vano menatap kesal sang Paman yang kini berdiri di sampingnya.
"Apakah acara TV itu lebih penting daripada adikmu sendiri huh? "
"Van... Jangan terlalu keterlaluan dan menekankan Varro seperti ini...Varro juga membutuhkan istirahat Van! " Ucap Chanwoo serius menatap Vano yang terdiam menatap TV yang dimatikan Chanwoo.
"Apa kau tidak kasihan dengan adikmu?...Van, Paman tahu jika kau menginginkan yang terbaik untuk adikmu... Tapi caramu salah Van.... Mau sampai kapan huh? mau sampai kapan? "
"Mau sampai Varro membencimu?... Mau Varro lelah dan memutuskan kabur dari rumah?... Atau bahkan Varro lelah dan memilih pergi bersama mereka?" Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Chanwoo seakan masuk ke dalam telinga Vano, dahinya berkerut tidak suka dan...
"Jangan berbicara hal bodoh Paman.... Varro tidak segila itu... Dia masih muda... Dan juga dia tidak akan melanggar perintah dan aturan dari ku" Ucap Vano datar menatap sang Paman.
"Paman... Sebelumnya juga aku menjalani berbagai macam kedisiplinan setelah Paman pergi ke Korea dan menitipkan Vano dan Varro pada teman Paman..... Vano pernah merasa lelah Paman... Tapi akhirnya Vano faham jika kedisiplinan yang kuat akan membuat seseorang menjadi sukses.... Jadi apakah Vano salah jika menerapkan sistem Vano pada Varro?.... Hanya membuatnya menjadi berkali lipat"Chanwoo tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan dengan keponakannya itu dan...
"Kau tahu?.... Itu adalah sebuah balas dendam Var... Kau melampiaskan semuanya pada Varro... Melampiaskan hal yang seharusnya tidak kau lakukan pada adikmu... Seharusnya kau memberinya kasih sayang seorang kakak dan...Huft.... Maafkan Paman Van... Jika saja saat itu Paman tidak per"
"Aku tidak ingin membahas itu Paman... Aku lelah, jangan ganggu istirahatku Paman, setelah ini aku akan lembur di kantor"Ucap Vano menghela nafas lalu memejamkan matanya dan...
"PAK JO... BUKAKAN KAMAR VARRO DAN SURUH DIA MAKAN... KUNCI DI SAMPING PINTU KAMARNYA!! " Teriak Vano dengan memejamkan matanya dan....
"Dasar... Pak Jo dan Bi Lati sedang tidak di rumah... Kau memang!... Ayo!!!"Ucap Chanwoo tersenyum menarik Vano yang memejamkan matanya di sofa.Vano beranjak dari sofa dan...
"Huft...Seseorang menarik ku... Siapa yah? " Ucap Vano menatap kanan dan kirinya membuat Chanwoo terkekeh dan...
"Tunggu Paman!! " Ucap Chanwoo sambil terkekeh saat Vano berjalan mendahuluinya.
"Tidak ada yang dewasa diantara kalian... Hanya perlu mengerti satu sama lain... Paman yakin jika Vano sangat menyayangi Varro"
"Cepat!.. Kasihan adikmu" Ucap Chanwoo membuat Vano mendengus kesal dan...
Cklek...
"Di mana adikmu? " Bingung Chanwoo ketika mendapati kamar Varro yang berantakan dan kosong.
"Varro.... Var?...Varro..."
Vano terdiam di pintu menatap kamar sang adik yang berantakan dengan buku-buku yang berserakan.Vano akan memarahi Varro jika ketemu... Bagaimana bisa ia membuat buku-buku yang ia belikan mahal-mahal malah seperti ini.
Vano melangkahkan kakinya mengikuti sang Paman dan...
"Varro!!!!" Teriak Chanwoo terkejut ketika mendapati Varro duduk memejamkan mata di lantai dengan bersandar pada meja belajarnya.Vano melebarkan matanya ketika melihat sang adik seperti itu dan...
"Demam... Adikmu demam Van! " Ucap Chanwoo panik membuat Vano langsung saja menyentuh dahi Varro dan...
"Aish.. Merepotkan" Lirih Vano khawatir tetapi tertutupi oleh topeng wajahnya yang dingin.
Vano hendak mengangkat tubuh Varro tapi...
"K-kak... "Lirih Varro membuka matanya membuat Vano mengurungkan niatnya itu.
"Var!!... Varro baik-baik saja?... Tidak pingsan tadi hum? " Ucap Chanwoo panik diangguki Varro lemah membuat Chanwoo merasa lega...Begitu juga dengan Vano.
"M-maaf.... V-Varro ketiduran" Lirih Varro menatap sang kakak takut. Vano menatap Varro sedikit lama dan...
"Ck... Menyusahkan, bagaimana bisa kau menang jika seperti ini" Ucap Vano sinis membuat Chanwoo menjitak kepala Vano pelan.
"Paman! "Kesal Vano tapi...
"Sudahlah.... Varro, mau Paman bantu?... Varro demam"
"T-tidak Paman... Varro baik-baik saja" Ucap Varro lirih membuat Vano memutar bola matanya malas.Varro berusaha berdiri dan...
"Makanya kalau dikasih tahu itu didengerin! "Ketus Vano menahan tubuh sang adik yang limbung dsn hampir jatuh.
"M-maaf Ka-"
"Sudahlah!.. Merepotkan saja!Kau benar-benar menyusahkan,Var"Ketus Vano kemudian langsung saja membantu Varro untuk berjalan menuju kasurnya. Varro hanya bisa menurut karena takut dan tubuhnya sangat lemas.
"Paman...Tolong periksa anak ini.. Biar aku membuat bubur untuknya... Merepotkan saja"Gumam Vano hingga keluar dari kamar Varro menuju dapur untuk membuatkan bubur untuk adiknya itu.
"Biar Paman periksa" Ucap Chanwoo mengambil alat-alat yang selalu ia siapkan di kamar Varro jika sewaktu-waktu keponakannya itu kambuh.
"Pusing? "
"Tidak"
"Sakit? "
"Tidak Paman"
"Varro yakin? " Ucap Chanwoo dengan tatapan mengintimidasi dan...
"Sedikit"Chanwoo tersenyum mendengar perkataan Varro lalu mengusap rambut keponakannya itu pelan.
"Jangan sakit... "
"Paman... " Lirih Varro menatap sang Paman yang memasangkan infus untuknya.
"Hum?"
"Maafkan Varro... "Ucap Varro membuat Chanwoo berhenti dan...
"Maafkan Varro karena pernah memikirkan hal-hal gila Paman.... Varro berjanji untuk berusaha untuk Paman dan Kak Vano... Varro janji "Ucap Varro menatap Chanwoo dengan serius.
Chanwoo menatap keponakannya itu dan...
"Hum.... Berusahalah Var...Jangan pernah membahas itu lagi... Paman akan selalu mendukungmu" Ucap Chanwoo tersenyum.
"Kau ingin menjadi atlet basket bukan?...Paman akan selalu ada jika membutuhkan teman latihan... Atau kau ingin yang lain? "
"Tidak Paman... Terima kasih, siap-siap saja Paman untuk kalah" Ucap Varro tersenyum membuat Chanwoo terkekeh dan..
Puk!!
Chanwoo memukul kepala Varro pelan.
"Sakit!!! "
"Maaf... Paman lupa jika Varro sakit" Ucap Chanwoo menatap Varro dan...
"Hahahhahahahaha" Chanwoo dan Varro tertawa bersama karena hal konyol itu.
"Terima kasih Paman..."
"Apa kau yakin ingin ke rumahku Var? "
"Aku menyukaimu"
"Aku akan selalu mendukungmu.... Kita adalah sahabat,,,,, Yah... Sahabat"
Jangan lupa vote, like, and comment!!! :)
Rabu, 22-02-23
Kim_na
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments