Episode 7

Dua jam berdiri di bawah derasnya air hujan... Itulah yang dilakukan Varro menuruti hukuman dari sang kakak... Tak perduli bahwa sebentar lagi Sang mentari akan menyembunyikan dirinya...

Tubuhnya sudah bergetar kedinginan dari beberapa menit yang lalu, kepalanya terasa berat dan begitu nyeri karena luka yang sebelumnya Varro dapatkan dari sang kakak di dahi... Tubuhnya yang begitu lemas tapi ia paksa untuk berdiri, tatapannya tak teralihkan dari tetesan air hujan yang menghampirinya.

"D-din-ngin... "Gumam Varro dengan bibir yang bergetar serta mata yang terasa pedas.

" K-kak.. hhhh d-di-ngin.... "Gumam Varro terus menerus dengan tubuhnya yang bergetar hingga dirinya tidak sanggup lagu menopang tubuhnya lagi.

Pandangannya memburam dan tubuhnya mempersiapkan untuk jatuh tapi...

" K-kakak.. "Lirih Varro menatap satu seseorang yang menahan tubuhnya dan mengangkat dirinya ke dalam rumah.

Vano berjalan menuju kamar Varro diikuti oleh Bi Lati yang menahan isakkannya melihat sang majikan mudanya dengan keadaan yang benar-benar tidak baik-baik saja.

Brak!

Vano menendang keras pintu kamar Varro dan meletakkan tubuh lemah sang adik di kasur empuk, terlihat wajahnya yang tetap datar tetapi tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran terhadap sang adik yang penyebabnya adalah dirinya sendiri.

Varro menatap sayu kakaknya yang menatapnya dengan datar...

"M-maaf... " Lirih Varro lemah yang hanya bisa di dengar oleh Vano yang duduk di samping kasurnya.

"Untuk hari ini, aku memaafkanmu... Jangan ulangi lagi.Les yang aku daftarkan itu dengan uang... Jangan sia-siakan uangku, sebentar lagi akan ada ulangan bukan?.... Berikan hasil yang sempurna...." Ucap Vano tanpa menatap Varro yang menatap sang kakak sendu.

"Bi, urusi anak ini" Lanjut Varro kemudian melangkahkan kakinya ke luar kamar Varro.

Bi Lati yang melihatnya pun langsung mendekati Varro yang terdiam dan...

"Biar Bi Lati obati lukanya" Ucap Bi Lati kemudian mengambil P3K di laci meja Varro dan menempelkan plester pada dahi Varro yang terluka.

"Mau bibi bantu untuk ganti baju? " Lanjut Bi Lati menawarkan diri karena melihat keadaan Varro yang benar-benar tidak baik-baik saja.

"Tidak bi, terimakasih"Lirih Varro tersenyum menolak tawaran Bi Lati.

"Bi... "Lirih Varro membuat Bi Lati langsung menatap Tuan mudanya dan..

"Varro ingin sendiri... Maaf"Ucap Varro membuat Bi Lati terdiam.

"Baiklah Den,tapi jika membutuhkan sesuatu... Panggil bibi ya Den "Ucap Bi Lati diangguki Varro.

Sementara itu,

"Hah~maafkan kakak Varro... " Lirih Vano menatap laptop di depannya yang berisi CCTV kamar Varro.

Flashback

Vano yang emosi setelah menghukum Varro pun langsung pergi ke menuju ke kamarnya tapi..

"Den.. Hiks... Tolong Den... Kasihan Den Varro den hiks... Bagaimana jika Den Varro sakit Den?... Hiks.. Hujannya sangat deras Den tolong Den.. Maafkan Den Varro... " Isak Bi Lati menahan tangan Vano yang hendak melangkahkan kakinya ke tangga..

"Maaf Bi, Vano tidak bisa.. " Ucap Vano melepaskan tangan Bi Lati dari lengannya dan melangkahkan kakinya satu persatu pada tangga.

"Bagaimana jika Den Varro sakit Den?... Hiks... Bibi mohon Den.. hiks... Den Varro kemarin baru saja sembuh.. hiks.. Bagaimana jika kambuh Den"Lanjut Bi Lati mampu membuat langkah Vano terhenti dan membalikan badannya menatap Bi Lati.

"Hah~Cukup Bi.... Vano sedang ada urusan pekerjaan, lebih baik Bi Lati membuatkan minuman hangat untukku... Sekarang! " Ucap Vano datar membuat Bi Lati terdiam dan mengangguk.

Bi Lati pun akhirnya langsung pergi menuju dapur dengan isakan yang tersisa, sedangkan Vano yang awalnya ingin menuju kamarnya.. Kini berubah pikiran dan duduk di sofa besar yang dapat membuatnya melihat Varro dari kaca besar di sampingnya.

Terlihat Varro yang tetap berdiri dengan tangan yang diangkat serta salah satu kaki yang diangkat seperti hukuman biasanya.

Hatinya sedikit sakit melihat adiknya yang ia hukum seperti itu, tapi egonya yang kuat lebih mendominasi dirinya.

Kini dua jam telah berlalu dengan Vano yang memainkan laptopnya dengan segelas kopi hangat di sampingnya tak lupa tatapan matanya yang selalu mengamati sang adik yang masih berdiri di luar hingga...

"Ada apa dengan anak itu"Ucap Vano ketika netranya melihat adiknya seperti menggigil kedinginan hingga...

Vano berlari ketika dirinya menyadari jika adiknya itu nyaris ambruk dan...

" K-kakak"Lirihan lemah yang ia dengar dari sang adik yang menatapnya dengan sayu.. Vano pun langsung bergegas mengangkat Varro dan membawanya ke kamar Varro.

Vano merasakan jika dirinya sedang dalam keadaan cemas ketika melihat adiknya yang telah ia baringkan di kasur... Vano merasa cemas ketika melihat wajah adiknya yang benar-benar pucat, bibir adiknya yang hampir membiru, dan goresan luka di dahi adiknya yang masih terbuka karenanya membuat Vano hanya diam bersalah menatap sang adik.

Tatapan adiknya benar-benar sayu hingga...

"M-maaf... " Kata yang membuat dirinya benar-benar merasa bersalah pada adiknya.

Vano berusaha untuk menatap adiknya dan...

"Untuk hari ini, aku memaafkanmu... Jangan ulangi lagi.Les yang aku daftarkan itu dengan uang... Jangan sia-siakan uangku, sebentar lagi akan ada ulangan bukan?.... Berikan hasil yang sempurna.." Perkataan bodoh yang tidak sesuai dengan apa yang ingin Vano katakan membuatnya begitu kesal dan tak mampu menatap sang adik hingga...

""Bi, urusi anak ini... " Sekali lagi kata bodoh yang keluar dari mulutnya yang sangat ia rutuki juga kakinya yang bergerak melangkah keluar dari kamar sang adik membuatnya ingin mengumpat pada dirinya sendiri tapi tujuan Vano adalah kamarnya.

Flashback End

Vano terus menatap CCTV di depannya menunjukkan sang adik yang sendiri dengan lampu yang sengaja dimatikan hingga terdengar suara isakan yang cukup jelas di telinga Vano.

"Varro lelah.... "

"Varro sakit..... "

"Varro ingin ikut Papa dan mama... hiks.. "

"Varro kesepian.... hiks.."

"Varro rindu Kak Vano yang dulu hiks... Varro rindu... hisk.. "

Isakan demi isakan Varro yang terdengar di telinga Vano membuatnya tanpa sadar meneteskan air matanya dan menutup laptopnya kasar.

"Maaf.... Maafkan kakak Varro... " Lirih Vano menutupi wajahnya dan menangis di malam hujan hingga....

Ring...Ring...Ring...

Suara deringan telepon membuatnya berhenti dan mengangkat layar telponnya dengan nama "Chanwoo Samchon(Paman) "

"Ya paman?"Ucap Vano berusaha menetralkan nafasnya.

" Vano ya... Maafkan Paman, sepertinya paman tidak pulang hari ini... Client kita meminta paman untuk menginap karena hujan yang belum reda... Tidak apa bukan? "

"Iya Paman" Jawab Vano singkat membuat sang paman terkekeh di seberang telepon.

"Baiklah... Jaga adikmu nee.. " Ucap Chanwoo kemudian menutup telponnya membuat Vano menghela nafas dan..

"Selalu saja... " Lirih Vano melemparkan ponselnya di kasur sampingnya... Dirinya yang tadinya merasa bersalah kini mengambil lembar di meja samping kasur besarnya.

"Olimpiade sains... "

"Varro harus bisa memenangkannya" Lanjut Vano lirih dan melempar kertas itu sembarang tak lupa untuk mematikan lampu di sampingnya.

"Nilai sempurna dan hasil yang sempurna"Gumam Vano hingga memasuki dunia mimpinya.

" VARRO BUKAN ROBOT KAK,,, BUKAN!!!! "

Jangan lupa vote, like, coment!!! :)

Ahad, 29-01-23

Kim_na

Kritik dan saran sangat penting untuk perbaikan di cerita ini..... Terimakasih!!!!

SEMANGAT MEMBACA!!!!! ;

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!