Bel pulang akhirnya berbunyi membuat semua siswa di sekolah berhamburan untuk keluar dari kelas mereka kecuali Varro dan Sella yang setia duduk di bangku mereka.
"Kenapa tidak pulang? " Ucap Varro menatap Sella di sampingnya sedangkan Sella malah menyembunyikan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di atas meja.
"Males" Jawab Sella singkat dan padat membuat Varro terkekeh.
"Really? " Ucap Varro sambil mengusap rambut Sella kasar membuat sang empu kesal dan menepis tangan Varro hingga...
Dug!
"Akh... " Ringis Varro ketika tangannya tanpa sengaja terbentur dengan meja di samping Sella membuat Sella terkejut.
"Kau terluka?!!... Yak!! Maafkan aku! " Ucap Sella lalu menarik tangan Varro yang terluka dan semakin membuat Varro kesakitan.
"Yak!! Lepas!!... Kau mau membunuhku?!" Ucap Varro melepas tangan Sella membuat Sella kesal.
"Aku hanya ingin mengobati mu" Lirih Sella menunduk me membuat Varro menghela nafas panjang dan...
"It's okay,don't worry... " Ucap Varro tersenyum memegang bahu Sella pelan, inilah resiko memiliki sahabat perempuan... Kita mau tidak mau harus selalu mengalah, benar bukan?
"Maafkan aku.. " Lirih Sella menatap Varro dengan mata berkaca-kaca membuat Varro terkejut.
"Yak!! Kau menangis?... Hei!! Seorang Sella menangis?.... Kkkkk" Ucap Varro tertawa membuat Sella mendengus dan...
"Aku tidak menangis!!! Itu kelilipan!! " Ucap Sella memalingkan wajahnya membuat Varro menghela nafasnya.
"Oke-oke aku percaya" Ucap Varro mengalah dan..
"Tapi ceritakan masalahmu... Kenapa tidak mau pulang? " Ucap Varro membuat Sella terdiam menatap Varro.
Sella memalingkan wajahnya dan menatap ke arah papan tulis di depannya hingga..
"Aku hanya malas Var,..telingaku ini selalu saja panas setiap hari" Ucap Sella lirih membuat Varro mengerutkan dahinya dan...
"Kenapa? "
"Orang tuaku selalu saja bertengkar... " Ucap Sella membuat Varro terkejut.
"Baik di rumah maupun di perusahaan..."Ucap Sella menundukkan wajahnya membuat Varro terdiam.
" Aku tidak bisa Var,..hiks Tidak bisa... "Lanjut Sella lirih menatap Varro yang terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana bisa seorang anak disuruh untuk memilih diantara kedua orang tuanya... Bagaimana bisa?! "Tambah Sella yang akhirnya menetes air matanya membuat Varro langsung saja memeluk sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa.. Hiks... " Isak Sella memeluk Varro erat.
"Sudah puas? " Ucap Varro tersenyum membuat Sella langsung melepas pelukannya pada Varro dan memalingkan wajahnya.
"Heleh... Tadi nangis, sekarang ngambek" Ucap Varro mengejek membuat Sella menatap Varro dan...
"Akh... Yak!!! Lepas!!! Sakit Sella!! " Teriak Varro ketika Sella tiba-tiba saja menjambak rambutnya lumayan keras bagi Varro.
"Tidak!!! Salah siapa... Mulut mu tidak bisa disaring!! " Ucap Sella membuat Varro menghela nafasnya panjang dan...
"OKE!!... Aku minta maaf!! " Ucap Varro mengalah tapi tidak membuat Sella melepaskannya.
"Apa?!!! "
"Oke-oke!!! Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke perpus!!BESOK PAGI!!" Ucap Varro membuat Sella tersenyum dan langsung melepas jambakannya.
Aneh bukan?
Jalan-jalan kok ke perrpus, tapi ingat!! Varro dan Sella adalah kutu buku.
"Baiklah!!! Ayo pulang! " Ucap Sella menarik tangan Varro.
"Akh! " Ringis Varro membuat Sella terkejut dan...
"Aku lupa..." Ucap Sella tersenyum kikuk tapi..
"Varro!!!.. Kenapa sampai lebam huh?! " Ucap Sella terkejut melihat tangan Varro yang lebam, perasaan sepertinya tadi terbentur tidak terlalu keras.
"I-ini... Yak! Sudahlah ini baik-baik saja... Ayo pulang,,, Aku tidak mau terkena hukuman" Ucap Varro membuat Sella terdiam dan..
"Baiklah... Aku nebeng yah.. " Ucap Sella diangguki Varro yang berjalan di depannya.
Hari menunjukkan pukul 5 sore,
Kini Varro berada di taman bersama Pak Jo, awalnya Varro ingin pergi ke Mall tapi karena tidak ada izin dari Vano akhirnya Varro memutuskan untuk pergi ke taman.
"Kenapa ke sini, Den? " Ucap Pak Jo yang duduk di samping Varro.
"Merenung" Ucap Varro singkat membuat Pak Jo tersenyum.
"Den Varro sudah meminum obat? " Ucap Pak Jo membuat Varro menghela nafas dan..
"Sudah"
"Den Varro punya masalah?.... Den Varro bisa cerita dengan Pak Jo jika ingin, bukannya biasanya seperti itu? " Ucap Pak Jo tersenyum membuat Varro menatap Pak Jo dan...
"Varro ngantuk Pak Jo... " Lirih Varro menunduk wajahnya sambil memainkan jari-jari tangannya.
"Varro ingin sehari saja bisa tidur dengan baik... setidaknya lima jam atau kalau bisa Varro ingin tidur dengan normal" Lanjut Varro membuat Pak Jo terdiam menatap iba tuan mudanya.
"Varro kangen Kak Vano Pak Jo.... Kangen sekali.."
"Varro ingin Kak Vano tersenyum Pak Jo, tersenyum saja sekali kepada Varro... Kalau bisa, Varro ingin Kak Vano memeluk Varro... Sekali saja" Lirih Varro membuat Pak Jo menghela nafas panjang berniat untuk menangkan sang tuan muda tapi...
"Den!... Mimisan!.. " Ucap Pak Jo terkejut menatap Varro dengan hidung yang mengeluarkan darah..
Varro yang menyadarinya pun menyentuh hidungnya dan...
"Ini lagi... " Lirih Varro tersenyum menatap tangannya yang terkena darah setelah menyentuh hidungnya dan..
Bruk!!
Varro merasa pandangannya mulai memburam dan tubuhnya melemas hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya dan ambruk ke arah Pak Jo di sampingnya yang terkejut.
"Den... Den Varro baik-baik saja?... Den! " Ucap Pak Jo panik sambil menepuk pipi sang majikan dan membuat tangannya terkena sedikit darah.
"Den Varro buka mata Aden... Den.. " Ucap Pak Jo berusaha membuat Varro sadar dan..
"S-sakit P-pak J-jo... akh.. " Ringis Varro yang berusaha membuka matanya dan..
"Kita ke rumah sakit Den.. " Ucap Pak Jo mengangkat tubuh Varro tapi..
"V-varro h-harush..perghi..L-lesh.. " Lirih Varro lemah membuat Pak Jo menggelengkan kepalanya dan..
"Tidak Den!!... Penyakit Den Varro kambuh!!!.... Ini pasti karena Den Varro berbohong telah meminum obat padahal tidak! " Ucap Pak Jo langsung berlari ke mobil dan meletakkan Varro di sampingnya.
"Bertahanlah Den! " Ucap Pak Jo melajukan mobilnya.
"P-pak Jo.. " Lirih Varro masih mempertahankan kesadarannya.
"Iya Den..."
"P-pulang.... hiks... tidak mau ke rumah sakit hiks... " Lirih Varro yang akhirnya terisak seperti biasa saat kambuh membuat Pak Jo terdiam dan..
"Baiklah Den, bertahanlah Den Varro..." Ucap Pak Jo cemas dan kembali melajukan mobilnya dengan cepat... Sedangkan Varro masih setengah sadar sambil terisak.
Di rumah mewah keluarga Nando,
Akhirnya Pak Jo sampai di depan rumah mewah sang majikan tapi anehnya terdapat mobil yang sepertinya tidak asing bagi Pak Jo...
Tanpa basa basi Pak Jo akhirnya mengangkat Varro yang setengah sadar dan masih terisak dengan darah dari hidung yang tidak mau berhenti keluar....
"Den Varro!!!!... Ada apa dengan Den Varro! " Ucap Bi Lati terkejut ketika melihat sang suami mengangkat majikan kecilnya yang tidak lain adalah Varro dengan Varro yang setengah sadar dan darah yang tidak berhenti keluar dari hidung.
"Dokter pribadi!!! " Ucap Pak Jo menatap Bi Lati...
"Dokter pri-"
Pak Jo langsung saja memasuki pintu utama dan...
"VARRO!!! " Teriak laki-laki yang tidak lain adalah Vano dan.... Chanwoo.
Pak Jo langsung langsung berjalan menuju Vano dan meletakan Varro di sofa besar..
"Ada apa dengan adikku?!! " Ucap Vano panik dan langsung berusaha untuk menghentikan mimisan Varro.
"Aden... Dokter pribadi? " Ucap Pak Jo khawatir hingga tersadar jika dokter pribadi mereka sedang cuti.
Chanwoo yang melihat keadaan keponakan bungsunya pun langsung mendekat dan...
"Varro dengar Paman? Hei...Varro.. " Ucap Chanwoo menepuk-nepuk pipi Varro.
"Hiks... S-sakit.. hiks.. Paman.. hiks... " Akhirnya Varro bersuara walaupun dengan isakkan dan mata yang terpejam.
"Mana yang sakit hei... mana? " Ucap Chanwoo mengelus surai Varro lembut dan berusaha untuk berkomunikasi dengan keponakannya itu.
"Sakit hiks... S-sakit... hiks... Kakak jahat hiks... Varro sakit... hiks.. " Isak Varro sambil mencengkram erat kaosnya membuat Vano terdiam.
"Kak Vano jahat?... wah.. mau Paman hukum?"Ucap Chanwoo masih mengelus surai Varro lembut dan mengelap keringat sang keponakan.
" J-jangan hiks... Paman hiks... Mama.. hiks.. Papa.. hiks.. Varro rindu hiks.. Arggh... hiks.. "Isak Varro semakin keras tanpa sadar membuat tubuhnya memberontak dan Chanwoo langsung memeluk keponakannya itu erat karena itulah yang selalu dilakukan ketika trauma Varro kambuh.
Varro terus saja terisak di pelukan Chanwoo hingga..
" Hiks... S-sakit... hiks... Kakak hiks... peluk.. hiks"Ucap Varro tiba-tiba membuat Chanwoo menatap Vano dan...
"T-tapi... "
"Peluk adikmu" Ucap Chanwoo membuat Vano mendekat dan memeluk Varro perlahan dan...
"Varro rindu Kak Vano... " Lirih Varro masih dengan mata terpejam hingga akhirnya pingsan membuat Vano terkejut merasakan tubuh adiknya memberat di pelukannya...
Chanwoo langsung saja mengambil alih Varro dan mengangkat Varro menuju kamar Varro diikuti Vano dan Pak Jo.
Di kamar Varro,
Kini Varro sudah memakai piyamanya setelah Chanwoo menggantikan seragamnya..
Vano dari tadi hanya memperhatikan sang adik dan..
"Apa yang membuatnya kambuh? " Lirih Vano tiba-tiba membuat Chanwoo menatapnya dan tersenyum...
"Paman juga tidak tahu...Kau bisa saja bertanya, kau kan kakaknya" Ucap Chanwoo tersenyum menatap Varro yang tertidur dengan nyenyak sedangkan Vano?..
"Entahlah Paman.... Hah~Aku titip Varro, aku akan ada zoom setelah ini" Ucap Vano berdiri sambil menatap sang adik yang masih saja memejamkan matanya.
"Okay... Serahkan pada Paman mu ini" Ucap Chanwoo tersenyum dan Vano langsung saja keluar dari kamar Varro dan menutupnya pelan.
Chanwoo yang melihat keponakan kesayangannya itu masih memejamkan matanya pun tersenyum dan...
"Tidurlah.... Mungkin setelah kau bangun, jam tidurmu akan dipotong oleh kakak mu" Ucap Chanwoo sambil mengelus surai hitam Varro.
"Kau pasti lelah bukan?... Maafkan Paman... Paman tahu jika kakak mu sangat menyayangimu, hanya saja caranya yang salah..... Ikutilah permainan kakakmu... Dan berhentilah jika kau lelah Varro.... Paman tidak akan menghentikan keputusanmu, tapi Varro harus tahu bahwa berhenti itu hanyalah hal yang diperuntukan untuk pecundang.... So, Paman tidak ingin keponakan paman ini menjadi seorang pecundang nee"Ucap Chanwoo sambil menghela nafas berat dan....
"Kau pasti kedinginan bukan?..... Kau akan senang jika melihat Paman di sampingmu" Ucap Chanwoo kemudian tidur di samping Varro dengan posisi memeluk Varro.
"Paman akan selalu berada di pihak mu.... Jangan pernah berhenti dan menjadi pecundang" Ucap Chanwoo kemudian perlahan mulai masuk ke dalam mimpinya dengan Varro di sampingnya.
"Aku baik-baik saja... benar-benar baik-baik saja.. percayalah" Kata yang selalu diucapkan Varro di depan Sella dan teman-temannya.
Senin, 23-01-23
Kim_na
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments