18. Jadi yang kedua?

Beni atau Preto, sang mata-mata setelah berhasil merekam percakapan mereka, ia pun segera pergi dari rumah Ibunya Alfian sebelum ia ketahuan oleh mereka, mengingat posisi Beni begitu dekat dengan mereka. Beni yang sebelumnya sembunyi di balik pohon mangga dalam perkarangan rumah tersebut, berhasil keluar dari sana tanpa sepengetahuan mereka sedikitpun karena mereka semua sibuk dengan mobil baru tersebut. Hanya tetangga yang sempat memergoki Beni, namun Beni berhasil membungkam mulut tetangga tersebut.

Ia segera pulang kerumahnya, ia akan memastikan rekaman itu jelas suara dan gambarnya terlebih dahulu, sehingga ia tidak mengecewakan Pak Martias nantinya.

"Beni, kebetulan sekali kamu ada di rumah nak." Ucap Ibunya Beni yang baru pulang dari pasar, ia mendapati anak laki-laki nya sudah ada di rumah.

"Iya bu, barusan aku sampai, ada apa ya bu?" Ucap Beni santun pada ibunya namun matanya tak lepas dari rekaman video yang ia rekam tadi.

"Begini, kamu coba hubungi si Anas, minta tolong suruh datang kesini nanti malam, ibu mau Anas memberikan nasehat untuk adikmu itu, jika memang ia mau menikah dengan si Dino kawanmu itu." Jawab ibu Beni meminta tolong.

"Baik bu, bentar ya bu.." Sahut Beni, ketika video itu sudah siap untuk dikirim ke Pak Martias namun tanpa disadari Beni malah mengirimnya ke nomor Anas. Lalu Beni menelpon Anas kakak sepupunya itu sesuai perintah ibunya. Ibu Anas adalah kakak dari ibunya Beni.

Anas yang kebetulan sedang mengecek beberapa pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau itu, tanpa sengaja langsung membuka pesan dari sepupunya itu. Anas pun kaget, tak menyangka kenapa seolah takdir selalu memihak padanya menyangkut putrinya sahabatnya itu. Ia yang berniat mencari tahu tentang Alfian dan keluarganya, namun karena kesibukannya ia masih belum sempat bergerak.

Sekarang, berita itu datang dengan sendirinya padanya. Ia tak tahu, kenapa sepupunya itu mengirimkan pesan berupa video yang berisikan percakapan antara Alfian dengan orang tuanya itu padanya. Tak lama HP nya satu lagi berdering, HP kecil yang digunakan khusus untuk telponan saja.

"Beni, kebetulan sekali kamu nelpon."Jawab Anas tanpa basa-basi.

"Woi, tanya kabar dulu kek, main nerobos aja, jawab salam pun tidak." Cerocos Beni pada kakak sepupunya itu. Mereka walau terpaut usia beberapa tahun namun mereka sudah seperti teman sepermainan saja tidak seperti kakak dan adik.

"Wa'alaikumussalam Ben, maaf kelupaan, kamu apa kabar?"

"Baik, Alhamdulillah... nah gitu kan enak.."

"Kamu nggak nanya kabarku Ben."

"Ya elah... ni nelpon kamu memang niatnya nanyain kabarmu, nanti malam kamu sibuk nggak? Ibu suruh datang ke rumah."

"Pas banget, aku nggak ada acara malam ini Ben, sekalian aku juga mau bicara denganmu, tapi baiknya pas ketemuan aja nanti malam."

"Siiplah kalau gitu, aku sampaikan ke ibu ni ya, kamu bakalan datang."

"Iya, insyaallah... Eh tapi ngomong ngomong kamu ngirimin aku video maksudnya apa nih?"

"Video? maksudmu?"

"Kamu cek sendiri deh di HP mu. Sampai jumpa nanti malam, ok!"

"Ok lah kalau gitu, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Setelah sambungan telpon terputus, Beni pun segera mengecek HP nya, "Ya ampun Tuhan... ini kenapa terkirimnya ke si Anas sih." Ucap Beni sambil menampol keningnya sendiri. Lalu ia menghapus video itu kemudian mengirim ulang kepada Pak Martias. Tak lupa ia mengirim pesan pada Anas.

"Sorry bro, tadi salah kirim."

"Jangan bilang kerjamu jadi seorang penguntit Ben." Balas Anas. Mereka pun saling berbalas pesan di aplikasi berwarna hijau itu.

"Bukan penguntit bro, cuma niat bantu Pak Tetua saja."

"Pak Tetua? Maksudmu bang Martias?"

"Betul bro, udah ya aku mau keluar dulu."

"👍" Anas pun hanya mengirim emoji jempol untuk mengakhiri percakapan mereka.

***

Di sebuah rumah mewah orang tuanya Dokter Dila, tampak seorang Ibu yang sudah berumur 60 tahunan namun masih kelihatan cantik di usianya itu sedang berbicara serius dengan putri sulungnya lewat sambungan telpon.

"Pokoknya kamu kali ini harus nurut sama Mama Dila, kamu ingat usiamu itu. Siapa yang mau sama kamu yang udah mau masuk separuh baya begitu jika masih menolak lagi. Walau sekarang kamu harus rela jadi istri kedua. Namun, ia jauh lebih muda darimu dan pastinya wajahnya tak akan mengecewakanmu nak. Kamu pasti menyukainya."

"Tapi Mama... Dila masih belum mau berumah tangga Ma... Dila masih mau mengembangkan karir Dila dulu, apalagi Dila sekarang lagi sibuk-sibuknya, jika nanti berkeluarga apalagi punya anak yang ada karir Dila bakalan berantakan Ma." Ucap Dila masih dengan alasan yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Kebetulan Dila sedang tidak menangani pasien jadi ia bisa mengangkat telpon dari Ibunya itu.

"Tapi sampai kapan kamu menyendiri Dila, sampai nunggu tua dulu kamu baru nyesal kenapa tidak menikah dan punya anak. Pokoknya nggak ada tapi-tapian lagi. Kamu harus bertemu dengannya."

Dila akhirnya mengalah pada orang tuanya.

"Jadi yang kedua? Oh No, tapi kalau dipikir-pikir ok juga lah, nanti aku akan melayangkan beberapa persyaratan padanya jika benar ia ingin menikahi ku, toh untuk urusan ranjang ia udah ada istri pertamanya." Gumam Dila sambil tersenyum.

Mama Dila menghela napasnya lega akhirnya anak sulungnya mau juga melepas masa lajangnya di usia 35 tahun itu. Ia nggak tahu ternyata ada maksud terselubung dari putrinya itu ketika ia mau menerima tawaran Mamanya itu. Padahal sang Mama tentu sangat mengharapkan keturunan yang lahir dari anak perempuan pertama satu-satunya itu. Walau sudah memiliki tiga orang cucu dari adik laki-lakinya Dila yang sudah lama berkeluarga.

***

Di sebuah ruang keluarga rumah Ibu Alfian.

"Yah, coba sini deh yah, Bu Dina mengirim pesan bahwa anaknya yang Dokter itu akhirnya mau dijodohkan dengan Alfian yah. Esok mereka ingin kita datang kerumahnya untuk mengatur acara lamaran." Ucap Ibu Alfian sambil melihatkan isi pesan dari salah satu teman arisannya itu. Dan Ayah Alfian pun segera membaca isi pesan dari teman arisan istrinya itu.

Rencana perjodohan Dila dengan Alfian memang sudah lama direncanakan oleh Mama Dila dan Ibu Alfian. Ibu Alfian seperti tak mempermasalahkan usianya Dila yang jauh diatas putranya. Yang penting baginya calon mantunya seorang Dokter dan berasal dari keluarga yang kaya juga. Padahal Alfian lebih sebanding usianya dengan adik perempuan Dila yang masih kuliah saat itu. Namun Dila bersikeras menolaknya saat ia diberitahu mamanya. Sedangkan Ibu Alfian memang belum ada kesempatan memberi tahu Alfian saat itu, jadilah ia menutupnya dari Alfian karena Dila tidak mau menikah.

Saat Alfian meminta izin untuk menikah dengan Hani, Ibu Alfian didesak oleh Ayahnya Alfian agar mau merestui. Akhirnya mereka berdua sepakat mengatur rencana untuk menghancurkan keluarga Martias melalui putrinya.

Sedangkan Hani yang tak mengerti apa-apa akan permasalahan yang tengah terjadi antara orang tuanya dengan orang tua Alfian, menganggap biasa saja perlakuan Ibunya Alfian yang sering meminta uang pada Hani secara tak langsung lewat anaknya itu. Hani berpikir karena suaminya masih belum memiliki penghasilan tetap maka ia yang menggantikan sementara. Walau Hani tak pernah diajak Alfian sekali pun untuk berkunjung ke rumah orang tua suaminya itu. Dan Papa Hani pun seperti menghalang-halangi Hani agar tak bertemu dengan mereka.

Kata-kata Ibu Alfian pun didengar jelas oleh Alfian yang sedang asyik menikmati rokoknya. Alfian tampak seperti memikirkan sesuatu, ia mengisap rokoknya dalam menikmati sensasi rasa yang membuat seseorang candu yang katanya dapat menenangkan pikiran itu.

Di satu sisi ia memang sangat mencintai Hani istrinya, namun ia seperti tak berselera lagi melihat perubahan tubuh Hani yang semakin melebar dan membengkak dimana-mana efek hamil kembar tiganya itu. Apalagi Hani sering mengeluh sesak napas. Yang ada Alfian akan mengamuk bila hajatnya nggak sampai.

"Punya istri dua, ya bagus juga ini ide ibu, aku rasa Hani pasti mengerti. Ia kan mulai nggak kuat lagi melayani aku, belum lagi nanti mereka lahir pastinya Hani akan repot dan waktunya habis bersama anak-anak saja." Gumam Alfian sambil tersenyum menyambut baik ide orang tuanya itu.

POV Author (Panci mana ni panci, serasa nak di geprek nih kepala Alfian biar ia sadar diri, geram aku...)

Ok lah kita lanjut next chapter saja ya sobat readers, author mau memulihkan emosi dulu, hehehe Happy reading sobat readers semua...

***

"Selama kita dapat bersyukur dengan apa yang kita punya maka kita akan selalu merasa cukup, dan bahagia pun akan datang bersama rasa syukur kita." (Tausiyah Cinta)

Terpopuler

Comments

Merry Dara santika

Merry Dara santika

ternyata yang jdi istri ke 2 nya itu dokter dila ya

2023-05-26

1

Iin Suharta

Iin Suharta

semoga jodoh kedua hani dan anas saja thor, kasihan anas dan hani

2023-02-08

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!