10. Darma Pulang

Mereka akhirnya menyelesaikan sholat subuh berjamaah di rumah yang dipimpin oleh Pak Martias walau sedikit kesiangan. Hani yang masih belum bersuara namun air matanya tak henti-henti mengalir dari sudut matanya.

Ingin rasanya Pak Martias meluapkan rasa marahnya pada putrinya, karena tak mendengar ucapan mereka dulu bahwa mereka sudah melarang Hani menerima Alfian untuk dijadikan suaminya. Tapi ketika melihat kondisi putrinya seperti itu. Ia seperti tak tega memarahinya. Apalagi ia melihat ada tanda bekas tamparan di pipi putrinya seketika hatinya menjadi iba. Yang ada di pikirannya hanya marah pada Alfian. Ia berjanji dalam hatinya bahwa ia tak akan membiarkan Alfian menginjakkan kakinya dirumahnya lagi.

"Awas saja kau berani kesini, langkahi dulu mayatku Fian.. Dasar lelaki tak tau di untung." Geram Pak Martias dihatinya.

Begitu juga dengan Buk Mala, mereka berdua hanya bisa diam. Hanyut dengan pikiran dan emosi masing-masing. Mama Hani yang awalnya sempat shock ketika Papa Hani menceritakan apa yang terjadi, hanya bisa mengurut dadanya yang terasa sesak. Ia menahan amarahnya sekuat tenaganya. Apalagi melihat kondisi Hani ia tak mau terjadi apa-apa pada putrinya.

"Pa, Hani apa nggak apa-apa kita tinggal di rumah?" Tanya Buk Mala pada suaminya, ia yang khawatir bila meninggalkan Hani sendirian di rumah ketika ia akan berangkat ke Ibukota untuk menghadiri undangan di acara Upacara Penutupan dan Pelantikan Pendidikan Bintara Polri putra bungsunya. Apalagi Hani dalam kondisi hamil. Buk Mala takut terjadi apa-apa pada Hani saat Hani ditinggal.

Di satu sisi, kedua orang tua Hani sedang berbahagia karena Pendidikan putranya sudah selesai, tinggal harap harap cemas menunggu pengumuman kelulusan serta penempatan dinas putranya nanti. Mereka berharap putranya dinasnya tak jauh nanti dari daerah mereka.

Mereka yang bangga dan terharu melihat anaknya bernama Darma Putra, bisa mulai menjalani pendidikan di SPN saat itu.

Apalagi serangkaian seleksi yang diselenggarakan secara profesional, transparan, jujur dan kompetitif oleh Biro SDM Polda Provinsi B telah mengantarkan sang anak meraih cita-citanya sebagai anggota Polri.

Darma mendapatkan ranking 81 dari 137 peserta saat pengumuman akhir seleksi kemarin. Bersyukurnya kedua orang tua Hani tidak ada mengeluarkan uang sepeser pun. Kejujuran yang selalu ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak mereka. Kelulusan murni berkat kemampuan dan keinginan putranya sendiri yang kuat untuk menjadi anggota polisi.

"Sepertinya Hani butuh waktu sendirian dulu Ma, insyaallah nggak apa-apa. Hani anak yang kuat." Sahut Pak Martias, sebenarnya ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya. Namun ia berusaha untuk tegar dan memahami kondisi putrinya.

"Apa kita nggak minta tolong saja sama Hendri dan istrinya Pa untuk menemani Hani dirumah." Ucap Buk Mala. Hendri adalah adik laki-laki buk Mala.

"Jangan Ma, nanti mereka bisa berpikir macam-macam tentang Hani dan suaminya. Mereka nggak usah tahu dulu."

"Baiklah Pa, kita kunci saja pintunya dari luar Pa, nanti di dalam Mama sudah taruh kunci di atas meja tamu."

Akhirnya mereka berangkat, walau dengan rasa kekhawatiran yang tinggi meninggalkan Hani sendirian di rumah dengan kondisi seperti itu. Mama Hani pun sudah meletakkan makanan dan minuman di kamar Hani, jika tiba-tiba Hani merasakan lapar ia nggak perlu lagi keluar kamar. Hani yang lepas sholat subuh tadi kembali tertidur, Buk Mala tak berani membangunkan Hani ketika ia hendak pergi. Hani pasti lelah.

Mereka mengikuti serangkaian acara Upacara yang dilaksanakan di Lapangan Upacara SPN Polda Provinsi B tersebut dengan khidmat dan penuh haru.

Darma dinyatakan lulus dengan predikat siswa terbaik kemudian dilantik dengan pangkat Brigadir Polisi dua atau Bripda. Ia mendapatkan penempatan di bagian Laboratorium Forensik.

Laboratorium Forensik Polri merupakan bagian dari struktur organisasi Polri yang mempunyai tugas atau fungsi selaku pembina, pelaksana kriminalistik/forensik, sebagai ilmu yang penerapannya untuk memberi dukungan teknis dalam penyelidikan/penyidikan tindak pidana.

Adapun tugas polisi forensik itu sendiri adalah melakukan pemeriksaan teknis kriminalistik di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan laboratoris kriminalistik barang bukti (Barbuk) sesuai dengan bidang ilmu forensik dalam rangkan pembuktian ilmiah.

Pak Martias dan Buk Mala tampak penuh haru memeluk putra bungsu mereka.

"Pa, Ma, Alhamdulillah cita-cita Darma tercapai Ma Pa." Ucap Darma dengan haru sampai menitikkan air matanya.

"Selamat nak, Papa bangga.." Ucap Pak Martias setelah melepaskan pelukannya. ia merangkum kedua pipi Darma dengan kedua tangannya.

"Mama juga nak, Mama bangga padamu.." Ucap Buk Mala sambil menangis terisak. Ia yang bahagia melihat kelulusan putranya namun hatinya juga sedang gundah memikirkan putri sulungnya dirumah.

Biarpun seorang ibu jauh dihadapan anaknya, namun yakinlah hati ibu selalu berada di dalam hati anak-anaknya.

"Mama..." Darma mencium kening ibunya lalu memeluknya dengan erat. Darma seperti merasakan sesuatu yang tidak baik telah terjadi di keluarganya. Ia melihat dari tatapan Ibunya yang seperti memendam rasa luka. Bukan rasa haru karena bahagia semata. Namun ia nggak mau menanyakannya sekarang. Ia akan melihat kondisi rumahnya terlebih dahulu. Pikiran Darma melayang pada kakaknya Hani. "Semoga kakak baik-baik saja." Gumamnya dalam hati.

Serangkaian Acara pun selesai, mereka bisa pulang, Darma akan berada di rumah untuk menikmati masa-masa selama cutinya sebelum kembali untuk bertugas sebagai seorang polisi forensik.

***

Ibu, untuk semua doa, cinta dan pengorbananmu, semoga Allah karuniakan surga terbaik untukmu. (Tausiyah Cinta)

Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!