6. Keberkahan Do'a Ibu

Sekeluar dari Aula Gedung Universitas Negeri A yang digunakan mantan istrinya merayakan pernikahan keduanya dengan Ridho, Anas melirik sekilas ke sekitaran gedung, dulu ia sering mampir disitu, mengantar mantan istrinya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerjanya di desa di daerah asal tempat lahirnya.

Aina mantan istrinya adalah seorang Dosen yang mengajar di Fakultas Ekonomi di Universitas tersebut. Di awal pernikahan, Aina memang dibawa Anas tinggal bersama orang tuanya di kampung. Setelah Aina berhasil menamatkan S2 nya, ia mengajukan lamaran pekerjaan menjadi Dosen di Ibukota, ia pun diterima. Setelah setahun menjadi dosen, Aina yang beralasan terlalu lelah berulang dari rumah mertuanya, ia pun mengajak Anas untuk tinggal di Ibukota. Anas pun menyanggupinya, karena ia juga merasa kasihan pada Aina dan orang tua Anas pun tak mempermasalahkannya. Jadilah Anas yang harus berulang dari Ibukota ke tempat kerjanya yang di desa.

Anas tanpa sengaja membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang komplek perumahan tempat ia tinggal dulu bersama mantan istrinya. Jiwanya seolah seperti dipandu untuk melewati gang tersebut kembali. Dan tibalah ia didepan sebuah rumah minimalis yang dulu pernah ia tempati bersama mantan istrinya. Anas hanya memberhentikan mobilnya sebentar lalu ia melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Rumah itu sudah ia hibahkan sepenuhnya untuk mantan istrinya.

"Selamat tinggal kenangan." Gumam Anas lirih. Lalu tiba-tiba ia merasakan rasa perih diperutnya. Rasa lapar yang tadinya hilang muncul kembali.

Anas memarkirkan mobilnya di depan rumah makan Padang tepat berada di samping Rumah Sakit.

Begitu ia memasuki rumah makan tersebut, ia menangkap sosok perempuan yang beberapa hari terakhir ini sering merasuk dalam mimpinya.

"Putri bang Martias." Gumamnya seketika ia mengingatnya.

Anas mengatur napasnya yang tiba-tiba sesak, jantungnya seakan memompa lebih cepat.

"Astagfirullah, ada apa ini? Kenapa aku harus deg deg an bila bertemu dengannya?"

"Tidak, ini tidak boleh, aku harus jaga pandangan dan hatiku, ia sudah bersuami, lagian ia putri dari sahabatku sendiri yang seharusnya aku anggap seperti anakku juga." Anas menghibur hatinya.

"Tapi kenapa mimpi itu seolah nyata ya Rabb? Ia hadir seperti ingin meminta bantuan padaku. Dan dalam mimpi itu, aku pun merasa kasihan padanya sehingga aku pun menjulurkan tanganku untuk meraih tangannya lalu membimbingnya." Batin Anas meronta berharap kejelasan akan mimpinya pada Tuhannya.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, ya Allah..." Anas mencoba menenangkan hatinya dengan beristighfar.

"Maaf pak, silahkan masuk." Seorang pelayan mempersilahkan Anas masuk. Anas pun mengikuti pelayan tersebut menuju meja yang kosong.

"Silahkan duduk pak, sebentar ya pak saya catat pesanannya dulu, bapak mau pesan apa dan minumannya apa." Ucap pelayan itu dengan ramah.

"Nasi dengan ayam bakar, sama Teh panas ya tapi gulanya sekedar saja." Ucap Anas setelah duduk sambil berusaha menetralkan detak jantungnya. Ia memang selalu berusaha menghindari makanan atau minuman yang manis-manis.

"Siap pak, mohon bersabar menunggu." Ucap sang pelayan

Anas hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa sengaja ia mencoba mencari-cari sosok Putri sahabatnya itu kembali. ternyata tempat duduk yang didudukinya sudah kosong. Anas baru bisa menarik napasnya dengan lega. Setidaknya ia tidak melakukan kesalahan dengan menduga-duga bahwa ia ada hati untuk putri sahabatnya itu.

"Dari pakaiannya sepertinya ia bekerja di Rumah Sakit. Ah ya disebelah kan Rumah sakit, pasti ia bekerja disana." Batin Anas menebak.

***

Hani yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya karena sudah seminggu tidak masuk, ia sampai melupakan makan siangnya, saat zuhur tadi ia hanya menyempatkan diri untuk sholat kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Riana yang mengajaknya makan siang pun sampai tak ia gubris. Jadilah ia terlambat untuk makan siang, dan itu pun ia tidak bisa berlama-lama karena ia harus melanjutkan pekerjaannya sebelum jam pulang tiba.

Hani seperti merasa dirinya diperhatikan seseorang. Namun karena ia terburu-buru, ia segera meninggalkan rumah makan setelah ia menyelesaikan makan siangnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Hani masih kelihatan serius menatap layar komputernya dan memeriksa pekerjaannya kembali memastikan semua data terinput dengan benar.

"Han, pulang yuk!" Ajak Riana

"Bentar Ria, ini masih nanggung..." Balas Hani.

"Ya ampun Han, kamu memang luar biasa deh, nggak ada capeknya bila kerja."

"Mau gimana lagi Riana... Ini sudah menjadi tanggung jawab bagiku. Bila pekerjaan ini selesai dengan baik, aku pun bisa tenang menikmati hasilnya nanti kan." Sahut Hani sambil terus menatap ke arah layar komputer.

"Iya deh, aku duluan ya."

"Ok" Sahut Hani singkat dengan sedikit menoleh dan mengedipkan sebelah matanya pada Riana sahabatnya.

Disaat Hani masih sangat fokus dengan pekerjaannya. Anas sudah sampai di rumah orang tuanya. Kebetulan jalanan lengang Anas bisa memacu kendaraannya dengan cepat, hingga akhirnya ia sampai dengan waktu yang jauh lebih efisien.

"Assalamualaikum bu, Anas pulang.." Ucap Anas ketika memasuki rumahnya, rumah dimana ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh ibu bapaknya. Kini ia kembali tinggal di rumah itu setelah berpisah dengan Aina. Kebetulan rumah itu tidak dikunci hingga Anas langsung bisa masuk. Dan Anas pun tetap membawa kunci cadangan jika tiba-tiba ibu atau bapaknya tidak sedang berada di rumah.

"Wa'alaikumussalam" Suara ibu Anas terdengar dari arah dapur.

Anas langsung menghampiri ibunya.

"Masyaallah, ibu lagi masak apa? Baunya begitu enak tercium dari depan." Ucap Anas setelah berada didekat ibunya. Anas pun mengambil tangan ibunya, agar ia bisa mencium tangan ibunya.

"Eh ini tangan ibu kotor lo Anas..." Ucap ibu yang awalnya mau mengelakkan tangannya dari tangan Anas namun Anas sudah duluan menarik lembut tangan ibunya ke bibirnya. Ia malah mencium tangan ibunya berkali-kali.

"Bagi Anas tangan ibu selalu bersih bu, sebersih hati ibu yang selalu menyayangi anakmu ini. Walau sudah besar masih saja merepotkan dan menyusahkan ibu." Ucap Anas penuh haru. Anas sangat menyayangi ibunya. Ia merasa sedih sebenarnya karena ia masih belum bisa memberikan kebahagiaan kepada ibunya begitu juga bapaknya.

"Nggak nak, ibu nggak repot kok, nggak akan ada kata repot bagi orang tua bila itu menyangkut kebaikan dan kebahagiaan anaknya sendiri."

"Masyaallah ibu... Semoga Allah selalu memberkahi mu ibu. Do'a Anas agar ibu diberi umur yang panjang hingga ibu bisa melihat Anas bahagia dengan keluarga Anas nantinya, bisa melihat cucu-cucu ibu juga nantinya... Ibu janji harus selalu sehat ya, jangan terlalu sibuk ya bu."

"Insyaallah nak, semoga Allah juga memberkahi setiap langkahmu juga anakku, apa yang dicita-citakan segera terkabul."

"Aamiin..." Ucap Anas dan Ibunya serentak, Anas mencium kening ibunya lalu ia beranjak masuk ke dalam kamarnya.

"Bu, Anas mau ke kamar dulu ya bu, insyaallah Anas ada kegiatan lagi nanti ba'da Ashar, jadi Anas mau istirahat dulu sebentar."

Ibu Anas hanya membalas dengan anggukan dan senyuman, kemudian melanjutkan memasaknya dengan bibir yang selalu basah dengan zikir dan lantunan doa doa demi kebaikan anaknya.

***

"Apabila mata ibumu sudah tertutup, maka hilanglah satu keberkahan disisi Allah, yaitu do'a ibu." (Tausiyah Cinta)

*Assalamualaikum sobat readers setia noveltoon, maaf author baru sempat update lagi... Kembali niat awal author menulis selain ingin mengembangkan bakat di dunia tulis menulis. Author juga ingin menyuguhkan bacaan yang bisa bernilai ibadah juga nantinya baik buat author maupun pembaca. Karena dalam menulis butuh waktu tenang dan konsentrasi jadi mungkin tulisan author nantinya bisa tergantung kondisi author juga. Apalagi jika mendapatkan dukungan penuh dari pembaca tentunya bisa membuat author semakin semangat dalam mengembangkan ide cerita🤗☺️😘

Semoga Allah bisa selalu membimbing author dalam menyuguhkan tulisan yang baik lagi bermanfaat buat banyak orang, Aamiin... Selamat membaca ya sobat! Semoga berkah dan menghibur*...🥰🙏

Terpopuler

Comments

Assyfa Husna

Assyfa Husna

Aamiin Aamiin yarobalallamiin

2024-01-27

0

Krystal Zu

Krystal Zu

hadehh ☺️ pak Anas masa suka sama anak temennya sih pak

2023-02-04

1

Krystal Zu

Krystal Zu

gue ga sesabar itu buat baca cerita kaya gini, nguras emosi jiwa bangettt, gregettt sendiriii

2023-02-04

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!