Darma turun dari mobil, ia siap siaga kalau-kalau pria yang masih menyandang status sebagai suami kakaknya itu kembali membuat hati dan raga kakaknya terluka.
Baru saja Darma mau mengikuti langkah kakak iparnya itu, langkah Darma dihentikan oleh seseorang anak laki-laki.
"Bang, maaf bang saya belum makan dua hari bang, boleh saya minta sedekahnya." Ucap anak laki-laki itu dengan raut wajah memelas. Dilihat dari pakaiannya yang ia pakai seketika membuat hati Darma meleleh.
Darma dengan cepat merogoh uang dalam sakunya. Lalu memberikan pada anak laki-laki itu.
"Terimakasih banyak bang, semoga abang selalu dilindungi oleh Allah." Ucap anak itu sambil tersenyum sumringah, karena ia mendapatkan uang 20 ribuan.
Darma tersenyum pada anak laki-laki itu kemudian ia kembali mencari sosok kakak iparnya.
Darma terpaku melihat pemandangan yang ada didepannya. Kakaknya memeluk erat sang kakak ipar.
"Kak, sebegitu cintakah dirimu padanya, hingga dirimu masih sangat merindukannya." Gumam Darma dalam hatinya melihat pelukan itu adalah pelukan rindu sang kakak pada suaminya.
Darma tak tega mengganggu kakaknya, ia tetap mengambil posisi sedikit tersembunyi agar kakaknya tak melihat dirinya. Namun ia tetap siap siaga, pandangannya tak lepas dari kakaknya. Ia melihat mereka bercakap-cakap, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Darma melihat Hani kakaknya terus mengangguk-angukkan kepalanya.
Alfian merasa bahagia saat Hani ternyata masih mau menerimanya. Ia mengungkapkan janji-janji manis pada Hani, dan membujuk Hani agar mereka bisa tinggal bersama lagi tapi tidak di rumah mertuanya. Alfian ingin tinggal terpisah dengan orang tua Hani.
"Sayang, maafin abang ya, tapi kamu mau kan kita tinggal hanya berdua saja? Kita bisa cari rumah kontrakan dekat sini jadi kamu nggak perlu capek-capek lagi bolak-balik kerjanya." Ucap Alfian sekali lagi memastikan agar Hani mau mengikuti kemauannya.
Sesaat Hani sempat ragu, namun keinginannya yang tinggi untuk mempertahankan rumah tangganya akhirnya Hani mengiyakan permintaan suaminya itu.
"Hani masuk dulu bang, nanti jam pulang abang jemput ya, sekalian nanti kita bisa bareng Darma pulang ke rumah Papa, Hani akan minta bantuan Darma untuk bicara dengan Papa." Ucap Hani seraya melirik arloji ditangan yang sudah tampak berisi dari biasanya. Kebetulan tadi Hani datang agak awal, jadi ia tidak terlambat walau waktunya tersita karena berbicara dengan suaminya itu.
"Kamu yakin Han, Papamu akan mengizinkanmu?" Ucap Alfian ragu, karena ia tahu bagaimana usaha Papa Hani yang mengancam dirinya agar ia tidak bertemu dengan Hani lagi.
"Insyaallah bang, biasanya Papa akan mendengar bila Darma yang bicara."
"Baik sayang, sampai jumpa nanti sore, abang balik ke kosan teman abang dulu." Ucap Alfian tersenyum senang.
"Iya bang, hati-hati." Hani membalas senyuman suaminya itu lalu ia masuk.
Darma keluar dari persembunyiannya. Ia menuju sebuah pos keamanan yang berada dekat gerbang utama Rumah Sakit tempat kakaknya bekerja itu. Darma menunggu kakaknya di sana sambil berbincang-bincang dengan para Satpam Rumah Sakit tersebut.
Hingga tibalah waktunya makan siang, Darma melihat Hani keluar dari pintu utama Rumah Sakit dan berjalan ke arah keluar gerbang. Hani memang terbiasa makan siang di sebuah rumah makan yang ada di samping RS itu, karena selain tempatnya bersih makanannya yang ada juga pas di lidah Hani.
"Kak Hani.." Sapa Darma yang awalnya ia ingin bersembunyi takut ia ketahuan oleh Hani karena ia nggak jadi pulang, namun karena rasa penasarannya atas apa yang ia lihat tadi pagi, ia jadi tak sabar ingin mendengar cerita dari kakaknya itu langsung. Darma menghampiri kakaknya.
"Dar.. ma, kamu masih disini?" Jawab Hani kaget.
"Eh iya kak, itu... Darma tadi malas pulang, lagian di rumah juga nggak ada kerjaan jadilah Darma nunggu kak Hani disini." Jawab Darma bermaksud tidak berbohong, ia memang malas pulang karena di rumah juga tidak ada teman ngobrol.
"Oooh, kalau gitu kebetulan kakak juga ada yang mau kakak bicarakan denganmu. Tapi kita ngobrolnya sambil makan siang aja ya." Ajak Hani sambil menarik tangan adiknya menuju rumah makan.
"Siap kak, kebetulan banget Darma juga udah lapar, hehe." Jawab Darma cengengesan, karena hal itu juga yang ia harapkan, Hani mau bercerita tanpa ia minta.
"Kamu itu ya udah seperti bodyguard kakak saja.."
"Nggak apa-apa kan kak... Hitung-hitung kalau-kalau ada yang jahilin kak Hani, Darma bisa praktekin ilmu bela diri yang didapat selama pendidikan, hehehe."
"Ada-ada saja kamu dek, lagian siapa juga yang mau jahilin kak Hani..." Sahut Hani sambil mendaratkan cubitan sayang di pinggang adeknya.
"Aww kak, sakit lo ini kak, siapa tau juga kan wk wk wk." Darma pun tertawa lepas.
Mereka berdua jalan berbarengan, sekilas mereka tampak seperti pasangan suami istri yang romantis. Karena saling bercanda dan bergandengan tangan, sambil masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Sepasang mata dari seorang laki-laki yang baru turun dari mobilnya yang diparkirkan tepat didepan pintu masuk rumah makan tersebut, memperhatikan mereka dengan raut wajah penasaran.
"Itu bukannya putri Pak Martias? Tapi ia dengan siapa? Sepertinya itu bukan suaminya." Ucap seseorang itu yang ternyata sudah memperhatikan mereka semenjak dari dalam mobil. Ia seperti mengenal sosok perempuan yang sedang berjalan melewati mobilnya yang sudah terparkir sempurna. Walau penampilan Hani yang sudah tertutup hijab, dan perubahan tubuhnya yang semakin lebar seiring perutnya yang semakin membesar. Namun orang itu masih bisa mengenali sosok perempuan yang dulunya sering hadir dalam mimpinya tersebut.
Akhir-akhir ini Anas memang jarang ke Ibukota karena jadwal dinasnya yang padat serta makin ramainya pasangan yang akan menikah. Seperti biasanya beberapa bulan menjelang bulan Ramadhan, pasangan yang akan menikah selalu saja ramai. Kebetulan saja kali ini ada undangan dari Kantor KUA Pusat, sepulang dari situ Anas seperti dibisikkan sesuatu yang mengantarkannya kembali singgah di Rumah Makan dimana ia pernah melihat putri sahabatnya itu dulu juga makan disana.
Anas juga dipersilahkan masuk oleh pelayan Rumah Makan tersebut, setelah pelayan itu menyambut sepasang anak manusia yang dikira sepasang kekasih itu. Dan meja mereka pun bersebelahan. Anas sengaja mengambil posisi duduk membelakangi Hani.
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Hani kembali membuka percakapan mereka.
"Dek, kamu mau nggak bantu kakak?" Ucap Hani.
"Adek, berarti laki-laki itu anak Martias juga." Anas bergumam saat ia mendengar ucapan Hani dengan jelas.
"Kan aku udah bilang, kalau untuk kakak apa sih yang nggak." Jawab Darma.
"Beneran ya... Janji..."
"Siap kakak... aku janji."
Anas sebenarnya tak mau ikut campur akan apa yang akan mereka bicarakan. Tapi suara perempuan itu seperti membawa Anas kembali mengingat akan mimpinya.
"Kakak tadi bertemu sama bang Alfian, ia sudah meminta maaf, kemudian berjanji sama kakak bahwa ia tidak mengulang perbuatannya lagi."
"Lalu..."
"Tunggu, sepertinya kamu sudah tahu ya bang Alfian datang menemui kakak?"
"Ya tahu dong kak, kan Darma juga ada disitu."
"Jadi kamu dengar apa yang kami bicarakan?"
"Nah itu dia kak, Darma nggak mendengar jelas apa yang kalian bicarakan. Jadi sekarang Darma pingin tahu, itu kenapa kakak tampak seperti boneka mainan di mobil tuh yang manggut-manggut saja kerjanya."
"Dasar kamu ya, kamu tega samain kakak dengan mainan itu."
"Hehehe, maaf kakak sayang.. jangan marah... Nanti calon debay nya ikutan sifat emosian bapaknya kakak mau?"
"Ya Allah Darma... jangan sampai lah.. Kakak pastinya nggak akan sanggup jika mereka kompak memiliki sifat yang sama nantinya... Astaghfirullah..." Desah Hani.
"Permisi..." Ucap sang pelayan sambil menata menu yang mereka pesan diatas meja.
Lanjut Next chapter ya... jangan lupa dukungannya sobat readers...🙏
"Seringkali cinta tak perlu alasan, hanya perlu mendapat balasan, sosok yang pas untuk menjadi pasangan, agar tak hanya menjadi angan." (Tausiyah Cinta)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Gadih Hazar
Terimakasih banyak kak author yang baik, sukses buat dirimu kak...
2023-02-07
1
Krystal Zu
aku kasih bunga buat kamu~
2023-02-07
1