Kondisi badan yang lelah sepulang kerja namun tak menjadikan Hani punya alasan untuk malas-malasan dalam melayani suaminya. Ia melayani suaminya dengan sepenuh hatinya berharap pahala besar dari Tuhannya.
Suami nya Alfian yang selalu minta dilayani dalam banyak hal, dan sering meminta uang pada Hani. Walau Alfian sudah bekerja, namun Alfian beralasan gajinya masih kecil tidak cukup untuk kebutuhan dirinya karena Alfian juga termasuk perokok berat.
Hingga tak terasa pernikahan mereka sudah genap 5 bulan. Hani pun sedang mengandung memasuki usia kandungan 17 minggu. Beruntung Hani tidak mengalami masa kesulitan di trimester pertama kehamilan pertamanya itu. Hingga ia masih tetap bisa beraktivitas seperti biasanya.
Hani selalu berusaha mengingat teladan dari kisah putri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, Fatimah Az-Zahra yang pernah ia baca dari sebuah laman di google sebagai tambahan bahan referensi bacaannya sebelum menikah.
"Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menemui putrinya Fatimah menangis, ketika Beliau bertanya kepadanya, maka Fatimah berkeluh kesah akan beratnya tanggung jawabnya sebagai seorang istri dari mulai bangun tidur hingga terbenamnya mata suami. Fatimah meminta kepada Rasulullah agar dapat menasihati Ali sang menantu Rasulullah agar dirinya diberikan asisten, tapi apa jawab Rasullullah? Rasulullah tak mengabulkannya."
“Rasulullah menasihati Fatimah untuk ikhlas dalam setiap melaksanakan kewajibannya, karena dibalik segala kelelahannya dalam melayani suami dan anak-anaknya, ada ganjaran pahala yang melimpah dan surga adalah balasan terbesarnya.”
“Ibu-ibu, disaat panjenengan hamil, merasakan lelah, kepayahan, dan kesakitan saat itulah Allah mengampuni dosa-dosa panjenengan. Jadi ibaratnya langsung dibayar tunai oleh Allah, oleh karenanya jika ada seorang wanita yang meninggal pada saat melahirkan dikatakan mati sahid karena seperti itulah keistimewaan yang Allah berikan kepada wanita, selama hamil diampuni dosa-dosanya dan perjuangannya dalam melahirkan ibarat seorang pejuang yang pergi berjihad.”
“Bukan hanya itu, mencuci pakaian suami saja diganjar pula oleh Allah berupa pahala. Oleh karena itu, kami imbau kepada ibu-ibu untuk selalu ikhlas dalam setiap melaksanakan kewajibannya, karena Allah tidak tinggal diam dengan jerih payah panjenengan."
Begitu jelas kalimat demi kalimat tersebut terekam dibenak Hani, hingga ia tak mau melewatkan sedikit pun kesempatan pahala tersebut. Dan berusaha keras untuk tidak mengeluh.
Sedangkan kelakuan suaminya semakin hari semakin tak menentu. Berangkat pagi dan pulangnya ketika penghuni rumah sudah tidur terkecuali Hani yang selalu menunggu suaminya pulang terlebih dahulu.
Seperti malam ini, Hani yang merasakan sakit kepala yang luar biasa tampak acak-acakan membukakan pintu saat suaminya pulang.
"Suami pulang bukannya disambut dengan wajah manis, ini malah seperti mbah kunti saja dirimu, awas minggir." Ucap Alfian dengan nada kesal dan kencang, sedangkan tangannya menepis tubuh Hani kesamping.
"Astaghfirullah abang... mohon maaf ini Hani karena lagi kurang enak badan saja." Sahut Hani membela diri sambil meraba kepalanya yang terasa makin berat. Hani memang membiasakan dirinya berhias untuk menyambut sang suami. Namun kali ini ia memang tidak dalam kondisi sehat, apalagi ia merasakan sakit kepala yang luar biasa.
"Maaf, maaf." Gerutu Alfian sambil jalan masuk ke dalam kamar mereka.
Hani mengikuti langkah suaminya dari belakang, ia harus menguatkan dirinya. Mengumpulkan tenaga kalau-kalau ia harus melayani suaminya seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum Alfian meminta jatahnya yang hampir tiap malam itu, Hani harus memijitnya terlebih dahulu, jika pijitan Hani kurang ia nikmati maka siap-siap ia menerima bentakan dari suaminya.
"Bang, malam ini boleh nggak Hani istirahat." Ucap Hani hati-hati, ketika ia melihat suaminya sudah dengan posisi tidur tengkurap di atas kasur seperti biasanya. Hani sangat berharap suaminya bisa mengerti akan keadaannya malam ini.
"Bang," Hani memanggil suaminya dengan suara sedikit lebih lembut, karena tak ada jawaban dari suaminya. Ia berharap suaminya sudah terlelap dan takut kalau-kalau suaranya dapat membangunkan sang suami.
"Bang..." Panggil Hani sekali lagi dengan nada seperti berbisik. Ia mendekatkan telinganya di kepala suaminya. Namun yang terdengar
hanya suara dengkuran dari suaminya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah..." Ucap Hani penuh syukur, ia pun dengan perlahan membaringkan tubuhnya di samping suaminya.
"Ya Allah jadikanlah apa yang telah aku perbuat hari ini bernilai pahala dari-Mu. Berilah aku kesabaran di setiap detiknya, jangan biarkan aku berkeluh kesah sedikit pun ya Rabb. Hidup mati ku hanya untuk-Mu, matikanlah aku dalam keadaan sebaik-baiknya, dan bimbinglah suami hamba menjadi imam yang baik buat hamba." Lidah Hani basah dengan lantunan do'a sebelum dirinya benar benar bisa terlelap walau masih dengan menahan rasa sakit di kepalanya.
***
Di sudut kamar lain, mama dan papa Hani ternyata masih belum tidur. Mereka bisa mendengar jelas apa yang terjadi disaat Alfian sang menantu pulang.
"Ma, Mama yakin Hani bahagia dengan pernikahannya?" Ucap Papa Hani pada sang istri sambil berbaring di atas tempat tidur.
"Jika mendengar yang barusan, Mama jadi ragu Pa. Walau Hani terlihat pintar menyembunyikannya. Sekarang Mama malah jadi kasihan sama Hani jangan-jangan Alfian selama ini tidak memperlakukan Hani dengan baik Pa.. Mama kok malah jadi khawatir seperti ini ya, esok pokoknya Mama harus bicara sama Hani." Sahut Mama Hani dengan nada penuh khawatir. Rasa khawatir yang dirasa Mama Hani tentu nya memiliki alasan tertentu.
"Anak itu memang keras kepala dari dulu." Ucap Papa Hani.
"Bukan keras kepala seperti itu Pa kalau menurut Mama." Bela Mama Hani.
"Lalu kalau bukan keras kepala apa namanya Ma.."
"Entahlah Pa...Tapi mungkin ini sudah jalan yang harus dilalui dalam hidupnya. Agar ia bisa mengambil hikmah dari apa yang ia lalui." Sahut Mama Hani dengan bijak.
"Awas saja kau Alfian, jika anakku menderita olehmu, dirimu tak pernah aku ampuni." Ucap Martias Papa Hani yang mulai dikuasai amarah.
"Yang sabar dulu ya Pa.. Esok Mama pasti tanyakan ini pada Hani.."
Papa Hani menganggukkan kepalanya namun hatinya masih gelisah. Hati orang tua mana yang tega melihat anaknya jika ternyata menderita dalam berumah tangga. Apalagi Hani adalah putri satu-satunya dari Pak Martias dan Buk Mala.
"Oya Pa, Esok kita jemput Darma jam berapa?" Tanya Buk Mala pada suaminya karna ia tahu esok adalah jadwal perpulangan Darma, anak keduanya atau si bungsu Buk Mala dan Pak Martias yang telah menyelesaikan Pendidikan Bintara Kepolisiannya di Ibukota selama 7 bulan, dan ia mendapatkan cuti selama 12 hari sebelum masuk kembali mengemban tugas sebagai Abdi Negara. Buk Mala sengaja mengalihkan perhatian suaminya dari Hani, karena ia tahu suaminya punya penyakit asam lambung, hingga Buk Mala membantu suaminya terhindar dari stress yang bisa memicu asam lambungnya meningkat.
"Insyaallah jam 8 pagi aja kita berangkat, acaranya jam 9, insyaallah kita masih bisa sampai tepat waktu." Jawab Pak Martias.
Esok para orang tua selain menjemput sang anak mereka juga diundang untuk mengikuti rangkaian acara Upacara Penutupan Pendidikan dan Pelantikan Bintara Polri di Lapangan Upacara SPN Polda Provinsi B tersebut.
"Kalau gitu kita istirahat lagi ya pa, pagi-pagi Mama mau masak dulu yang enak buat nyambut anak laki-laki kita." Ujar Buk Mala semangat. Ia juga terlihat sangat merindukan putranya tersebut. Kebetulan esok juga hari libur.
***
"Curhat terbaik adalah curhat kepada Allah Ta'ala."
"Sesungguhnya aku hanya mengeluhkan kesedihanku kepada Allah subhanallahu wa ta'ala" (QS Yusuf:85)
~Tausiyah Cinta~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Merry Dara santika
kalo gini jdi sulit menerima seseorang yang ingin menikah sama aku dech. tkt kecwa setelah menikah
2023-05-26
1
Gadih Hazar
Semoga menikmati ceritanya sampai akhir ya kak, insyaallah akan ada kejutan demi kejutan nantinya... Happy reading kakak..🤗🥰
2023-02-05
0
Krystal Zu
suka sama novel yang banyak pengetahuan kaya gini apalagi soal agama
2023-02-05
1