14. Pindah

"Apa? Kakak mau pindah dari rumah?" Ucap Darma yang seketika kaget mendengar curhatan kakaknya. Ia hampir saja tersedak mendengar ucapan kakaknya itu.

"Iya dek, makanya kakak perlu bantuanmu." Hani berhenti memasukkan makanan ke mulutnya karena ia ingin mendengarkan jawaban Darma.

"Kakak yakin akan tinggal berdua saja sama lelaki yang...-." Sahut Darma ia tak mau melanjutkan kata-katanya tentang abang Iparnya itu, takut orang lain ikut mendengarkan ucapan mereka, dan berpikir buruk tentang suami kakaknya itu.

"Tidak kak, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kakak." Ucap Darma lagi dengan nada khawatir.

"Dek please...! Siapa tahu dengan begitu bang Alfian bisa lebih dewasa... Karena kamu tahu kan, Papa tidak menyukai bang Alfian dari dulu, bisa jadi bang Alfian tak nyaman tinggal bareng Papa, hingga ia gampang marah dan marahnya ia luapkan pada kakak..." Desak Hani.

"Ya Allah kak... coba kakak pikirkan dulu matang-matang." Darma memastikan lagi keinginan kakaknya itu apa sudah ia pikirkan baik buruknya.

"Dek, tugas kakak sekarang adalah manut pada suami, jika suami kakak mengajak tak ada alasan kakak untuk tidak mematuhinya. Karena sekarang kakak adalah tanggung jawab suami kakak dek.." Jawab Hani yakin.

"Iya kak, aku tahu... Syurga bagi seorang istri yang patuh dan taat pada suaminya. Tapi ini suami kakak bang Alfian kak..."

"Apa salahnya kakak mencoba dulu dek.." Ucap Hani memelas...

"Ok, ok, nanti aku bantu untuk bicara dengan Papa, semoga saja Papa bisa mengerti."

"Aamiin, terimakasih banyak ya dek.."

Mereka menyelesaikan makan siang mereka tanpa suara lagi. Darma sibuk dengan pikirannya. Satu sisi ia khawatir akan kondisi kakaknya bila jauh dari orang tuanya, mengingat Alfian suami kakaknya sudah berani main fisik pada kakaknya. Di sisi lain, Darma tak mau kakaknya menjadi seorang istri yang durhaka, karena bagaimanapun Hani kakaknya sangat mencintai suaminya, Alfian.

***

Anas ikutan kaget mendengar percakapan mereka. Tiba-tiba jiwa kepo nya muncul seketika. Ia jadi ingin mengenal lebih jauh suami dari putri sahabatnya itu. Ia seperti tidak terima bila ternyata putri sahabatnya itu ternyata disakiti oleh suaminya sendiri. Anas seakan tak rela itu terjadi. Selain rasa peduli terhadap sahabatnya, ia seperti merasakan adanya suatu dorongan untuk ikutan melindungi putri sahabatnya itu.

"Ya, aku harus mencari tahu, semoga Allah meridhoi langkah ku karena niatku baik, bukan bermaksud untuk ikut campur. Ya Allah... Apakah ini jawaban dari mimpiku?" Anas bergumam sendirian dalam hatinya. Ia bergegas menghabiskan makanannya sebelum salah satu diantara mereka sadar bahwa ada seseorang yang mereka kenal telah mendengar percakapan mereka. Anas memasang kaca matanya. lalu keluar dari Rumah Makan setelah menyelesaikan pembayaran di kasir.

***

Waktu begitu cepat berlalu, Hani akhirnya pindah ke Ibukota. Setelah berbagai upaya telah ia lakukan sehingga akhirnya papanya mau menuruti keinginan nya itu, tepatnya keinginan suaminya Alfian. Tentunya dibantu dengan kearifan adiknya berkata-kata yang berhasil meyakinkan Papanya. Walau Pak Martias tidak tinggal diam begitu saja, ia akan mengirim mata-mata untuk menjaga Putri satu-satunya itu. Sedangkan Buk Mala hanya bisa pasrah walau hatinya masih terasa berat.

Sekarang, sudah masuk hari ketiga Hani tinggal di Ibukota. Alfian seperti menepati janjinya, ia memperlakukan Hani dengan manis. Suasana pagi dihari libur yang begitu syahdu diiringi suara rintikan hujan. Udara yang dingin membuat siapa saja kadang betah bermalas-malasan diatas tempat tidur.

"Sayang... nanti kita cek kandungan nya ya setelah pulang dari sorum mobil." Ucap Alfian lembut sambil mengelus perut buncit istrinya yang dulu ia sebut seperti garundang itu. Posisi Alfian masih memeluk Hani selepas hajat naluriahnya sebagai laki-laki terpenuhi.

Hani, seolah meleleh dengan perlakuan lembut suaminya yang terus-terusan ia dapatkan semenjak mereka tinggal berdua. Hani merasa Allah menjawab doanya, keputusan yang ia ambil untuk tidak tinggal serumah dengan orang tuanya sudah tepat. Namun untuk ibadah sholat, Hani akan mencoba perlahan untuk mengingatkan suaminya.

"Abang.. beli mobilnya kita tunda dulu saja gimana?

"Lho kenapa ditunda? Bukannya kamu udah janji nanti kalau kita pindah kita akan kredit mobil." Nada bicara Alfian mulai naik.

"Iya sih bang, tapi keuangan kita lagi menipis, karena biaya pindah dan biaya kontrak kemarin lumayan banyak bang. Tabungan Hani cuma sisa sedikit, itu mungkin hanya cukup untuk kebutuhan makan harian kita. Mana Hani harus beli susu hamil juga bang, Sekarang Hani merasa badan Hani seperti gampang lelah, jadi dengan susu setidaknya bisa membuat tubuh Hani kuat dan nutrisi calon anak kita juga tercukupi." Ucap Hani mendetail.

"Dasar, belum lahir saja sudah bikin susah apalagi nanti sudah lahir." Ucap Alfian tanpa rasa bersalah, lalu keluar kamar dengan membanting pintu.

"Astaghfirullah abang..." Desah Hani sambil mengurut dadanya yang tiba-tiba sesak. Hani berusaha mengatur napasnya yang sesak. Efek perut yang semakin besar membuat Hani seperti mudah merasakan sesak napas.

Hani turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersuci dari hadast. Setelah itu ia harus segera menyiapkan sarapan. Ia berniat nanti setelah sarapan, ia akan membujuk suaminya. Bagaimanapun ia memang sudah terlanjur berjanji.

Hani menyelesaikan acara mandinya dalam waktu 10 menit, lalu ia bergegas ke dapur, ia melihat suaminya lagi rebahan di atas sofa ruang tamu. Sofa yang hanya mampu dibeli kredit oleh Hani. Mengingat tabungan Hani yang tidak seberapa yang ia tabung semenjak ia mendapatkan gaji pertamanya sebagai PNS yang baru hitungan satu setengah tahun, yang mana gaji awalnya masih belum 100 persen.

Hani pikir suaminya bisa bersabar dulu sementara, karena baru saja pindahan. Menjelang Hani mengumpulkan uang lagi untuk bayar DP mobil.

Tapi mengingat gelagat suaminya, Hani jadi berniat meminjam uang di koperasi Rumah Sakit tempat ia bekerja.

Sarapan pun selesai dihidangkan Hani di meja bundar tanpa kursi diruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu yang luasnya tidak seberapa itu.

"Bang, sarapan dulu ya, Hani buatin nasi goreng kesukaan abang ini..." Seru Hani pada suaminya, sambil mengambil posisi yang nyaman untuk duduk lesehan dilantai.

Dengan raut wajah masih kesal, ia mematikan rokok yang ia hisap dan meletakkan puntung rokok didalam asbak. Di dalam asbak sudah terlihat beberapa batang puntung rokok, padahal semalam sebelum tidur asbak itu sudah dibersihkan Hani.

Alfian malas-malasan menuju meja makan, namun rasa laparnya mengalahkan rasa gengsinya.

"Bang, kita ke sorum nya Senin aja ya selepas Hani pulang kerja, esok Hani coba pinjam uang di Koperasi kantor dulu." Ucap Hani memecah keheningan.

Alfian tak menjawab namun di hatinya serasa ingin berteriak senang, sebentar lagi keinginan nya terkabul. Hani melihat raut wajah suaminya sedikit berubah cerah membuatnya lega. Walau Hani tahu mulai bulan depan gajinya akan terpotong oleh beberapa angsuran mulai dari kredit mobil dan kredit perabotan rumahnya. Ia seperti mengikhlaskan semua, asalkan suaminya senang.

***

"Hal yang sulit dipahami manusia adalah sudah tahu disakiti tapi tetap saja mencintai."

Betul apa betul banget ini sobat readers Noveltoon yang terlope...? ngobrol di kolom komentar yuk! Anggap saja kita berbagi ilmu, karena berbagi itu indah lo...🥰🙏

Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!