7. Takdir Allah

Di dalam kamar, Anas berbaring ditempat tidurnya sambil menunggu waktu Ashar masuk. Anas pun merasakan kantuk yang luar biasa, lalu ia mencoba memejamkan matanya. Tak lama ia terlelap, bayangan sosok putri Martias sahabatnya kembali hadir di alam bawah sadarnya.

Anas pun seperti memaksa membuka matanya, agar ia segera terbangun dari mimpi itu. Namun karena kondisi fisik dan pikiran yang lelah seolah memaksa matanya agar terus terpejam. Walau dengan perintah otak yang sekuat apapun, namun ia hanya mampu membuka matanya sebentar kemudian kembali terlelap dan masuk ke alam mimpinya kembali.

"Alhamdulillah" ucap Anas disaat ia berhasil membuka matanya sempurna setelah berulang kali usaha sebelumnya gagal.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah." Anas pun beristighfar berulang kali demi memulihkan kesadarannya akan bayangan seseorang yang seharusnya tidak boleh dimimpikannya.

"Allahuakbar, Allahuakbar!"

Suara Adzan dari Mesjid yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah Anas terdengar cukup jelas. Anas bergegas ke kamar mandi untuk bersuci dan bersiap-siap ke Mesjid. Ia pun pamit pada ibunya dan memberi tahu bahwa nanti setelah dari Mesjid ia langsung berangkat ke lokasi penyuluhan.

***

Alfian yang hampir seharian berada di rumah ibunya hanya bermalas-malasan di atas tempat tidur, dengan gadget yang tak lepas-lepas dari tangannya. Sesekali ia tampak mencari info tentang lowongan kerja, namun waktunya lebih banyak habis dengan bermain game online hingga sore.

"Kamu ini mau nginap disini atau gimana? Kerjaan seharian hanya tiduran saja. Kamu kapan dapat kerjanya kalau begini. Pokoknya kamu tiap bulan jangan lupa kasih uang ke ibu." Ucap Ibu Alfian dengan gaya ceriwis ala ibu-ibu.

"Iya, iya, ibu tenang aja, ibu ini kebiasaan deh kalau nanya itu selalu saja seperti gerbong kereta api, nggak putus-putus." Sahut Alfian santai.

"Apa kamu bilang, gerbong kereta api bapak lu, kalau ngomong sama orang tua bawaannya ngelunjak terus, kapan kamu berubahnya Alfian." Nada suara Ibu Alfian mulai meninggi dengan tangan yang udah siap menjewer telinga Alfian.

"Ampun, ampun bu, aku pulang aja kalau gini." Ucap Alfian yang berhasil menghindar dari serangan capitan tangan ibunya yang akan mendarat di telinganya.

"Dasar kamu ya.. Awas kamu! Esok jika kamu kesini harus bawa sesuatu untuk ibu, kalau tak mau telinga mu itu nanti jadi korbannya."

"Iya, iya..." Jawab Alfian malas.

"Jangan iya, iya aja kamu, itu adik adik kamu juga butuh uang untuk keperluan sekolahnya... Jangan lupakan itu!" Sahut ibu dengan suara agak kencang agar anak sulungnya laki-laki satu-satunya itu mendengar ucapannya karena Alfian sudah berada diluar rumah.

Sebenarnya Ibu Alfian masih memiliki penghasilan dari pensiunan suaminya yang dulunya berprofesi sebagai TNI, namun karena gaya hidup yang tinggi, uang itu tentunya tidak cukup. Jadilah si ibu meminta Alfian tiap bulan harus mengirim uang. Dengan alasan, Alfian harus membalas budi pada mereka karena sudah membesarkan, dan menyekolahkannya sampai sarjana.

Kasih ibu..

kepada beta..

Tak terkira sepanjang masa...

Hanya memberi tak harap kembali..

Bagai sang surya menyinari dunia...

Alfian pun bersenandung dengan keras seolah mengolok-olok sang ibunda, sambil naik ke atas motor pemberian orang tuanya itu yang ia dapat disaat ia kuliah. Hingga sayup-sayup terdengar senandung Alfian dan akhirnya perlahan hilang dibawa angin.

***

Hani akhirnya bisa bernapas lega, ia tampak meregangkan punggungnya dengan mengangkat kedua tangannya karena merasakan kebas di area punggungnya. Pekerjaan yang tadinya ia pikir selesai sebelum masuk waktu Ashar, namun ternyata ada beberapa data yang harus di ketik ulang, karena sistem yang tiba-tiba eror.

Hani merapikan meja kerjanya lalu bergegas keluar dari rumah sakit tempat ia bekerja dan tak lupa mengambil absen pulang terlebih dahulu.

Di saat tiba di pinggir jalan, sebuah mobil angkutan umum pun lewat, Hani pun bisa pulang dengan segera tanpa harus menunggu. Ia melirik arloji mungil yang melekat dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.

"Semoga jalanan lancar, aku bisa sampai rumah sebelum Maghrib." Gumam Hani setelah ia berada didalam mobil.

***

Anas menyelesaikan pekerjaannya sebagai penyuluh tentang Pernikahan Dini dengan baik. Pemakaian bahasa yang ringan dan tepat sasaran membuat para pendengarnya yang terdiri dari Kepala Desa, ibu-ibu dari PKK dan para Tokoh Masyarakat tersebut bisa dengan mudah memahami apa yang disampaikan Anas.

Menurut Anas saat ini memang perlu ada gerakan dari tokoh-tokoh masyarakat untuk memberikan pencerahan pada masyarakatnya langsung atas maraknya pernikahan diusia yang sangat muda tanpa alasan syar’i.

“Kita memang sangat prihatin dengan masih banyaknya pernikahan dini dimasyarakat kita, karena kedepannya keluarga yang akan dibentuk itu pasti kurang kuat sehingga akan muncul banyak persoalan." Ucap Anas dalam pidatonya saat itu.

“Kita memiliki payung hukum masalah ini yaitu berdasarkan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, di mana kategori anak adalah yang kurang dari 18 tahun, Undang-Undang pernikahan No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yang sebelumnya usia menikah pada perempuan minimal 16 tahun dan laki-laki 19 tahun tetapi dalam UU baru mengharuskan 19 tahun baik perempuan maupun laki-laki. Kalau masih di bawah 19 tahun saat mengajukan di KUA pasti akan ditolak, jika masih ngotot akan diarahkan ke Pengadilan Agama untuk menjalani sidang,” jelas Anas saat itu.

Anas juga menyampaikan bahwa kasus pernikahan dini dapat dipicu karena motif ekonomi, adat dan kehamilan yang tidak diinginkan. Di sinilah letak pentingnya mencegah terjadinya pernikahan dini yang dampak buruknya sangat banyak, seperti gangguan mental, rentan kekerasan, melajunya angka perceraian, angka kematian ibu dan melajunya angka kematian bayi.

Di akhir kata, tak lupa Anas berpesan dengan adanya penyuluhan seperti itu, Anas berharap masyarakat dapat tercerahkan akan dampak dari Pernikahan Dini tersebut.

"Pak Anas hanya bisa berkoar-koar ya, ia saja yang tidak nikah muda namun tetap saja bercerai sama istrinya." Ucap salah seorang dari ibu PKK yang hadir disaat acara selesai.

"Ssst, eh nggak boleh ngomong gitu, ntar pak Anas dengar lo.." Sahut yang lain.

"Kan kenyataannya seperti itu..." Sahut si ibu PKK itu kembali.

"Hati-hati kalau ngomong ibu-ibu..." Tegur sang Kepala Desa ketika tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.

Anas bergegas pulang setelah semua urusannya di Aula Balai Desa tempat ia memberikan penyuluhan tersebut selesai. Ia yang juga mendengar sekilas pembicaraan para ibu-ibu itupun tak mau mengambil pusing. Yang terjadi pada rumah tangganya, cukup ia dan orang tuanya tahu. Toh itu sudah menjadi Takdir bagi Anas sekaligus ujian. Apa ia mampu melewatinya dengan berlapang dada atau malah terus larut dalam kesedihan dengan hati yang penuh luka.

Selang beberapa menit di perjalanan, mobil Anas nyaris menabrak mobil angkutan yang tiba-tiba saja menepi dan berhenti didepan mobilnya, beruntung Anas sempat membanting stir ke arah kanan. Hingga terhindar dari tabrakan.

(Mobil angkutan memang suka seenaknya gitu ya berhenti tiba-tiba kadang tanpa aba-aba.)

Anas tak sengaja kembali menangkap sekilas sosok putri sahabatnya turun dari mobil angkutan tersebut dari kaca spion bagian kiri mobilnya.

"Ya Allah, kenapa dirimu seperti selalu ada di hadapanku." Desah Anas, namun ia tak mau berpikiran lebih dalam lagi. Ia tetap melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

***

"Pada setiap tarikan nafas terdapat Takdir Allah yang berlaku atas dirimu" ~Ibnu Athailah~ (Tausiyah Cinta)

Terpopuler

Comments

Merry Dara santika

Merry Dara santika

mungkin hana jdoh nya anas kali ya. selalu bertemu

2023-05-26

1

Eys Resa

Eys Resa

setangkai mawar untukmu. udah ngasih pelajaran buat mak2 yang punya anak cewek kyk aku

2023-02-24

1

Gadih Hazar

Gadih Hazar

Tapi masih belum jadi bapak-bapak betul lo si Anas kak Krystal Zu, Anas beda jauh lo usianya dari bapaknya Hani, cuma mereka bersahabat... Hehehe ya itu sih cinta tak memandang usia, Anas tau diri juga sih.. hehehe makasih kak atas komentarnya...🙏

2023-02-05

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!