16. Penyakit Aina

Wanita itu melirik sekilas ke arah Alfian yang berada di samping Hani, wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Hani menyadarinya, ia seketika itu langsung memegang tangan suaminya, tanpa sengaja HP yang sedang Alfian pegang jatuh ke lantai.

"Kamu itu bisa hati-hati nggak sih, kalau HP aku rusak, awas saja kamu." Bentak Alfian yang membuat beberapa pasang mata yang sedang menunggu antrian disana melihat ke arah mereka.

"Eh mas, kamu itu yang ceroboh, istri lagi hamil besar gitu dibiarkan jalan sendiri, kamu asyik dengan gadget mu itu, dasar laki-laki tak bertanggung jawab kamu, istri hampir jatuh saja kau tak tahu." Ucap Si Ibu yang tiba-tiba marah pada Alfian karena tak terima wanita yang tak sengaja ia tabrak barusan dimarahi suaminya gara-gara menjatuhkan HP suaminya yang juga tanpa sengaja.

"Alah... Tante nggak usah ikut campur deh.. dia istri saya, terserah saya mau berbuat seperti apa padanya." Ucap Alfian lantang pada wanita itu. Ia ikutan manggil Tante seperti Hani.

"Ya Allah... kalau kamu wanita udah aku tarik rambutmu mas." Ucap wanita itu tambah geram. Wanita itu pun segera pamit pada Hani, bila lama disitu ia takut emosinya tak bisa ia kontrol.

"Dek, sekali lagi saya minta maaf ya, saya permisi dulu." Ucap wanita itu.

"Eh iya tante, nggak apa-apa..." Ucap Hani sambil memaksakan untuk tersenyum. Lalu tangannya udah ditarik Alfian agar segera pergi dari tempat itu.

"Masih saja ada ya laki-laki seperti itu, udah mau jadi bapak orang tapi kelakuan masih seenaknya." Gerutu wanita itu sambil jalan masuk keruangan Dokter Dila.

"Hai, Selamat siang Aina... silahkan duduk Ai." Sapa Dokter Dila akrab pada wanita yang dipanggil Aina itu yang ternyata adalah sahabat dari kecil Dokter Dila karena sekampung dengannya. Rumah mereka bersebelahan. Dan saat sudah bekerja pun mereka tinggal di kota yang sama jadi mereka masih bisa sering ketemu.

"Nggak usah basa-basi deh, mood aku lagi nggak baik nih." Sahut Aina masih dengan raut wajah kesalnya. Namun dibalas dengan tawa lepas dari Dokter Dila sang sahabat.

"Hahaha, ada apa dengan sahabatku ini? Suster Ana, bisa tolong tinggalkan kami berdua dulu sus, ini sahabat saya." Ucap Dokter Dila pada sang asisten yang bernama Ana itu.

"Baik Dok." Sahut Suster Ana singkat sambil menuju pintu keluar.

Setelah pintu ditutup rapat oleh Suster Ana, Aina mulai menyindir sahabatnya.

"Kamu itu ya mentang-mentang sudah jadi Dokter terkenal, susah banget atur waktu untuk ketemuan. Ini aku harus pakai nomor antrian segala, padahal kan aku sahabatmu Dila." Ucap Aina menyebut sahabatnya dengan sapaan akrab tanpa embel-embel gelar profesi lagi.

"Ya deh... maafin aku nih... aku hanya mau profesional saja saat bekerja." Ucap Dila sambil tersenyum menampakkan giginya yang putih dan rapi. Dila memang cantik dari sononya. Ia memiliki keturunan darah Pakistan, kecantikan Dila sebanding dengan kecantikan Hani putrinya Martias yang berdarah Arab.

"Btw, pertanyaan aku belum dijawab nih, kamu malah balik nanya." Lanjut Dokter Dila.

"Pertanyaan apa sih..?" Sahut Aina.

"Ya sudah deh lupakan, jadi ada yang bisa aku bantu sahabatku?" Ucap Dokter Dila segera mengalihkan pembicaraan, ia tahu pasti sahabatnya itu lagi banyak masalah makanya jadi seperti orang linglung.

"Iya nih, aku mau minta saran dari kamu. Kira-kira aku bisa ikutan program bayi tabung nggak?"

"Lho, kenapa baru sekarang nanyanya say, padahal dulu waktu kamu masih sama si Anas, aku udah nyaranin lo, walau kemungkinannya nggak bisa sukses 100 persen sih. Padahal kemungkinan berhasilnya diusia kamu dibawah 35 tahun lebih tinggi daripada usiamu sekarang."

"Bukan apa-apa sih... tapi Ridho beda dengan Anas Dil, ia selalu mendesak aku mencari cara bagaimana aku bisa hamil. Apalagi desakan Ibu mertuaku. Aku jadi menyesal karena udah ninggalin mas Anas."

Dari pernikahannya sebelumnya dengan Rania, Ridho juga tak memiliki keturunan, makanya dengan mudah ia memiliki alasan untuk berpisah dari Rania. Ibu Ridho yang sudah sangat ingin memiliki cucu, merestui saja keputusan anak laki-laki nya itu. Kemudian ia pun merestui Ridho kembali pada Aina mantan kekasihnya dulu.

Ridho berhasil membohongi ibunya, bahwa Aina bukan mandul dikarenakan sudah 10 tahun lebih dari pernikahannya dengan Anas masih belum dikaruniai momongan. Tapi itu karena Aina nya saja yang tidak mau memiliki anak dari seseorang yang tidak ia cintai. Begitu Ridho mengelabui Ibunya agar ia bisa mengantongi restu untuk bisa kembali pada Aina.

"Penyesalan nggak ada gunanya say, tapi sekarang jika kamu mau mencoba aku dengan senang hati membantu."

"Tapi aku punya beberapa keluhan nih Dil, ini aku rasakan tak lama setelah menikah dengan Ridho sekitar lebih dari dua minggu kami menikah."

"Keluhan apa yang kamu maksud Ai?" Tanya Dila penasaran.

Aina berbisik pada sahabatnya itu seolah ia sangat malu menceritakannya.

"What? Kamu serius merasakan semua keluhan itu?"

"Iya Dil, aku juga udah searching di Google, aku khawatir kalau-kalau ternyata itu adalah ciri dari penyakit ganore atau Gonorrhea."

"Dari analisa beberapa keluhan yang kamu sebutkan, memang lebih mengacu kearah sana, tapi itu tentu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dulu."

"Apakah itu berbahaya Dil? Tanya Aina dengan wajah penasaran.

"Infeksi bakteri Gonorrhea tidak bisa sembuh sendiri, dan sebaiknya harus segera diobati. Apabila tidak disembuhkan, maka infeksi dapat menyebar ke organ lain dan menimbulkan komplikasi berbahaya dan memicu masalah serius dan permanen." Terang Dila pada sahabatnya itu.

"Astaghfirullah..." Aina menekuk wajahnya, air matanya seketika keluar tanpa permisi, ia jadi kepikiran apakah ini balasan dari Allah. Karena ia telah menyakiti seseorang yang sudah sangat baik dan sayang padanya.

"Mas Anas, maafin aku mas... Aku mendapatkan balasannya sekarang." batin Aina merana. Ia merasa terpuruk, seluruh dunia seolah mengejeknya.

"Tapi ini penyebabnya apa ya Dil?" Tanya Aina seraya menguatkan hatinya.

"Ganore atau disebut juga dengan kencing nanah adalah infeksi bakteri Neisseria Gonorrhoeae, yang menular dari orang ke orang melalui kontak s*ksual. Kemudian bakteri berkembang di area yang hangat dan lembab di salah satu selaput lendir tubuh, seperti alat k*elam*n, mulut, tenggorokan, mata dam rektum."

"Sebagian besar pasien kencing nanah adalah berjenis k*lam*n laki-laki."

"Gejala pada pria dan wanita dapat berbeda. Pada wanita, umumnya gonore tidak menunjukan gejala. Bahkan, hanya 50% wanita yang terinfeksi yang menunjukan gejala."

"Namun dari gejala yang dirasakan wanita dapat juga disalahartikan sebagai infeksi kandung kemih atau vag*na."

"Gejala paling sering dirasakan seperti yang kamu sebutkan tadi Ai, yaitu berupa keputihan abnormal, sensasi nyeri atau terbakar saat buang air kecil, dan pendarahan ******, termasuk sakit saat berhubungan i*tim itu." Ucap Dila dengan hati-hati. Ia memberikan penjelasan sebaik dan sejelas mungkin.

"Orang yang aktif secara seksual dapat terkena gonore melalui hubungan **** vag*nal, an*l, atau oral tanpa k*nd*m dengan pasangan yang menderita ganore." Lanjut Dila.

"Untuk keterangan lebih lanjut tentang ganore selain menyerang alat k*lam*n juga bisa menyerang tubuh yang lain, kamu bisa searching di google lagi nanti Ai. Kalau saya jelaskan disini, bisa-bisa pasien-pasien saya ngamuk diluar karena kelamaan nunggu." Terang Dokter Dila sambil memaksakan diri untuk tersenyum, ia ikut prihatin bila memang benar penyakit itu menimpa sahabatnya.

"Intinya hindari gonta-ganti pasangan, dan bila ada yang terjangkit salah satu gunakan k*nd*m saat berhubungan, dan segera obati sampai sembuh. Hindari prilaku **** yang beresiko, melakukan **** sehat sesuai anjuran agama itu jauh lebih aman."

"Iya Dil, lalu bagaimana dengan rencana awal ku tadi?"

"Kamu coba periksakan diri dulu di Rumah sakit, begitu juga dengan suamimu Ridho. Jika memang benar, obati dulu sampai sembuh baru kita bisa lanjut program bayi tabung. Karena pada ibu hamil dengan gonore, dapat memberikan infeksi pada bayinya saat melahirkan." Saran Dokter Dila pada sang sahabat dan diikuti anggukan lemah oleh Aina.

Masalah baru seperti muncul dibenak Aina, bagaimana caranya ia menyampaikannya nanti pada suaminya, Ridho.

***

"Sakit itu penggugur dosa. Tidaklah seseorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya." ~HR. Bukhari & Muslim~ (Tausiyah Cinta)

Terpopuler

Comments

Assyfa Husna

Assyfa Husna

astaqfiruloh pnyakit serem

2024-01-27

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!