Di rumah Martias, semua keluarga kedua mempelai, kerabat dan tetangga yang diundang sudah tampak memenuhi ruangan tamu yang menyatu dengan ruangan tengah yang cukup luas.
"Pak, Buk, Penghulunya sudah datang." Seorang kerabat laki-laki tampak baru masuk dan memberi tahu bahwasanya Anas selaku penghulu sudah sampai di depan rumah.
Pak Martias langsung berdiri berniat menyambut tamu agung, sahabat sekaligus orang yg akan memandu dan mencatat proses pernikahan putri pertamanya.
Anas masuk mengucapkan salam, dan hampir semua yang hadir serentak menjawab salam dan merasa lega karena yang sangat ditunggu kehadirannya sudah datang. Martias langsung menjabat tangan Anas lalu berpelukan. Kemudian mempersilahkan Anas duduk ditempat yang sudah disediakan.
Mempelai pria yang bernama Febrian Alfiano yang kerap disapa Alfian tampak semakin tegang saat Anas Sang Penghulu mendekati tempat duduknya tepat di samping calon Bapak Mertua yang duduk berhadapan dengannya. Ia masih teringat jelas saat ia dengan putri Pak Martias yang ketika itu berada di Kantor Urusan Agama (KUA) 2 minggu yang lalu diwawancarai dan Anas lah yang memberikan nasehat panjang lebar mengenai persiapan sebagai calon pengantin.
Nasehat-nasehat itu berisikan sebagai rambu-rambu yang mesti dipedomani oleh catin (calon pengantin) dalam menempuh hidup berumah tangga. Hal itu dilakukan untuk menjaga keutuhan dan kelanggengan rumah tangga dan untuk membatasi dan mengurangi angka perceraian.
Yang pertama adalah dengan meniatkan menikah karena Allah untuk beribadah kepada-Nya. Kedua, melaksanakan kewajiban kepada-Nya dengan tidak meninggalkan sholat lima waktu. Ketiga, paham akan apa saja kewajiban sebagai suami atau istri karena dengan begitu secara tidak langsung mereka sudah menerima haknya masing-masing. Keempat, jauhi larangan-larangan dalam pernikahan seperti tidak meniatkan nikahnya sementara, tidak menyamakan pasangan dengan orang tua mereka, tidak melanggar sumpah dan mereka tidak saling tuduh berselingkuh. Kemudian yang kelima, laksanakan kewajiban terhadap anak jika nanti dikaruniai anak. Seperti mengazankan diwaktu lahirnya, memberikan nama yang terbaik, memberikan makanan yang halal lagi baik, memberikan pendidikan terutama pendidikan agama dan menikahkan mereka apabila sudah sampai umurnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, bagaimana Alfian apa saudara sudah siap? Atau apa perlu saya mengulang beberapa nasehat lagi?" Ucap Anas tegas namun seperti berusaha menutupi kegugupannya.
Entah kenapa semenjak pertemuan pertamanya dahulu di kantor KUA, perasaan dan desiran aneh itu seperti mengalir begitu saja. Anas memang sebelumnya belum mengenal anak-anaknya Martias. Namun ia sekarang tahu bahwa gadis yang datang ke kantornya dulu bersama pemuda didepannya ini adalah putri sahabatnya sendiri.
Anas mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa berat. Tak biasanya ia seperti ini, sudah ratusan pasangan yang ia hadiri dan memandu acara pernikahan mereka. Namun baru kali ini ada perasaan tak ikhlas muncul di hati Anas.
"Tidak pak, nasehat-nasehat bapak masih terekam jelas dibenak saya." Ucapan tegas Alfian membuat Anas harus mengucapkan istighfar berulang kali dalam hatinya. Agar hatinya kembali tenang.
"Masyaallah, baik pak Martias, kalau begitu kita mulai acaranya." Ucap Anas secara formal kepada sahabatnya Martias yang biasanya ia panggil dengan sebutan bang Martias itu.
Sedangkan mempelai wanita masih berada didalam kamar pengantin, dengan jantung yang terasa terpompa lebih cepat dapat mendengar jelas apa yang berlangsung diluar kamarnya.
Acara pernikahan pun dimulai, Hani pun mendengar jelas suara Alfian mengucapkan ijab kabul dengan lantang hingga terdengar sahutan suara berkata Sah. Hani sampai menitikkan air matanya sambil berdo'a lirih pada Rabbnya. "Ya Allah, Alhamdulillah segala puji hanya untukmu. Hamba sekarang sudah sah menjadi milik Alfian, ridhoi rumah tangga kami, bantu bimbing hamba agar bisa menjadi istri yg Sholehah, Aamiin."
Terdengar suara pintu terbuka, Hani terkesiap karena ia melihat Tantenya masuk. "Han, udah waktunya keluar." Ucap Tante Hani sambil tersenyum lalu membimbing Hani keluar kamar.
Semua proses berjalan dengan lancar, dan selanjutnya diikuti dengan acara resepsi pernikahan yang dihadiri oleh tamu undangan. Dan saat ini adalah pertemuan kedua Anas bertemu dengan Hani putri sahabatnya. Perasaan dan desiran aneh itu muncul kembali ketika Anas tak sengaja menatap mata Hani. Namun ia langsung menampiknya, karena ia tahu ini adalah sebuah kesalahan.
Pernikahan yang lancar namun siapa yang menyangka pasangan yang sudah sah menjadi suami istri tersebut sebelumnya sangat sulit mendapatkan restu dari keluarga Martias.
Flashback On
Hanifah Putri yang akrab disapa Hani adalah putri pertama dan putri satu-satunya dari dua bersaudara dari pasangan suami-istri, Bapak Martias dan Ibu Mala Sari. Hani sudah berusia 24 tahun.
Hani pun sudah mempunyai pekerjaan tetap yaitu sebagai salah satu Pegawai Negeri Sipil disebuah rumah sakit di Ibukota semenjak satu tahun yang lalu.
Pertemuannya dengan Alfian pertama kalinya disebuah kantin di kampus saat Hani masih kuliah di tingkat pertama. Jurusan mereka berbeda namun masih satu kampus yang sama.
Pertemuan demi pertemuan ternyata tak bisa dielakkan, mereka ternyata sama-sama saling menyukai, walau Hani tahu sifat Alfian yang egois dan gampang marah, namun Hani seperti seorang ibu yang mengerti akan sifat anaknya. Hani begitu sabar menghadapi sikap Alfian yang kadang masih belum mandiri. Kekurangan Alfian tersebut seolah tertutup dengan rasa cinta yang besar yang ia miliki untuk Alfian.
Dan tepat disaat ia diangkat menjadi salah satu pegawai negeri di sebuah rumah sakit di Ibukota, Hani seolah siap untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang pernikahan walaupun Alfian masih belum mendapatkan pekerjaan.
"Kamu yakin nak akan menikah dengan Alfian?" Ucap Bu Mala, ibunya Hani di saat mereka telah menyelesaikan makan malam diruang makan yang menyatu dengan dapur bagian belakang rumah mereka. Tadi siang Alfian memang datang ke rumah mereka demi meminta restu agar ia bisa menikah dengan Hani.
"Iya ma, insyaallah Hani yakin ma?" Ucap Hani sambil menunduk, ia tak berani menatap wajah Pak Martias papanya yang duduk tepat di depannya di samping mamanya.
Tampak Ibu Mala menghela napasnya berat. Ia dengan suaminya Martias ketika pertama kali mengetahui Hani punya hubungan spesial dengan Alfian sempat shock, karena Ibu Mala sangat mengenal keluarga Alfian. Dan merekapun sudah berdiskusi bersama sanak saudara, memang kebanyakan dari mereka tak menyetujui hubungan Hani dengan Alfian. Mereka seolah mengenal betul bagaimana karakter Alfian dam keluarganya. Adik laki-laki Ibu Mala atau Paman Hani sempat memberi tahu keberatannya menerima Alfian pada Hani.
Begitu juga dengan Pak Martias yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan nya saat Alfian pernah datang kerumahnya pertama kalinya.
Namun Hani tetap bersikeras dan yakin akan pilihannya. Sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi, merekapun terpaksa merestui. Karena tak baik menghalangi niat seseorang yang sudah saling suka dan sudah berniat untuk menikah. Demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi dan mereka bisa segera terikat dengan hubungan yang halal dari segi Agama dan sah dimata Agama. Karena betapa banyak pasangan yang nekad menikah secara siri dikarenakan hanya tak mendapatkan restu dari orang tua. Walau dalam islam nikah siri diperbolehkan, tetapi tetap harus memenuhi syarat dan rukunnya seperti adanya 2 orang saksi yang adil, serta adanya Ijab dan Kabul. Tapi jika pernikahan siri itu dilakukan tanpa adanya wali nikah maka pernikahan tersebut tidak sah dalam agama.
Pak Martias mendengar jawaban dari anak perempuan satu-satunya itu langsung berdiri dari duduknya.
Hani yang melihat papanya berdiri, ia langsung menghampiri papanya lalu
bersimpuh sambil memegang kedua tangan papanya, ia berucap dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.
"Pa, tolong restui Hani sama Alfian pa... Hani janji apapun nanti terjadi dalam rumah tangga Hani, Hani tak akan mengeluh pada Papa dan Mama, tolong Hani pa, Hani sangat mencintai Alfian." Tangis Hani pun pecah.
Pak Martias tak tega melihat anak perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi dan ia jaga sebaik-baiknya selama ini, menangis bersimpuh dihadapannya. Ia hanya bisa mengangguk pelan dan senyuman yang terbit di wajah putrinya cukup membuat ia akhirnya berlapang dada menerima Alfian sebagai calon menantunya.
Flashback Off
"Akan ada yang menetap bersamamu, dan juga ada yang sementara, agar kamu mendapatkan pelajaran darinya, ataupun hanya sebagai pemanis yang menusuk dalam cerita kehidupanmu." (Tausiyah Cinta)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Gadih Hazar
Terimakasih krisanya kak say, insyaallah bisa jadi acuan untuk kedepannya..🙏🥰
2023-02-04
1
Krystal Zu
bagus kak tapi dialognya kurang yaa jadi kurang seru bacanya hihi
2023-02-04
1