Hari ini adalah hari pertama masuk kerja setelah menikah buat Hani. Walaupun hari ini tidak sesuai dengan harapannya. Ia yang bermimpi setelah menikah, akan ada seseorang yang bisa mengantarnya kemanapun pergi, seperti mengantar atau menjemputnya kerja.
Ia yang tadinya berpikir karena suaminya pun belum ada kerjaan, suaminya bisa mengantar atau menjemputnya untuk sementara waktu. Walau diantar dengan motor suaminya di pagi yang dingin pun bila bersama suami akan Hani lalui. Pastinya sangat indah bisa memeluk suaminya dari belakang hingga udara yang dingin pun tak menjadi alasan untuknya sekarang. Namun mimpi itu harus segera ia kubur kembali.
Hani dulu memang tak pernah mau diajak naik motor berduaan oleh Alfian. Alasan Hani hanya karena belum menikah. Bila ia terpaksa pergi berdua dengan Alfian. Mereka akan naik angkutan umum dan selalu pergi ketempat-tempat yang ramai.
Selama ini, Hani pun memang tak pernah naik motor bila berangkat kerja, karena Hani tak kuat dengan udara dingin pagi yang mampu menusuk kedalam tulangnya. Sebab perkampungan mereka berada di daerah ketinggian, apalagi jarak yang ditempuh lumayan jauh menuju Ibukota. Namun niatnya yang ingin suaminya mengantarnya, segera ia urungkan melihat gelagat emosi suaminya tadi pagi. Ia tetap berangkat naik mobil angkutan umum seperti biasanya.
"Pak, pas depan Rumah Sakit berhenti ya." Ucap Hani pada sang sopir dengan nada agak kencang karena suara musik dari speaker mobil cukup memekakkan telinga, ia khawatir sang supir tak mendengar suaranya.
Rupanya sang sopir sangat peka juga, ia mengangguk lalu membawa mobilnya menepi. Hani pun turun dari mobil angkutan tersebut setelah membayar ongkosnya, ia segera melihat ke arah kanan dan kiri jalan. Dengan maksud untuk menyebrangi jalan karena Rumah Sakit tempat ia bekerja berada diseberang jalan.
Hani menyegerakan langkahnya setelah melihat jalanan kosong, ia bisa saja terlambat bilamana sang sopir tak ugal-ugalan dijalan. Ugal-ugalan sang supir ternyata membawa hikmah tersendiri buat Hani.
"Hai Han, sendirian aja." Sapa seseorang sambil mendekati Hani yang sedang berjalan di pelataran depan rumah sakit. Ia menyetarakan langkahnya dengan Hani. Orang itu adalah Riana, sahabat Hani dari masa kuliah. Kebetulan mereka juga memiliki nasib baik yang sama. Sama-sama terangkat menjadi pegawai negeri di rumah sakit yang sama. Beruntungnya Riana, jarak rumahnya hanya beberapa kilo dari Rumah sakit tempat mereka kerja. Riana dan Hani pun sama-sama masuk gedung utama dengan langkah yang dipercepat.
"Biasanya aku juga sendirian kan, pakai nanya segala, kamu lucu deh, tapi maaf nih baru jawab pertanyaannya." Ucap Hani santai sambil tetap melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Mereka sudah selesai mengambil absen dengan sistem sensor jari di pintu utama depan Gedung.
"What, lucu kamu bilang, apa nggak salah dengar aku nih? Wajar dong aku nanya nya seperti itu, kamu kan sudah ada bodyguard sekarang Hani sayang, kok kamu bisa lupa. Kamu nih yang lucu lo.."
"Bodyguard apaan sih, aku nih bukan anaknya konglomerat Riana... Aku pun bukan anak pejabat tinggi yang perlu diawasin kemana pergi oleh Bodyguard. Dan aku pun juga bukan istri seorang CEO lo..." Jawab Hani masih dengan nada santainya.
"Ok, ok.. aku pikir setidaknya Alfian bisa ngantar kamu kan Han.."
"Alfian ya..." Ucap Hani dengan raut wajah datar. Hani dengan Riana selama ini sering berbagi cerita. Namun kali ini ia akan berhati-hati untuk bercerita pada Riana lagi, karena sekarang Alfian statusnya sebagai suami. Aib suami adalah aibnya sendiri. Karena pasangan suami istri ibaratnya pakaian. Bisa saling menutupi kekurangan-kekurangan satu sama lain. Bahkan kepada orang tua kita sendiri sekalipun tetap tidak boleh menyebutkan keburukan pasangan kita.
"Ok Han, sampai ketemu nanti pas jam istirahat ya." Ucap Riana mengakhiri obrolan mereka. Mereka akhirnya berpisah karena ruangan kerja mereka yang berbeda.
***
Di tengah hiruk pikuknya Ibukota, ada sepasang kekasih yang tengah berbahagia. Mereka yang dulunya sempat berpisah akhirnya bersatu kembali. Aina dan Ridho akhirnya bisa menikah setelah menunggu drama panjang dalam pengurusan perceraian Ridho dengan Rania.
Rania yang tidak terima karena tiba-tiba saja Ridho ingin menceraikannya. Ia merasa dirinya tidak ada melakukan kesalahan. Hanya saja Rania memang sangat manja pada Ridho. Sedangkan Ridho seolah tak bisa bersabar dengan sikap manja Rania, Ridho pun akhirnya membanding-bandingkan Rania dengan Aina. Lalu Ridho kembali mencari tahu akan keberadaan Aina, yang Ridho tahu dulu bahwa Aina diboyong suaminya pindah ke daerah asal suaminya. Ternyata Ridho berhasil menemukan Aina, setelah meyakinkan Aina mau kembali padanya. Ridho pun menalak Rania.
Ridho seakan menyesal karena dulu telah meninggalkan Aina, karena sebenarnya Ridho lebih senang dengan sifat Aina yang mandiri dan cekatan. Dulu ia yang khilaf menerima Rania karena Rania lebih memiliki segalanya. Rania adalah anak seorang pengusaha sukses di Ibukota. Dan Ridho pun berhasil termakan rayuan Rania, jika ia menikah dengannya maka nanti perusahaan Papa Rania bisa diambil olehnya karena Rania adalah anak satu-satunya.
Namun semua tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan Rania. Perusahaan yang dipimpin Papanya Rania ternyata perusahaan kakek angkat Rania tepatnya ayah angkat papanya Rania. Perusahaan itu hanya dititipi bukan dimiliki.
***
Anas berdiri gelisah didalam kamarnya. Seminggu yang lalu mantan istrinya menghubunginya. Aina mengundang Anas agar bisa hadir dalam acara pernikahannya tepatnya hari ini.
"Ya Rabb, apa aku sanggup nanti bertemu mantan istriku? Rasa sakit yang sudah aku kubur dalam-dalam namun tetap tak mampu hilang sempurna setelah tahu dirinya akan menikah dengan seseorang yang sempat aku punya cemburu padanya. Rumah tangga yang dulu aku bina dengan sepenuh hati, runtuh begitu saja hanya karena laki-laki itu kembali hadir dalam hidup istriku." Ucap Anas lirih, ia mengamati nama yang tertera dalam undangan.
"Ridho" Sebut Anas, suaranya bergetar menahan rasa sakit. Dia adalah lelaki yang pernah disebut Aina di malam terakhir kebersamaan mereka saat itu.
"Aku memang tak pernah menanyakan apapun tentang masa lalu Aina, dan Aina pun tak pernah cerita. Aku pikir kami akan sama-sama menatap masa depan tanpa harus tahu masa lalu masing-masing." Gumam Anas sambil mengenang masa lalunya.
"Dan disaat dulu ia menyebutkan alasannya pisah dengan menyebut nama lelaki itu. Seketika hatiku merasakan sangat sakit, sungguh sakit, aku sangat cemburu pada laki-laki itu. Ternyata cintaku selama ini hanya bertepuk sebelah tangan, diam-diam istriku yang aku sayangi, yang selalu aku jaga hatinya dengan sepenuh hatiku ternyata tak pernah mencintaiku. Kebaikan dan kepatuhannya sebagai istri selama ini hanya sebuah pemenuhan kewajiban saja. Cintanya ternyata benar-benar sungguh besar pada lelaki itu yang ternyata adalah mantan kekasihnya dulu. Hingga sekarang takdir benar-benar mempertemukan mereka kembali." Anas bermonolog dalam hatinya.
"Rabb, sungguh aku memohon pada-Mu, berikan aku keikhlasan yang paripurna akan garis hidup yang telah Engkau tetapkan ini."
"Bismillahirrahmanirrahim, aku akan datang."
Anas memantapkan hatinya untuk memenuhi undangan mantan istrinya. Ia akan hadir di acara pernikahan mantan istrinya.
***
"Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan." Buya Hamka (Tausiyah Cinta)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Eys Resa
Lanjut... satu hadiah mendarat.
Jangan lupa mampir juga di karya aku ya kak, salam kenal.
2023-02-24
1
Gadih Hazar
makasih kak say... semoga berkah..
2023-02-04
0
Krystal Zu
aku lanjut baca nih
2023-02-04
1