Hari sudah sore, kebetulan setelah selesai urusannya di rumah Martias, Anas langsung menuju lokasi kedua melanjutkan tugasnya sebagai Penghulu. Hari ini ada tiga pasangan pengantin yang menikah. Sehingga Anas baru bisa pulang setelah melakukan sholat Ashar di Mesjid dekat rumah pengantin yang ketiga. Anas selalu berusaha melakukan kewajibannya sebagai hamba-Nya dengan melaksanakan Sholat lima waktu tepat waktu dengan berjamaah di Mesjid atau Mushalla dimana pun posisinya yang terdekat saat itu.
Diperjalanan pulang Anas tak sengaja melihat ke arah Barbershop, yang kebetulan lagi sepi pengunjung. Ia jadi ingin mampir walau tempat itu bukan tempat langganan biasanya.
"Mumpung masih hari Jum'at" gumam Anas dalam hati ketika memasuki Barbershop tersebut. Anas seakan takut akan kehilangan pahala sunnah apabila ia memotong rambutnya dilain hari. Walaupun beberapa pendapat lain mengatakan memotong rambut tidak mesti di hari tertentu melainkan tergantung kebutuhan.
Setelah hampir satu jam, Anas pun tersenyum melihat hasil kerja sang Barber. "Alhamdulillah, akhirnya bisa kelihatan muda lagi saya ya bang." Ucap Anas pada sang Barber.
"Alhamdulillah pak, eh bang, abangnya juga cakep." Ucap sang barber sambil malu-malu, ia yang tadinya menyapa Anas dengan panggilan bapak namun setelah melihat hasil karyanya, ia pun terkagum sendiri, ternyata pelanggannya masih muda dan tampan.
***
Minggu pertama pernikahan dilalui Hani dengan manis, seperti layaknya pengantin baru yang lagi candu-candunya merasakan kenikmatan dunia yang dikaruniakan oleh Sang Pemberi kehidupan bagi pasangan yang sudah halal. Walau Alfian suaminya jarang terlibat komunikasi dengan orang tuanya namun Hani mencoba mengerti mungkin Alfian butuh waktu agar bisa dekat dengan orang tuanya, apalagi Hani tahu Papanya Hani masih agak canggung bila berhadapan dengan Alfian.
Alfian pun akan keluar kamar apabila Mama dan Papa Hani sudah berangkat kerja. Mama Hani masih aktif mengajar di sebuah sekolah Menengah Pertama sedangkan Papa Hani sedang menikmati masa tahun akhir dinasnya karena tepat tahun depan di bulan kelahirannya, Papa Hani akan mengakhiri masa dinasnya alias pensiun.
Apabila tiba waktu makan, Alfian sering minta dibawakan makanannya kedalam kamar, sedangkan Hani kembali makan bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya Hani jadi dilema antara menimbang perasaan orang tuanya atau patuh pada suaminya. Tapi sepertinya Alfian tidak mempermasalahkan Hani mau makan dimana, yang penting ia makan didalam kamar. Alfian seperti menghindari kontak fisik dengan Papa dan Mama Hani.
Hani memang sedikit merasa risih dengan sikap dan prilaku suaminya yang seolah tidak mau berusaha mengambil hati orang tuanya.
Dan ujian pertama dalam rumah tangga merekapun terjadi disaat Hani sudah masuk kerja, karena masa cuti nikahnya sudah habis.
"Bang, bang Alfian bangun bang, Hani mau bicara sebentar bang." Ucap Hani sambil mengguncang pelan pundak suaminya. Ia yang sudah siap untuk berangkat kerja mencoba membangunkan Alfian yang sengaja mengulang tidurnya kembali setelah meminta haknya kembali sebagai suami setelah subuh tadi. Hani sengaja berangkat lebih awal karena jarak dari rumahnya ke Ibukota cukup memakan waktu perjalanan selama satu jam bila macet.
"Apaan sih Han? Masih ngantuk nih..." Ucap Alfian berat dan sedikit emosi karena tidurnya terganggu.
"Hani mau berangkat kerja bang.."
"Ya udah pergi aja sana kerjanya, apa susahnya sih."
"Tapi Hani mau ngomong sesuatu dulu sama abang."
"Ngomong apaan sih?"
"Itu bang, untuk sarapannya sudah Hani siapkan di meja makan, abang ambil dan makan sendiri saja nanti ya."
"Eh, tunggu dulu, apa katamu?" Sahut Alfian membuat Hani sedikit kaget.
"Abang makannya nanti di meja makan saja, Hani merasa nggak enak sama Mama dan Papa kalau abang makannya terus dibawain ke dalam kamar."
"Eh apa maksudmu, nggak enak sama Mama Papa, haaa?" Alfian mencengkeram dagu Hani dengan kuat.
"Lepasin bang, maaf... maksud Hani abang coba sesekali bergabung di meja makan dan ngobrol-ngobrol sama Mama dan Papa." Ucap Hani memelas agar Alfian bisa segera melepas cengkraman tangannya.
"Nggak mau, pokoknya kamu harus bawain sarapan abang kesini, oya sekalian tinggalin uang buat ongkos dan jajan abang hari ini, abang mau ke rumah ibu." Ucap Alfian penuh penekanan, ia tahu kedua mertuanya akan berangkat kerja sekitar satu jam lagi karena jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dari rumah. Sedangkan ia merasa perutnya sudah keroncongan akibat aktivitas semalaman sang pengantin baru yang seolah masih tiada lelahnya.
"Bang, Hani bukannya nggak mau ngasih uang buat abang, tapi apa abang nggak berniat melamar pekerjaan lagi?" Ucap Hani hati-hati. Ia tahu Alfian dulu berjanji setelah menikah ia akan mencoba mencari pekerjaan lagi. Setelah selama ini, ia belum mendapatkan pekerjaan yang cocok. Setelah satu minggu menikah, Hani tak melihat niat Alfian sedikit pun untuk mencari tahu akan lowongan pekerjaan untuk dirinya.
"Udah, pergi sana, cerewet amat sih jadi orang." Bentak Alfian pada Hani sambil mendorong tubuh Hani, beruntung Hani tidak sampai jatuh dan ia cepat tersadar agar tidak mengeluarkan suara jeritan karena kaget. Hani takut Mama dan Papanya mendengar dan akan salah paham. Masih beruntung jarak kamar Hani dengan orang tuanya berjauhan.
"Eh tunggu, jangan lupa tu uang dan makanannya taruh di situ tuh!" Seru Alfian sambil menunjuk meja kecil yang ada dikamar mereka, seperti biasanya Hani menaruh makanan untuk Alfian disana.
"Astaghfirullah, ya Allah, apakah ini ujian buat hamba..? Aku harus bersabar dengan sikap bang Alfian, semoga sikapnya nanti bisa berubah." Hani hanya mampu bermunajat dalam hatinya, lalu ia keluar kamar dengan raut wajah yang dibuat seceria mungkin. Ia khawatir orang tuanya menaruh curiga bila melihat wajah muram anaknya.
"Han, suamimu masih belum bangun ya?" Sapa Bu Mala mengagetkan Hani ketika Hani sedang fokus menyiapkan sarapan untuk Alfian yang akan ia bawa masuk kedalam kamar. Hani pun hanya menjawab dengan gelengan kepalanya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Trus itu sampai kapan suamimu makan didalam kamar terus Han?" Tanya Bu Mala kembali dengan wajah agak kesal.
"Maafin bang Alfian ya ma, nanti Hani akan coba mengajak bang Alfian lagi agar mau makan bersama dengan Mama dan Papa." Ucap Hani dengan nada memelas berharap Mamanya mengerti akan sikap suaminya.
"Permisi ya ma, Hani kedalam dulu." Hani mencoba menarik napasnya dalam. Ia tahu Mamanya pasti marah dengan sikap suaminya. Apalagi dulu mama sudah melarang Hani untuk melanjutkan hubungannya dengan Alfian. Sekarang Hani harus siap menanggung semua resiko atas pilihannya sendiri.
***
"Pilihlah Lelaki yang baik agamanya, jika marah tidak menghina, bila cinta akan memuliakan." (Tausiyah Cinta)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Assyfa Husna
kata2 mutiaray bagus Thor....
2024-01-27
0
Merry Dara santika
kata2 nya bagus sekali.jdi kadang suka tkt menikah
2023-05-17
1
Eys Resa
Aku mampir kak... suka novel kalau ada tausiyahnya. Jadi nambah pengetahuan juga buat yang awak seperti aku. Semngat
2023-02-24
1