5. Bertemu mantan istri

"Kamu memang orang baik mas, kamu pantas bahagia, tolong jangan benci aku." Gumam Aina setelah melihat mantan suaminya datang menghadiri undangannya.

Anas sengaja datang siang setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia terpaksa izin pulang cepat dengan alasan urusan penting. Aina dan Ridho sedang duduk di pelaminan menanti tamu. Sedangkan akad nikah mereka sudah selesai dilangsungkan tadi pagi.

Aina dengan mudah mengenali sosok mantan suaminya walau ditengah-tengah ramainya tamu undangan yang datang. Karena kedatangan Anas sangat ditunggu-tunggu oleh Aina.

Aina seolah lupa bahwa ada Ridho disampingnya. Pikirannya seolah melayang pada beberapa tahun yang silam.

Flashback On

"Mas... seandainya aku memang tak bisa hamil, apa kamu berniat akan menikah lagi?" Tanya Aina penuh hati-hati di suatu malam dimana ia benar-benar melihat kesungguhan suaminya berdoa meminta agar bisa dikaruniai keturunan segera sebelum mereka melakukan ibadah sakral suami istri itu waktu itu.

Anas tampak mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.

"Memang Aina sudah tak mencintai mas lagi ya?" Ucap Anas balik bertanya, walau Anas tahu Aina tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cinta untuknya, namun dari sikap bakti Aina selama ini sebagai istri, sudah cukup membuktikan bahwa Aina juga mencintainya seperti cintanya yang begitu tulus karena Allah.

"Mmmmh, bukan begitu maksudku mas, mas tinggal jawab saja apa mas nggak berniat nikah lagi?"

"Aina.. mas memang sangat mengharapkan adanya keturunan yang lahir dari pernikahan kita tapi bukan berarti kalau Allah belum memberi, mas akan berpaling pada yang lain. Karena mempertahankan rumah tangga itulah yang paling utama bagi mas. Karena mas tahu tanggung jawab mas begitu besar padamu, dunia akhirat lo Aina. Mas rasa diri mas nggak akan sanggup memikul tanggung jawab bila nambah seorang lagi."

"Kalau dengan Aina mengizinkan mas menikah lagi bagaimana?" Ucap Aina agak berat seolah menahan tangisnya. Bagaimana pun juga, ini terasa berat buat Aina, walau ia berusaha ikhlas.

"Apapun itu alasannya, sekarang kita nggak usah mikirin macam-macam ya, mas yakin suatu saat Allah mengabulkan, bila kita tetap berusaha dan berikhtiar. Seperti kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan istrinya Siti Hajar yang diberi keturunan malah diusianya yang senja. Itu menandakan Allah akan tetap mengabulkan doa hamba-Nya dan Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya."

"Senada dengan kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam, kisah Nabi Zakaria Alaihissalam dengan sang istri, Isya binti Faqudza. Kala itu dikatakan bahwa Isya bahkan sudah divonis mandul, alias perempuan yang secara biologis sudah tidak bisa mengandung dan melahirkan seorang anak oleh sejumlah ahli pada masa itu. Hal ini tentu semakin memupuskan harapan Nabi Zakaria Alaihissalam dan sang istri untuk bisa memiliki keturunan. Namun yang patut diteladani ialah, meski begitu Nabi Zakaria tidak pernah berhenti untuk memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, untuk bisa dikarunia anak yang kelak bisa meneruskan perjuangan dakwahnya."

"Dari kisah dua Nabi, Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Zakaria Alaihissalam tersebut kita sebagai umat Muslim harus bisa meneladani kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, di mana sejatinya jika Allah sudah berkehendak, maka ketetapan Allah akan terjadi, walaupun mungkin di luar nalar manusia."

"Dan satu lagi, betapa banyak pasangan yang belum dikaruniai anak namun tetap bahagia hidup bersama sampai maut memisahkan mereka. Dan insyaallah mas juga mau seperti itu, kita akan bahagia sampai maut memisahkan kita, kecuali..." Anas menjabarkan semuanya dengan tenang pada istrinya.

"Kecuali apa mas?" Tanya Aina penasaran.

"Kecuali kalau Aina sendiri memang tak ada cinta untuk mas lagi, hal itulah yang akan membuat mas lemah untuk bertahan."

"Cinta ya mas.. apa aku benar-benar mencintai mu mas?" Pertanyaan itu hanya mampu terlontar didalam hati Aina, seolah ia belum berani mengatakan langsung bahwa apa yang sebenarnya ia rasakan.

"Aina, hei, kamu baik-baik saja sayang?" Suara itu mengagetkan Aina hingga ia kembali ke dunianya sekarang.

Flashback off

"Eh iya mas, aku baik-baik saja." Ucap Aina pada Ridho setelah menyadari bahwa Ridho lah yang memanggilnya.

Aina segera mengatur napasnya dan posisi duduknya. Ia tak tahu sudah berapa lama ia terpaku melihat kedatangan Anas.

Namun sosok yang ia lamunkan barusan sekarang sudah berdiri didepannya.

"Selamat ya buat kalian berdua." Ucap Anas singkat, walau sebuah senyuman yang terbit dari wajahnya adalah sebuah senyuman yang dipaksakan. Anas berusaha tegar dan berlapang dada. Ia yakin Allah punya suatu rahasia dibalik ini semua. Yang pastinya ada kebaikan di sana.

Anas menyodorkan tangannya pada Ridho, sedangkan pada Aina ia hanya mampu mengatupkan tangannya didepan dadanya. Ia sadar tangan itu sudah tak berhak lagi ia sentuh.

Ingin rasanya Aina memeluk mantan suaminya itu bahwa ia sebenarnya tidak tega melepaskan orang sebaik dan se-sholeh Anas, namun ini adalah yang terbaik menurut Aina. Ia tak mungkin mempertahankan rumah tangganya dimana setelah lama menikah pun namun rasa cinta itu masih belum bisa hadir dalam hati Aina untuk Anas. Dengan melepas Anas, barangkali dengan begitu ia bisa melihat Anas bahagia dengan menikah lagi nantinya. Dan tentunya sang ibu pasti bahagia karenanya bila nanti Anas menikah, Allah karuniai keturunan bagi mereka.

"Semoga mas nanti segera menemukan jodohnya kembali, perempuan yang setia yang jauh lebih baik, yang juga mencintaimu mas." Sayangnya kata-kata itu hanya mampu terucap dihatinya dan justru yang terlontar dari mulutnya,

"Kamu sudah makan mas?"

"Iya Nas, nikmati dulu hidangannya." Sahut Ridho santai berbasa-basi. Ia seperti tak memiliki kesalahan apapun sehingga bisa santai seperti itu menyambut Anas.

"Mmmh, terimakasih saya cuma bisa mampir sebentar karena ada urusan lagi setelah ini." Ucap Anas yang ternyata ia memang tak sanggup berlama-lama di sana. Padahal perutnya sudah lapar namun rasa lapar itu seakan sirna, ia hanya ingin segera pulang. Sebenarnya sepulang dari sana ia akan langsung pergi ke lokasi yang tidak jauh dari rumahnya untuk mengisi acara penyuluhan pada Masyarakat tentang pernikahan dini tepatnya setelah waktu Ashar nanti. Sedangkan sekarang jam masih menunjukkan pukul 2 siang, waktu perjalanan bisa membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Namun suasana hatinya tidak begitu baik. Ia hanya segera ingin cepat-cepat pulang. Dengan melihat wajah ibunya nanti di rumah berharap hatinya bisa segera membaik.

"Terimakasih banyak mas sudah meluangkan waktunya." Ucap Aina sambil tersenyum.

Anas segera memalingkan wajahnya, ia tak sanggup berlama-lama memandangi wajah mantan istrinya, senyuman istrinya seakan menarik Anas akan kenangan masa indah yang ia rasakan dulu. Tapi justrunya hatinya kembali terluka.

"Ternyata senyuman mu dulu hanya senyuman palsu Aina."

"Astaghfirullah ya Rabb, ampuni hamba yang ternyata masih menyimpan luka dan rasa sakit hati." Batin Anas lirih.

Baru saja Anas melangkahkan kaki turun dari atas pelaminan. Terdengar suara heboh dari luar gedung dan suara itu semakin mendekat, terlihat seorang perempuan yang tampilannya tampak kacau, namun masih kelihatan cantik berteriak-teriak memanggil nama Ridho. Anas yang sepertinya bisa membaca situasi, tak mau terlibat didalamnya. Ia pun bergegas keluar.

***

"Jika kau mencintai seseorang, biarkan ia pergi. Kalau ia kembali, ia adalah milikmu. Bila tidak, ia memang tidak pernah jadi milikmu." -Khalil Gibran (Tausiyah Cinta)

Terpopuler

Comments

Merry Dara santika

Merry Dara santika

kadang apa yang kita harap kan jdi jdoh kita blm tntu mnjdi jdoh kita. menyakitkan bngt

2023-05-26

2

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!