17. Rencana licik

"Lapor Pak Tetua, mereka beli mobil baru Pak." Lapor sang mata-mata menyebut Pak Tetua pada seorang lelaki yang sudah mulai menua itu yang sedang ia telpon setelah mengucap salam.

"Wa'alaikumussalam Preto, apa kamu tahu dari mana mereka mendapatkan uang untuk membelinya." Ucap seseorang yang disebut Pak Tetua oleh sang mata-mata yang tak lain adalah Pak Martias, ayahnya Hani.

"Tahu Pak, saya mendapatkan info kalau Hani putri Bapak meminjam uang di Koperasi Kantor tempat ia bekerja Pak, uang itu ia gunakan untuk DP mobilnya pak." Terang sang mata-mata yang dipanggil Preto oleh Pak Martias. Preto adalah singkatan dari Preman Tobat.

"Kita lihat saja Alfian, sampai kapan kau sanggup memeras dan mempermainkan anak ku." Gumam Pak Martias di hatinya, Pak Martias punya alasan yang kuat kenapa ia tak bisa mempercayai Alfian yang katanya sudah berjanji tidak mengulangi kesalahannya.

"Putriku, kamu benar-benar telah dibutakan oleh cinta nak, sampai kamu tak memikirkan kebahagiaan dirimu sendiri, padahal kamu tahu Papa Mama sangat menghindari hutang dari dulu, apalagi itu hutang ada Riba nya." Pak Martias kembali bermonolog dalam hatinya.

Hani pindah ke ibukota tanpa bantuan dari orang tuanya sedikit pun, sebuah ancaman yang diberikan Pak Martias saat Hani ngotot ingin pindah ke Ibukota bersama suaminya, namun ancaman itu tidak berarti apa-apa.

"Halo, halo Pak Tetua.."

"Eh iya Petro, kalau gitu kamu pantau terus mereka, jika kamu melihat Alfian menyakiti Hani segera laporkan pada saya." Ucap Pak Martias mengakhiri percakapan dengan sang mata-mata yang ia sewa untuk memantau kehidupan putrinya itu.

"Baik Pak Tetua, saya dengan senang hati menjalankan perintah Bapak." Sahut Sang mata-mata sambil menutup telpon. Sang mata-mata adalah preman kampung yang ditugaskan oleh Pak Martias. Pak Martias termasuk salah satu Tetua yang disegani di kampungnya. Banyak Pemuda pengangguran yang kerjanya tak jelas dibantu olehnya. Sehingga para preman itu tak berani lagi berbuat maksiat di depan Pak Martias.

Kejadian itu berawal dari dibukanya sebuah warung di depan rumah Pak Martias oleh sepasang suami istri yang datang dari Ibukota. Mereka mengontrak rumah tersebut karena kebetulan rumah itu sudah lama tidak dihuni dikarenakan semua penghuninya sudah pindah ke Ibukota.

Awalnya para pemuda pengangguran itu hanya nongkrong-nongkrong minum kopi sambil bermain domino dimalam harinya, namun tak lama setelah itu, terdengar kabar kalau mereka telah bermain judi serta mabuk-mabukan.

Pak Martias mengatur strategi untuk mendekati mereka. Ia tak mau gegabah dengan langsung memarahi atau mengusir mereka dari sana.

Hampir setiap hari setelah sholat Isya, Pak Martias menghampiri mereka dan ikut bergabung, tak lupa Pak Martias membawa buah tangan untuk mereka santap bersama. Kadang sesekali Pak Martias memberi uang dan membantu mencarikan peluang kerja buat mereka.

Dengan pendekatan seperti itu akhirnya para pemuda merasa segan dengan Pak Martias, mereka nggak berani bermain judi dan mabuk-mabukan lagi disana. Mereka pun pindah entah kemana, Pak Martias pun tak mau mencari tahu. Harapan Pak Martias mereka sadar dan mendapatkan hidayah. Dan sang mata-mata yang dipanggil Preto itulah satu-satunya yang ia lihat sudah rajin datang ke Mesjid. Nama panggilan aslinya sebenarnya adalah Beni namun ia lebih senang dipanggil Preto karena dengan nama itu bisa mengingatkan ia agar tidak kembali di jalan yang salah.

"Kali ini nama kamu saya panggil Preto saja." Ucap Pak Martias saat itu didatangi Beni disaat mereka melaksanakan sholat isya berjama'ah di Mesjid Kampung mereka.

"Terimakasih Pak Tetua, saya sangat berhutang budi karena melalui kebaikan hati Bapak, Allah beri saya hidayah." Sahut Beni.

"Berterimakasih lah pada Allah karena tanpa rahmat dan kasih sayang-Nya, hidayah itu tak akan kamu dapatkan Preto, sang mantan preman yang sudah bertaubat." Ujar Pak Martias sambil tersenyum lebar mengacak-ngacak rambut Beni saat itu. Setelah itu panggilan Preto dari Pak Martias begitu melekat pada Beni tiap-tiap kali mereka bertemu.

***

Di sebuah rumah kontrakan sederhana yang tidak begitu luas, Hani bersiap-siap berangkat kerja setelah semua pekerjaan rumah telah selesai ia kerjakan dari sebelum subuh.

"Bang, bang Alfian jadi antar Hani kan?" Tanya Hani pada suaminya, karena ia melihat Alfian sudah rapi dengan pakaiannya. Mereka baru saja selesai sarapan.

"Kamu naik ojek saja, abang ada janji sama ibu hari ini, sekalian abang mau cari kerjaan lagi setelah itu." Ucap Alfian berbohong, padahal ia belum pernah berkomunikasi sekali pun dengan ibunya setelah ia keluar dari rumah Pak Martias saat itu. Ia akan memberi kejutan pada Ayah Ibunya bahwa ia bisa menepati janjinya bila menikah dengan Hani. Dan Alfian juga belum ada niat untuk mencari kerjaan lagi. Di tempat kerja sebelumnya ia pun memutuskan resign karena gaji disana kecil sementara kerjanya berat, begitu Alfian memberi alasan.

"Tapi kan abang bisa antar Hani dulu bang sebelum ke rumah ibu."

"Kamu itu bisa nggak cerewet nggak sih, aku bilang kamu itu naik ojek saja, aku takut nanti terjebak macet bila harus antar kamu dulu, kamu tau kan jalanan kota itu gimana." Ujar Alfian dengan emosi, lalu ia keluar rumah tanpa mengucapkan salam pada Hani.

"Ya Allah...beri aku kesabaran yang sebanyak-banyaknya." Doa Hani penuh harap pada Rabb-Nya.

Hani terpaksa mendownload aplikasi transportasi online di HP nya, ia pikir setelah punya mobil, suaminya mau antar jemput dirinya kerja. Kontrakan Hani memang tak jauh dari tempat kerjanya, cukup butuh waktu 10 menit saja bila tidak terjebak macet. Andai saja motor Alfian masih ada, ia mungkin akan berusaha bawa motor sendiri. Tapi Hani tak tahu kemana perginya tu motor.

Hani pun memesan jasa motor saja, selain lebih hemat tentunya lebih cepat sampai karena pengendara motor bisa nyalip kiri kanan tanpa terjebak macet. Hani masih punya waktu 15 menit lagi.

Hani mengunci pintu rumah, lalu menunggu tukang ojek onlinenya datang di depan pagar agar bisa langsung berangkat.

"Pagi Nak Hani, mau berangkat kerja ya?" Sapa Umi Shodiq tetangga depan rumah Hani yang kebetulan mau ke warung.

"Iya Umi."

"Lho, nak Hani naik apa? Kenapa nggak bareng suaminya aja?" Tanya Umi Shodiq penasaran, karena ia tadi mendengar suara mobil mereka keluar dari rumah.

"Naik ojek online Umi, itu.. bang Alfian ada janji sama ibunya Umi, jadi takut telat."

"Owalah... ribet juga toh, memang sih nak Hani jika seorang wanita telah menikah lebih mengutamakan taat pada suami untuk mendapatkan ridho Allah, maka seorang anak laki-laki harus terus taat kepada ibunya, Ridho Allah tergantung ridho ibunya. Tapi jika melihat kondisi nak Hani dengan hamil besar seperti ini, Umi pikir ibunya Alfian pasti akan mengerti. Kasian lo kalau harus naik motor."

"Iya Umi, terimakasih atas perhatiannya umi."

Tak jauh dari Hani dan Umi Shodiq sepasang telinga dari sang mata-mata mendengar jelas percakapan mereka. Lalu sang mata-mata langsung memberikan laporan pada tuannya melalui sambungan telpon.

"Assalamu'alaikum Pak Tetua, saya mau lapor pak kalau Hani anak bapak berangkat kerja naik ojek motor sedangkan menantu Bapak membawa mobil sendirian menemui Ibunya."

"Wa'alaikumussalam, apa? Kamu serius Petro?"

"Benar pak, saya melihat dan mendengarnya langsung."

"Kalau gitu kamu ikuti Alfian sampai rumah Ibunya."

"Siap pak."

***

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Alfian sampai di rumah ibunya. Alfian membunyikan klakson mobilnya berulang kali, ia seolah mau memamerkan pada orang-orang sekampung bahwa ia sudah sukses sekarang.

"Bu, itu klakson mobil siapa ya di depan?" Ucap Ayah Alfian yang baru keluar dari kamar mandi.

"Nggak tahu deh yah." Ucap si Ibu sambil merapikan meja makan."

"Din, coba lihat siapa yang datang?" Sahut Ibu Alfian pada Dini anak keduanya yaitu Adik perempuan Alfian. Dini sudah kuliah ditingkat tiga, kebetulan hari ini ia tidak ada jadwal kuliah.

"Din, kamu dengar nggak sih ibu panggil." Sahut Ibu Alfian sambil berteriak.

Tak ada jawaban dari Dini, namun sesaat kemudian terdengar suara heboh Dini dari ruang tamu.

"Bu, Yah, coba deh lihat, bang Alfian datang dengan mobil baru..." Teriak Dini kegirangan.

Ibu Alfian dan Ayahnya pun bergegas keluar melihat apa benar yang disampaikan putrinya.

"Bagus nak." Ucap mereka serentak saat mereka sampai diluar rumah.

"Aku sudah menuruti semua kemauan Ibu dan Ayah... Apa kalian puas?"

"Masih belum, Ayah tidak akan biarkan anak Si Martias itu bahagia." Ucap Ayah Alfian sambil tersenyum licik, kemudian ia bergumam dalam hatinya, "Kau telah membuat usaha adikku hancur Martias dan sekarang rasakan kehancuran anakmu."

"Maksud Ayah?" Tanya Alfian terkejut mendengar ucapan Ayahnya.

"Kamu cukup ikuti saja permainan kami." Sela sang Ibunda.

"Permainan apa maksud ibu?"

"Kamu harus menikah lagi."

Mereka pun tak sadar tak jauh dari sana ada seseorang yang sedang merekam percakapan mereka.

Bersambung...

"Jangan pernah menyesal jika mempunyai hati yang baik, kau mungkin akan selalu dikecewakan tetapi percayalah akhirnya kau akan menang." (Tausiyah Cinta)

Terpopuler

Comments

Gadih Hazar

Gadih Hazar

Terimakasih banyak kakak author yang baik, semoga kisahku benar dibaca dan disukai ya kak, karena menurut yang aku pernah tahu kasian suatu karya bila hanya di like tanpa dibaca, itu bs menurunkan rating karya, tp mudah-mudahan tidak. Terimakasih sekali lg kak, insyaallah aku akn luangkan waktu utk membaca karya kakak..🙏🤗

2023-02-08

1

Mommy Lingling

Mommy Lingling

Haii kak, aku hadirr iyaa.. sudah aku like hingga poll, sudah ku kasih bintang 5, subscribe dan jangan lupa di folback iyaa🤗🙏

jangan lupa mampir di novelku yang berjudul SHADOW OF YOUR LOVE iyaa kak🤗🙏

2023-02-08

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!