9. Aku Malu

Hani terbangun tepat jam 4 pagi, ia yang sudah terbiasa sholat malam walau dengan kondisi badan tidak sedang baik pun, ia tetap memaksakan diri untuk bangun. Hani turun dari kasur perlahan lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan sedikit terhuyung-huyung. Kepalanya masih terasa sedikit berat. Sedangkan Alfian masih lelap.

Hani memang mengatur waktu untuk sholat malamnya jam 4 pagi sedari dulu. agar ia bisa istirahat dengan cukup diwaktu malamnya dan tidak terlalu mengantuk disaat siangnya. Apalagi Hani bekerja cukup jauh dari rumah dan sebagai antisipasi agar kondisi badan tidak mudah lelah karena kurang istirahat dimalam harinya.

Hani sholat dengan khusyuk. Setelah sholat tak terasa air matanya mengalir di pipinya. Hani merasakan beban yang agak berat setelah berkeluarga. Namun ia tak mau membagi beban itu pada orang tuanya. Hani berusaha untuk menanggung sendiri karena ia yang keras dulu mempertahankan keinginannya agar ia bisa menikah dengan Alfian walau sudah diingatkan berulang kali oleh keluarganya. Ia pun mengadu pada Rabb-Nya.

"Ya Rabb, aku sangat mencintai suamiku, tolong cintai ia sebagaimana aku mencintainya, berilah ia petunjuk-Mu agar ia bisa menjadi hamba-Mu yang baik, bukakanlah pintu hatinya agar mau beribadah pada-Mu, dengan sholat mungkin bisa membuat hati bang Alfian lebih lembut. Dengan mengingat-Mu mungkin bg Alfian bisa memperlakukan aku istrinya dengan baik. Tunjukilah ia selalu dijalan-Mu yang lurus." Hani berdoa pada Tuhannya penuh harap. Dan ia juga berharap apabila dengan berdoa disaat sepertiga malam ini doa-doanya lebih cepat terkabul. Apalagi berdoa di samping orangnya langsung. Berharap dengan lantunan doa yang keluar dari mulutnya bisa terdengar oleh suaminya walau dalam keadaan terlelap.

Semasa pacaran, Hani memang tak pernah melihat Alfian sholat. Hani pikir Alfian hanya menunda waktunya saja. Namun ketika sudah menikah, Alfian sama sekali tak mendirikan sholat. Hani berusaha mengingatkan namun hanya jawaban pedas yang didapat Hani.

"Kamu tahu apa tentang dosa haaa, coba dirimu ngaca dulu sana..." Sahut Alfian saat itu.

Setelah itu Hani seperti mendapatkan tamparan keras dari kata-kata suaminya.

"Memang benar, aku masih banyak melakukan dosa, pertama aku sudah tak mendengar nasehat orang tuaku, kedua aku sudah berani menaruh hati pada seseorang yang belum halal bagiku. Ketiga, aku masih belum mampu menjadi muslimah yang sempurna." Gumaman hati Hani sesaat setelah mendengar ucapan suaminya.

Dan hikmah dibalik itu, Hani semakin mendekat pada Rabb-Nya, ia berusaha introspeksi diri terutama masalah auratnya. Selama ini Hani memang belum sanggup menutup kepalanya dengan hijab. Walau pakaiannya yang dipakainya sudah terlihat sopan dan panjang.

Hani larut dalam doanya. Ia juga berdoa untuk anak yang dikandungnya, selama hamil ia belum pernah memeriksakan kandungannya. Hani tak mau memeriksakannya sendirian yang hal itu tentu mudah bagi Hani mengingat Hani bekerja di Rumah Sakit. Ia masih menunggu kesedian Alfian suaminya untuk menemaninya.

Walau belum pernah diperiksa sekali pun, Hani senang bisa merasakan ada denyutan di bagian bawah pusar nya. Ia merasakan sesuatu kenikmatan yang luar biasa ketika merasakan ada kehidupan dalam rahimnya. Namun Hani merasakan berat badannya makin hari makin jauh bertambah, di usia kehamilan yang baru 4 bulan namun besar perutnya sudah seperti usia kandungan 6 bulan. Hani menangis karena Haru. Tebakan hatinya mengatakan ada dua janin dalam rahimnya.

"Eh, berisik amat sih kamu, ganggu tidur orang saja, bisa diam nggak sih, itu kenapa juga pakai nangis segala." Maki Alfian karena tiba-tiba merasakan tidurnya terganggu oleh suara tangisan Hani.

"Maaf abang, Hani cuma nangis haru saja karena Hani merasakan ada kehidupan dalam perut Hani." Jawab Hani lembut.

"Ah alasan aja kamu, kalau mau nangis keluar sana." Bentak Alfian.

"Bang, apa abang nggak bahagia? Sebentar lagi abang akan jadi Ayah, ada calon anak kita di rahim Hani bang."

"Anak hanya bikin susah, buat apa bahagia. Tuh lihat bentuk badanmu sudah tak menarik lagi dilihat, seperti garundang (berudu) saja .."

"Astaghfirullah abang, hati-hati kalau bicara." Suara Hani meninggi tidak ada lagi suara lembut seperti ia menghadapi ucapan suaminya selama ini.

Alfian tiba-tiba bangkit dari tidurnya sesat mendengar ucapan Hani. Ia mendekati Hani yang masih terduduk di atas sajadahnya.

"Ampun bang, sakit bang..." Ucap Hani memelas seketika ia merasakan mukenanya ditarik paksa Alfian.

"Ngaca sana, ngaca tuh, lihat tubuhmu, bagian mana lagi yang bisa enak dilihat." Alfian memaksa Hani berdiri dan mendorong Hani hingga ke depan cermin.

"Cukup bang, dasar lelaki tak punya rasa syukur kamu bang." Ucap Hani sambil mendorong suaminya juga. Hani seperti merasakan kekuatan melawan perlakuan suaminya. Ia merasakan rasa sakit hati yang luar biasa disebut seperti itu oleh suaminya. Perubahan bentuk tubuhnya karena hamil itu juga karena dia. Begitu pemikiran Hani yang tidak terima atas ucapan Alfian. Selama ini ia sudah sabar, namun ternyata kali ini ia tak mampu lagi melawan rasa sakit hati yang telah berulang kali ditoreh oleh suaminya.

"Plaaak." Sebuah pukulan keras dari tangan Alfian mendarat di pipi mulus Hani.

"Berani menentang kamu ya." Ucap Alfian setelah menampar Hani. Lalu ia keluar dari kamar, tak lama bunyi suara motor keluar dari garasi rumah.

Hani hanya bisa terdiam membisu, tubuhnya merosot ke lantai. Kakinya seperti tak kuat lagi untuk menginjak bumi.

"Allahuakbar! Allahuakbar!"

Suara Adzan subuh berkumandang.

Buk Mala yang sudah bangun lebih awal dan sedang sibuk di dapur tidak mendengar suara ribut dari kamar putrinya. Hanya Pak Martias yang mendengar. Namun ia tak berani ikut campur. Tapi sesaat ia mendengar suara motor Alfian keluar dari pekarangan rumah. Pak Martias menghampiri Hani ke dalam kamarnya.

"Nak, kamu baik-baik saja?" Ucap Pak Martias Papa Hani dengan suara bergetar antara khawatir, sedih, marah dan kecewa menyatu jadi satu. Ia mendekati putrinya yang telah merebahkan tubuhnya ke lantai.

"Hani, bangun sayang, apa kamu baik-baik saja nak? Ucap Pak Martias lagi karena Pak Martias tak mendengar jawaban dari Hani.

Pak Martias mengangkat tubuh putrinya ke atas tempat tidur.

Buk Mala yang mau melaksanakan sholat subuh, tak melihat suaminya lagi di dalam kamar. Ia pikir suaminya sudah pergi ke Mesjid, namun seketika ia mendengar samar-samar suara suaminya dari arah kamar Hani. Buk Mala dengan langkah cepat masuk ke dalam kamar Hani.

"Pa, ada apa? Kenapa Papa bisa ada di kamar Hani?" Tanya Buk Mala yang melihat suaminya mengangkat Hani ke atas tempat tidur.

"Ma, tolong ambilkan segelas air cepat Ma." Perintah Pak Martias karena panik.

"Hani kenapa Pa?" Tanya Buk Mala masih dalam keterkejutannya, ia melihat putrinya seperti mayat hidup, tatapannya kosong.

"Nanti dulu Ma nanyanya, tolong ambilkan air dulu."

Buk Mala pun bergegas ke luar kamar, ia seperti orang linglung.

"Tadi Papa bilang apa ya? Ah ya, air, air, sebentar aku akan ambil air."

Buk Mala masuk ke dalam kamar mandi, baru saja ia ingin mengambil gayung, ia kembali bimbang, "Papa tadi bilangnya minta segelas air, Astaghfirullah..." Buk Mala pun bergegas keluar kamar mandi lalu ke dapur ambil gelas.

"Galon ya, Ya Allah galonnya mana lagi." Buk Mala seperti tak mengenali sudut rumahnya lagi sampai ia lupa galon air minum ditaruh dimana.

"Tarik napas, buang... tarik lagi, buang..."

"Ah ya itu dia." Ucap Buk Mala lega ketika melihat galon air minum.

Buk Mala segera membawa segelas air yang diminta suaminya ke kamar putrinya.

"Ya Allah Ma, Mama kenapa lama?" Tanya pak Martias heran, namun ia segera mengambil segelas air itu lalu memangku Hani agar posisi punggungnya bisa sedikit tegak.

Pak Martias membantu Hani untuk minum.

***

"Aku malu dengan Tasbihnya laut luas,

Aku malu dengan Dzikirnya laut,

Aku malu dengan Ketaatan fajar,

Karena Tasbihku, Dzikirku dan Ketaatanku pada Allah...,

Hanya setitik air yang penuh dosa." (Tausiyah Cinta)

Terpopuler

Comments

Eys Resa

Eys Resa

cuma mo ngucapin, Astaghfirullah haladzim... Sebagai istri yang udah pernah hamil dan melahirkan, body udah ga sebagus saat masih perawaan. Emang siapa yang ngerusak tubuh kita kalo bukan si lakinya. Jadi emosi.

2023-02-24

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 51 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!