Seorang pemuda berkemeja putih berlari terbirit-birit. Dia baru saja dari atap gedung. Nafasnya tersengal-sengal bahkan rasanya jantungnya hampir copot saja sekarang.
Pintu masuk atap itu ia buka. Di sana ada turunan anak tangga. Kedua kakinya tergesa-gesa turun mencoba menjauhi atap gedung itu.
Ketika dia berhasil berada di lantai tiga. Tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang. Keduanya memekik tatkala tubuh mereka saling bertabrakan.
"Ya Allah!" pekik Aldo sambil menatap pemuda yang menabraknya itu.
Pemuda itu membulatkan kedua matanya. Lalu dia mencengkram pergelangan tangan Aldo sambil menunjuk-nunjuk ke arah tangga yang menuju ke atas atap gedung.
"Mas... Mas!!!" panggil Pemuda itu sebut saja namanya Pardi.
Dia adalah karyawan baru di sini. Baru ada seminggu dia menjadi bagian dari penyiar radio.
"Mas, itu di atas ada orang serem mas!" ucap Pardi sambil menunjuk ke arah tangga.
Aldo menoleh ke arah anak tangga yang Pardi tunjuk. Ketika dia hendak melangkah kesana. Laras yang baru saja datang itu menahannya.
"Kamu mau kemana, Al?" tanya Laras padanya.
Aldo menoleh ke arah Laras. Gadisnya itu sudah selesai dari toilet rupanya.
"Gak apa kok! Aku cuma penasaran aja sama apa yang dibilang Pardi!" jawab Aldo jujur.
Mendengar itu Laras hanya mampu menghela nafasnya. Semenjak Aldo mengenal Cak Dika dan saudara-saudaranya.
Aldo yang tadinya bernyali ciut ketika melihat makhluk alam sebelah. Sekarang menjadi semakin berani saja.
"Memang ada apa di atas?" tanya Laras padanya lagi.
"Itu mbak, ada orang merangkak turun dari tangga! Kepalanya dulu yang turun! Serem, mbak!" ujar Pardi padanya sambil masih ketakutan.
Laras tersenyum mendengar itu. Dering ponselnya menandakan bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk pulang. Ini sudah cukup malam. Jarum jam di sana menunjukkan tepat pukul setengah dua belas malam.
"Udah waktunya pulang, nih!" ucap Laras pada Aldo.
"Hmm.." Aldo mengecek jam tangannya. Benar apa kata Laras, ini sudah waktunya bagi mereka untuk pulang.
"Loh Mbak sama Mas mau pulang?" tanya Pardi tak percaya.
Setelah apa yang dia lihat tadi. Nyalinya berada di ruang siaran seorang diri ciut rasanya.
"Iya, kita udah dari tadi sore di sini! Nanti jam dua ada yang datang kok, tiga orang. Kamu tenang aja!" ucap Laras pada Pardi mencoba menenangkan.
"Lah aku mosok berani Mbak siaran ijenan?" ujar Pardi memelas setengah terkejut.
Kemarin dia di atas gedung ini berdua dengan salah satu temannya. Tapi hari ini rupanya temannya itu sedang ada jatah shift pagi. Jadilah Pardi sendirian di lantai tiga ini malam ini.
"Udah Par, intinya kalau memang ada yang ganggu gak usah digubris. Fokus aja sama kerjaan! Toh, mereka nanti juga bakalan capek sendiri!" ucap Laras menjelaskan.
"Lah!" ucap Pardi lebih tertegun lagi saat Laras menjelaskan itu.
"Berarti mbak sering diganggu dong?" tanya Pardi tak percaya sambil menatap ke arah keduanya bergantian.
Mendengar itu Aldo terkekeh lalu dia menatap Laras sejenak dan tersenyum. Lalu Aldo kembali menatap ke arah Pardi dan mengangguk.
"Sejail apapun mereka! Mereka gabakalan bisa buat kita tewas kok!" ucap Aldo sambil menyentuh salah satu bahu Pardi.
Setelah mengatakan itu. Aldo pun beralih pada Laras. Aldo meraih tangan kiri Laras lalu menggandengnya. Saat itu juga Indra pendengaran Laras yang peka mendengar satu suara.
Itu suara kuntilanak. Memang sudah cukup familiar bagi Laras mendengarkan itu di sini. Namun yang ini sangat berbeda. Keberadaan pemilik suara ini lain adanya.
Ditambah suara itu mengucapkan sesuatu berulang kali. Namun yang dia ucapkan seperti sebuah mantra. Itu bahasa Jawa, tetapi sangat halus sekali.
"Ini siapa?" lirih Laras mencoba menanyakan perihal pemilik suara itu.
Namun tak ada sahutan atas pertanyaannya. Semakin Laras mencoba mencari koneksi. Suara itu lama-lama semakin besar. Semakin besar dan dekat hingga sampai tepat dekat dengan telinga Laras.
"Hihihi..." tawa suara itu tepat di samping telinga Laras.
Laras yang tadinya tenang sekejap terjingkat rasanya. Dia buta dan hanya peka terhadap suara. Memang penglihatannya tidak sepenuhnya gelap.
Dia masih mampu melihat secara samar apa yang ada di hadapannya. Namun sangat samar sekali. Lebih mirip buram.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aldo khawatir pada Laras yang tiba-tiba terkejut.
Laras kedua tangannya meraba-raba tubuh Aldo. Lalu kedua tangan itu tepat berganti di dada Aldo.
Laras mulai panik merasakan hawa keberadaan jahat yang datang tiba-tiba di antara mereka. Ini bukan hawa kuyang kejam milik Simbahnya Aldo. Ini lain lagi, dan ini berhubungan dengan suatu pusaka.
"Al..." lirih Laras padanya. Kepalanya mulai pusing sekarang. Seakan ada yang menekan kepalanya saat ini.
Lagi, kejadian masa lalu datang mencoba membawanya masuk menelusuri satu waktu lain.
Laras sedang berada di suatu tempat. Belantara luas namun masih ada jalan setapak yang ia pijaki. Laras memutar pandangannya ke segala arah.
Di sana dia menemukan seorang kakek tua berpakaian putih. Seorang kakek itu datang lalu berdiri tepat bersandar di pepohonan besar.
Kakek tua itu menatap ke arah satu manusia yang saat itu duduk bersila di hadapan pohon besar. Di sana dia seperti sedang bersemedi.
Mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit merapal mantra. Laras tidak terlalu tau perihal mantra itu. Namun Laras masih tetap di sana melihat hal apa yang sedang manusia itu lakukan.
Ajaibnya ketika tangannya terangkat lalu meraba-raba tanah. Di mana di bawahnya itu tentu saja rerumputan liar. Ketika tangannya usai meraba. Seperti ada sesuatu yang sedang ia genggam.
Terlihat kakek tua berpakaian putih itu raut wajahnya murka seketika. Ketika manusia itu membuka telapak tangannya. Rupanya ketua salah sebuah keris.
Style pria itu seperti seorang pendaki. Tas Carrier saat itu ia sandarkan sedikit agak jauh dari tempatnya duduk.
Dan ya, Laras merasakan ada keinginan kuat dalam diri orang itu. Sebuah ambisi yang ingin menguasai sesuatu.
Ketika orang itu berbalik. Laras tidak terlalu tau siapa pria itu. Namun sejujurnya, pria itu adalah salah satu rekan kerja Laras.
Jika saja Laras mampu melihat. Mungkin dia akan tau. Namun sayangnya itu tidak mungkin. Sosok kuntilanak berbaju merah dan hitam terbang di atas tubuh pria itu.
Kedua sosok itu turun berdiri namun tak menapak tanah tepat di belakang pria itu. Menurut yang Laras tau.
Dahulu buyut pernah mengatakan. Bahwa level kuntilanak itu bisa digolongkan. Pertama adalah kuntilanak berwarna hitam. Yang akan sering kita jumpai di belantara.
Kedua adalah kuntilanak putih. Yang sering kita lihat di kota-kota. Bisa dikatakan yang ini adalah versi mbak Kun yang gaul. Tinggalnya di kota dan desa.
Dan yang kedua adalah Kuntilanak merah. Yang satu ini adalah jenis Kunti peliharaan. Datangnya kedua sosok itu membuat Laras kembali sadar.
Laras terbatuk-batuk kemudian. Hanya satu hal yang Laras ingat di sana. Keris, sepertinya itu adalah biang dari masalahnya.
Jika Laras ditunjukkan hal semacam ini. Artinya memang ada sesuatu yang salah. Dan sesuatu itu saat ini dekat sekali dengan keberadaan mereka.
"Laras, kamu kenapa?" tanya Aldo lagi pada Laras. Dia benar-benar khawatir.
"Al, kamu mau nemenin aku naik?" tanya Laras padanya.
Aldo terkejut mendengar itu. Dia tidak mau terlalu mengambil resiko di sini. Di tambah ini sudah cukup larut. Dan gedung ini jauh dari keramaian kota. Satpam pun berjaga di bawah.
"Nggak dulu ya! Kita bisa bicarakan ini nanti di rumah. Sama Cak Dika dan saudara-saudaramu!" jawab Aldo menenangkan.
Laras menghela nafas mendengar itu. Kemudian dia menatap ke arah Pardi yang masih menatap ke arah mereka.
Dari dalam sakunya Laras mengeluarkan sesuatu. Seperti semacam jimat. Laras menyerahkan itu pada Pardi.
"Bawa ya! Besok kami bisa kasih itu ke aku. Hanya untuk malam ini saja! Tapi, aku janji segala hal yang salah dalam kantor ini balapan aku bersihin!" ucap Laras mantap.
Pardi yang tak tau apa-apa pun menerima barang pemberian Laras. Dia langsung memasukkannya ke dalam saku.
Setelah itu Aldo dan Laras pun pergi dari hadapan Pardi. Mereka sudah cukup lelah rasanya.
Sudah saatnya bagi mereka untuk pulang ke rumah lalu menceritakan itu pada Pawang Ghaibnya. Maskotnya Gautama, Cak Dika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Apa si pardi ya atau saudaranya nya
2023-11-19
0
@Risa Virgo Always Beautiful
Laras ternyata tadi ada hawa jahat di sekitar kamu tanpa Aldo sadari
2023-04-08
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝐀⃝🥀𝑰voᷠnͦeͮℛᵉˣ
Eehh merinding saat hihihi...😱 seperti ada dekatku saja saking menghayati ketakutanku 😱😱
2023-04-08
1