Sambil tertatih beberapa menit setelah kami mengobrol. Pram membawa seorang pemuda yang berjalan menggunakan tongkat.
Kaki kanan pemuda membiru seperti sudah dipukuli oleh orang-orang. Itu dibiarkan begitu saja tanpa penutup. Sesekali pemuda dengan kaki membiru itu memekik, jalannya terpincang-pincang.
Dia ini Agus, adik dari Pram. Hobinya senang naik gunung dan travel alam. Pesona alam dan petualangan adalah asupannya. Sebenarnya sama seperti Cacak dan Aku yang haus akan eksplorasi.
Tapi kejadian dulu bersamanya membuat aku sampai sekarang bernyali ciut. Beruntungnya khodam dari buyut menurun padaku sehingga tidak ada makhluk ghaib yang berani datang sembarangan padaku. Rasanya aku seperti menjadi seorang Jawara dalam keturunan keluarga Gautama.
"Monggo, duduk Mas!" ucap Cak Dika.
Agus menganggukkan kepalanya lalu Pram membantunya duduk. Kami saling berhadapan, kecuali Cak Dika. Cak Dika berada di hadapan kami duduk bertiga bersama Pram dan Agus.
Cak Dika memperhatikan lebam yang memenuhi kaki kanan Agus. Cak Dika mendekatkan telapak tangan kanannya mendekat di atas kaki kanan Agus.
Ilmunya kembali dikerahkan dan aku juga Marsya cuma mampu memperhatikan itu. Agus dan Pram juga begitu mereka hanya memperhatikan Cak Dika yang sibuk.
"Panas ya!" ucap Cak Dika lalu membuka kedua matanya.
"Iya Cak, sakit juga ini!" ucap Agus sambil menahan sakitnya.
Cak Dika manggut-manggut saja mendengar itu. Lalu dia menatapku kali ini.
"Apa?" tanyaku padanya.
"Siap mediasi?" tanya Cak Dika padaku.
"Gae opo?" tanyaku padanya.
"Marsya bagian jaga tubuh kita di sini. Tapi kamu, mediasi berangkat dulu ke Alas Purwo!" jawabnya.
"Bentar, coba jelasin rencananya!" ucapku padanya.
Cak Dika melipat kedua tangannya lalu membuang kasar nafasnya. Kemudian dia menatapku.
"Kenapa kakinya bisa sampai begitu? Itu memang ada hubungannya sama kayu itu. Sebenarnya gak perlu kita kembalikan secara fisik datang ke Alas Purwo! Kita bisa balikin itu pakai kemampuan kita. Asalkan kayu itu ada! Rachel yang kembalikan itu di tempatnya, aku jaga kamu di sini sama Marsya! Nanti kalau kondisi udah gak kondusif barulah aku masuk!" jelas Cak Dika padaku.
Sumpah, orang ini benar-benar membuatku kesal sekarang. Menyebarang ke alam sebelah butuh banyak energi juga mental yang matang. Sebab yang kita temui di sana bentuknya beraneka ragam.
"Kenapa bukan Cacak aja yang masuk?" tanyaku kepadanya.
"Aku bagian jaga Agus di sini! Karena ada kemungkinan kalau makhluk itu gak bakalan lepasin kakinya. Perihal kayu itu, itu semacam nisan dulu! Udah lama itu kejadiannya sebelum kita lahir. Ada orang yang dikubur di bawah pohon besar itu! Secara gak sengaja Agus udah nendang Nisan seseorang yang pernah mati dan dikubur di sana!" jelas Cak Dika.
Mendengar itu aku iba tentunya. Aku kembali menatap kaki Agus yang lebam biru itu. Baiklah, aku tidak akan ambil pusing lagi. Pengecut jika aku katakan tidak mau melakukannya.
Secara kemampuan ini datang padaku, jadi akan aku gunakan ini untuk menolong orang-orang. Makhluk tak kasar mata ini benar-benar kurang ajar.
"Yasudah! Aku mau bantu!" jawabku.
"Wah bagus sekali mbak semangatmu, aku menyukainya!" ucap Marsya sambil bertepuk tangan di sampingku.
Cak Dika tersenyum mendengar itu. Kemudian aku mulai memejamkan kedua mataku. perlahan gelap menjemputku, lalu kubuka lagi mataku, dimensi lain mulai menyapaku dengan belantara luas.
Aku bisa merasakan betapa suramnya energi di sini. Ibaratnya ini seperti teleportasi. Atas bantuan Nyai, aku dibawa kemari juga oleh energinya. Pijakanku adalah dedaunan kering yang jatuh dari atas pohon. Sepertinya sudah cukup lama dedaunan ini jatuh hingga mengering.
Sambutan mata merah mengintai dari kegelapan mulai menyapaku. Tajam tatapannya, Auman mereka bersaut-sautan. Rerumputan liar bahkan tidak bergerak. Pohonnya juga diam daunnya. Tidak ada hembusan angin menerpa kemari. Tidak ada suara-suara binatang di sini, sunyi.
Tubuhku di duniaku yang itu sedang di isi oleh Barend. Setelah aku mengeluarkan rohku, Barend sengaja kutarik masuk. Sebab jika tubuhku dibiarkan kosong maka akan banyak setan lain yang berusaha masuk.
Gema suara tawa meleking seorang wanita memenuhi runguku. Ramai sekali di sini, wanita itu berterbangan dari satu pohon ke pohon lain dengan baju putih panjang dan rambut panjangnya.
"Nduk..." panggil seseorang dari samping kanan.
Aku menoleh ke arah suara itu. Sosok kakek tua dengan baju adat Jawa sedang melihatku. Dia berdiri dengan tongkatnya di antara kegelapan dimensi ini Dia tidak mendekat begitupun denganku, kami hanya diam sambil bertatap-tatapan saja.
Kakek itu membuka telapak tangannya, lalu di sana muncul kayu itu. Secepat hembusan angin dia datang ke arahku lalu memberikan kayu itu padaku. Kayunya memang cukup lebar dan panjang dan ini tidak berat.
Aura kakek tua ini baik. Sesudah menyerahkan itu padaku dia pun menghilang.
"Jalan terus Nduk, cari pohon beringin yang paling besar di sini lalu letakkan itu!" suara dari Nyai mulai memanduku.
Dengan nyali yang berusaha aku kuatkan, aku berjalan menapaki jalur dedaunan kering.
"Manusia, kenapa kau di sini?" ujar suara besar di sepanjang jalanku. Sepertinya itu adalah suara dari para pemilik mata merah yang mengintaiku.
Jalanan setapak semakin hilang. Semak belukar semakin rimbun dan gelap. Rasanya aku seperti masuk lebih jauh ke dalam perut hutan.
Beberapa anak kecil dengan kepala bolong berlarian di depanku. Aku tetap diam dan terus saja melangkah.
"Nyai, ini jalanku sudah benar apa tidak?" tanyaku kepada Nyai.
Namun tidak ada jawaban darinya untukku. Aku berhenti di tengah hutan itu sendiri, dengan ribuan makhluk menyeramkan di sana yang sedang menatapku.
Namun ada sepasang mata yang menarik perhatianku saat itu. Seorang wanita berpakaian pendaki. Dia membawa tas panggul, namun itu bukan Carrier itu lebih mirip Daypack. Dia juga membawa treking pole di tangannya, sambil menatap ke arahku.
Wajah itu nampak begitu sedih, pucat pasih dengan bibir yang menbiru. Dia tidak berbicara padaku, hanya menatapku. Aku yang penasaran pun langsung mendekat. Tapi, semakin kudekati dia semakin jauh pula jarak kami.
Lantas aku berhenti, dan dia tiba-tiba mengangkat tangannya ke arah kiri. Aku tidak tau apa maksudnya itu.Tapi kakiku justru berjalan mengikuti arah yang di tunjukkan.
Tak lama dia kembali muncul lagi. Saat ini dia berada jauh di hadapanku. Lalu telunjuknya mengarah ke atas, sontak aku mengikuti arah jarinya menunjuk.
Aku terbelalak melihat Nyai di sana sedang adu mekanik dengan sosok besar yang tadi kulihat. Rasanya aku seperti melihat film Avengers di sini.
Atau mungkin ini seperti pertarungan Mobile Legends. Nyai, sebagai ibu Kadita yang menawan tapi bar-bar. Dan sosok besar itu adalah Balmond.
Barandai-andai fantasi di posisi ini tak apa bukan? Lagi pula di sini sudah terlalu tegang. Jadi lebih baik aku membumbuinya sedikit dengan khayalanku yang aneh.
Sesudah aku tau penyebab mengapa Nyai tak datang ketika kupanggil. Netraku kembali mengarah pada sosok hantu pendaki itu.
Kali ini dia tidak menggerakan tangannya. Melainkan dia berbalik berjalan mengacuhkanku. Sambil membawa kayu nisan itu, aku berjalan mengikutinya di antara Belantara gelap tempat setan menetap.
Ketika hantu pendaki itu berhenti akupun juga berhenti. Pada akhirnya kami tiba di pohon beringin besar.
Sosok hantu pendaki itu berbalik ke arahku lalu tersenyum. Tubuh itu menghilang perlahan tergantikan oleh satu sosok bertubuh tegap namun buntung tanpa kepala.
Sosok itu saat ini berdiri tepat sepuluh langkah dari tempatku beridiri. Bulu kudukku meriang melihat area leher yang terpotong itu, terus menerus mengeluarkan darah.
Di pinggangnya ada sabit, biasanya orang Jawa akan menyebutnya Celurit. Perlahan tangan kanannya mulai meraih celurit itu lalu menodongkannya ke arahku.
"Ojo ngganggu putuku!" ucap buyut leluhurku yang tiba-tiba muncul di depanku sebagai tamengku.
Sosok buntung itu diam tidak bergerak ketika melihat kehadiran buyut. Kedua setan itu saling bercengkrama sepertinya, tapi aku tidak mendengarnya.
Ketika keduanya menghilang, kayu yang kupegang pun juga menghilang. Pohon beringin besar itu juga menghilang. Sepertinya ini sudah selesai.
Aku memejamkan kedua mataku. Detik kemudian ketika kesadarannya pulih aku membuka mataku lagi. Terlihat di sana Cak Dika yang tersenyum sambil mengacungkan kedua jempol nya padaku.
Kaki Agus juga tidak lagi lebam. Sangking girangnya pemuda itu melempar tongkatnya ke samping sembarangan lalu melompat-lompat senang. Dia menjabat tanganku lalu berterima kasih.
Untuk pertama kalinya membantu orang lain bisa sebahagia ini rasanya. Aku senang melihatnya kembali bisa berjalan normal. Perjalanan penjelajahan kami tidak berhenti sampai di sini.
Masih ada orang-orang yang memanggil kami untuk datang. Alam sebelah sepertinya akan sering aku kunjungi bersama Marsya dan Cacak Dika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
itu arwah dari pendaki yang sudah meninggal kayaknya
2025-04-02
0
Ipank Surya
ohh ternyata kayu itu nisan kuburan,ngeri bengett🤣
2025-04-02
0
Ipank Surya
kalau gwe mungkin udah lari daripada harus mediasi
2025-04-02
0