Laras Gautama, adalah salah satu anak dari adik kandung Ibunda Rachel. Laras Gautama memiliki kemampuan yang cukup unik bagi kalangan indigo.
Namun sayangnya dia terlahir buta sejak kecil. Gadis bersurai hitam lurus sebahu, dengan bola mata yang menawan, bibirnya tipis, dia anggun sekali memang. Tetapi memiliki kecacatan.
Beruntungnya hal itu didukung dengan kemampuan dari leluhur keluarga Gautama. Di mana Laras, memiliki kemampuan mampu melihat masa lalu. Sejarah suatu tempat. Laras juga bisa mendengarkan mereka.
Laras juga memiliki salah satu pengikut ghaib. Dia adalah sosok seram bercakar panjang dengan mata merah yang berdarah. Sekalipun perwujudannya seram. Tetapi dia selalu berada di samping Laras menjaganya.
Di umurnya yang ke-21 tahun ini, Laras berprofesi sebagai seorang penyiar radio. Saat ini tepat di tempat kerjanya dia sedang sibuk menyiarkan radio.
Di depan mic itu dia berbicara leluasa sekali. Matanya memang buta tetapi bakatnya boleh diacungi jempol.
Sepasang mata dari ruang lain memperhatikannya. Dia adalah Aldo, rekan kerja Laras. Aldo cukup mengagumi Laras. Sebab tak hanya cantik, Laras juga sangat baik.
"Sampai jumpa kembali besok!" ucap Laras sambil tersenyum mengakhiri acara siarannya.
"Wahhh... Sudah selesai ya?" tanya Aldo yang letak ruangan siarannya bersebelahan dengan Laras.
"Ya, sudah, Alhamdulillah! Waktunya pulang ini!" ucap Laras padanya.
Aldo mengangguk mendengar itu. Dia dan Laras memang sering pulang dan berangkat bersama. Aldo memang menyimpan rasa pada Laras. Tetapi hubungan mereka tidak berjalan semulus perkiraan mereka.
Anggota keluarga Aldo menolak keras keinginannya. Sebab Laras hanyalah seorang gadis buta. Keluarga Aldo bahkan sudah sering menggunakan beberapa ajian untuk memisahkan Laras darinya.
Ajian itu dirasakan oleh Laras. Sebab kasihan padanya. Laras pun memerintahkan salah satu pengikut ghaibnya untuk ikut menjaga Aldo.
Pengikut ini cukup kuat auranya. Cukup ditakuti oleh kalangan jin dan setan rendahan. Satu kelas di bawah khodam Ratu milik Rachel. Laras melakukan itu, dan dia sudah berbicara pada Aldo. Rupanya Aldo juga menyetujuinya.
"Kita makan dulu gimana? Mau gak?" tanya Aldo menawarkan.
Laras mengangguk dia tersenyum. Tangan kanannya mulai meraba-raba mejanya. Dia sedang mencari tongkat miliknya.
Aldo yang melihat itupun peka. Dia pun masuk ke dalam ruang siaran Laras. Lalu tingkat itu dia ambil dan diserahkannya pada Laras.
"Ini!" ucap Aldo padanya. Laras menerimanya kemudian dia berdiri.
"Mau makan apa kamu?" tanya Aldo padanya.
"Terserah kamu saja! Kamu yang bayarin kan?" tanya Laras sambil terkekeh.
Mendengar itu Aldo tentu saja juga ikut tertawa. Apa yang Laras katakan itu benar, dialah yang akan membayar makanan nanti.
"Loh aku kan cowok baik ya! Jadi kalo gadisku minta ya, itu kewajiban aku buat bayarin dia!" jawab Aldo sedikit menggoda Laras.
"Ya memang, aku kan emang masih gadis. Tapi bukan gadismu, hahaha!" ucap Laras padanya.
Aldo mengacuhkan jawaban itu. Walaupun Laras belum siap menerima dirinya. Tetapi Aldo akan terus menunggunya sampai kapan pun. Pemuda ini cinta mati pada Laras.
Aldo menggenggam tangan Laras. Lalu keduanya pun pergi meninggalkan kantor siaran mereka. Jam tepat menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan kini keduanya sedang berada di area parkir.
Sembari berjalan menghampiri mobil keduanya masih tetap melontarkan candaan. Terkadang mereka mengobrol perihal pekerjaan mereka. Area parkiran ini sudah cukup sepi.
Rekan mereka yang belum pulang bisa dihitung jumlahnya. Kira-kira masih ada delapan orang yang berada di dalam gedung siaran. Dan sisa mobil yang terparkir di sini hanya ada tiga mobil, termasuk mobil milik Aldo.
"Mari Tuan putri silahkan masuk!" ucap Aldo ketika berada tepat di depan mobilnya.
Aldo membukakan pintu mobil itu untuk Laras, menyambutnya penuh ramah tamah. Laras tersenyum mendengar itu. Ketika dia hendak masuk ke dalam dia mengurungkan niatnya.
"Hah!" pekik Laras.
Gambaran perihal sesuatu sekilas datang menyapanya, melalui kemampuannya. Laras yang buta ini sekejap melihat sesuatu. Sesuatu yang cukup kelam berada di dalam bagasi Aldo. Auranya bahkan kuat sekali.
"Kamu kenapa, Laras?" tanya Aldo khawatir padanya.
Laras tiba-tiba saja menyentuh kepalanya. Pusing memang sungguh.
Kenapa suram sekali mobil Aldo ini? Auranya pekat, ada di bagasi belakang!. Batin Laras lalu menengok ke arah bagasi mobil.
Laras berjalan mendekati bagasi mobil itu. Aldo tentu saja mengikuti Laras. Ketika dia sampai di sana. Laras meraba-raba bagasi yang masih tertutup itu.
"Kamu bawa apa, Al?" tanya Laras padanya.
"Aku bawa apa? Aku gak bawa apa-apa kok!" jawab Aldo sambil menaikkan salah satu alisnya.
Aneh rasanya melihat Laras bersikap seperti ini sekarang. Namun tiap apa yang Laras katakan pasti ada alasannya. Dan Aldo sangat mempercayainya.
"Coba buka bagasimu!" perintah Laras padanya.
Aldo mengangguk mendengar itu. Dia pun membuka bagasi mobil miliknya. Ketika bagasi itu terbuka perlahan.
Bau anyir dari dalam sana menusuk Indra penciuman Laras. Sontak, Laras jelas menutup hidungnya. Namun tidak dengan Aldo, dia sama sekali tidak mencium apapun.
Ketika bagasi itu terbuka. Hawa negatif di dalam sana menyeruak. Memaksa kesadaran Laras masuk ke dalam dimensi sebelah. Tubuh Laras jatuh saat itu juga. Namun dengan sigap, Aldo menahannya.
"Laras!!!" pekik Aldo sambil memapah tubuh Laras.
Sementara itu di dimensi sebelah atau lebih tepatnya alam sebelah. Laras diperlihatkan oleh satu sosok. Sosok itu berwujud seorang nenek. Dia sedang memandikan seorang bayi yang baru saja lahir.
Darah-darah segar itu bercampur menjadi satu dengan air di dalam wadah. Darah dari perut seorang ibu yang baru saja melahirkan.
Lalu, nenek itupun membawa bayi yang sudah bersih itu masuk ke dalam satu rumah tua. Rumah itu besar sekali. Rumah itu tingkat tiga.
Rachel mengikuti sosok nenek itu masuk ke dalam. Dilihat dari profesinya. Sepertinya nenek itu adalah seorang dukun beranak.
Nenek tua itu masuk ke dalam satu kamar. Di mana ketika kamar itu terbuka. Wajah dari seorang wanita yang terkapar lemah sambil terpejam di atas ranjang itu. Seketika membuat Laras terbelalak.
Tante Lina?. Ucap Laras dalam hatinya.
Wanita itu adalah Ibu dari Aldo saat ini. Tapi, kenapa bisa dia ada di sana? Nampak di samping tubuh Tante Lina, ada seorang pria. Dari pakaiannya seperti seorang dukun.
"Gimana Mbah?" tanya Pria berkumis itu pada nenek tua itu.
Tunggu, apa yang terjadi di sana. Nenek tua itu menempatkan bayi itu di atas batu. Bayi itu menangis sejadi-jadinya.
Bayi itu ketakutan ketika nenek tua itu merapal sesuatu. Mulutnya komat-kamit dan Laras sama sekali tidak tau apa yang sedang nenek itu baca.
Bayi itu juga tidak sebesar bayi pada umumnya. Sepertinya dia terlatih prematur. Ketika mulut komat-kamit itu berhenti.
Kepala nenek itu tiba-tiba terlepas terbang ke atas. Membawa seluruh organ dalam tubuhnya ikut keluar juga.
Laras membelalakkan matanya melihat itu. Nenek itu adalah setan kuyang. Wajah manusianya tadi memucat menyeramkan. Dah dia datang terbang ke arah Tante Lina.
Posisi Tante Lina saat ini masih tak sadarkan diri. Kedua kakinya mengangkang sempurna. Kuyang itu masuk ke bawah melahap sesuatu di sana.
Pemandangan ini sungguh mengerikan. Dan Pria yang saat ini berada di samping Tante Lina hanya diam sambil melihat.
Dia tidak bergeming sama sekali ataupun mencoba melindungi Tante Lina. Seakan memang Tante Lina sengaja diserahkan untuk disantap makhluk itu.
Kuyang itu kembali menyatu pada tubuhnya kemudian. Nenek kuyang itu kembali mengambil bayi yang ada di atas batu itu.
Sambil menimangnya, nenek itu berjalan ke arah Tante Lina. Nenek itu menyerahkan bayi itu pada Pria berkumis.
"Bocah Iki, anakmu! Aku gak ngara mundur arek iki! Tapi ilingo, ben Jumat bengi. Awakmu kudu ngewei aku wejangan sesembahan sajen. Pitik Ireng mati!" ucap Nenek itu pada Pria berkumis.
"Nggih, pasti itu!" ucap Pria berkumis menjawab.
"Setahun pisan, aku butuh tumbal janin!" ucap Nenek itu lagi.
Tunggu dulu di sini ada banyak sekali pertanyaan dalam kepala Laras. Siapa nenek itu? Dan untuk apa tumbal itu dan perjanjian itu? Lalu bayi itu siapa?
Seluruh pertanyaan yang datang memenuhi ruang kepalanya seketika terjawab. Ketika Tante Lina membuka kedua matanya. Dia dan Pria berkumis itu memberi nama anak itu. Anak itu adalah Aldonova.
Di situlah Laras dibuat terbelalak tak percaya rasanya. Artinya keluarga Aldo, melakukan perjanjian dengan sesuatu yang jahat. Ini bahaya sungguh!
Apa mungkin? Hubungan kami tidak direstui, karena keluarga mereka tau aku manusia yang peka hal seperti itu? Artinya mereka berusaha menutupi ini. Lalu yang dimakan nenek itu, perkiraan adalah janin juga. Yang artinya, Aldo punya kembaran! Dan kembarannya ditumbalkan saat itu!. Pikir Laras berasumsi.
Rentetan gambaran itu berhenti saat itu juga. Laras kembali sadar. Matanya mengerjap beberapa kali. Buliran keringat dingin mulai berjatuhan. Letih rasanya berpindah alam walau hanya sebentar.
"Laras kamu gapapa, kan?" tanya Aldo padanya.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Saat pingsan tadi, Laras di bawa masuk oleh Aldo ke mobilnya. Di sana Laras dibaringkan.
"Aku gapapa kok!" jawab Laras padanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kita jadi makan?" tanya Aldo padanya.
"Iya, jadi!" jawab Laras padanya.
Aldo tersenyum melihat itu. Setelah mengacak-acak Surai milik Laras. Aldo mengangguk lalu dia duduk di kursi sopir. Laras juga berpindah duduk di depan di samping Aldo.
Dalam perjalanan itu Laras terus menerus dibuat berpikir. Sebelum dia bertemu dengan orang tua Aldo.
Gambaran perihal tadi tidak pernah muncul. Baru setelah beberapa hari lalu bertemu dengan Ibundanya Aldo. Laras melihat gambaran mengerikan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
njirr dukun beranak maksudnya apa itu nama dukun beranak
2025-04-03
0
Ipank Surya
perjanjian apa itu kira kira ,jadi penasaran nihh
2025-04-03
0
Ipank Surya
ada apa kira kira di bagasi jadi merinding nih
2025-04-03
0