Bella Gautama, usianya delapan belas tahun. Dia adalah salah satu kerabat Rachel, Marsya dan Cak Dika. Jika Rachel memiliki Khodam Ratu dari leluhurnya.
Maka Bella Gautama di ikuti oleh dua orang asing Netherlands. Londo yang dibunuh membabi buta oleh orang kulit kuning, Jepang, mereka lebih akrab disebut Nippon oleh orang-orang Belanda.
Sudah sekitar tujuh jam temannya Bella, Rio berlarian melewati tanjakan sambil membawa ranting-ranting kering. Dia berlari sambil bertelanjang dada.
Gila jika dilihat oleh orang banyak, aksi Rio itu. Puncak Lawu hampir sampai. Namun sejak tadi sikapnya Rio terlihat sangat aneh.
Semalam ketika Bella dan beberapa rekannya memilih berhenti untuk istirahat, ada banyak kejadian aneh sebelum ini terjadi. Sebelum Rio menggila dan tidak bisa diajak bicara sampai saat ini.
"Mas, iku opo o Mbak?" tanya seorang pendaki yang baru saja turun.
Namun Bella yang ditanya hanya diam. Kedua matanya masih memperhatikan Rio yang tidak jelas tingkahnya.
"Gak tau Mas, perasaan sejak semalam dia baik-baik saja kok! Paginya jadi seperti ini, gak bisa diajak bicara cuma mondar-mandir naiki tanjakan sudah berkali-kali." jelas Petra salah satu dari rombongan Bella.
"Wah genting Mas, coba hubungi Basecamp aja Mas! Barangkali mereka bisa bantu!" jawab salah seorang Pendaki, sebut saja Gibran.
Petra manggut-manggut mendengar itu. Lantas dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Sialnya, di ketinggian itu sinyal sama sekali tidak ada. Sinyal hilang total, pupus harapan Petra saat itu juga.
"Wah gak ada sinyal, Mas!" jawab Petra.
"Ini kalau dibiarin sampai malam, takutnya nanti ada apa-apa Mas!" jelas Gibran.
Bella yang sejak tadi bersandar dan diam sambil memperhatikan Rio. Dia berinisiatif mengeluarkan Kamera kesayangannya. Sebuah Kamera yang menemaninya mengeksplorasi desnitasi perjalanannya. Bella mengarahkan Kamera itu ke arah Rio.
Siapapun kamu, yang sedang berada di sini! Tolong tunjukkan dirimu!. lirih Bella, jepretan pertama foto mengarah ke arah Rio.
Tetapi tidak ada siapapun bersamanya. Jepretan foto kedua ia arahkan ke arah depan ke atas tanjakan. Namun tetap tidak ada siapapun di sana. Barulah jepretan ketiga saat Rio turun kembali dari atas tanjakan, ia melihat itu.
Tiga lutung sebesar kaki manusia berlari mencakar-cakar kaki Rio. Bella kembali menjepretnya berkali-kali dan benar. Jika dilihat oleh mata manusia normal.
Luka akibat cakaran lutung itu tidak akan terlihat. Tetapi kacamata ghaib melihat sendiri kedua kaki Rio saat ini sedang berdarah-darah.
Entah apa tujuannya membuat Rio terus berlarian sambil membawa ranting-ranting kering. Bella kembali menatap Rio dengan tatapan iba. Jika diperkirakan kira-kira Rio berlari sekitar dua jam sudah, naik turun tanjakan.
Normalnya kaki manusia akan lelah jika selama itu. Bella juga memperhatikan bahwa Rio sama sekali tidak ngos-ngosan berlarian bolak-balik semacam itu.
Cak Dika, aku kirim pesan lewat perantara. Koncoku Iki piye Cak?. Bella memejamkan kedua matanya melalui perantara ilmu miliknya ia mulai menghubungi Cacak.
Dalam hati dia berharap bahwa pesan itu akan sampai pada Cak Dika di mana pun dia berada.
"Kamu liat apa Bel?" tanya Petra memperhatikan Bella sejak tadi.
"Gak ada kok, cuma heran aja!" jawab Bella sambil tetap menatap Rio yang masih berlari.
Petra mendekat ke arah Bella kali ini. Dia menepuk pelan bahu Bella.
"Kalau ada yang aneh bilang! Kelakuan Rio ini sudah gak wajar! Aku tau kamu bisa lihat hal-hal seperti itu, kan?" tanya Petra padanya.
Sial, yang bocorin siapa ini?. Batin Bella, padahal dia berusaha menutupi kemampuannya dari orang-orang.
Terhubung dengan makhluk Alam sebelah akan sangat melelahkan. Sama seperti Rachel, Bella juga tidak ingin ilmu ghaib yang melekat pada dirinya ini digunakan. Bella berusaha menjauhi itu.
Dalam keluarga Gautama hanya Cak Dika saja yang sekarang setara dengan Buyut kemampuannya. Keluarga Gautama memiliki empat penerus. Tak lain dan tak bukan, mereka adalah Cak Dika, Rachel, Marsya dan Bella.
Masing-masing dari mereka berpencar untuk urusan Pribadi. Bella adalah adik kandung dari Cak Dika. Mereka berdua pindah dan pisah rumah dengan Rachel saat itu, karena satu alasan. Ibunda mereka sakit keras dan harus dibawa ke kota orang untuk pengobatan.
Cak Dika, dia adalah orang yang menekuni ilmu kejawen turun temurun dari keluarga Gautama. Dulu leluhur mereka adalah seorang kepala adat, serta juru kunci gunung, Kuncen.
Kedua profesi itu lekat dengan ilmu kejawen. Rata-rata leluhur mereka memiliki sepasang bola mata penjelajah ghaib. Dan itu terus menerus turun sampai ke anak cucu mereka.
"Kamu lihat sesuatu, kan Bel?" tanya Petra lagi pada Bella yang masih fokus mencari jawaban atas perilaku Rio.
Haduh, kok bacot manusia ini lama-lama! Hawa sudah panas gini, keadaannya juga udah genting!. Batin Bella mencoba meredam amarahnya.
"Kamu tenang saja, Rio Insyaallah gapapa kok!" jawab Bella padanya.
"Apanya yang tidak apa Bella? Rekanmu itu sedang disiksa oleh lutung anak-anak Genderuwo. Kamu bisa melihat kakinya berdarah-darah, bukan?" Lirih satu suara dari satu sosok pemuda Belanda, kira-kira usianya sekitar 13 tahun.
Dia tampan sekali, matinya karena dipenggal. Jaman Nippon dulu, Albertus Van Colline atau biasa Bella panggil Albert ini. Mati di dermaga dengan kepala yang buntung dikerubungi lalat.
Anak muda ini adalah salah satu korban kekejaman Jepang dahulu. Di mana pembantaian orang kulit putih saat itu, dibenarkan oleh para Pribumi atau Inlander.
Mereka membunuh, memenggal kepala-kepala rakyat Belanda dengan beringas. Kepala-kepala itu kemudian dibuang begitu saja di danau. Tidak ada penguburan layak bahkan penghakiman. Mayat itu dibiarkan sampai membusuk di makan ikan di sana.
"Ya, aku tau! Tapi, aku harus apa? Aku bukan Mas Dika di sini! Lagi pula aku juga tidak bisa membantu apa-apa. Tapi, apa kamu tau penyebabnya kenapa Rio sampai begini?" tanya Bella pada Albert di sampingnya.
Tubuh transparan itu wajahnya tersenyum ketika Bella menanyakan itu padanya. Bella tau, Albert pasti tau sesuatu atas kejadian ini.
"Ya, kenapa aku tidak tau?" Ucapnya lirih.
"Kalau begitu bilang, kenapa dia bisa begini?" tanya Bella padanya.
Dancuk!. Batin Bella kesal ketika aura negatif semakin menekan punggungnya. Hawa negatif itu menerpa-nerpa wajahnya, panas sungguh.
"Beratkan punggungmu? Kamu tau itu kenapa?" tanya Albert pada Bella.
Bella terkejut mendengar itu. Setan ini tau rupanya jika punggungnya lama kelamaan semakin berat. Tidak hanya itu, bahkan aura panas mulai menjalari punggungnya.
"Iya, panas dan berat!" jawab Bella padanya.
"Ayah dari lutung ini sedang mengawasi kalian. Dia lebih besar daripada lutung ini. Sangat besar dengan taring panjang. Kedua matanya merah menusuk! Kamu belum sampai puncak? Lebih baik turun saja sebelum petang! Karena Rio, sepertinya akan lebih parah lagi keadaannya jika diteruskan!" jelas Albert padanya.
Bella terkejut mendengar itu. Albert menghilang dari samping tubuhnya. Kemudian Bella menatap ke arah Petra kali ini. Petra sejak tadi memperhatikan Bella yang sejak tadi diam.
"Ada apa?" tanya Petra padanya.
"Ko, kita turun aja ya! Kasian Mas Rio, dia butuh pertolongan itu!" ucap Bella pada Petra.
Rombongannya ada tiga orang, dengan Rio berarti empat. Ketiga orang yang sejak tadi diam memperhatikan Rio pun heran menatap ke arah Bella.
"Aku tau ini genting, Bel! Tapi, kalau kita turun sekarang. Kita bakalan kena magrib! Sebisa mungkin jangan sampai turun kena magrib!" ucap Yono menyela apa yang Bella inginkan.
Perkataan Yono itu benar. Biasanya para pendaki akan menghindari turun atau naik gunung magrib. Hal itu dipercaya akan menjadi petaka dan gangguan makhluk halus akan semakin kuat menerpa mereka. Pernyataan Yono membuat Bella terdiam, kemudian dia mengingat sesuatu.
"Mas, kalian kan semalam satu tenda ya! Rio semalam ngapain aja?" tanya Bella penasaran.
Sebab baginya tidak mungkin manusia mendadak gila seperti ini jika tidak ada penyebabnya. Pasti, ada sesuatu yang sudah Rio perbuat semalam.
"Aku gak tau Bel, yang jelas semalam aku sama Pram tidur. Tenda kita kan berhadapan, kan? Kamu sama Tyas tidur berdua semalam apa gak kerasa ada yang nimpuk tenda pakai pasir?" tanya Yono kepada Bella.
Bella tentu saja terkejut mendengar itu. Jika semalam ada gangguan kenapa mereka tidak membangunkannya. Terutama Tyas, kenapa dia yang satu tenda dengannya tidak membangunkannya.
"Sorry Bel, aku takut semalam jadi gak bangunin kamu!" ucap Tyas ketika Bella menoleh ke arahnya.
Bella paham, Tyas semalam berusaha kuat atas gangguan yang menimpa mereka.
"Jadi, Rio gak melakukan sesuatu yang fatal, kan semalam?" tanya Bella lagi pada rombongannya.
"Semalam itu waktu pukul sembilan, habis kita makan-makan kita kan tidur. Itu selang dua jam aku masih terjaga sama Pram di dalam tenda. Rio udah pulas itu! Dia tidur, selang satu jam setelahnya barulah aku sama Pram tidur. Udah gak tau lagi, bangun-bangun si Rio udah diam aja sampai ke tanjakan ini dia jadi gini!" jelas Yono pada Bella.
"Soale ora mungkin nek Rio gak lapo-lapo, bakal dadi koyok ngene!" ucap Bella yang mulai kesal.
"Semalam aku dengar ada yang buka tenda depan, Bel! Habis ketimpuk berkali-kali tenda kita. Aku liat ada bayangan di depan tenda jalan ke arah kanan. Itu arah pura bukan? Tapi aku gak berani buka tenda saat itu, jadi aku cuma bisa diam sambil lihat bayangan di luar itu melewati tenda kita, menjauh lalu pergi!" jelas Tyas yang sejak tadi diam pada akhirnya ikut bicara.
Pikiran Bella berubah menjadi negatif sekarang. Logistik mereka kurang, dan sejak pertama kali naik Rio melontarkan guyonan perihal sesajen di atas batu candi dan pura. Dia bilang,
Logistik Iki kurang, paling aku nekat engko bengi nyomot panganan setan nak alas Iki!. Nah, itulah yang membuat Bella sekarang berpikir bahwa perkataan itu mungkin saja terjadi semalam. Rio memakan sesajen itu.
Bocah, goblok!. Batin Bella sambil menatap Rio masih terus berlari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
astaghfirullah haladzim,kalau dengar kepala putus Ama tubuh jadi merinding
2025-04-02
0
Ipank Surya
kasihan si Rio ,mau telpon pun juga gak ada sinyal
2025-04-02
0
Ipank Surya
sadis sekali orang japan, astagaa
2025-04-02
0