Pendakian masih dilanjutkan. Saat itu Rio sudah tidak bisa diajak berbicara lagi. Bola matanya mengedar ke segala penjuru arah. Dalam bola mata itu seperti mengisyaratkan bahwa dia tidak tenang di sini.
Puncak Lawu yang indah menyambut mereka. Ucapan syukur mereka lontarkan berkali-kali. Bahkan Pram dan Yono sampai sujud syukur rasanya. Keindahan milik Tuhan ini luar biasa.
Namun ada satu hal yang aneh menurut Tyas dan Bella di sini. Ini memang puncak Lawu, lautan awan terpampang jelas luas di hadapan mereka. Tetapi, kenapa Medan di sini sesepi ini?
Benderanya memang berkibar, angin berhembus kencang. Bella merasakan bahwa ada sesuatu yang cukup aneh di sini. Tidak ada keberadaan pendaki lain selain mereka berlima di atas sini.
Padahal, katanya tadi ada sekitar sepuluh orang masih berada di atas. Itulah yang Bella dengar dari Gibran, pendaki yang baru saja pulang berjalan menuruni gunung setelah menikmati indahnya puncak Lawu.
"Kamu ngerasa ada yang aneh gak, Bel?" tanya Tyas di samping Bella.
"Hah?" ucap Bella sambil menatapnya.
"Kamu melamun apa? Udah tau Rio begitu kamu masih sempat ngelamun?" tanya Tyas kesal.
Bella hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Semerbak wewangian sajen mendadak menusuk Indra penciumannya dan Tyas. Mereka berdua sontak menutup hidung mereka. Wewangian ini wanginya menusuk bahkan dadanya rasanya sakit sekali ketika mengirupnya sebentar.
Rombongan orang datang dari belakang mereka. Mereka yang saat ini sedang menikmati puncak Lawu pun menoleh ke belakang.
Ada sekitar sepuluh orang berpakaian kuno, adat Jawa dulu. Datang ke arah mereka sambil membawa sesajen. Rupa mereka manusia, dan di barisan paling depan ada satu orang lelaki dengan topi caping datang mendekati mereka.
Namun belum sempat mereka mendekat lebih dekat lagi. Kira-kira jaraknya sekitar lima langkah saja dari tempat mereka. Pram dan Yono bertatapan tepat dengan lelaki itu.
"Pripun Pak, enten nopo nggih?" tanya Pram berbahasa sopan.
Lelaki itu hanya menatapnya saja tidak bicara. Lalu, netranya mengarah tepat ke arah Rio yang saat ini sedang duduk bersandar di gapura Lawu.
"Cah Lanang kuwi, mundut opo sing dadi nggonku! Cah Lanang kuwi, kudue balekne opo sing dadi nggonku!" ucap Lelaki itu sambil menatap geram ke arah Rio.
Bella menelan ludahnya melihat apa yang ada di hadapannya perlahan berubah menjadi orang-orang tanpa wajah. Seluruhnya wajahnya menghilang kecuali lelaki itu. Tetapi tidak ada yang menyadari itu terjadi. Sebab seluruh temannya sama sekali tidak paham hal ghaib.
"Ono opo, Bel?" tanya Tyas pada Bella, ketika tangannya digenggam rapat olehnya.
"Tyas, sekarang kita harus pergi! Sudah cukup, ini sudah terlalu jauh!" jawab Bella lirih berbisik.
"Bocah wedok kae paham opo sing tak omong! Dadi Nduk, muduno saiki! Awkmu lan koncomu, iso mudun saka gunung Iki sakdurunge shubuh!" ucap lelaki itu.
Kali ini lelaki itu menatap lekat ke arah Bella. Tatapan tanpa ekspresi, mengarah padanya.
Dancuk, meriang aku!. Kesal Bella dalam hatinya. Mereka berdua bertatapan lama sekali. Sampai salah satu temannya bahkan menepuk-nepuk bahunya.
"Bel,bel, Bella!!!" pekik Tyas mengeraskan suaranya.
Bella tersadar dari lamunannya ketika rombongan itu hilang dari pandangannya. Beberapa temannya yang ada di situ pun ikut terhenyak terkejut tak percaya. Bagaimana rombongan manusia bisa hilang secepat itu?
"Loh mereka hilang?!" ucap Pram tak percaya.
"Bel, ini ada apa?" tanya Tyas yang mulai was-was.
Pelan, Bella yang masih terkejut menatap ke arah seluruh rekannya. Tangannya dingin, bahkan bulu kuduknya meremang. Ini masih di atas gunung, ketebalan dimensi ghaib semakin kuat semakin ke atas.
"Kita harus turun sebelum jam tiga pagi!" ucap Bella pada seluruh temannya.
"Lah, terus ini Rio gimana Bela?" tanya Pram sambil menatap Rio yang kosong pandangannya.
Bella memperhatikan Rio di sana. Dia iba, sungguh. Bella ingin menolongnya tapi dia tidak bisa. Kemampuannya belum cukup memadai untuk melakukan pertolongan itu.
Ditambah saat ini Bella juga sedang berada di area yang tingkat mistisnya pekat sekali. Jalan satu-satunya adalah turun sesuai dengan apanyang dikatakan oleh lelaki dalam rombongan tadi.
"Kita gak akan ninggalin Rio sendiri di sini! Kita bopong dia bawa dia turun! Katanya kita diberi waktu sampai jam tiga!" ucap Bella.
"Tapi nanti kita kena magrib loh, Bel!" ucap Tyas dia khawatir.
Memang parno apabila dalam pendakian bertepatan dengan adzan magrib. Kebanyakan para pendaki akan menghindari itu baik turun atau naik.
"Kita terjang! Pokoknya sebelum jam tiga kita sudah harus sampai di basecamp!" ucap Bella.
Tidak ada perdebatan lagi di antara mereka. Ketika Bella sudah menegaskan itu mereka percaya. Pram dan Yono pun mulai membopong Rio. Mata Rio selama dalam perjalanan turun berkeliaran ke sana kemari.
Sedangkan di tempat lain saat ini. Cak Dika yang duduk bersama dengan Rachel dan Marsya sambil menikmati kopi mendadak diam. Salah satu dari makhluk ghaib yang mengikuti adiknya, Bella. Memberinya satu pesan dari Bella.
Cak Dika yang duduk pun tiba-tiba berdiri. Baik Rachel dan Marsya mereka berdua dibuat terkejut rasanya. Mereka memperhatikan Cak Dika yang diam dengan tatapan kosong.
"Kita pergi ke gunung Lawu sekarang!" ucap Cak Dika sambil menatap ke arah Marsya dan Rachel.
Mbahmu!. Ucap Rachel dalam hatinya. Ia ikut berdiri kali ini menatap malas ke arah Cak Dika.
"Ada apa lagi?" tanya Rachel padanya.
"Bella dalam bahaya! Kita harus kesana, atau dia gabakalan bisa pulang nanti!" ucap Cak Dika menjelaskan.
Bella adalah kerabat mereka juga. Mendengar itu Rachel tidak ingin mendebatnya lagi. Dia ingin membantu Bella sekarang.
"Yowes Cak! Ayo di gas!" ucap Marsya.
Ketiganya kemudian mengangguk. Mereka sedang berada di rumah Rachel saat ini. Mobil Dika ada di halaman. Mereka segera pergi menuju halaman lalu masuk ke dalam mobil.
Jarak antara rumah Rachel dan Gunung Lawu cukup jauh. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan. Cak Dika setengah ngebut. Pikirannya sudah tidak karuan rasanya.
"Bocah, sudah dibilang jangan naik-naik gunung! Masih aja naik!" gerutu Cak Dika sambil menyetir.
"Bella itu sama seperti Mbak! Mereka berdua itu pengku, Cak!" ucap Marsya menimpali.
"Sejak kapan, hah?" tanya Rachel pada Marsya.
"Aku bicara jujur kok, Mbak!" ucap Marsya.
Rachel membuang kasar nafasnya. Percuma baginya menjawab apa yang adiknya katakan. Nanti akan menimbulkan perdebatan yang akan membuat suasana dalam mobil ini runyam.
Rachel sedikit mengingat bahwa gunung Lawu adalah tempat sakral. Sudah banyak para pendaki hilang di sana.
Sebab Memang dahulu gunung itu adalah tempat di mana, raja Brawijaya melarikan diri. Tempat itu juga adalah tempat di mana Raja itu melakukan Moksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
oh ternyata ini masalah nya ,Rio kayaknya ambil barang aneh" di gunung ini,lalu barang itu milik orang yang nyamperin ini
2025-04-03
0
Ipank Surya
saya yang orang Jawa Timur gak ngerti apa itu yang namanya moska bang,moska itu apaan sihh
2025-04-03
0
Ipank Surya
ada apa? kemungkinan mereka sedang masuk ke alam lain,mungkin juga seh🤣🤣
2025-04-03
0