Jam tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Itu adalah waktu di mana para penyiar radio beristirahat. Jam istirahat mereka dibagi menjadi dua sesi.
Bergilir antara jam sebelas sampai jam dua belas dan jam dua belas sampai jam satu.
Laras dan Aldo kebagian jatah istirahat di kloter kedua. Saat ini mereka sedang berjalan di halaman belakang gedung siaran itu.
Itu adalah tempat ternyaman bagi mereka berdua menghabiskan waktu istirahat mereka. Halaman itu luas seluas lapangan bola.
Ada sebuah air mancur di tengah halaman itu. Dan jauh di depan sana terdapat pepohonan nangka. Tak hanya itu, fasilitas bangku panjang taman juga menghiasi area itu.
Saat ini mereka berdua duduk berdampingan di kursi yang sama. Rachel mulai mengeluarkan bekal miliknya.
Tadi dia membeli nasi bungkus tepat di depan rumahnya.
Aldo di sampingnya mulai memperhatikan Laras. Rasa ingin tahunya tiba-tiba muncul.
"Kamu makan lauk apa?" tanya Aldo sambil melihat ke arah nasi bungkus milik Laras.
"Aku beli ini tadi di depan rumahku! Kaya'nya sih enak, kamu mau?" jawab Laras sembari menawarkan makanannya pada Aldo.
Aldo menggeleng pelan lalu dia mengeluarkan bekal yang dibawanya dari rumah tadi. Laras yang sibuk akan membuka bungkusan makanannya seketika terdiam.
Suara dari salah satu teman ghaibnya bicara padanya. Dia mengatakan apa saja yang terjadi sebelum Aldo datang menjemputnya.
Dan teman ghaib itu mengatakan bahwa bekal itu ada sesuatu yang cukup ekstrim.
Belum sempat wadah bekal itu keluar dari dalam tasnya. Laras sudah menahan pergelangan tangan Aldo.
Laras tidak mau Aldo sampai memakan bekal itu. Tindakannya itu tentu saja membuat Aldo terkejut.
"Ada apa Laras?" tanya Aldo pada Laras. Aldo menatapnya heran kali ini.
"Al, kamu tadi habis bertengkar sama orang tuamu ya?" tanya Laras padanya.
Aldo seketika terbelalak mendengar apa yang Laras katakan. Tapi, Aldo paham satu hal. Bahwa salah satu hal ghaib milik Laras berada dan mengawasinya selama ini.
"Iya, kamu tau rupanya! Apa, salah satu dari pasukanmu yang melapor?" tanya Aldo padanya sambil tersenyum. Dia mencoba bercanda pada Laras saat ini.
Ah, jika saja Laras bisa melihat wajah tampan Aldo. Mungkin dia sudah meleleh saat ini. Sebab tatapan mereka begitu dekat dan dalam. Laras adalah gadis cacat yang beruntung.
Tidak banyak manusia yang akan mau menerima kekurangan. Namun banyak manusia yang mencemooh kekurangan orang lain.
Seakan dirinya itu sempurna. Manusia memang terkadang lebih beringas daripada setan.
"Iya tentu mereka laporan ke aku, Al!" jawab Laras jujur.
"Lah, terus ini kenapa kamu gak bolehin aku buka bekal?" tanya Aldo pada Laras yang saat ini masih mencengkram tangannya.
"Al, aku ngerasain sesuatu dari dalam bekal itu. Bukannya aku mau nuduh orang tuamu! Tapi, kalau boleh tolong jangan makan itu!" jawab Laras pada Aldo.
Aldo tersenyum mendengar itu. Perhatian yang cukup menghangatkan hatinya. Seorang Laras jarang sekali berbicara selembut itu padanya.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya ketika Laras meminta itu. Tidak ada penolakan sama sekali.
Kemudian Aldo kembali menaruh bekal itu masuk kembali ke dalam tas miliknya.
"Yaudah, aku gak akan makan itu!" ucap Aldo sambil masih tersenyum.
Laras mengangguk mendengar itu. Lalu dia membuka nasi bungkus miliknya.
Dari rumah, dia sudah membawa sendok. Sendok itu di masukkan ke dalam plastik kecil.
Sendokan pertama ketika Laras akan memakannya. Dia ingat, jika dia bisa makan nasi bungkus nikmat ini, lalu Aldo makan apa?
Laras menghela nafas sejenak lalu mengarahkan sendok berisi makanan itu ke arah Aldo. Aldo yang melihat itu terkejut. Namun dia tetap tersenyum.
"Al, makan juga ya! Kita makan berdua!" ucap Laras padanya.
"Peka banget kamu tumben!" ujar Aldo mencoba menggoda Laras.
Godaan itu tentu saja membuat Laras kesal. Dia mengurungkan niatnya menyuapi Aldo.
"Yaudah kalo gamau!" ucap Laras lalu mengarahkan sendok berisi makanan itu ke arahnya lagi.
Sambil masih tertawa Aldo pun menahannya. Lalu mengarahkan kembali tangan Laras ke arahnya. Untuk pertama kalinya Laras menyuapi Aldo hari ini.
Dengan senang hati Aldo mengunyah makanan itu. Mereka menghabiskan waktu istirahat mereka dengan saling suap satu sama lain. Pasangan muda memang cukup menggemaskan ya!
Jam berputar cukup cepat. Ketika hal indah dihabiskan bersama. Maka waktu rasanya melintas secepat kilat.
Rasanya kurang sekalipun berjam-jam bersama. Asmara adalah hal yang membuat dua pasang manusia tidak mengenal apa itu kata bosan.
Jam istirahat mereka pun berakhir. Kembalilah mereka beraktivitas lagi sebagai seorang penyiar radio.
Beberapa rekan mereka pulang tepat waktu sesuai jam kerja.
Namun tidak dengan Laras dan Aldo saat ini. Mereka berdua diberi beberapa jadwal siaran malam. Hanya ada tiga orang di dalam ruang siaran itu.
Atasan memberi mereka jam panjang. Yang artinya itu adalah lemburan. Uang mereka juga tentu akan dibayar lebih. Tentu saja, mereka berdua menerima itu.
Malamnya semakin larut dan mereka semakin sibuk. Puncaknya ketika jam tepat menunjukkan pukul sembilan malam. Gangguan makhluk astral itu mulai berdatangan.
Bekal itu masih ada dalam tas Aldo. Aldo lupa membuangnya. Baik Laras dan Aldo masih fokus dengan pekerjaan mereka.
Hingga ada sesuatu yang membuat Aldo diam sejenak.
Kelap-kelip lampu di atasnya itu sedikit aneh. Tidak biasanya lampu kantor rewel seperti ini.
Aldo menatap ke atas langit-langit ruangan. Dia menatap tepat ke arah bohlam lampu yang masih menyala.
Satu detik, dua detik, lima detik tidak ada apapun yang terjadi ketika Aldo menatapnya. Hal itu tentu membuat Aldo kembali lagi fokus pada pekerjaannya.
"Aldo..." lirih satu suara tepat di samping telinganya.
Mendengar itu Aldo pun kaget. Dia menoleh ke samping mencoba mencari tau.
Suara siapa yang tadi berada dekat sekali dengan telinganya.
Aldo berdiri dari duduknya. Ruang tempatnya bekerja hanya di batasi satu tembok setinggi dada.
Aldo yang lebih tinggi dari papan itu bisa melihat Laras di sampingnya yang masih bekerja.
Hanya ada tiga orang manusia di sini. Yaitu Laras, Aldo dan satu rekan kerja mereka yang lembur. Namun letak ruangan mereka cukup jauh.
"Laras!" panggil Aldo pada Laras yang masih sibuk.
Laras melepas Earphonenya lalu menoleh ke arah Aldo.
"Laras, kamu tadi manggil aku tidak?" tanya Aldo padanya.
Laras mengerutkan keningnya mendengar itu. Dia sama sekali tidak memanggil Aldo sejak tadi.
"Nggak Al, aku gak manggil kamu! Mungkin kamu salah dengar aja! Udah ayo, aku mau closing dulu. Aku mau putar lagunya Bruno Mars ya!" jawab Laras padanya.
Laras sudah lelah dan mengantuk rasanya. Pekerjaannya ini harus segera selesai. Dan dia ingin berbaring di atas ranjangnya secepatnya.
Laras kembali fokus pada siaran miliknya. Melihat Laras kembali fokus, Aldo pun mencoba membuang segala hal negatif dalam pikirannya. Mungkin benar apa kata Laras. Dia salah dengar.
Aldo kembali mengenakan Earphone miliknya. Terdengar suara Laras di sana sedang Closing. Lagu terakhir setelah Closing itu mulai diputar.
Anehnya, itu bukan sesuai dengan Request Laras. Bukan lagu Bruno Mars yang ada di sana. Melainkan lagu Jawa.
Iring-iring Gamelan mulai mengalun saat itu. Satu lagu sinden yang cukup keramat katanya, berjudul Lingsir Wengi mulai mengalun dalam siaran radio itu.
Bulu kuduk Aldo meremang seketika. Dia yang terkejut kembali melepaskan Earphonenya.
Nafasnya mulai terengah-engah. Jantungnya rasanya ingin copot saja rasanya sekarang.
Aldo berdiri lalu menengok sebentar Laras yang berada di ruangannya.
"Laras!" panggil Aldo lagi padanya, dia mulai ketakutan sekarang.
Ketika Laras menoleh lalu berdiri. Lampu ruangan itu mati sekejap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
seperti mati lampu yaaa sayang
seperti mati lampu...
2023-04-08
2
@Risa Virgo Always Beautiful
Ternyata Laras tahu kalau Aldo habis bertengkar sama orang tuanya
2023-04-01
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐
Iseng bener kaum lelembut mengganggu Aldo,itu mungkin karena makanan yang masih belum dibuang.
2023-04-01
1