Purnama terlihat megah di atas langit. Bundar bercahaya cantik sekali. Namun alih-alih terpukau justru Rachel hatinya dipenuhi rasa was-was.
Sumpah demi apapun, rasanya hatinya yang paling tak karuan di sini. Sebab mungkin dia masih terhubung dengan Laras melalui bawahan Ratu yang mengikutinya.
Cak Dika beserta tiga Srikandi Gautama sudah sampai tepat di depan tempat kerja Laras. Cosplay Gangster ini melaju dengan kecepatan piston.
Mereka berhenti tepat di depan gedung itu sambil terus menatap gedungnya. Gelap gulita menerkam gedung itu. Aura setan tersebar di mana-mana.
Wah, sangar iki!. Ujar Cak Dika dalam hatinya sambil berseringai.
"Loh gelap sekali ini?" tanya Marsya sambil menatap tak percaya ke arah gedung itu.
Mereka pun turun dari motor mereka masing-masing. Mereka berdiri saling berjajar satu sama lain.
Sepertinya hanya gedung itu saja yang mati total aliran listriknya.
Gedung tempat di mana Laras bekerja ini tak bertetangga. Gedung ini berdiri jauh jaraknya dari gedung-gedung lain.
Hanya ada beberapa warung berjarak sepuluh langkah dari gedung ini. Warung itu pun jumlahnya juga terhitung. Tidak lebih dari lima warung.
Melihat itu Cak Dika tentu saja terkekeh. Dia tau betul apa penyebab aliran listrik di sini mati. Ulah dedemit sialan yang saat ini mengincar Laras.
Apapun yang terjadi Cak Dika pasti akan melindungi keluarganya. Gautama family adalah harta yang paling berarti baginya.
Dia bukan lagi seorang bocah yang akan lari sekarang. Tapi dia akan berada di bagian depan keluarga ini jika ada sesuatu yang mengancam.
"Ini sudah pasti bukan ulah pemadaman listrik pemerintah!" ujar Cak Dika sambil menatap ke arah gedung itu.
Terlihat di atas gedung itu ada rombongan burung gagak yang terbang melingkar. Suara burung itu semakin menambah suasana seram saja rasanya sungguh.
Melihat itu dari dalam tasnya Cak Dika mulai mengeluarkan sesuatu. Beberapa hal ampuh untuk melawan setan. Sebilah bambu juga bawang putih lagi.
"Kalian sudah bawa alat ritualnya?" tanya Cak Dika yang masih menatap ke arah atas gedung.
Pertanyaan dari Cak Dika serentak membuat Rachel, Marsya dan Bella mengangguk. Merekapun juga sama mengeluarkan benda-benda yang sudah dipersiapkan tadi sebelum kemari.
"Yoi, siap Cak!" jawab Marsya penuh semangat.
"Gaslah!" ucap Cak Dika semangat lalu berjalan masuk ke dalam.
Setelah hati mereka cukup mantap. Mereka pun berjalan masuk ke dalam. Tepat ketika mereka melewati pintu masuk.
Di sana terdapat dia pos satpam yang berdiri di samping kiri kanan pintu. Tiap pos ada satpam yang berjaga.
Namun nyatanya para satpam itu malah terpejam. Cak Dika tau, itu mungkin efek dari sihir jahat yang ada dalam gedung ini.
"Kuyang e rekreasi sampai ke kota!" ujar Cak Dika sembari masih berjalan masuk.
"Setannya pasti kena mental Cak, kalau ketemu kamu!" ujar Marsya menimpali. Jawaban itu tentu saja membuat Cak Dika terkekeh.
Ketika kaki mereka jauh menelusuri lantai dua. Suara mbak Kunti mulai berlomba-lomba berpadu menjadi satu bak paduan suara.
Gedung besar ini rata-rata dipenuhi oleh Mbak Kunti rupanya. Namun ketika para setan ini melihat mereka. Sambil masih tertawa kencang mereka menjauh.
Aura keluarga Gautama ini memang tidak diragukan lagi. Khodam yang mereka miliki beraura emas rasanya di mata para setan.
Sehingga bukan malah menyerang balik. Namun mereka justru tunduk dan menjauh.
"Kalian menganggu ketenangan kami!" ujar salah satu setan sambil berterbangan.
Sosok kuntilanak satu ini besar sekali. Dia bahkan memiliki aura yang jauh lebih kuat daripada kuntilanak yang lain.
Tubuh ilusi itu menembus tembok. Surai menjuntainya menutupi wajahnya. Seakan tak ingin memperkenalkan wajahnya.
Mbak Kunti jumbo itu hanya diam menatap ke arah Cak Dika dan rombongannya yang akan melewatinya.
Di dekat kuntilanak besar itu ada satu tangga menuju ke arah lantai tiga. Di mana itu adalah tujuan Cak Dika dan saudara-saudaranya saat ini.
"Bocah! Kalian membawa sesuatu yang tidak kami sukai! Keluar!" teriak kuntilanak itu keras sekali.
Bunyi suaranya yang nyaring itu menusuk masuk telinga Rachel. Kupingnya mau dibuang saja rasanya saat ini.
Nampak Marsya mulai ciut di sana. Dia mencengkram lengan Bella yang berada tepat di hadapannya.
Cak Dika berhenti sejenak mendengar itu. Ketika Cak Dika akan mengatasinya, Rachel lebih dulu berdiri di hadapannya.
Nyai!. Panggil Rachel dalam hatinya. Khodam Nyai Ratu itu kembali memasuki raganya.
"Putuku, ora onok urusan karo koe! Yen enek masalah, tekan Ono aku ae!" ujar khodam Ratu milik Rachel padanya.
Bak bertemu Bapak Negara. Kuntilanak jumbo itu pun ciut nyalinya. Dia segera mundur secara perlahan setelah Rachel menatapnya dengan tatapan tajam.
Kuntilanak jumbo itu tertawa kencang lagi. Namun dia terbang ke atas menembus atap-atap bangunan lalu menghilang.
Ketika Nyai Ratu keluar dari tubuh Rachel. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Widih keren sekali tadi!" ujar Cak Dika menyindir Rachel. Sambil menaiki anak tangga saat ini.
"Apanya yang keren?" tanya Rachel padanya.
"Nyai, sekarang sudah raket aja sama kamu!" ujar Cak Dika lagi.
"Yo gimana gak raket! Mbak kan memang kesayangannya Nyai Ratu sejak lahir!" ujar Marsya yang berada di belakang Rachel menimpali.
"Aku itu ya, kadang iri! Kenapa kamu yang dapat khodam sekuat itu?" ujar Bella yang berada di barisan paling belakang.
"Lah kenapa harus iri? Ratu gak melindungi aku saja. Seluruh keluarga Gautama dia lindungi dan jaga!" jawab Rachel padanya.
Bella dan Marsya mengangguk mendengar itu. Saat ketika mereka akan menimpali lagi perkataan Rachel. Cak Dika berhenti tiba-tiba.
Raut wajah Cak Dika mulai serius ketika melihat perlawanan yang terjadi antara setan cakar milik Laras dengan sesuatu.
Setan bertubuh besar hitam itu terkejut tatkala merasakan keberadaan Cak Dika beserta rombongannya datang.
Matanya yang merah berdarah itu semakin dipenuhi kebencian rasanya. Bak seorang dewa kematian. Cak Dika berjalan mendekati sosok itu.
"Sial kamu memang ya! Ayo adu mekanik sini!" ujar Cak Dika berjalan berani mendekati sosok seram itu.
Nyai, tolong bantu juga!. Ucap Rachel pada sosok Nyai Ratu.
Sosok Nyai Ratu itu tentu saja tidak akan menolak. Dia muncul menghampiri Cak Dika. Nyai Ratu itu terbang di belakang tubuhnya bak seorang pengawal.
Ketika Cak Dika sibuk mengusir setan biadab itu. Rachel, Marsya dan Bella mulai mendekati Laras yang saat ini sedang menenangkan Aldo.
"Ini kemasukan, Bel!" ucap Rachel sambil bersimpuh di hadapan tubuh Aldo yang saat ini tingkahnya tak karuan.
"Aku gak tau, dia tiba-tiba jadi gini tadi setelah lampu mati!" ujar Laras masih memegangi kepala Aldo yang berbaring di pangkuannya.
Rachel mulai mempraktikkan apa yang sudah Cak Dika ajarkan padanya. Bawang putih yang ia bawa itu mulai diletakkan di jempol kaki kanan Aldo.
Mulutnya komat-kamit mulai merapal sesuatu. Ketika sesuatu itu dibacakan terus menerus. Tubuh Rachel mulai bergetar hebat.
Apa yang dia tangani saat ini benar-benar kuat ilmunya. Bella yang paham itupun mengambil posisi tepat di belakang Rachel.
Kemudian dia memejamkan kedua matanya menempatkan telapak tangannya tepat menyentuh punggung Rachel.
Bismillahirrahmanirrahim! Melbuo koe!. Ujar Cak Dika di sana yang mulai memasukkan sosok hitam seram itu masuk ke dalam botol. Beruntungnya perlawanan setan itu tidak lagi sekuat tadi.
Satu setan berhasil di atasi. Ketika Cak Dika berbalik. Dia melihat saudaranya itu sedang kesulitan. Lantas, Cak Dika mendekati mereka.
Ketika Cak Dika menyentuh bahu Rachel. Pengobatan melalui ilmu kejawen itu berhasil di lakukan.
Aldo dengan keringat yang mengucur deras di dahinya itu sadar dengan nafas yang terengah-engah.
Sementara Laras yang masih mengucap syukur. Cak Dika kini kembali berdiri. Dia menatap ke arah salah satu ujung ruangan. Tepat di atas langitnya.
Ada sesuatu semacam api di sana. Dia terbang di udara dan diam.
Api itu perlahan meredup lalu hilang. menampakkan satu sosok mengerikan dengan jeroan yang menggantung.
Sosok kepala dengan jeroan itu menatap lekat ke arah Cak Dika saat ini. Namun alih-alih takut. Justru Cak Dika malah melipat kedua tangannya dan tersenyum.
"Kamu ini dulu saingannya buyut, kan? Dendam kamu, sama keturunan kami? Buyut kami memang sudah mati! Tapi generasi dan ilmunya masih ada sama kami! Ingat ya, sedikit saja kamu berani nyentuh adik-adikku. Kubantai kamu! Tak jual jeroanmu itu lama-lama di pasar organ!" ucap Cak Dika murka.
Sosok hantu kepala dengan jeroan itu adalah Kuyang. Dan itulah Simbah, orang tua dari Ayah Aldo sekaligus alasan kenapa kekayaan mereka tetap terjaga dan tidak ada habisnya.
Menurut gambaran masa lalu. Cak Dika melihat, sosok Simbah ini adalah teman dari buyutnya.
Saat itu mereka yang masih muda merantau di Kalimantan untuk mencari ilmu.
Setelah seluruh ilmu itu didapat. Mereka kembali ke tanah Jawa. Dan di sana mereka mulai membuka mengamalkan ilmunya.
Tapi si Simbah ini malah melenceng dari jalan kebaikan. Akibatnya, mereka yang tinggal satu daerah saat itu saling cek-cok satu sama lain.
Buyut Gautama selaku ketua adat di sana terpaksa harus melawan lalu mengusir si Simbah ini.
Mungkin itulah yang menjadi dendam kesumatnya selama ini ketika melihat Laras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
@Risa Virgo Always Beautiful
Dika kamu memang hebat karena melindungi keluarga kamu
2023-04-08
2
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐
Aldo tidak beruntung menjadi keturunan kuyang,si Simbah tidak melupakan balas dendamnya tapi mungkin kali ini tidak tepat sasaran.
2023-04-01
1
💜⃞⃟𝓛 ⏤͟͟͞R𝐙⃝🦜༄༅⃟𝐐ƙׁׅуα
mungkin ya karena di usir buyut gautama kunyang itu jd dendam
2023-02-22
2