Lama perjalanan kira-kira dua jam. Dan saat ini rombongan Rachel sudah berdiri di stasiun. Mereka sudah sampai. Kota orang cukup asing bagi kaki mereka. Namun pemandangan tiap stasiun selalu saja sama.
Cak Dika terlihat celingukan di antara beberapa orang yang berlalu lalang di stasiun. Cak Dika mencari keberadaan Laras di sana. Dalam teleponnya tadi Laras mengatakan akan menjemput mereka di stasiun.
Hingga matanya tertuju pada sebuah papan kecil yang diangkat. Papan itu bertuliskan I'am here!. Benar bukan? Pemegang papan itu adalah Laras.
Gadis berkemeja putih, dengan lurus sebahu yang tergerai. Gadis itu berdiri di antara kerumunan manusia. Gadis ini tak lain adalah Laras Gautama.
"Nah itu dia!" ucap Cak Dika sambil menunjuk ke arah Laras yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.
Rachel dan Bella pun sontak menatap ke arah yang Cak Dika tunjuk. Marsya juga ikut menatapnya. Melihat keberadaan salah satu saudaranya mereka pun tersenyum.
Sudah lama bagi mereka tidak bertemu satu sama lain. Dahulu mereka semua ini tinggal dalam satu atap rumah yang sama. Saat itu ketika buyut mereka masih hidup.
Namun ketika buyut sudah tidak ada. Maka berpencarlah para anak-anaknya merantau ke kota-kota orang. Demi ingin mencapai cita-cita masing-masing.
Hanya Ibunda Rachel seorang yang masih menetap di sana. Di rumah tua penuh kenangan yang berada jauh di pelosok hutan. Sebuah desa yang masih lekat dengan hal-hal mistis juga ilmu kejawennya.
"Ras, gimana kabarmu?" tanya Bella padanya. Tak lupa Bella memberikan satu pelukan pada Laras sambil tangannya mengusap-usap punggungnya.
Rindu, itulah yang bisa menggambarkan hati mereka satu sama lain ketika bertemu.
"Aku baik, Bel! Kamu gimana? Kalian semua gimana? Sehat,kan?" tanya Laras bertubi-tubi sambil tersenyum.
"Aku, kita semua sehat Alhamdulillah!" jawab Bella padanya.
"Aku dengar kamu habis kejebak di Gunung! Syukur kalo kamu selamat!" ujar Laras lagi padanya.
Ya, Laras tentu saja tau apa yang sudah terjadi pada saudaranya ini. Cak Dika menceritakan pengalaman Bella di dalam grup keluarga.
Ketika kejadian beberapa waktu lalu diungkit. Perasaan tidak enak kembali menghinggapi hati Bella. Penyesalan dalam hatinya masih ada sampai saat ini.
"Mau gimana lagi? Toh, aku juga gatau bakalan jadi kaya' gitu!" jawab Bella dengan raut wajah kecewa.
Rachel sejak tadi di belakang mereka memperhatikan tiap sisi stasiun. Sungguh, stasiun ini dulunya apa? Banyak sekali setan bertengger di dinding bak Spiderman saja.
Sejujurnya dalam stasiun ini. Ada sesuatu yang mengawasi mereka. Jujur saja Rachel merasakannya. Namun ketika sepasang mata sakti miliknya mulai menjelajah.
Kesana-kemari mencari sumber keberadaan suram itu. Rachel sama sekali tidak menemukannya.
Hanya ada sosok gantung diri saja di atas mereka. Sosok berkepala buntung yang sejak tadi berterbangan di atas mereka ke sana kemari.
Sosok arwah penasaran yang kulit tubuhnya pucat sedang menatap mereka sejak tadi. Sosok itu duduk di bangku panjang sambil tersenyum ke arah mereka.
Juga beberapa sosok berkulit hangus dengan pakaian kondektur. Mereka berjalan mengelilingi kereta yang berhenti.
Namun bukan keberadaan mereka yang Rachel rasakan di sini.
Aura kelam ini berasal dari sesuatu selain mereka. Ketika dia sibuk mencari sumbernya. Jari-jari Laras mulai menyentuh pergelangan tangannya.
Jari jemari itu mengerat, menggenggam pergelangan tangan Rachel. Refleks, Rachel jadi menatapnya. Berdirilah Laras tepat di hadapannya saat ini.
"Hel, kamu pasti lagi ngerasain sesuatu kan ya?" tanya Laras padanya.
Dia tau bahwa Rachel sedang merasakan sesuatu yang lain di sini. Rachel ini pemilik salah satu khodam buyut yang paling istimewa.
Bahkan sampai saat ini, baik Cak Dika dan yang lainnya tidak pernah tau. Kenapa Ratu memilih Rachel sebagai pawangnya.
Pertanyaan dari Laras seketika membuat Rachel tersenyum. Laras memang memiliki kekurangan. Tetapi kepekaannya benar-benar luar biasa.
Ketika Rachel akan menjawabnya. Cak Dika yang perutnya sudah keroncongan pun menyelanya,
"Udah, jangan dibahas di sini! Wes sekarang aku mau golek pecel dulu! Luwe!" ucap Cak Dika lalu meninggalkan para adik-adiknya sendiri di sana.
Melihat Cak Dika yang pergi sontak Marsya mengusap dadanya. Dia beristigfar rasanya melihat kelakuan saudaranya itu. Random, kadang gila, kadang serius, kadang acuh dan aneh sekali.
"Hei!" pekik Marsya padanya.
Namun Cak Dika acuh tidak mendengarkan itu. Lain lagi dengan Bella yang malah berbalik malas mengikuti kakaknya itu. Bella sudah hafal perilakunya sebab Bella adik kandungnya.
"Udah ayo, maskotnya kita itu memang agak random!" ucap Bella pada mereka.
"Cacak memang gak pernah berubah ya!" ujar Rachel dan Laras bersamaan.
Tanpa sepatah katapun lagi mereka pun berbalik mengikuti ke mana Cak Dika akan pergi. Dan rupanya satu tempat yang dituju adalah. Warung pecel legendaris kita itu.
________
Sementara itu saat ini di kediaman Aldo. Suara bising dari dua manusia yang saling beradu argumen kembali meriah. Aldo cukup frustasi rasanya ditekan beberapa kali oleh pihak orang tuanya.
"Do, mamamu ini sudah bicara ya!" peringat salah seorang pria paruh baya.
"Apa yang mau dibicarakan lagi?" tanya Aldo padanya menantang. Dia sudah lelah sekal dahulu menuruti perkataan pria itu.
"Sudah kami bilang jangan pernah dekati si buta itu!" ucap Pria paruh baya itu. Nada bicaranya mulai meninggi.
"Lucu, kenapa saya gak boleh dekati dia? Dia bukan seorang pembunuh! Dia manusia baik dan saya menyukainya!" ujar Aldo mantap.
Pria itu menggertakkan giginya kesal rasanya. Ketika tangannya terangkat akan memukul Aldo. Simbah dari salah satu ruang rumahnya keluar.
"Wis, jarno Cah kae pergi!" ujar Simbah.
Mendengar suara itu tentu saja Pria paruh baya ini berhenti. Simbah itu berada di ambang pintu. Dan Simbah itu tidak keluar. Hanya diam di sana menatap ke arah mereka.
Aldo memperhatikan itu. Dia dan keluarganya memang tidak terlalu dekat. Sebab keluarganya ini adalah pemilik salah satu ritual sakti di kampung ini. Mereka bisa menyembuhkan orang. Mereka dipercaya oleh masyarakat kampung ini dengan ilmunya.
Simbah ini sekelas dengan pemangku adat di sini. Orang-orang sangat menghormatinya. Namun tidak dengan Aldo. Dia memilih menjauhi ritual-ritual aneh yang keluarga mereka lakukan.
Seperti ketika tiap malam Jumat mereka akan berada dalam satu ruangan. Ruang itu gelap tanpa adanya pencahayaan. Dan Mama dari Aldo selalu membawa satu lilin masuk ke dalam sana dengan kembang-kembang tujuh rupa.
"Aldo, kalo kami sudah bilang jangan! Maka jangan pernah kamu menentang keinginan kami!" peringat Pria paruh baya itu.
Aldo hanya diam membelakanginya. Aldo mulai mengenakan sepatunya. Dia ingin keluar saja dari rumah ini rasanya.
"Al, kamu mau kemana?" tanya Tante Lina yang saat ini sedang mengandung.
Mendengar suara ibunya itu. Aldo pun menoleh. Dia melihat ibunya datang ke arahnya sambil membawa sesuatu.
"Ada bekal buat kamu, ini! Aku baru saja buat ini!" ucap Tante Lina padanya.
Aldo memandangi beberapa saat bekal itu. Tidak biasanya Mamanya ini akan membuatkan bekal untuknya. Namun kepada seorang ibu. Aldo tidak akan menolaknya. Selagi apa yang diminta itu baik maka Aldo akan melaksanakannya.
Aldo menerima bekal itu lalu menarik tangan Tante Lina, dan menciumnya. Aldo berpamitan pada mereka sekalipun kesal. Sambil membawa bekal dari ibunya itu, Aldo berjalan ke arah mobilnya lalu masuk ke sana.
"Kamu buatin dia apa tadi?" tanya Pria paruh baya itu.
Di sana Lina hanya tersenyum miring. Ada sesuatu dalam makanan itu. Sesuatu yang jahat yang ingin menguasai Aldo. Sejujurnya keluarga Aldo ini sudah tau perihal ilmu yang Laras miliki. Mereka juga tau perihal seluk beluk keluarga Gautama.
Dan lagi, mereka juga tau atas kedatangan Cak Dika, Rachel, Marsya dan Bella kemari. Ilmu hitam mereka sudah sejak semalam mengawasi mereka.
"Gadis buta itu! Dia mencoba menantang kita sekarang! Aku akan coba buat Aldo bertekuk lutut sekali lagi pada kita. Ada ilmu yang aku sisipkan di dalam makanan itu. Ilmu itu cukup kuat! Dan aku ingin tau, seberapa sakti cecunguk rendahan itu!" ujar Tante Lina sambil tersenyum sinis.
Mendengar itu baik Simbah dan Pria paruh baya tersenyum miring. Tante Lina mengusap-usap perutnya yang mulai membuncit itu. Janin di dalam sana tiga hari lagi usianya genap empat bulan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Junn
nasi kangkang kh??
2024-01-28
0
Junn
nasi kangkang kh??
2024-01-28
0
dementor
janin buat persembahan kuyang.. dasar para manusia gila..
2023-06-09
2