Tadi Cak Dika memilih salah satu warung. Ketika dia ingin makan di sana. Laras menolaknya, dan dia menyarankan untuk dibungkus saja. Laras juga mengatakan bahwa dia sebentar lagi akan pergi bekerja.
Mendengar itu, Cak Dika pun mengangguk menyetujui. Dia mengalah, lagi pula makanan pagi ini Laras lah yang membayarnya.
Pada akhirnya nasi pecel itu tetap didapat oleh mereka. Namun dibawa pulang dan dimakan dirumah Laras.
Meja bundar milik Laras saat ini di kelilingi oleh manusia yang tak lain adalah anggota keluarga Gautama sendiri. Mereka sedang menikmati nasi pecel bungkus yang baru saja mereka beli.
Cak Dika terlihat lahap sekali menyantap makanannya. Benar-benar seperti orang yang tidak makan seminggu rasanya. Bayangkan saja, dua bungkus nasi sudah habis dilahapnya.
Rachel terlihat sudah menyelesaikan makannya lebih dulu. Dia memperhatikan satu sudut ruangan saat ini.
Sosok cakar itu masih berada di sana sambil menatapnya. Sosok itu, menunduk tak berani menatap Rachel. Tentu saja, cakar milik Laras adalah salah satu bawahan dari khodam Ratu miliknya.
Rachel tersenyum memperhatikan itu. Kebahagian dalam hatinya walau secuil Laras pun juga merasakannya. Laras menatap ke arah Bella saat ini.
"Kenapa kamu memperhatikan dia, hel?" tanya Laras padanya.
Rachel tersenyum lalu menatap ke arah Laras.
"Dia masih di sini rupanya ya? Aku pikir sudah pergi!" jawab Rachel padanya.
"Udah kecantol dia sama aku! Sekarang jadi pengikut setiaku!" ucap Laras padanya bangga.
Dentingan sendok dan garpu yang usai, membuat mereka diam. Cak Dika sudah menyelesaikan makannya. Dan saat ini mereka semua sedang menatapnya.
Sudah waktunya bagi Rachel, Bella dan Marsya mendengarkan perihal alasan mengapa mereka datang kemari. Dan untuk Laras, dia sudah tidak sabar rasanya untuk bercerita.
Cak Dika sambil mengunyah makanannya menatap heran ke arah saudaranya. Tatapan mereka yang serentak rasanya membuat Cak Dika merinding.
Tatapan wanita memang mengerikan!. Pikir Cak Dika.
"Kenapa tatapan kalian seram gitu? Lebih seram dari tatapan mbak Kun!" ucap Cak Dika lalu meraih segelas teh hangat di meja itu dan meminumnya.
"Cak, langsung saja ya! Aku mau cerita perihal Aldo!" ucap Laras yang mulai serius.
Laras sudah hampir kehabisan waktu. Dan dia harus menumpahkan seluruh keluh kesah dalam hatinya pada Cak Dika.
Cak Dika manggut-manggut mendengar apa yang Laras katakan. Dia sudah cukup siap mendengar keluh kesah saudaranya itu.
"Kemarin, aku liat sesuatu yang aneh! Mata batinku, dibawa masuk ke alam sebelah. Dan disana aku lihat, ada ibunya Aldo. Dia terkapar lemah di atas ranjang bambu. Kakinya mengangkang saat itu, dan darah keluar dari dalam ***********. Lalu tak lama ada seorang nenek masuk membawa seorang bayi yang baru saja lahir. Nenek itu meletakkan bayi itu di atas batu. Tak lama kepalanya terangkat dan copot. Kepala itu terbang ke arah ibunya Aldo. Di sana dia seperti memakan sesuatu. Yang aku tau selang beberapa menit setelahnya, ketika kepala yang putus itu kembali menyatu dengan tubuhnya. Bayi yang berada di atas batu itu diserahkan pada Ibu Aldo." jelas Laras.
Laras menghentikan ceritanya sejenak sebelum dia akan mengajukan pertanyaan,
"Pertanyaanku, Kuyang itu makan janin yang usianya empat bulan bukan? Jika Aldo adalah anak dari Tante Lina, lalu apa yang kuyang santap saat itu? Aldo ini sudah lahir, kenapa kok bisa kuyang itu masih memakan sesuatu di dalam tubuh ibunya Aldo?" tanya Laras pada Cak Dika.
Raut wajah Laras yang serius membuat Cak Dika tersenyum. Baik Rachel dan Bella dibuat bingung rasanya melihat ekspresi itu. Ekspresi itu seketika berubah ketika Marsya menggebrak meja itu.
Brakkkkkk
Raut wajah Marsya murka. Jantungan rasanya orang-orang yang duduk di meja itu tadi. Rachel yang minum seketika menyemburkan kembali minumannya. Bella, dia mundur dari meja itu terkejut.
"Bocah-bocah tengik! Kalian pikir saya gak tau kalian mau ngapain? Kalian keluarga Gautama, cenayang kelas teri. Mau meringkus aku? Tidak! Aku tidak akan dikalahkan semuda itu!" geram Marsya.
Suara yang keluar dari dalam tubuh Marsya bukanlah suaranya. Suara itu berat namun suara seorang wanita. Sedikit serak seperti suara seorang nenek-nenek tua.
"Jamput, demit ora onok otak Iki!" ucap Cak Dik kaget lalu membanting gelas plastik miliknya yang kosong ke lantai.
Tak hanya dirinya saja yang kaget. seluruh saudaranya juga. Bahkan mereka refleks saja mundur menjauhi meja itu.
Membiarkan Marsya di sana mengamuk mengacak-acak barang yang ada di atas meja. Setan ini reog tak karuan.
Nampak Barend berpindah duduk di atas ranjang Laras. Setan Belanda itu tadi juga ikut duduk di samping Marsya. Setan cilik itu takut menatap ke arah Marsya yang kesurupan.
Cak Dika yang geram langsung saja mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dendam dia rasanya, hampir saja tadi dia tersedak karena ulah setan ini. Sebilah bambu kuning di tangan kirinya dan bawang putih di tangannya ia bawa.
Sambil membawa itu Cak Dika berjalan ke arah Marsya. Dia menepuk-nepuk tubuh itu menggunakan piring kuning. Namun rupanya setan yang merasuk itu malah semakin menggila.
"Ayo bantu, dek!" ucap Cak Dika sambil memegangi tangan Marsya yang hendak berontak.
Bella dan Rachel pun ikut serta membantu. Mereka mulai memegangi tubuh Marsya agar tidak berontak lagi.
Tubuh itu dijatuhkan terlentang oleh mereka. Namun kaki dan tangan Marsya tetap saja berontak. Dia seperti ingin melukai mereka.
Bahkan saat ini kedua bola mata membulat penuh kebencian kepada mereka. Melihat posisi yang cukup pas itu. Cak Dika segera menempelkan bawang putih yang ia bawa tepat di jempol kaki kana Marsya.
Setan di dalam tubuh itu bereaksi seketika. Dia berteriak-teriak sambil kepalanya menggeleng-geleng cepat.
"Awas kalian!!! Mati kalian!!!" ujar Demit dalam tubuh Marsya.
Setelah perkataan itu terucap. Marsya pun kembali pulih. Dia terengah-engah, letih rasanya ketika tubuh manusianya dimasuki barang halus.
"Sepertinya sudah terjawab ya, Laras!" ucap Cak Dika sambil masih memandangi Marsya. Cak Dika berbicara pada Laras tanpa menoleh.
"Apanya yang jelas?" tanya Laras padanya.
"Kuyang itu adalah salah satu dari anggota keluarganya. Kuyang yang kamu lihat saat itu, dia masih hidup sampai sekarang!" jawab Cak Dika.
Kemudian tubuh itu berbalik menghadap ke arah Laras. Cak Dika duduk bersila, kali ini tampangnya begitu serius. Sorot matanya menatap tepat ke arah Laras.
"Aldo bukan anak kandung dari ibunya! Ibunya hanya seorang pelakor. Aldo adalah anak dari istri pertama dari pria yang kamu lihat di dalam pengelihatanmu. Istri pertama itu, dia tidak lagi dicintai saat itu. Sebab dia cacat saat itu akibat kecelakaan. Dalam kecacatannya itu dia hamil besar. Dan anak yang di dalam sana adalah Aldo itu sendiri. Hubungan gelap antara pria itu dan Lina terus berjalan. Sampai pada akhirnya Lina mengandung benih dari pria itu. Keduanya sama-sama penganut ajaran sesat. Ilmu mereka tinggi, dan mereka haus kekayaan. Saat itu malam satu suro, kandungan Lima bertepatan umurnya empat bulan. Dan Istri pertama dari pria itu juga meronta-ronta akan melahirkan. Ada satu ritual yang harus dijalankan keluarga pria itu! Yaitu pemberian tumbal janin pada Simbah, ibu dari pria itu. Simbah inilah alasan kenapa kekayaan Aldo tidak ada habisnya!" jelas Cak Dika berhenti sejenak lalu menyeruput teh miliknya.
"Malam itu, mereka merencanakan untuk mengorbankan anak dalam kandungan Lina. Pengorbanan itu akan membuat Lina bahagia dengan hidup bersama dengan pria itu. Hidup bersama bergelimpangan kekayaan. Sampai ketika saat kelahiran itu terjadi Simbah membunuh ibu kandung Aldo setelah Aldo dilahirkan. Lalu dia memakan bayi berusia empat bulan itu sebagai syarat agar kekayaannya tetap terjaga. Hari itu, dia sudah melenyapkan dua nyawa sekaligus. Nyawa dari bayi yang belum lahir. Dan nyawa, seorang ibu yang susah payah melahirkan!" jelas Cak Dika.
Kaki Laras lemas rasanya mendengar itu. Dia memang tau ada yang aneh dalam keluarga Aldo. Pemuda itu benar-benar mirip sekali skenario hidupnya.
"Terus aku harus gimana, Cak?" tanya Laras pada Cak Dika.
"Kalian ini saling suka ya?" tanya Cak Dika sambil memperhatikan raut wajah Laras.
Laras tentu saja tertegun mendengar itu. Tapi amg benar apa yang Cak Dika katakan.
"Ya memang!" jawab Laras padanya tanpa ragu.
Cak Dika hanya manggut-manggut saja. Matanya sedikit melirik ke arah kalender. Malam satu suro akan terjadi tiga hari lagi.
"Aku paham kok rencana mereka! Pesenku satu, jangan pernah makan makanan apapun yang keluarga Aldo berikan. Cegah dia juga untuk memakan itu, lalu jelaskan! Jika ada ajian jahat dalam makanan itu! Tiga hari setelah ini, bawa dia datang kemari! Suruh dia menginap di sini semalam!" ucap Cak Dika.
Laras mengangguk menyetujui itu. Ketika dia akan bertanya lagi pada Cak Dika, suara klakson mobil di luar rumahnya mulai menggema beberapa kali. Laras tau, itu adalah mobil Aldo.
"Pacar sudah datang! Sudah, kamu kami awasi dari sini jangan takut. Silahkan bekerja, Laras!" ucap Rachel pada Laras.
"Jangan lupa bawakan nasi Pasang nanti kalo pulang!" ujar Cak Dika.
Laras terkekeh mendengar itu. Dia pun berpamitan dengan saudaranya lalu segera pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Hihh serem nya orang2 begitu itu ya
2023-11-19
0
dementor
orang2 yang bersekutu dengan para iblis.. Astafiruglah ya Allah..
2023-06-09
3
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kasian laras... suruh bawa nasi padang.. kan jauhhhh hrus ke padang
2023-04-08
2