Buliran keringat mereka besarnya sudah sebiji jagung saja rasanya. Mereka berlari tak tau arah entah ke mana. Saat ini mereka berhenti sejenak mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal.
Yono celingukan menatap ke belakang mencoba mencari sosok seram yang tadi sempat mereka temui. Kemudian tatapannya kembali ke arah Bella yang saat ini masih mengatur nafas.
Tyas juga sudah tak karuan di sana. Dia bersandar di pohon besar sambil mendongak, menangis. Tangisan itu pertanda kelemahan. Energi mereka semakin kuat jika manusianya semakin takut.
"Yas, kamu yang tenang!" ucap Pram di samping Tyas menenangkan.
Walaupun hatinya saat ini juga takut dan kalut. Tetapi Pram mencoba kuat. Jika mereka semua di sini patah semangat dan ketakutan. Maka jalan pulang tidak akan pernah ada untuk mereka.
"Tenang Mbahmu!" pekik Tyas yang sudah naik pitam rasanya.
"Kita hampir mati di sini loh! Kalian tau memangnya ini di mana?" tanya Tyas lagi bola matanya berair tak kuasa sudah menahan tangisnya.
Ras takut dan marah menjadi satu padu rasanya. Tyas mencengkram baju Pram lalu menatapnya tajam.
"Aku gak mau mati di sini!" ucap Tyas marah.
Bella yang melihat itu menghampiri mereka. Dia di sana mencoba memisahkan keduanya, menengahinya.
"Kalian ini loh kenapa? Sudah tau situasinya genting begini! Sudah, jangan bertengkar! Sekarang misinya cuma satu, kita harus turun. Kita berlima, tidak boleh kurang!" tegas Bella pada kedua rekannya.
Tyas menghela nafas mendengar itu kemudian berpaling ke arah lain. Sedangkan Rio saat ini wajahnya semakin pucat.
Rio didudukkan Pram di bawah pohon rindang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Yono memperhatikan Rio yang hampa wajahnya di sana.
"Bel, apa lebih baik kita tinggal saja Rio?" tanya Yono pada akhirnya memilih untuk menyerah.
"Kenapa? Padahal tadi yang ngotot bawa Rio kamu loh!" jawab Bella sambil menatap Yono yang menunduk.
"Kondisinya udah di luar kemampuan kita, Bel!" ucap Yono.
"Bener kata Mas Yono, udah tinggal aja si Rio! Dia goblok, ngapain juga sajen dimakan. Toh, logistik kita masih ada? Gila dia!" ujar Tyas kembali murka.
Kondisi ini memang akan membuat adu argumen di antara mereka. Bella tau itu, beberapa temannya ini tidak terlalu peka terhadap barang halus.
Mereka yang tidak pernah melihat. Akan menggila ketika pertama kali setan menerornya. Bella paham, ini sudah di luar nalar. Dan bisa dikatakan saat ini mereka sedang terjebak di Alam Sebelah.
Sebuah alam sakral tempat tinggal para setan. Alam sakral yang akan terus memangsa meneror jiwa-jiwa hidup sampai mereka mati.
Ditambah semakin tinggi gunung. Semakin mereka berada di atas. Dimensi para makhluk ghaib akan semakin kuat adanya.
"Hahahahahaha... Hahahaha..." Bahak tawa Rio mengundang perhatian mereka menoleh ke arah Rio saat ini.
Senter mereka nyalakan. Mereka menyorot tepat ke arah Rio yang berdiri membelakangi pohon besar. Rio yang tadinya duduk sekarang berdiri sambil menunduk dan tertawa kencang.
Bulu kuduk Tyas meremang seketika. Hutannya gelap dan lampu senter hanya tersorot pada Rio yang tertawa kencang di sana. Tyas sontak saja mencengkram lengan Yono.
Mata mereka sama sekali tak terlepas pada Rio di sana. Bahak tawanya besar sekali seakan merengkuh jiwa mereka saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka saat ini syok ketakutan.
"Hahahaha... A.. Ada mangsa!" ucap Rio mengeram.
Itu bukan suaranya. Suara Rio tidak seberat itu. Tiap kali dia berbicara Rio selalu mendesis. Seperti perwujudan ular. Namun yang Bella lihat saat ini. Tubuh itu sedang dirasuki oleh sesuatu yang jahat.
Sebangsa siluman berkepala ular. Bella memekik kecil lalu memejamkan kedua matanya. Pusing sekali rasanya.
"Kamu harus keluar dari sini, Bella!" ujar suara Albert salah satu sosok hantu Belanda yang selalu bersama Bella.
"Bagaimana caraku keluar dari dalam sini?" tanya Bella padanya.
"Tinggalkan saja temanmu itu di sini! Lagi pula, dia yang berbuat kesalahan di gunung pasti tidak akan selamat!" tutur Albert padanya.
Dancuk! Percuma jawaban setan ini juga sama egoisnya!. Ucap Bella dalam hatinya.
Kerasukan yang terjadi tidak berlangsung lama. Rio pada akhirnya pingsan saat itu juga. Ketika Bella akan berjalan mendekati Rio. Sedangkan seluruh temannya hanya terpaku tak berani mendekat.
Sebuah tangan besar dari gelapnya belantara sedang mengintai Bella. Bella bersimpuh di hadapan Rio yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bel!" ucap Pram padanya.
Bella yang bersimpuh di hadapan Rio sontak menoleh ke belakang. Dilihatnya di sana seluruh temannya membulatkan matanya ke arahnya. Kesan yang Bella tangkap dalam tatapan itu adalah ketakutan luar biasa.
Bella tidak tau apa artinya tatapan itu. Namun ketika dia menoleh kembali ke depan. Sepasang tangan besar hitam mendekapnya masuk ke dalam hutan semakin dalam.
Bella diam tak berteriak. Perihal suara yang dia serukan melalui bibir tidak keluar sama sekali. Dia bisu dalam kegelapan setan mengukungnya.
Di sana Bella hanya mampu mendengar seluruh teriakan rekannya yang mulai berhamburan pergi. Bella juga kehilangan kesadarannya saat itu juga.
"Cak.. Dika.." lirih Bella tanpa suara.
Suara itu sampai tepat pada Cak Dika yang saat ini sudah berada di depan pintu masuk registrasi gunung. Cak Dika berdiri di gerbang itu bersama dengan Rachel dan Marsya.
Dengan alat pendakian lengkap mereka siap mengeksplorasi puncak sana. Mencari keberadaan Bella yang sedang dalam bahaya.
Cak Dika tau sebab salah satu teman astral Bella datang menyampaikan apa yang terjadi. Bella adalah adik kandung Cak Dika. Sekaligus saudara Rachel dan Marsya.
"Gas!" ucap Cak Dika setelah berdoa.
Semangatnya berkobar-kobar membuat Rachel dan Marsya saling tatap. Di wajahnya tidak ada kesedihan. Melainkan wajah datar biasanya.
"Terus kita carinya gimana Cak?" tanya Marsya sambil berjalan mengikuti Cak Dika.
"Manusia yang tidak bersalah! Tidak boleh dilahap oleh penunggu di sini!" jawab Cak Dika.
"Yang Marsya tanyakan itu! Bagaimana kita nanti bisa menemukan Bella?" tanya Rachel menimpali kali ini.
"Rupanya semakin kesini kamu banyak bertanya juga ya, Rachel?" jawab Cak Dika sambil tersenyum.
"Bocah Gendeng! Padahal adikmu itu hilang dilahap Alam Sebelah. Tapi kamu malah senyum-senyum gitu wajahmu!" jawab Rachel kesal.
Mendengar itu Cak Dika hanya tertawa saja. Mereka bertiga mulai berjalan masuk ke arah gunung Lawu. Menelusuri seluk beluk hutan yang rapat pepohonan.
"Kalau ada Cak Dika di sini! Semuanya beres! Tapi terkadang harus ada perelaan jika kita mau menyelamatkan seseorang dari Alam Sebelah!" jawab Cak Dika sambil menatap ke depan.
Rachel menangkap maksud dari perkataan itu. Artinya, akan ada seseorang yang mati setelah mereka berhasil membawa Bella kembali dari Alam Sebelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
biar ku tebak orang yang bakal meninggal,pasti si Rio soal e si Rio udah makan sajen ,dan kemungkinan untuk selamat kayak susah dehh
2025-04-03
0
Ipank Surya
sumpah si Rio ngin cari mati aja ,udah nyusahin teman temannya juga ,udah tinggal in aja biar dia tanggung sendiri perbuatan nya
2025-04-03
0
Ipank Surya
ganjil nih gak boleh,sama saja kalian ingin mencari celaka kalau ganjil
2025-04-03
0