Baik Bella dan temannya di sisi berbeda. Keduanya sama-sama berlari. Mulai dari kuntilanak yang bertengger di atas mereka. Sampai dengan keberadaan pocong yang duduk di atas batu yang kadang mereka lewati.
Suara tawa mereka membuat mereka semakin takut. Namun apa daya mereka. Mereka harus tetap melangkah. Hampir gila rasanya mereka ditekan seperti ini.
"Bella!!!" teriak Yono sambil berlari meneriakkan na Bella.
"Bella!!!" teriak Pram menimpali.
Dalam hati mereka berharap, bahwa Bella akan mendengar suara mereka di sini. Mereka sudah sangat lelah berlarian ke sana kemari. Haus dan lapar. Logistik mereka semakin menipis.
Jika logistik mereka habis, maka rasanya sudah tidak ada harapan lagi bagi mereka. Manusia bertahan sebab adanya asupan.
Jika logistik habis makanan dan minuman tak ada. Bagaimana cara mereka bertahan hidup di dalam belantara gelap ini.
Sosok seram yang mereka temui tadi sudah tidak mengejar mereka. Selama satu jam mereka terus saja berlari mencari keberadaan Bella.
Hingga mereka berhenti lagi kali ini. Mengatur nafas mereka yang memburu. Di tengah mereka yang sedang mengatur nafas. Tyas mematung matanya menatap ke arah depan sana.
Tyas menepuk-nepuk Pram yang masih menunduk sambil berkacak pinggang mengatur nafasnya. Ditepuk berulang kali oleh Tyas membuatnya jengkel juga lama-lama.
"Apasih Yas?" tanya Pram padanya.
Namun Tyas tidak menjawab itu. Dia menunjuk-nunjuk ke depan ke arah seorang gadis bermuka pucat dengan Surai panjang yang menjuntai.
Gadis itu berpakaian Hoodie dengan Daypack yang ia kenakan. Sepatu yang ia kenakan juga sepertinya adalah sepatu pendaki.
Yono dan Pram sontak melihat ke arah yang Tyas tunjuk. Sosok pucat itu wajahnya tidak terkendali. Kulit tangannya memutih.
"Kabur lagi ini, Mas?" tanya Tyas sambil tersenyum miring.
Aku pegel, setan Iki!. Batin Tyas sambil menatapnya.
Yono yang kesal pun menggeleng cepat. Tidak lagi, mereka tidak akan berlari-lari terus. Mereka bisa mati jika terus-menerus lari. Air minum yang mereka hemat bisa habis seketika nanti.
"Udah biarin aja! Aku wis capek rasane! Udah diam aja, lagian kita juga gak ganggu dia!" ucap Yono pada temannya.
"Mbak, siapapun kamu yang berdiri di depan kami sekarang. Teman kami Rio sudah hilang, kalian mengambilnya. Tapi kami, di sini tidak bersalah! Jadi tolong jika mungkin kembalikan Bella dan kami ke alam kami. Ini bukan tempat kami mbak, maafkan kami jika memang kami bersalah di sini! Kami sedang cari jalan keluar!" jelas Pram pada sosok itu.
Sosok gadis pucat itu mengangguk kemudian. Cahaya headlamp yang tersorot ke arahnya perlahan mulai mengedip beberapa kali. Sepertinya lampu headlamp akan habis.
Mereka saling terdiam satu sama lain. Hingga kedipan terakhir membuat lampu headlamp mereka benar-benar mati. Sontak saja Tyas mengeluarkan handphonenya. Flash dia nyalakan, dia arahkan tepat ke arah sosok itu.
Namun bukan sosok itu lagi yang berada di sana. Melainkan Bella, dia datang ke arah mereka sambil berlari.
"Bella!" seru mereka bersamaan.
Bella yang letih pun menabrak tubuh Pram saat itu. Kepalanya bertengger di bahu Pram. Seakan Bella sedang memeluknya saat ini.
"Ayo kita pergi!" ucap Bella pada mereka.
"Kamu gapapa, kan Bel?" tanya Pram padanya.
Bella menggeleng cepat mendengar itu. Sejenak Bella memejamkan kedua matanya. Dia berusaha mencari koneksi pada beberapa teman ghaibnya.
Namun koneksinya tidak menghasilkan apapun. Bella mencobanya lagi dan kali ini ada satu suara yang bicara di antara upayanya itu.
"Hantu pendaki itu mana?" tanya Bella membuka matanya menatap ke arah teman-temannya.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanya Yono heran padanya.
Bella baru saja datang. Dan yang melihat sosok itu tadi hanya mereka bertiga tanpa Bella.
"Nanti aku jelaskan kalau kita sudah keluar dari dalam sini!" ucap Bella.
Mereka mengangguk. Mereka memilih berjalan lagi kali ini. Sampai sebuah cahaya terang jauh di depan mereka membuat mereka terkejut.
Tak hanya terkejut mereka juga senang. Mereka berpikir sepertinya itu adalah jalan keluar mereka.
Dengan rasa bahagia mereka mendatangi itu sambil berlari. Wajah mereka yang kotor penuh debu itu sumringah. Ketika mereka hampir mendekati itu.
Sial sungguh sial! Lagi-lagi para setan ini mempermainkan mereka. Banaspati besar terbang ke atas. Melihat itu mereka pun segera berbalik berlari sekencang-kencangnya melarikan diri.
Hingga cukup jauh setelahnya banaspati itu tidak lagi mengejarnya mereka. Banaspati itu hilang seketika. Dan pada saat itulah. Di tengah lelahnya, Bella melihat sosok hantu pendaki itu.
Dia berdiri di sana agak jauh dari mereka. Sosok hantu itu menatap ke arah Bella. Namun kali ini, hanya Bella saja yang mampu melihatnya sedangkan yang lain tidak.
"Dia datang!" ujar Bella pada seluruh rekannya.
Temannya yang lelah sontak saja melihat aneh ke arah Bella. Apa yang datang? Mereka sama sekali tak tau. Tapi Bella, menunjuk ke arah belantara.
"Dia menunjuk arah itu!" ucap Bella pada temannya.
"Siapa Bel?" tanya Pram padanya.
"Sudah ayo kita ikuti saja!" ucap Bella pada temannya.
Bella sudah lelah, dia tidak ingin menjawab apapun yang rekannya tanyakan. Pada intinya prioritasnya saat ini adalah kembali ke tempat mereka. Alam sebelah cukup berbahaya menghajar mental mereka.
Hantu pendaki wanita itu terus saja menunjukkan arah pada Bella. Dan Bella juga tidak berhenti mengikutinya. Sampai sudah mereka berempat di depan batu besar.
Di atas batu itu ada burung jalak yang menatap mereka. Ketika mereka melewati samping batu itu. Angin sejuk kembali menerpa mereka. Langit yang tadinya gelap seketika terang kembali.
Dan di sana berdirilah Rachel, Cak Dika dan Marsya. Mereka tersenyum ke arah Bella yang baru saja datang. Bella terharu rasanya melihat itu.
Ketiga temannya saat ini menangis sambil bersimpuh. Bersyukur sekali rasanya mereka bisa kembali secara utuh.
"Cacak!!!" teriak Bella berlari ke arah Cak Dika lalu memeluknya.
"Kamu kok lama datangnya!" ucap Bella sambil menjambak rambut Cak Dika.
"Heh, sakit dek!" ujar Cak Dika sambil meringis sakit.
"Biarin, salahmu datangmu telat!" ujar Bella menangis.
Bella melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Rachel dan Marsya. Mereka sama-sama tersenyum.
"Gautama family sudah di sini! Kamu tenang aja, Bel!" ucap Marsya pada Bella.
Bella hanya mengangguk kemudian dia teringat pada Rio yang tidak ikut keluar bersama mereka. Cak Dika yang tau itu pun hanya mampu menyentuh bahu Bella mencoba menenangkan adiknya itu.
"Maaf ya! Kalau dia di luar kemampuan Cacak!" ujar Cak Dika.
Bella hanya mampu mengangguk pasrah. Setelah seluruh rentetan kejadian itu. Mereka pun kembali turun kembali dari gunung itu.
Cak Dika dan Bella beserta temannya melaporkan bahwa temannya hilang. Setelah melapor, keesokan harinya Tim SAR mulai mencari keberadaan Rio.
Tepat pukul tiga pagi, keberadaan Rio ditemukan. Tubuh itu sudah tidak bernyawa terpelosok di jurang. Dari kejadian itu mental Bella sedikit terpukul.
Namun atas support dari Rachel, Marsya dan Cak Dika. Mental Bella perlahan mulai pulih. Di sana dia mengatakan pada Cak Dika,
"Cak, aku mau lebih dalam mempelajari kemampuanku!" ucap Bella pada Cak Dika.
Ah, ini adalah hal bagus bagi Cak Dika. Akhirnya adiknya mau bergabung dengannya. Dengan ini rombongannya menjadi empat orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
itu bukan manusia,itu pasti pendaki yang meninggal di gunung lawu
2025-04-03
0
Ipank Surya
Rio udah di ambil sama setan yang ada di gunung Lawu
2025-04-03
0
Ipank Surya
jangan diam aja ,sambil baca doa sama istigfar
2025-04-03
0