Tarikan sesuatu yang membawanya hingga pingsan. Saat ini membawa Bella tidur telentang di antara Belantara.
Dia masih di sana sambil terpejam. Kesadarannya hilang ketika sesuatu itu datang merengkuh mendekapnya lalu mengambil kesadarannya.
"Bel... Bella... Kamu gak mau bangun?" Suara bising di samping tubuhnya mulai menyerukan namanya.
Bella sedikit terusik oleh suara itu. Lantas perlahan ia mulai membuka kedua matanya. Tepat di hadapannya berdiri Tyas sedang menatapnya sambil membawa secangkir kopi panas.
"Aku kenapa bisa pingsan?" tanya Bella sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Gak apa kok Bel, kamu mungkin aja kecapean! Mau dibuatkan minum gak?" jawab Tyas padanya lalu mengajukan tawaran jamuan.
Sejenak Bella memperhatikan seluruh temannya yang saat ini duduk melingkar agak jauh dari tempatnya. Jika sebelum ia hilang kesadaran tadi seluruh temannya syok ketakutan.
Tetapi tidak di sini, seluruh temannya termasuk Rio. Mereka semua sedang bercengkrama satu sama lain. Bahkan bahak tawa mereka terdengar lepas nan bebas rasanya memenuhi angkasa.
Bella menatap ke arah Tyas kemudian. Teman perempuannya itu masih setia memperhatikannya. Lalu Bella kembali menatap ke atas ke arah langit. Di sana masih gelap. Bella juga merasakan bahwa terpaan angin di sini tak ada.
Tidak ada kicauan burung. Tidak ada suara burung hantu atau serangga kecil di sini. Hutan yang biasa Bella temui tiap malam selalu berisik dengan ragam suara hewan yang mengembara saat malam menjelang.
Situasi ini mulai ia analisa dengan sebaik-baiknya. Tentu saja, ini di luar nalar manusia. Bahkan, Bella juga masih ingat wajah ketakutan seluruh rekannya saat itu. Dan satu lagi, sosok yang membekapnya tadi.
"Kamu kenapa Bel?" tanya Tyas padanya dengan nada khawatirnya.
Perlahan Bella mulai berdiri dan Tyas masih tetap setia memperhatikannya. Logistik memang tidak berada dalam Carriernya. Bella adalah pembawa Carrier dokumentasi.
Seluruh isi tasnya adalah benda-benda berupa camera,tripod dan drone. Pendaki gunung akan sebelum mereka naik. Jika naiknya mereka rombongan.
Maka mereka akan mengatur barang bawaan. Setelah itu dalam perjalanan naik nanti. Barang bawaan per-Carrier yang mereka bawa akan dirolling. Tujuannya adalah agar semuanya sama merasakan beban Carrier yang mereka pikul.
Beruntungnya Bella ingat bahwa di dalam tasnya saat ini ada daun Bidara. Ini sudah tidak masuk akal menurut Bella.
Perlahan tangan kanannya mulai merogoh bagian tempat minum Carriernya. Di situlah daun Bidara miliknya ia letakkan. Tyas membulatkan mata ketika melihat telapak tangan Bella yang menggenggam daun itu.
Bella memperhatikan wajah Tyas yang ada di hadapannya. Wajah itu berubah kesal saat ini. Bella sudah tau itu. Apa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah temannya. Melainkan sosok ghaib yang menyerupainya.
"Hahaha..." tawa Tyas padanya.
Bella tetap diam sambil memperhatikan Tyas yang tertawa lepas. Tawanya itu membuat beberapa temannya di belakang tubuhnya menoleh ke arah mereka.
"Kau sudah tau rupanya ya?" ujar Tyas.
Suaranya berat seperti suara lelaki. Perlahan wujud itu kembali menampakkan dirinya. Sosok manusia beserta rombongannya yang datang ke puncak tadi menemuinya.
"Satu di antara kalian tidak menghormati kami! Jadi biarkan anak itu tetap tinggal di sini. Kau lihat bukan di belakang kami saat ini ada satu kayu lebar yang kami bawa?" ujar sosok itu.
Bella melihat ke belakang. Temannya tadi sekejap berubah menjadi rombongan yang sama yang mereka temui di atas puncak.
Lagi, Bella memperhatikan satu kayu panjang yang dibawa salah satu rombongan orang itu. Lantas apa maksudnya itu? Bella tidak tau sama sekali.
"Kalau kamu dan ke empat temanmu yang lain mau selamat. Maka tinggal dia yang bersalah di sini! Batas waktu kalian sampai jam tiga pagi.
Jika kalian masih berada di wilayah kami. Maka jangan harap kalian selamat!" tutur pria yang Bella temui di puncak.
Lantas rombongan yang Bella tatap sekejap matanya berubah memerah. Baju adat yang mereka kenakan perlahan mulai berubah acak-acakan.
Ini adalah wujud ketika mereka mati. Beberapa di antara mereka bahkan wajahnya rusak tak karuan.
"Nduk, Panjenengan peka kale barang Alus. Kayu sing digowo Iki, iku pertandae! Yen kudu onok darah sing mati nak tanah Iki. Sembarangan maem sajen digawe bongsoku, Lapo toh kok kudu maem kui?!"
Salah satu rombongan pembawa kayu itu bicara pada Bella. Rupa-rupa menyeramkan itu perlahan memudar setelah mengatakan itu. Bella hanya MPU terpaku dikukung oleh banyaknya makhluk halu mengerikan itu.
Tubuhnya seakan membeku walaupun kakinya serasa ingin berontak. Tapi setelah sosok itu hilang dari hadapannya, kakinya kembali mampu digerakkan.
Ketakutan sejadi-jadinya menjalari dirinya. Bella yang mampu bergerak pun berlari sekencang-kencangnya tak tau arah akan ke mana. Intinya di tengah pelariannya itu dari atas pohon suara bahak tawa berat menertawakannya.
Takut, tentu saja dia takut. Bahkan rasanya ingin pingsan saja. Bella memang sudah akrab dengan hal ghaib sejak kecil. Dia bisa melihat mereka. Tetapi tetap saja, dia tidak pernah ditempatkan di posisi sekelam ini.
Di lain tempat rombongan teman Bella juga sama-sama berlari. Sosok hitam dengan mata merah sejak tadi mengincar mereka. Rio tidak lagi bersama dengan mereka.
Ketiganya berlari memikirkan keselamatan mereka masing-masing. Hingga mereka kembali berhenti sambil terengah-engah.
"Hiks.. Hiks... Aku emoh mati mas! Aku pingin metu!" ucap Tyas sambil terisak.
Logikanya rasanya sudah mati saat ini. Ketakutan itu sudah menguasainya. Tyas mencengkram lengan Yono lalu menangis sejadi-jadinya.
"Bella dan Rio gimana?" tanya Pram pada keduanya sambil terengah-engah.
"Kita cari Bella!" jawab Yono memberi perintah.
"Bocah gendeng Iki! Kamu liat sendiri, kan? Manusia rambutan hitam itu masih ada. Kalo kita cari Bella, kita dibunuh nanti gimana?" tanya Tyas murka.
"Memangnya kamu bisa keluar dari sini tanpa Bella? Yang salah itu Rio, memang aku gak mau ninggal dia di sini! Tapi kalau memang dia salah ya mau gimana lagi? Tapi Bella, dia itu gak bersalah!" jawab Pram mencoba memberi pencerahan pada Tyas yang sudah gelap mata rasanya.
"Dancuk! Sudah, ayo kita cari! Debat terus kapan pulangnya kita?" tegas Yono pada mereka.
Mau tidak mau dengan langkah kaki yang berat Tyas kembali melangkahkan kakinya untuk berjalan. Mereka tidak menemui jalan setapak. Tidak ada trek yang mereka ikuti. Mereka berjalan sesuai insting mereka di antara kegelapan malam.
Sementara Bella dan temannya berusaha mencari jalan keluar. Di depan sebuah candi Cak Dika, Rachel dan Marsya duduk. Mereka menghadap ke arah candi itu.
"Lah nyapo kok berhenti Cak?" tanya Marsya padanya. Marsya memperhatikan bangunan candi itu.
"Ya sudah sampai kita berarti!" jawab Cak Dika sambil tersenyum menatap ke arah Candi.
Rachel diam memperhatikan Candi itu sekilas. Lalu netranya kembali menatap Cak Dika yang duduk bersila di hadapan Candi itu. Di sana Cak Dika mulai mengatupkan tangannya dan terpejam.
Rachel tau apa yang sedang Cak Dika lakukan. Menghubungi beberapa teman ghaib milik Bella. Sepertinya Cak Dika sedang meminta jawaban dari mereka mengenai keberadaan Bella.
Rachel juga memilih untuk membantu di sini. Dia juga memejamkan kedua matanya mencoba mencari keberadaan teman ghaib Bella. Hingga satu suara dalam pejamkan mata itu mengatakan satu hal padanya,
Ikuti, burung jalak!. Ucap Suara itu, baik Cak Dika dan Rachel pun sama-sama membuka kedua matanya.
Saat itu juga di depan Candi tepat di atasnya. Berdiri seekor burung jalak menatap ke arah mereka. Mereka berdua tau itu bukan burung jalak biasa.
Cak Dika berdiri kemudian. Dia diam namun segera berjalan. Burung itu terbang menyusuri hutan, menuntun rombongan Cak Dika entah kemana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
si Rio inii si Rio pelaku nya yang makan sajen si Rio nyusahin teman temannya aja,rio² greget sekali akuu
2025-04-03
0
Ipank Surya
gwe kasihan Ama di Bella padahal dia gak ada salah apa apa ,malah hilang
2025-04-03
0
Ipank Surya
Masak Bella harus jadi korban nya,gak bisa sih inii
2025-04-03
0