Bab 3 : Sepuh dan Mediasi

Kira-kira sudah ada sekitar seminggu setelah kejadian di mana Aku dan Marsya tersesat dalam dimensi sebelah.

Sejak saat itu ternyata Ibunda tercinta kami. Nyonya Gautama terhormat, sengaja mengundang sepuh kemari. Sepuh ini umurnya sekitar 26 tahun, lebih tua dari aku lima tahun.

Di umurku yang ke 21 ini Ibunda memintaku dan Marsya ikut bergabung bersama dengan Sepuh. Katanya ini semacam ekspedisi mengarungi tempat ke tempat.

Jika Marsya memanggilnya Sepuh maka aku sejak dulu memanggilnya Cak Andika, atau Cak Dika. Dia ini anak dari Paman, Ibundaku. Dulu Paman sempat tinggal di sini beberapa tahun.

Cak Dika dan Aku teman sepermainan juga dulu. Kami sering main di lapangan besar belakang kuburan. Hawa di sana syahdu, enak sekali dibuat santai.

Terakhir sebelum dia pindah ke Banyuwangi, aku dan dia masih sempat main bola di lapangan. Waktu itu bahkan hampir magrib. Mitosnya lapangan itu angker. Sebab ada Wit Weringin besar yang letaknya berada di tengah kuburan.

Almarhum Abah dulu mengingatkan pada kami berdua untuk selalu pulang sebelum magrib dari tempat itu. Karena saat itu kami masih kecil, ya kami nikmati permainan itu sampai adzan magrib.

Tendangan terakhir dari Cak Dika tidak bisa kutahan. Bola kami masuk ke area kuburan. Umurku saat itu enam tahun dan Cak Dika sebelas tahun.

Aku dan Cacak sempat bertengkar di sana, menyuruh satu sama lain untuk masuk ke dalam dan mengambil bola itu.

Langitnya semakin gelap. Tak ada penerangan memang di sana. Hanya ada lampu minyak yang menyala di tengah pohon besar itu. Lampu itu tidak ada yang memegang. Dia melayang di sana di antara kegelapan.

Bola kami yang masuk tepat berada di bawah lampu minyak itu. Aku dan Cak Dika cuma mampu melihat sambil diam kami bisu seketika saat itu.

"Wes ora usah diambil, Cak!" ucapku kepada Cak Dika atau Sepuh.

Cak Dika menggelengkan kepalanya menanggapi itu. Sebab itu bola dari Almarhum Ibundanya, itulah kenapa dia enggan pulang tanpa bola itu.

Aku melihat ke atas sebentar, langitnya semakin gelap dan lagi ada kilatan petir sejak tadi menyambar-nyambar.

"Ayo pulang, Cak!" ucapku sambil menarik tangannya memintanya agar ikut bersamaku.

Tapi Cak Dika menepis tanganku kasar. Kami berdua berteriak satu sama lain. Memakai satu sama lain tak ingin kalah. Wajar saja, saat itu kami masih anak-anak.

"Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!" ucap Cak Dika dengan nada kesalnya.

Matanya mulai berkaca-kaca sambil menatapku. Dia yang menghadapku saat itu tidak sadar. Bahwa tepat di balik tubuhnya. Dari atas pohon beringin itu, wujud nenek-nenek mulai tergambar jelas.

Dari atas dedaunan yang mekar malam itu. Perlahan rambut putih panjang menjuntai kebawah. Rambut itu begitu panjang, padahal jarak antara dedaunan atas dan latar bawah bebatuan. Tempat dimana pohon itu berdiri kokoh cukup jauh.

Rambut semacam apa sepanjang itu tiba-tiba turun memanjang menjuntai menyentuh bebatuan. Aku hanya mampu membulatkan kedua mataku, terpaku. Menatap lekat ke arah satu tangan dengan cakar panjang yang mulai turun ke bawah.

Satu tangan lagi turun, rambut itu putih, itu uban dan sampai saat ini aku masih ingat jelas penampakan itu. Ketika tubuhnya perlahan nampak aku sadar itu bukan manusia.

Sosok nenek tua dengan pakaian putih menatap kami. Matanya memerah dengan taring-taring panjang. Liurnya menetes-netes, dia menatap kami benci.

Sosok nenek sialan itu merangkak kebawah hingga sampai di atas batu beringin tepat di depan bola milik kami.

Tubuh bongkoknya itu berjalan ke arah kami. Sontak tangan kananku hanya mampu menunjuk-nunjuk ke belakang menyuruh Cak Dika menoleh, sekedar melihat ancaman yang sedang datang ke arah kami.

Ketika Cak Dika menoleh, soalnya dia malah berteriak lalu berlari pergi meninggalkan aku yang masih terpaku. Sumpah demi apapun, aku tidak bisa bergerak.

Kedua mataku bahkan tidak bisa tertutup. Kedua bola mata itu seakan sengaja dipaksa terbelalak menatap sosok setan jompo di hadapanku ini.

Dia tidak berjalan kakinya melayang tak tersentuh tanah. Bahak tawanya kencang sekali. Mentalku di sini benar-benar di uji. Sepertinya aku tidak akan selamat malam ini.

Kalaupun aku selamat nanti, maka kejadian ini akan selalu kuingat sampai mati nanti. Tubuh sosok seram ini perlahan mulai menyatu masuk ke dalam jari kelingking tangan kananku.

Area tubuh bagian kananku seketika membeku. Peredaran darah di sana sekejap berhenti. Tubuh bagian kananku bergetar dan mataku masih enggan terpejam. Aku sampai heran rasanya, kenapa aku tidak pingsan saja saat itu.

Wong tuek, jompo sialan!. Umpat Ratu dari dalam tubuhku mengambil alih diriku.

(Orang tua, jompo sialan!)

Saat itu beruntung sekali jimat itu kubawa. Jika tidak mungkin aku sudah Modar saat itu juga. Perwujudan sosok berwibawa itu datang masuk dalam tubuhku. Sosok tua bertaring itu seketika mundur. Dia menatap ke arahku masih dengan kedua mata merahnya.

Terusno ganggu cah Iki nek koe segan! Wani nyekel cah Iki, entek koe nak tanganku!. Ucap Nyai.

(Terusin ganggu anak ini kalau kamu berani! Berani nyentuh anak ini, habis kamu di tanganku!)

Sosok tua bertaring itu seketika ciut. Dia sungkem tepat di depan tubuhku. Bersamaan dengan itu Cacak dan Abah datang lagi menjemputku.

Aku tidak akan tau kejadian itu jika Nyai tidak memperlihatkannya kepadaku. Sejak saat itu, tiap aku ingat perihal itu. Dan tiap kali aku melihat Cak Dika di sini. Tanganku gatal ingin bertumbuk saja dengannya.

Sebab yang aku kesalkan adalah, ketika dia lari meninggalkan aku sendiri di sana. Sudah, hanya itu! Dan sekarang Cak Dika sedang membujukku untuk ikut bersamanya menjelajah. Oh tidak, aku tidak mau merasakan hal sama terulang lagi!

Goblok, kalau aku menyetujui permintaannya di sini. Saat ini Cacak, Aku dan Marsya sedang duduk di ruang tamu. Di sana juga ada Ibunda, dia sedang menikmati makanannya sambil menatap kami bertiga.

"Sudah nduk, ikuti saja Cacakmu ini!" ujar Ibunda kepadaku.

Serangan jantung aku rasanya.

"Aku gak mau! Ibunda menyuruhku bunuh diri?" tanyaku kepada Ibunda.

Beliau hanya menutup camilannya lalu menatapku kali ini. Namun di sana dia hanya tersenyum sambil memandangiku.

"Abah loh selalu sama kamu! Kamu dijaga banyak orang, Nyai, Abah, Buyut pun jaga kamu! Kamu ini salah satu turunan kami yang istimewa sama seperti Cacak Andika!" jelas Ibunda.

"Wong dia yo penakut kok!" potongku pada Ibunda.

"Ora, lah aku bisa itu keluarin kamu dari alam sebelah seminggu lalu! Sudah, ikut aja Rachel!" ucap Cak Dika berusaha membela diri.

Marsya berdiri setelah Cak Dika mengatakan itu. Aku dan Ibunda juga Cak Dika jelas menatapnya sekarang.

"Aku ikut cak!" ucap Marsya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas dengan muka cerianya.

Sekutuku semudah itu dikelabui Cacak. Sepertinya aku kekurangan voting di sini. Pada akhirnya aku kembali menerima paksaan mereka.

Hal ghaib yang berusaha aku hindari, justru semakin dekat merengkuhku. Sepertinya ini memang sudah takdir keluarga Gautama.

Cacak mengeluarkan tujuan ekspedisi pertamanya. Dia bilang ada seseorang yang butuh bantuannya di Banyuwangi. Dan letak tempatnya singgah berada tepat dekat dengan Alas Purwo.

Situs hutan terangker dari jaman kerajaan, hingga saat ini. Tujuan eksplorasi pertama kami akan di mulai catatan pertamanya di Alas Purwo.

Terpopuler

Comments

Ipank Surya

Ipank Surya

jangan bengong mngkannya apalagi di kuburan ,bikin gereget ajee🤣🤣

2025-04-02

0

Ipank Surya

Ipank Surya

udah tau angker,masih main aja truss , masyaallah tabarakallah

2025-04-02

0

Ipank Surya

Ipank Surya

main nya ngeri ,di samping kuburan udah kayak paranormal aja🤣🤣

2025-04-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Katanya, itu Wong Medi!
2 Bab 2 : Alam Sebelah
3 Bab 3 : Sepuh dan Mediasi
4 Bab 4 : Setan Alas 1
5 Bab 5 : Setan Alas 2 (Astral Projection)
6 Bab 6 : Sesajen Gunung Lawu 1 (Bocah Goblok)
7 Bab 7 : Sesajen Gunung Lawu 2 (Turun, Cuk!)
8 Bab 8 : Sesajen Gunung Lawu 3 (Mudun)
9 Bab 9: Sesajen Gunung Lawu 4 (Terpisah)
10 Bab 10: Sesajen Gunung Lawu 5 (Kejar-kejaran)
11 Bab 11: Sesajen Gunung Lawu 6 (Ketemu)
12 Bab 12: Janin yang Mati karena Tumbal 1
13 Bab 13: Janin yang Mati karena Tumbal 2
14 Bab 14: Janin yang Mati karena Tumbal 3
15 Bab 15: Janin yang Mati karena Tumbal 4
16 Bab 16: Janin yang Mati karena Tumbal 5
17 Bab 17: Janin yang Mati karena Tumbal 6
18 Bab 18: Janin yang Mati karena Tumbal 7
19 Bab 19: Janin yang Mati karena Tumbal 8
20 Bab 20: Kembalikan Pusakanya 1
21 Bab 21: Kembalikan Pusakanya 2
22 Bab 22: Kembalikan Pusakanya 3
23 Bab 23: Kembalikan Pusakanya 4
24 Bab 24: Kembalikan Pusakanya 5
25 Bab 25: Gunung Arjuno 1 (Budal)
26 Bab 26: Gunung Arjuno 2 (Via Lawang)
27 Bab 27: Gunung Arjuno 3 (Gelut)
28 Bab 28: Gunung Arjuno 4 (Rampung)
29 Bab 29: Dari dalam Kain Kafan 1 (Pelaris)
30 Bab 30: Dari dalam Kain Kafan 2 (Darah)
31 Bab 31: Dari dalam Kain Kafan 3 (Kata Tumbal)
32 Bab 32: Dari dalam Kain Kafan 4 (Kesepakatan Klampis Ireng)
33 Bab 33: Dari dalam Kain Kafan 5 (Klampis Ireng)
34 Bab 34: Dari dalam Kain Kafan 6 (Mencari jalan keluar)
35 Bab 35: Istirahat Sebentar
36 Bab 36: Pesugihan Soto Ayam
37 Bab 37: Diputarin dalam Dimensi Ghaib
38 Bab 38: Kandang Tuyul
39 Bab 39: Saling Kontraksi
40 Bab 40: Ajian Rawa Rontek
41 Bab 41: Nafas Mayat
42 Bab 42: Peliput Kematian
43 Bab 43: Jin Samber Nyowo (Teluh)
44 Bab 44: Sepetak Tanah (Bukti)
45 Bab 45: Penduduk dari Desa Keramat (Karang Kenik)
46 Bab 46: Mengembalikan Pak Joko
47 Bab 47: Hotel Berhantu
48 Bab 48: Buyut Gautama
49 Bab 49: Taman Safari Setan
50 Bab 50: Puncak Pawitra (Penanggungan)
51 Bab 51: Di lacak Mbak Rara
52 Bab 52: Petuah dari Maung
53 Bab 53: Senopati Maung
54 Bab 54: Darah dari Keturunan Majapahit
55 Bab 55: Lawang Sewu (Jawa Tengah)
56 Bab 56: Assalamualaikum, Lawang Sewu!
57 Bab 57: Kembalikan Sandi!
58 Bab 58: Santai Dululah
59 Bab 59: Dusun Dukuh Legetang (Hilang dalam Satu Malam)
60 Bab 60: Sodom Gomoroh
61 Bab 61: Di Kaki Gunung Pengamun-amun
62 Bab 62: Metu Rek!
63 Bab 63: Karir yang Mulai Melejit (Tumpengan)
64 Bab 64: Memasuki Tahun 1942
65 Bab 65: Hindia Belanda 1942
66 Bab 66: Ini untuk Barend, dari Oudere Brour (Kakak laki-laki)
67 Bab 67: Pembantaian Orang Kulit Putih
68 Bab 68: Ledakan dari Sepatuku
69 Bab 69: Tragedi Gadis Terpasung
70 Bab 70: Hallo Melissa!
71 Bab 71: Eksekutor Terkejam (Story' of Melissa)
72 Bab 72: Selang Tiga Puluh Tahun
73 Bab 73: Gerbang yang Mempertemukan Mereka
74 Bab 74: Manusia dengan Abu Mayat di Tubuhnya
75 Bab 75: Gelanda, Melissa dan Hantunya
76 Bab 76: Mengusir Setan Psikopat
77 Bab 77: Kontrakan Berhantu
78 Bab 78: Masuk Menelusuri Kontrakan
79 Bab 79: Demit Asuh
80 Bab 80: Kamu tau gak Suramadu?
81 Bab 81: Mobil Kosong
82 Bab 82: Gerbang Ghaib Suramadu
83 Bab 83: Rachel Demam
84 Bab 84: Penjara Kalisosok
85 Bab 85: Penjara Kalisosok (Sejarah Kelam VOC)
86 Bab 86: Balutan Sejarah Penjara VOC
87 Bab 87: Albertus Van Colline
88 Bab 88: Rumah Hantu Darmo
89 Bab 89: Ada apa sebenarnya?
90 Bab 90: Pelaku Eksekutor Penjanggal
91 Bab 91: Kembali Lagi ke Tapal Kuda
92 Bab 92: Secangkir Teh dari Dek Rara
93 Bab 93: Manusia yang Sesumbar Perkataannya
94 Bab 94: Teror Pocong Gandis (Sehari setelah pemakaman)
95 Bab 95: Kesepakatan
96 Bab 96: Mencari Bukti
97 Bab 97: Bilik Penyesalan (Suara Pezina)
98 Bab 98: Hanya dia yang paling tulus
99 Bab 99: Anak Setan Sialan
100 Bab 100: Lathi Sang Penggibah
101 Bab 101: Potret Ghaib (Kamera milik Bella)
102 Bab 102: Rachel dan Proyek Rumah Sakit
103 Bab 103: Gedung Tua Hampir Terbengkalai
104 Bab 104: Battle Royal Sang Maskot
105 Bab 105: Eksekusi Kuyang (Sop-sop an)
106 Bab 106: Perihal Kematian Gelanda
107 Bab 107: Kisah Gelanda dan Dua Orang Temannya
108 Bab 108: Hilang di Dalam Dekapan Everest
109 Bab 109: Pegunungan Anjasmoro (Prepare)
110 Bab 110: Terjebak dalam Kesunyian
111 Bab 111: Menelusuri Gerbang Astralnya
112 Bab 112: Menemukan Andika dan Richard
113 Bab 113: Kesepakatan dan Bebas
114 Bab 114: Keselek Lento
115 Bab 115: Selimut dari Rumah Sakit Lama
116 Bab 116: Dia yang Datang di Mimpi
117 Bab 117: Dia yang Mati Terjepit Hingga Remuk
118 Bab 118: Menemui Laras
119 Bab 119: Sebuah Permintaan (Perjanjian)
120 Bab 120: Hilangnya Salah Satu Kemampuan Mereka
121 Bab 121: Dia yang Mati Karena Ledakan
122 Bab 122: Rumah Duka (Ruang Nomor 2)
123 Bab 123: Tak Luput Dari Dosa
124 Bab 124: Rumah Duka
125 Bab 125: Kamar Mayat (Penyelesaian)
126 Bab 126: Setan Bangsat (Selesai)
127 Bab 127: Setan Herex
128 Bab 128: Motor Setan
129 Bab 129: Misteri Sirkuit Balap Liar
130 Bab 130: Jalan Raya Daendels (Masalah)
131 Bab 131: Perjalanan Waktu
132 Bab 132: Mobil Jenazah dan Dua Dukun
133 Bab 133: Mobil yang Nyasar di Alam Sebelah
134 Bab 134: Dunia Mereka yang Sakral
135 Bab 135: Dua Dukun Pengabdi Setan
136 Bab 136: Salah Satu Bayi yang Hampir Mati
137 Bab 137: Kekuatan Doa
138 Bab 138: Goa Pemakan Bocil
139 Bab 139: Salah Satu dari Makhluk Pantai Selatan
140 Bab 140: Undangan dari Laras
141 Bab 141: Menuju ke Altar Pernikahan
142 Bab 142: Selamat Menempuh Kehidupan Baru Laras
143 Bab 143: Babi Ngepet
144 Bab 144: Manusia yang Makan Kotoran
145 Bab 145: Penjebakkan
146 Bab 146: Bau Babi
147 Bab 147: Pengantin Bergaun Putih
148 Bab 148: Maung dan Barend
149 Bab 149: Sepotong Kepala yang Dikubur
150 Bab 150: Ketika Gerbang Ghaib dibuka
151 Bab 151: Kembalikan
152 Bab 152: Sumur yang dikeramatkan
153 Bab 153: Sumur Lor
154 Bab 154: Terowongan Ghaib
155 Bab 155: Adu Mekanik
156 Bab 156: Oh jadi ini alasannya!
157 Bab 157: Ini sudah satu jam!
158 Bab 158: Rehat Sejenak
159 Bab 159: Gadis yang Bersedih
160 Bab 160: Gadis yang Mati Sesak di Lemari
161 Bab 161: Rachel dan Thariq
162 Bab 162: Uneg-uneg Cak Dika dan Thariq
163 Bab 163: Cerita dari Masa Lalu dan Pertengkaran Sesama Setan
164 Bab 164: Kamu, kamu milikku!
165 Bab 165: Rumah yang Aneh
166 Bab 166: Misteri Rumah Pak Joko
167 Bab 167: Masa Lalu Bella (Mas Suhu)
168 Bab 168: Mas Suhu Bertemu Cak Dika
169 Bab 169: Tiga orang yang mati
170 Bab 170: Kemampuan Mas Suhu
171 Bab 171: Potretnya boleh tak beli?
172 Bab 172: Ibarat Museum Hantu
173 Bab 173 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 1)
174 Bab 174 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 2)
175 Bab 175: Pemuja Pohon Beringin (Bagian 3)
176 Bab 176 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 4)
177 Bab 177 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 5)
178 Bab 178: Pemuja Pohon Beringin (End)
179 Bab 179: Surat Kabar
180 Bab 180 : Gadis yang Duduk di Tiang Lampu Jalanan
181 Bab 181 : Pesan Kematian (Korban Bully)
182 Bab 182 : Si Nduk Kesayangan Ibuknya
183 Bab 183 : Bercak Darah yang Tidak Bisa Hilang
184 Bab 184 : Dia Datang
185 Bab 185 : Makhluk itu kekasihku!
186 Bab 185: Mas Suhu dan Perjalanan Alesya
187 Bab 187 : Alesya dan Kekasih Ularnya
188 Bab 188 : Bella Cemburu
189 Bab 189 : Kaca Rias
190 Bab 190 : Menarilah Anakku
191 Bab 191 : Menolak Takdir Tuhan
192 Bab 192 : Tumbal Gadis Perawan
193 Bab 193 : Kematian Meta di Pelosok Hutan (Tragedi Air Terjun Berdarah)
194 Bab 194 : Kematian Rara dan Sebuah Penyesalan
195 Bab 195 : Kematian Rara dan Sebuah Teka-teki
196 Bab 196 : Akan Kubunuh Kalian
197 Bab 197 : Ra, jangan pergi ya!
198 Bab 198 : Maung yang Memanggil
199 Bab 199: Perihal Kematian
200 Bab 200 : Sebuah Suara dan Memori
201 Bab 201 : Kamu kenapa?
202 Bab 202 : Sebuah Kain dari Organ Vital
203 Bab 203 : Rachel dan Thariq (Pengungkapan)
204 Bab 204 : Arwah yang Selalu Menangis
205 Bab 205 : Balas Dendam
206 Bab 206 : TEROR
207 Bab 207 : Sepasang Suami Istri Penyembah Buto (Pembantaian Keturunan) 1
208 Bab 208 : Sepasang Suami Istri Penyembah Buto (Pembantaian Keturunan) 2
209 Bab 209 : Sepasang Suami Istri Penyembah Buto (Pembantaian Keturunan) 3
210 PENGUMUMAN
211 Pengumuman Penting
212 Bab 210 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 4)
213 Bab 211 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 5)
214 Bab 212 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 6)
215 Bab 213 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 7)
216 Bab 214 : Ini Rahasia Keluarga Kami
217 Bab 215 : Sebuah Panggilan
218 Bab 216 : Dia yang Datang dengan Lampu Lilin
219 Bab 217 : Tragedi Kepala Terbang
220 Bab 218 : Ikuti Tiap Tandanya
221 Bab 219 : Dia yang Berteriak Kencang
222 Bab 220 : Karma dan Jenglot
223 Bab 221 : Bantuan Datang
224 Bab 222 : Calon Mayat
225 Bab 223 : Pak Dokter tanpa Kaki yang Menyapaku
226 Bab 224 : Gadis dan Cerita Dokter Tanpa Kaki yang Menyapaku
227 Bab 225 : Dokter Abigael
228 Bab 226 : Gema Suara dan Bisikkan
229 Bab 227 : Menemui Rachel Gautama
230 Bab 228 : Mimpi yang Sama dan Pengakuan (Tebusan Dosa)
231 Bab 229 : Ini Ilham dari Mimpi
232 Bab 230 : Manusia itu Serakah
233 Bab 231 : Rachel Gautama
234 Bab 232 : Kok, hilang!
235 Bab 233 : Manusia yang Gelap Matanya
Episodes

Updated 235 Episodes

1
Bab 1 : Katanya, itu Wong Medi!
2
Bab 2 : Alam Sebelah
3
Bab 3 : Sepuh dan Mediasi
4
Bab 4 : Setan Alas 1
5
Bab 5 : Setan Alas 2 (Astral Projection)
6
Bab 6 : Sesajen Gunung Lawu 1 (Bocah Goblok)
7
Bab 7 : Sesajen Gunung Lawu 2 (Turun, Cuk!)
8
Bab 8 : Sesajen Gunung Lawu 3 (Mudun)
9
Bab 9: Sesajen Gunung Lawu 4 (Terpisah)
10
Bab 10: Sesajen Gunung Lawu 5 (Kejar-kejaran)
11
Bab 11: Sesajen Gunung Lawu 6 (Ketemu)
12
Bab 12: Janin yang Mati karena Tumbal 1
13
Bab 13: Janin yang Mati karena Tumbal 2
14
Bab 14: Janin yang Mati karena Tumbal 3
15
Bab 15: Janin yang Mati karena Tumbal 4
16
Bab 16: Janin yang Mati karena Tumbal 5
17
Bab 17: Janin yang Mati karena Tumbal 6
18
Bab 18: Janin yang Mati karena Tumbal 7
19
Bab 19: Janin yang Mati karena Tumbal 8
20
Bab 20: Kembalikan Pusakanya 1
21
Bab 21: Kembalikan Pusakanya 2
22
Bab 22: Kembalikan Pusakanya 3
23
Bab 23: Kembalikan Pusakanya 4
24
Bab 24: Kembalikan Pusakanya 5
25
Bab 25: Gunung Arjuno 1 (Budal)
26
Bab 26: Gunung Arjuno 2 (Via Lawang)
27
Bab 27: Gunung Arjuno 3 (Gelut)
28
Bab 28: Gunung Arjuno 4 (Rampung)
29
Bab 29: Dari dalam Kain Kafan 1 (Pelaris)
30
Bab 30: Dari dalam Kain Kafan 2 (Darah)
31
Bab 31: Dari dalam Kain Kafan 3 (Kata Tumbal)
32
Bab 32: Dari dalam Kain Kafan 4 (Kesepakatan Klampis Ireng)
33
Bab 33: Dari dalam Kain Kafan 5 (Klampis Ireng)
34
Bab 34: Dari dalam Kain Kafan 6 (Mencari jalan keluar)
35
Bab 35: Istirahat Sebentar
36
Bab 36: Pesugihan Soto Ayam
37
Bab 37: Diputarin dalam Dimensi Ghaib
38
Bab 38: Kandang Tuyul
39
Bab 39: Saling Kontraksi
40
Bab 40: Ajian Rawa Rontek
41
Bab 41: Nafas Mayat
42
Bab 42: Peliput Kematian
43
Bab 43: Jin Samber Nyowo (Teluh)
44
Bab 44: Sepetak Tanah (Bukti)
45
Bab 45: Penduduk dari Desa Keramat (Karang Kenik)
46
Bab 46: Mengembalikan Pak Joko
47
Bab 47: Hotel Berhantu
48
Bab 48: Buyut Gautama
49
Bab 49: Taman Safari Setan
50
Bab 50: Puncak Pawitra (Penanggungan)
51
Bab 51: Di lacak Mbak Rara
52
Bab 52: Petuah dari Maung
53
Bab 53: Senopati Maung
54
Bab 54: Darah dari Keturunan Majapahit
55
Bab 55: Lawang Sewu (Jawa Tengah)
56
Bab 56: Assalamualaikum, Lawang Sewu!
57
Bab 57: Kembalikan Sandi!
58
Bab 58: Santai Dululah
59
Bab 59: Dusun Dukuh Legetang (Hilang dalam Satu Malam)
60
Bab 60: Sodom Gomoroh
61
Bab 61: Di Kaki Gunung Pengamun-amun
62
Bab 62: Metu Rek!
63
Bab 63: Karir yang Mulai Melejit (Tumpengan)
64
Bab 64: Memasuki Tahun 1942
65
Bab 65: Hindia Belanda 1942
66
Bab 66: Ini untuk Barend, dari Oudere Brour (Kakak laki-laki)
67
Bab 67: Pembantaian Orang Kulit Putih
68
Bab 68: Ledakan dari Sepatuku
69
Bab 69: Tragedi Gadis Terpasung
70
Bab 70: Hallo Melissa!
71
Bab 71: Eksekutor Terkejam (Story' of Melissa)
72
Bab 72: Selang Tiga Puluh Tahun
73
Bab 73: Gerbang yang Mempertemukan Mereka
74
Bab 74: Manusia dengan Abu Mayat di Tubuhnya
75
Bab 75: Gelanda, Melissa dan Hantunya
76
Bab 76: Mengusir Setan Psikopat
77
Bab 77: Kontrakan Berhantu
78
Bab 78: Masuk Menelusuri Kontrakan
79
Bab 79: Demit Asuh
80
Bab 80: Kamu tau gak Suramadu?
81
Bab 81: Mobil Kosong
82
Bab 82: Gerbang Ghaib Suramadu
83
Bab 83: Rachel Demam
84
Bab 84: Penjara Kalisosok
85
Bab 85: Penjara Kalisosok (Sejarah Kelam VOC)
86
Bab 86: Balutan Sejarah Penjara VOC
87
Bab 87: Albertus Van Colline
88
Bab 88: Rumah Hantu Darmo
89
Bab 89: Ada apa sebenarnya?
90
Bab 90: Pelaku Eksekutor Penjanggal
91
Bab 91: Kembali Lagi ke Tapal Kuda
92
Bab 92: Secangkir Teh dari Dek Rara
93
Bab 93: Manusia yang Sesumbar Perkataannya
94
Bab 94: Teror Pocong Gandis (Sehari setelah pemakaman)
95
Bab 95: Kesepakatan
96
Bab 96: Mencari Bukti
97
Bab 97: Bilik Penyesalan (Suara Pezina)
98
Bab 98: Hanya dia yang paling tulus
99
Bab 99: Anak Setan Sialan
100
Bab 100: Lathi Sang Penggibah
101
Bab 101: Potret Ghaib (Kamera milik Bella)
102
Bab 102: Rachel dan Proyek Rumah Sakit
103
Bab 103: Gedung Tua Hampir Terbengkalai
104
Bab 104: Battle Royal Sang Maskot
105
Bab 105: Eksekusi Kuyang (Sop-sop an)
106
Bab 106: Perihal Kematian Gelanda
107
Bab 107: Kisah Gelanda dan Dua Orang Temannya
108
Bab 108: Hilang di Dalam Dekapan Everest
109
Bab 109: Pegunungan Anjasmoro (Prepare)
110
Bab 110: Terjebak dalam Kesunyian
111
Bab 111: Menelusuri Gerbang Astralnya
112
Bab 112: Menemukan Andika dan Richard
113
Bab 113: Kesepakatan dan Bebas
114
Bab 114: Keselek Lento
115
Bab 115: Selimut dari Rumah Sakit Lama
116
Bab 116: Dia yang Datang di Mimpi
117
Bab 117: Dia yang Mati Terjepit Hingga Remuk
118
Bab 118: Menemui Laras
119
Bab 119: Sebuah Permintaan (Perjanjian)
120
Bab 120: Hilangnya Salah Satu Kemampuan Mereka
121
Bab 121: Dia yang Mati Karena Ledakan
122
Bab 122: Rumah Duka (Ruang Nomor 2)
123
Bab 123: Tak Luput Dari Dosa
124
Bab 124: Rumah Duka
125
Bab 125: Kamar Mayat (Penyelesaian)
126
Bab 126: Setan Bangsat (Selesai)
127
Bab 127: Setan Herex
128
Bab 128: Motor Setan
129
Bab 129: Misteri Sirkuit Balap Liar
130
Bab 130: Jalan Raya Daendels (Masalah)
131
Bab 131: Perjalanan Waktu
132
Bab 132: Mobil Jenazah dan Dua Dukun
133
Bab 133: Mobil yang Nyasar di Alam Sebelah
134
Bab 134: Dunia Mereka yang Sakral
135
Bab 135: Dua Dukun Pengabdi Setan
136
Bab 136: Salah Satu Bayi yang Hampir Mati
137
Bab 137: Kekuatan Doa
138
Bab 138: Goa Pemakan Bocil
139
Bab 139: Salah Satu dari Makhluk Pantai Selatan
140
Bab 140: Undangan dari Laras
141
Bab 141: Menuju ke Altar Pernikahan
142
Bab 142: Selamat Menempuh Kehidupan Baru Laras
143
Bab 143: Babi Ngepet
144
Bab 144: Manusia yang Makan Kotoran
145
Bab 145: Penjebakkan
146
Bab 146: Bau Babi
147
Bab 147: Pengantin Bergaun Putih
148
Bab 148: Maung dan Barend
149
Bab 149: Sepotong Kepala yang Dikubur
150
Bab 150: Ketika Gerbang Ghaib dibuka
151
Bab 151: Kembalikan
152
Bab 152: Sumur yang dikeramatkan
153
Bab 153: Sumur Lor
154
Bab 154: Terowongan Ghaib
155
Bab 155: Adu Mekanik
156
Bab 156: Oh jadi ini alasannya!
157
Bab 157: Ini sudah satu jam!
158
Bab 158: Rehat Sejenak
159
Bab 159: Gadis yang Bersedih
160
Bab 160: Gadis yang Mati Sesak di Lemari
161
Bab 161: Rachel dan Thariq
162
Bab 162: Uneg-uneg Cak Dika dan Thariq
163
Bab 163: Cerita dari Masa Lalu dan Pertengkaran Sesama Setan
164
Bab 164: Kamu, kamu milikku!
165
Bab 165: Rumah yang Aneh
166
Bab 166: Misteri Rumah Pak Joko
167
Bab 167: Masa Lalu Bella (Mas Suhu)
168
Bab 168: Mas Suhu Bertemu Cak Dika
169
Bab 169: Tiga orang yang mati
170
Bab 170: Kemampuan Mas Suhu
171
Bab 171: Potretnya boleh tak beli?
172
Bab 172: Ibarat Museum Hantu
173
Bab 173 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 1)
174
Bab 174 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 2)
175
Bab 175: Pemuja Pohon Beringin (Bagian 3)
176
Bab 176 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 4)
177
Bab 177 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 5)
178
Bab 178: Pemuja Pohon Beringin (End)
179
Bab 179: Surat Kabar
180
Bab 180 : Gadis yang Duduk di Tiang Lampu Jalanan
181
Bab 181 : Pesan Kematian (Korban Bully)
182
Bab 182 : Si Nduk Kesayangan Ibuknya
183
Bab 183 : Bercak Darah yang Tidak Bisa Hilang
184
Bab 184 : Dia Datang
185
Bab 185 : Makhluk itu kekasihku!
186
Bab 185: Mas Suhu dan Perjalanan Alesya
187
Bab 187 : Alesya dan Kekasih Ularnya
188
Bab 188 : Bella Cemburu
189
Bab 189 : Kaca Rias
190
Bab 190 : Menarilah Anakku
191
Bab 191 : Menolak Takdir Tuhan
192
Bab 192 : Tumbal Gadis Perawan
193
Bab 193 : Kematian Meta di Pelosok Hutan (Tragedi Air Terjun Berdarah)
194
Bab 194 : Kematian Rara dan Sebuah Penyesalan
195
Bab 195 : Kematian Rara dan Sebuah Teka-teki
196
Bab 196 : Akan Kubunuh Kalian
197
Bab 197 : Ra, jangan pergi ya!
198
Bab 198 : Maung yang Memanggil
199
Bab 199: Perihal Kematian
200
Bab 200 : Sebuah Suara dan Memori
201
Bab 201 : Kamu kenapa?
202
Bab 202 : Sebuah Kain dari Organ Vital
203
Bab 203 : Rachel dan Thariq (Pengungkapan)
204
Bab 204 : Arwah yang Selalu Menangis
205
Bab 205 : Balas Dendam
206
Bab 206 : TEROR
207
Bab 207 : Sepasang Suami Istri Penyembah Buto (Pembantaian Keturunan) 1
208
Bab 208 : Sepasang Suami Istri Penyembah Buto (Pembantaian Keturunan) 2
209
Bab 209 : Sepasang Suami Istri Penyembah Buto (Pembantaian Keturunan) 3
210
PENGUMUMAN
211
Pengumuman Penting
212
Bab 210 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 4)
213
Bab 211 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 5)
214
Bab 212 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 6)
215
Bab 213 : Sepasang Suami Istri Pemuja Buto (Pembantaian Keturunan 7)
216
Bab 214 : Ini Rahasia Keluarga Kami
217
Bab 215 : Sebuah Panggilan
218
Bab 216 : Dia yang Datang dengan Lampu Lilin
219
Bab 217 : Tragedi Kepala Terbang
220
Bab 218 : Ikuti Tiap Tandanya
221
Bab 219 : Dia yang Berteriak Kencang
222
Bab 220 : Karma dan Jenglot
223
Bab 221 : Bantuan Datang
224
Bab 222 : Calon Mayat
225
Bab 223 : Pak Dokter tanpa Kaki yang Menyapaku
226
Bab 224 : Gadis dan Cerita Dokter Tanpa Kaki yang Menyapaku
227
Bab 225 : Dokter Abigael
228
Bab 226 : Gema Suara dan Bisikkan
229
Bab 227 : Menemui Rachel Gautama
230
Bab 228 : Mimpi yang Sama dan Pengakuan (Tebusan Dosa)
231
Bab 229 : Ini Ilham dari Mimpi
232
Bab 230 : Manusia itu Serakah
233
Bab 231 : Rachel Gautama
234
Bab 232 : Kok, hilang!
235
Bab 233 : Manusia yang Gelap Matanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!