Kira-kira sudah ada sekitar seminggu setelah kejadian di mana Aku dan Marsya tersesat dalam dimensi sebelah.
Sejak saat itu ternyata Ibunda tercinta kami. Nyonya Gautama terhormat, sengaja mengundang sepuh kemari. Sepuh ini umurnya sekitar 26 tahun, lebih tua dari aku lima tahun.
Di umurku yang ke 21 ini Ibunda memintaku dan Marsya ikut bergabung bersama dengan Sepuh. Katanya ini semacam ekspedisi mengarungi tempat ke tempat.
Jika Marsya memanggilnya Sepuh maka aku sejak dulu memanggilnya Cak Andika, atau Cak Dika. Dia ini anak dari Paman, Ibundaku. Dulu Paman sempat tinggal di sini beberapa tahun.
Cak Dika dan Aku teman sepermainan juga dulu. Kami sering main di lapangan besar belakang kuburan. Hawa di sana syahdu, enak sekali dibuat santai.
Terakhir sebelum dia pindah ke Banyuwangi, aku dan dia masih sempat main bola di lapangan. Waktu itu bahkan hampir magrib. Mitosnya lapangan itu angker. Sebab ada Wit Weringin besar yang letaknya berada di tengah kuburan.
Almarhum Abah dulu mengingatkan pada kami berdua untuk selalu pulang sebelum magrib dari tempat itu. Karena saat itu kami masih kecil, ya kami nikmati permainan itu sampai adzan magrib.
Tendangan terakhir dari Cak Dika tidak bisa kutahan. Bola kami masuk ke area kuburan. Umurku saat itu enam tahun dan Cak Dika sebelas tahun.
Aku dan Cacak sempat bertengkar di sana, menyuruh satu sama lain untuk masuk ke dalam dan mengambil bola itu.
Langitnya semakin gelap. Tak ada penerangan memang di sana. Hanya ada lampu minyak yang menyala di tengah pohon besar itu. Lampu itu tidak ada yang memegang. Dia melayang di sana di antara kegelapan.
Bola kami yang masuk tepat berada di bawah lampu minyak itu. Aku dan Cak Dika cuma mampu melihat sambil diam kami bisu seketika saat itu.
"Wes ora usah diambil, Cak!" ucapku kepada Cak Dika atau Sepuh.
Cak Dika menggelengkan kepalanya menanggapi itu. Sebab itu bola dari Almarhum Ibundanya, itulah kenapa dia enggan pulang tanpa bola itu.
Aku melihat ke atas sebentar, langitnya semakin gelap dan lagi ada kilatan petir sejak tadi menyambar-nyambar.
"Ayo pulang, Cak!" ucapku sambil menarik tangannya memintanya agar ikut bersamaku.
Tapi Cak Dika menepis tanganku kasar. Kami berdua berteriak satu sama lain. Memakai satu sama lain tak ingin kalah. Wajar saja, saat itu kami masih anak-anak.
"Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!" ucap Cak Dika dengan nada kesalnya.
Matanya mulai berkaca-kaca sambil menatapku. Dia yang menghadapku saat itu tidak sadar. Bahwa tepat di balik tubuhnya. Dari atas pohon beringin itu, wujud nenek-nenek mulai tergambar jelas.
Dari atas dedaunan yang mekar malam itu. Perlahan rambut putih panjang menjuntai kebawah. Rambut itu begitu panjang, padahal jarak antara dedaunan atas dan latar bawah bebatuan. Tempat dimana pohon itu berdiri kokoh cukup jauh.
Rambut semacam apa sepanjang itu tiba-tiba turun memanjang menjuntai menyentuh bebatuan. Aku hanya mampu membulatkan kedua mataku, terpaku. Menatap lekat ke arah satu tangan dengan cakar panjang yang mulai turun ke bawah.
Satu tangan lagi turun, rambut itu putih, itu uban dan sampai saat ini aku masih ingat jelas penampakan itu. Ketika tubuhnya perlahan nampak aku sadar itu bukan manusia.
Sosok nenek tua dengan pakaian putih menatap kami. Matanya memerah dengan taring-taring panjang. Liurnya menetes-netes, dia menatap kami benci.
Sosok nenek sialan itu merangkak kebawah hingga sampai di atas batu beringin tepat di depan bola milik kami.
Tubuh bongkoknya itu berjalan ke arah kami. Sontak tangan kananku hanya mampu menunjuk-nunjuk ke belakang menyuruh Cak Dika menoleh, sekedar melihat ancaman yang sedang datang ke arah kami.
Ketika Cak Dika menoleh, soalnya dia malah berteriak lalu berlari pergi meninggalkan aku yang masih terpaku. Sumpah demi apapun, aku tidak bisa bergerak.
Kedua mataku bahkan tidak bisa tertutup. Kedua bola mata itu seakan sengaja dipaksa terbelalak menatap sosok setan jompo di hadapanku ini.
Dia tidak berjalan kakinya melayang tak tersentuh tanah. Bahak tawanya kencang sekali. Mentalku di sini benar-benar di uji. Sepertinya aku tidak akan selamat malam ini.
Kalaupun aku selamat nanti, maka kejadian ini akan selalu kuingat sampai mati nanti. Tubuh sosok seram ini perlahan mulai menyatu masuk ke dalam jari kelingking tangan kananku.
Area tubuh bagian kananku seketika membeku. Peredaran darah di sana sekejap berhenti. Tubuh bagian kananku bergetar dan mataku masih enggan terpejam. Aku sampai heran rasanya, kenapa aku tidak pingsan saja saat itu.
Wong tuek, jompo sialan!. Umpat Ratu dari dalam tubuhku mengambil alih diriku.
(Orang tua, jompo sialan!)
Saat itu beruntung sekali jimat itu kubawa. Jika tidak mungkin aku sudah Modar saat itu juga. Perwujudan sosok berwibawa itu datang masuk dalam tubuhku. Sosok tua bertaring itu seketika mundur. Dia menatap ke arahku masih dengan kedua mata merahnya.
Terusno ganggu cah Iki nek koe segan! Wani nyekel cah Iki, entek koe nak tanganku!. Ucap Nyai.
(Terusin ganggu anak ini kalau kamu berani! Berani nyentuh anak ini, habis kamu di tanganku!)
Sosok tua bertaring itu seketika ciut. Dia sungkem tepat di depan tubuhku. Bersamaan dengan itu Cacak dan Abah datang lagi menjemputku.
Aku tidak akan tau kejadian itu jika Nyai tidak memperlihatkannya kepadaku. Sejak saat itu, tiap aku ingat perihal itu. Dan tiap kali aku melihat Cak Dika di sini. Tanganku gatal ingin bertumbuk saja dengannya.
Sebab yang aku kesalkan adalah, ketika dia lari meninggalkan aku sendiri di sana. Sudah, hanya itu! Dan sekarang Cak Dika sedang membujukku untuk ikut bersamanya menjelajah. Oh tidak, aku tidak mau merasakan hal sama terulang lagi!
Goblok, kalau aku menyetujui permintaannya di sini. Saat ini Cacak, Aku dan Marsya sedang duduk di ruang tamu. Di sana juga ada Ibunda, dia sedang menikmati makanannya sambil menatap kami bertiga.
"Sudah nduk, ikuti saja Cacakmu ini!" ujar Ibunda kepadaku.
Serangan jantung aku rasanya.
"Aku gak mau! Ibunda menyuruhku bunuh diri?" tanyaku kepada Ibunda.
Beliau hanya menutup camilannya lalu menatapku kali ini. Namun di sana dia hanya tersenyum sambil memandangiku.
"Abah loh selalu sama kamu! Kamu dijaga banyak orang, Nyai, Abah, Buyut pun jaga kamu! Kamu ini salah satu turunan kami yang istimewa sama seperti Cacak Andika!" jelas Ibunda.
"Wong dia yo penakut kok!" potongku pada Ibunda.
"Ora, lah aku bisa itu keluarin kamu dari alam sebelah seminggu lalu! Sudah, ikut aja Rachel!" ucap Cak Dika berusaha membela diri.
Marsya berdiri setelah Cak Dika mengatakan itu. Aku dan Ibunda juga Cak Dika jelas menatapnya sekarang.
"Aku ikut cak!" ucap Marsya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas dengan muka cerianya.
Sekutuku semudah itu dikelabui Cacak. Sepertinya aku kekurangan voting di sini. Pada akhirnya aku kembali menerima paksaan mereka.
Hal ghaib yang berusaha aku hindari, justru semakin dekat merengkuhku. Sepertinya ini memang sudah takdir keluarga Gautama.
Cacak mengeluarkan tujuan ekspedisi pertamanya. Dia bilang ada seseorang yang butuh bantuannya di Banyuwangi. Dan letak tempatnya singgah berada tepat dekat dengan Alas Purwo.
Situs hutan terangker dari jaman kerajaan, hingga saat ini. Tujuan eksplorasi pertama kami akan di mulai catatan pertamanya di Alas Purwo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
jangan bengong mngkannya apalagi di kuburan ,bikin gereget ajee🤣🤣
2025-04-02
0
Ipank Surya
udah tau angker,masih main aja truss , masyaallah tabarakallah
2025-04-02
0
Ipank Surya
main nya ngeri ,di samping kuburan udah kayak paranormal aja🤣🤣
2025-04-02
0