Alas Purwo salah satu hutan yang paling tua di Jawa. Konon katanya di sana adalah kerajaan Jin. Banyak sekali hal-hal mistis terjadi di sana. Bahkan manusia berilmu paham Ghaib sejak lahir pun kadang juga terkecoh oleh mereka.
Jin di sana adalah mereka kelas atas. Sembari membawa perbekalan dadi Ibunda aku, Marsya dan Sepuh jalan menelusuri jalan setapak.
Tempat ini sama seperti desaku. Letaknya masuk ke pelosok ditumbuhi dengan pohon-pohon besar. Beberapa kali jalur yang kami lewati juga ada banyak pohon pisang dan bambu.
Ya kalian taulah pasti Pring Kuning adalah pohon yang di sukai oleh para bidadari ghaib. Ya, sebut saja nanya kuntilanak. Mereka senang sekali bertengger di sana layaknya monyet.
Hari ini aku membawa jimat itu lagi. Aku memakainya sebab aku tidak tau kedepannya nanti akan ada apa. Dengan ini aku memiliki perlindungan lebih dan kuat mengalahkan perlindungannya Cak Dika.
Cukup lama kami berjalan pada akhirnya di depan kami agak jauh terlihat sebuah gapura. Di sana berdiri seorang pemuda yang membungkuk sebentar lalu bangkit lagi dan melambaikan tangan ke arah kami. Ah, tentu saja, dia mungkin pasiennya Cacak. Kami mempercepat langkah kami berjalan mendekatinya.
"Mas Dika, gimana kabarnya?" tanya pemuda itu sambil menjabat tangan Cacak Dika lalu memeluknya sebentar.
"Baik-baik, Alhamdulillah! Kamu gimana sehat, kan?" tanya Sepuh padanya.
"Iya Mas, saya sehat Alhamdulillah! Mari Mas, tak antar ke penginapan. Bicara di sana lebih enak daripada di sini!" ujar Pemuda itu.
"Mbak, dia gak nyapa kita loh! Padahal nanti yang berjasa ya kita juga di sini!" ucap Marsya berbisik pelan di sampingku.
Aku hanya manggut-manggut mendengar apa yang dia katakan. Mungkin Cacak Dika dengar perihal pembicaraanku dan Marsya. Segera ia berhenti lalu mengenalkan kami pada pemuda itu.
"Hai, salam kenal! Saya Pram, saya temannya Mas Dika. Salam kenal, nggeh mbak!" ucap Pemuda itu nanya Pram.
Baik aku dan Marsya kami berdua sama-sama mengangguk. Kemudian perjalanan kembali di teruskan. Sepanjang perjalanan masuk semakin dalam ke desa.
Aku melihat ada banyak sekali pura di sini. Candi-candi kecil juga patung-patung. Tapi, sejak tadi mataku sama sekali tidak menangkap sosok-sosok jahat. Yang tinggal dalam area atau desa ini adalah Jin biasa. Mereka tidak mengganggu dan aura mereka begitu postif.
Hawane ora serem, terus problemnya apa ya?. Pikirku sambil menatap ke atas memperhatikan rimbunnya pepohonan yang menghalau cahaya matahari masuk.
"Kau sedang melihat apa?" tanya Barend yang tiba-tiba muncul dari samping tubuhku.
Aku menjerit kecil melihat kedatangannya di sampingku. Hingga hal itu membuat Cacak dan Marsya menoleh padaku. Mereka menatapku heran, lalu tak lama netra mereka tertuju pada Barend di sampingku.
"Loh Londo?" tanya Cak Dika padaku.
"Hu'um!" jawabku sambil tetap acuh tak memandang ke arah Cacak.
"Jangan sombong di sini Rachel!" ujar Barend lagi.
Bocah cilik ini tau apa? Kenapa tiba-tiba dia muncul dan berceramah padaku. Tidak sopan memang setan ini.
"Hahahahaha..." Marsya tertawa mendengar apa yang Barend katakan.
"Jangan ketawa!" jawabku hal itu tentu saja membuat Marsya seketika diam.
"Emang di sini ada apa? Apa kamu tau sesuatu?" tanyaku kepadanya.
Setan cilik itu tersenyum padaku kemudian dia terbang ke belakang tubuhku. Tangan mungil transparan tembus itu mencoba menutup kedua mataku. Aku hanya diam melihat itu, lalu dia berbisik padaku,
"Kamu tidak akan bisa melihat mereka jika kemampuanmu hanya sekelas teri! Ada alasan kenapa kamu diajak datang kemari!" ucap Baren padaku.
Ketika dia menghilang dan aku mengadah ke atas. Aku dibuat terkejut saat itu juga. Apa itu, sosok yang lebih tinggi dari pohon disini sedang mengawasi kami.
Sosok itu begitu besar seperti menutupi satu area di atas kami.
"Awhh..." lirihku, kepalaku semakin pusing rasanya.
Hawa setelah mataku menemukan keberadaan besar itu seketika menusuk dadaku seperti belati. Ini sakit, dan aku masih tidak percaya akan bertemu dengan sosok penunggu sebesar itu dengan aura jahatnya.
"Kamu gak apa kan, Mbak?" tanya Marsya di sampingku.
Aku hanya mengangguk menanggapi itu sambil terus berjalan. Tiap kali kaki kami menapak satu persatu. Auman iblis yang mengukung area itu semakin terdengar.
Hatiku semakin tak karuan rasanya sungguh. Dia terlalu besar dan jahat. Bahkan aku saja tidak sanggup menahan seluruh aura kebencian ini.
Aku hampir mati rasanya jika Cacak tidak membantuku di sini. Mungkin dia paham terhadap apa yang sudah terjadi padaku.
Saat ini dia berdiri di belakang tubuhku. Aliran energi yang dia berikan cukup membantuku pulih. Di sana Cacak mengatakan bahwa, semakin takut kita pada mereka maka itu akan semakin menguntungkan mereka. Sebab mereka makan lewat energi manusia. Terutama energi negatif.
"Ojo Wedi!" ucap Cacak padaku.
"Hu'um!" jawabku pelan lirih.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Sampai pada akhirnya tiba di sebuah rumah namun bangunannya dari kayu. Terlihat layak memang ditinggali. Penerangan sana masih dengan lampu minyak. Sepertinya daerah pelosok ini benar-benar tidak mengikut perkembangan zaman.
"Nah ini Cak tempatnya! Kalian bisa nginap di sini, ini udah aku sediain tempat buat kalian selama di sini. Mari masuk, Cak!" ucap Pram.
Cak Dika yang masih berada di belakang tubuhku hanya mengangguk. Pram membuka pintu kayu itu. Di dalam gelap, namun aura di dalam biasa. Tidak ada aktivitas setan yang cukup peka terhadapku. Atau mungkin mengusikku. Di dalam benar-benar netral bersih.
Merasakan hal itu tentu saja aku seperti menemukan perlindungan baru. Aku masuk lebih dulu mendahului mereka sambil berucap,
"Assalamualaikum, permisi!" ucapku.
Luar biasa rasanya. Beban yang sejak tadi hinggap menumpuk perlahan di atas bahuku seketika lenyap. Ketika mataku beredar ke segala penjuru rumah. Ada satu foto yang membuatku terpaku.
Seorang pria bersorban putih. Dia nampak seperti seorang bapak-bapak. Tidak berjenggot, hanya berkumis tipis. Wajahnya indah di mataku, entahlah, dia seperti memiliki pesona sendiri buatku.
"Itu nenek moyangku! Beliau sudah lama tidak ada! Beliau juga yang sering membantu kami di desa kalau ada gangguan Ghaib!" jelas Pram sambil berdiri di sampingku.
Aku manggut-manggut saja mendengar itu. Kemudian kami di arahkan untuk duduk di sofa. Sofa ini cukup sederhana, dari kayu juga.
"Jadi, ada apa Pram kenapa kok manggil kami kesini?" tanya Cacak padanya.
"Gini Mas, adekku baru-baru ini maen di sekitaran Alas Purwo. Di situ dia ketemu kayu mistis, Mas! Ini aku ada vidionya dia waktu ngcamp solo di sekitar area itu! Petugas perhutani selalu bilang, kalau memang mau ke alas Purwo usahakan kembali sebelum magrib. Waktu itu dia gak balik Mas, dia ada di sana terus ketemu sama dua orang dari alam sebelah datang ke arahnya. Problemnya, kayu itu sampai sekarang masih ngikut di Agus. Dan lagi, kaki kanan dia itu gak bisa di gerakin sama sekali! Jadi aku mau minta tolong mas, kembalikan kayu itu ke tempatnya!" jelas Pram.
"Kok bisa kayu itu ngikut?" tanya Cak Dika padanya.
"Gak tau mas, tapi memang di alas Purwo itu bener-bener hutan keramat mas. Di sana itu kerajaan Jin mas. Mereka juga sensitif sebenarnya atas kedatangan kita. Mungkin aja waktu ngcamp mereka terganggu jadi ya itu imbasnya ke Agus!" jelas Pram.
"Di mana itu dia nemuin kayunya?" tanya Cak Dika lagi.
"Awalnya itu kayunya cuma bertengger di salah satu pohon besar. Waktu itu pas di tenda, dia masak. Tendanya dia ada yang mukul, keluarlah dia tapi ternyata gak ada apapun. Agus kan orangnya penasaran, dicarilah siapa yang usil malam itu. Dari jauh ada suara rumput dipijak. Larilah dia ke sana, gak terlalu memang dari tendanya. Berhentilah dia di depan pohon besar, tepat di tengahnya ada kayu itu. Cuma kayu biasa, dan soalnya waktu itu Agus nendang kayu itu pakai kaki kanan. Waktu kembali ke dalam tenda, oh luar biasa mas. Kayu itu ada di dalam tenda. Kagetlah dia waktu itu, terus lagi ada suara rumput dipijak dan dia menoleh lagi ke sumber suara. Tapi tetap gak ada siapapun di sana!" ucap Pram lagi.
Cacak Dika manggut-manggut saja mendengar seluruh penjelasan itu. Lalu dia menatap ke arahku.
"Sebenarnya tanpa kamu cerita, aku sudah tau kok Pram problemnya. Cuma dua saudaraku ini kemampuannya gak secanggih aku. Tapi aku tetap butuh mereka. Sambil poles sedikit mereka biar lebih kuat dan bisa lagi sama kemampuannya! Jadi sebenarnya masalahnya memang ada sama kayu itu! Kalau boleh tau, Agus di mana sekarang?" tanya Cak Dika.
"Agus ada di rumah, Mas!" jawab Pram.
"Yaudah, panggil aja ke sini! Aku mau bantu, bawa juga kayunya ya!" ucap Cak Dika.
Pram mengangguk lalu dia berdiri berpamitan pada kami lalu pergi. Aku menatap ke arah Cacak Dika, namun dia cuma tersenyum menanggapi tatapanku.
"Cak, aku bantuin apa?" tanyaku padanya.
"Jelajah, kamu bawa orang Belanda kecil ini darimana?" jawab Cak Dika sambil melihat Barend yang berada di sampingku.
Barend menarik-narik bajuku sambil matanya menatap ke arah Cacak. Dia takut sepertinya.
"Lucu Mbak, ini kamu dapat dimana?" tanya Marsya.
"Dia tiba-tiba datang waktu malam! Kayaknya ulah Ibunda ini!" ucapku.
"Yowes, jelajah bareng Ratu sama dia aja! Nanti aku kasih tau tugasnya ya!" jawab Cacak Dika.
Aku cuma manggut-manggut aja menanggapi itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
usahakan jangan ambil barang² di tempat seperti itu,dan jngan lupa selalu bilang nyuwun Sewu Mbah,sambil dalam hati selalu baca Al Fatihah,agar selalu selamat di mana pun kita berada
2025-04-02
0
Ipank Surya
wduhh menurut kepercayaan di daerah rumah saya kalau pohon pisang dan pohon bambu tempat bersemayam nya para setan dan iblis
2025-04-02
0
Ipank Surya
seberapapun levelnya setan ,tapi kalau kita selalu ingat kepada yang kuasa , insyaallah kita akan selalu di berikan perlindungan
2025-04-02
0