Beberapa jam lalu Aldo baru saja mengantarnya pulang. Di situ saat ini di kamar remangnya. Laras sedang duduk di meja kerjanya. Mata butanya itu menghadap tepat ke arah jendela.
Gambaran yang ia dapatkan tadi membuatnya berpikir terus menerus. Rumah yang dia lihat adalah satu-satunya pertanyaan. Rumah itu bukan rumah modern. Rumah itu Tua, terbuat dari kayu.
Dan selama ini pula bahkan Laras tidak pernah sekalipun melihat perihal ayah dari Aldo. Namun gambaran itu menunjukkan satu jawaban. Apakah Pria berkumis itu ayah dari Aldo.
Asumsi Laras mengatakan bahwa. Mungkin saja hubungan mereka tidak direstui juga karena. Orang tua Aldo sudah tau.
Bahwa Laras adalah manusia yang peka dengan hal ghaib. Kemungkinan mereka takut bahwa hal lama yang berusaha mereka tutupi akan terbongkar.
"Setahuku, Kuyang itu makan janin ketika usianya empat bulan! Tapi bayi itu datang dan baru saja lahir. Terus yang dimakan sama kuyang itu apa?" ujar Laras dalam kesendiriannya.
Ruang kamarnya mungkin kosong. Dan hanya dirinya saja makhluk yang bernafas dan hidup. Tapi, pada kenyataannya. Saat ini di sudut kamarnya. Berdiri satu sosok hitam dengan cakar panjangnya.
Itu adalah sosok yang selalu berada di sini. Dan dia juga adalah yang selalu mengikuti Laras kemanapun, menjaganya. Sosok itu mengeram memperhatikan Laras. Sosok bertarung itu tidak mampu berbicara.
Jika dia menyukai sesuatu dia akan diam dan mengawasi. Namun jika dia menangkap ada yang aneh, maka dia akan mengeram.
Suara itu didengar oleh Laras. Namun dia sama sekali tidak bergeming. Dia tetap diam memikirkan segala hal yang berkaitan dengan Aldo.
Sampai pada akhirnya dia meraih ponsel miliknya. Ponsel ini unik, dia bukan touchscreen seperti pada umumnya. Ponsel itu masih mengenakan tombol.
Di dalam sana hanya ada nomor telepon orang yang Laras kenali. Tidak ada yang lain selain itu. Laras menekan angka nomor tiga. Dan di sana terpampang jelas kontak Cak Dika.
Siapa lagi Alternatif Ghaib yang bisa Laras hubungi selain dia. Cak Dika, pawang tertuanya keluarga Gautama.
Pada saat-saat seperti ini, solusi yang tepat untuk seorang Laras adalah keluarganya sendiri. Cak Dika dan Rachel juga Marsya. Panggilan itu berdering cukup lama. Hingga Laras harus mengulanginya sampai beberapa kali.
"Hallo!" ucap Cak Dika di seberang sana.
"Hallo Cak!" jawab Laras padanya.
"Loh, Laras! Ada apa, tumben sekali kamu menghubungi aku?" tanya Cak Dika sumringah.
Laras mendengar di sana ada suara lain selain Cak Dika. Suara dua orang wanita.
"Wah sepertinya kamu laku ya Cak sekarang?" ucap Laras menyindir.
"Laku mbahmu! Ini aku lagi di rumah Rachel sama Marsya. Aku mau jalan-jalan cari pasien habis ini sama mereka! Kamu mau ikut*?" tanya Cak Dika padanya lagi.
"Gak ah! Langsung aja Cak, aku lagi ada masalah. Kamu bisa datang gak? Aku butuh kemampuan kalian di sini! Tolong ya, datang!" ucap Laras memohon pada Cak Dika untuk datang.
"Enek opo?" tanyanya lagi.
"Aku nanti bakalan cerita kalo kamu sama Rachel datang kesini!" jawab Laras lagi padanya.
Nampak di sana Cak Dika menghela nafas panjang. Cak Dika menyetujui apa yang Laras inginkan. Jarak antara kota mereka cukup jauh. Mungkin memakan waktu sekitar satu atau dua jam perjalanan.
Malam kesepakatan antara Laras dan Cak Dika. Membawa rombongan Rachel datang memgembarai kota lain lagi. Kali ini pasien mereka adalah Laras, saudara mereka sendiri.
____________
Paginya ketika rombongan Rachel sudah duduk di kereta. Cak Dika yang berada di samping Rachel mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Rachel kebetulan duduk bersampingan dengan Cak Dika. Memang mereka berbeda kursi. Mereka berdua di pisahkan oleh celah tempat manusia datang berlalu lalang di antara kereta.
Rachel duduk sebangku dengan Marsya di sisinya. Marsya saat ini tengah asyik bermain dengan Barend yang duduk di atas kursi penumpang. Keduanya itu sudah cukup akrab sekarang. Barend sekalipun menyukai aura Rachel. Namun dia lebih sering bicara pada Marsya.
"Apik toh dek?" ucap Cak Dika pada Bella yang duduk di sampingnya.
Nampak Bella di sana hanya menatapnya sekilas lalu dia kembali menatap ke arah kaca. Pemandangan di luar sana memang indah.
"Bendera itu buat apa?" tanya Rachel padanya.
Dengan riangnya Cak Dika malah memamerkan itu pada Rachel, mempertontonkannya. Rachel sekali lagi dibuat terkejut oleh manusia ini.
Di sana tertulis sablonan dengan nama. Gautama Family Cenayang Muda, itulah yang tertera di sana. Belum lagi di bawahnya ada tulisan kecil namun masih terlihat oleh mata. Tulisan itu berkata bahwa, mereka siap melayani segala macam keluhan pasien.
"Cak, ayolah! Kita loh bukan ahli medis!" ucap Rachel padanya.
"Kita kan bisa mengatasi tanpa menyentuh!" ucap Cak Dika bangga.
"Wes Rachel, ora usah direken cacak Iki!" ujar Bella menyembulkan kepalanya di antara tubuh Cak Dika yang menutupi dirinya dan Rachel.
Melihat itu Rachel tertawa lalu mengacungkan jempolnya. Saat ini Rachel memilih untuk tidur. Matanya sudah letih rasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
ada2 aja cak dika ini
2023-11-19
1
B⃟c𝓝𝓐𝓝𝓐 19♧
Ayoo selidiki laras
2023-04-08
2
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
selamat tidur... nty pasti mimpi ktmu pocong.... 😀😀🤭
2023-04-01
1