Seorang pria berkumis yang sejak tadi merapal mantra di hadapan asap-asap sajen mulai membuka matanya. Sambil memegangi dadanya dia terbatuk-batuk.
Kepalanya menyamping menunduk. Lalu darah segar keluar dari dalam mulutnya. Dadanya seakan ditusuk-tusuk saja rasanya saat ini.
Itu adalah ayah dari Aldo. Dia beserta dengan Lina dan Simbahnya sedang berada dalam satu ruangan. Rencana jahatnya malam ini adalah, mereka ingin menghabisi Laras.
Namun nyatanya keluarga Gautama yang lain malah berdatangan. Jika hanya Laras saja musuhnya, mungkin mereka masih mampu.
Suara batuk itu membuat Lina yang tadinya memejamkan mata juga terkejut. Dia menghampiri suaminya itu.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Lina pada Pria berkumis. Sebut saja namanya Yanto.
"Uhukkk.. Uhukkk.." tidak ada jawaban dari suaminya itu. Namun ada hal lain lagi yang membuat Lina berpaling dari suaminya.
Tubuh Simbah di atas ranjang bergetar hebat. Simbah di sana juga sedang berusaha membunuh Laras. Dia sedang menjadi kuyang saat ini.
Lima geram rasanya melihat itu. Dia pun bangkit lalu meninggalkan suaminya yang masih kesakitan. Lina menghampiri lemari kayu, lalu dia membukanya.
Pusaka-pusaka keramat di simpan rapi di sana. Ada banyak keris dan berbagai pusaka lainnya.
Beragam dan auranya sangat kelam mengerikan. Senjata setan itu sudah berulang kali memakan korban.
Lina mengambil salah satu keris itu. Ada satu ritual sakral dan cukup besar resikonya. Di mana jika ada permintaan maka akan ada juga yang dibayarkan.
Terkadang setan penunggu pusaka itu akan meminta organ tubuh manusia. Terkadang juga ragam tumbal aneh dan mengerikan.
Tina yang sudah kehabisan akal pun hendak menjalankan ritual itu. Ketika keris sudah berada di tangannya. Lilin-lilin di ruangan itu redup seketika.
Suara ketukan pintu depan membuat niatnya urung rasanya. Lina meletakkan sebentar kerisnya di lantai. Lalu dia keluar dari dalam ruang ritual.
Ketika Lina membuka pintu rumahnya. Matanya membulat penuh melihat keberadaan keluarga Gautama di sana. Tepat di hadapan Lina saat ini adalah sang Maskot, yaitu Cak Dika.
"Mbak Lina! Mandek, atau aku bakalan buat kalian hancur sekarang!" ucap Cak Dika melotot sambil menunjuk-nunjuk wajah Lina.
(Mandek\=Berhenti)
Di belakang rombongan itu ada Aldo yang saat ini dipapah oleh Laras. Lina semakin murka rasanya. Dalam pikirannya saat ini adalah. Segala hal yang terjadi sekarang adalah gara-gara Laras dan Aldo.
"Lihat Al! Ini loh, yang selama ini kamu bela-belain! Lihat, matamu itu lihat apa hah?!" bentak Lina pada Aldo anak angkatnya.
Samar-samar Aldo menatap ke arah Lina, sang ibu angkatnya. Laras diam mencoba meredam amarahnya yang mulai tersulut.
"Gara-gara ulahmu itu! Bapakmu sakit sekarang!" ujar Lima masih dengan amarah yang memuncak.
Cak Dika jadi tersulut emosi sekarang. Karung putih yang sejak tadi dia bawa mulai di rogoh. Beruntung sekali rumah Lina ini berada jauh dari rumah warga.
Dari dalam sana, Cak Dika mulai menarik rambut sang Kuyang. Kuyang beserta jeroannya itu dipamerkan tepat di hadapan Lina saat ini.
Tentu saja melihat itu, Lina pun terbelalak. Simbahnya kalah dengan keluarga ini. Simbahnya kalah ilmu dengan keturunan keluarga Gautama.
Bangsat!. Geram Lina dalam hatinya.
Tangannya rasanya ingin mencakar-cakar Cak Dika sekarang.
"Kalian, mau ngincar Laras adikku kan? Kalau kalian berani macam-macam lagi dengan keluargaku. Kubantai habis kalian! Berhenti mulai saat ini jangan ganggu Laras dan Aldo! Biarkan mereka hidup bahagia bersama!" ucap Cak Dika dengan nada tinggi memperingatkan.
Lina mengepalkan tangannya mendengar itu.
"Kalau kami tidak mau! Kamu mau apa, hah?!" tanya Lina geram menantang.
Cak Dika berseringai melihat itu. Tangan kanannya yang tidak memegang apa-apa itu telapak tangannya terbuka.
Rachel yang tau maksudnya pun mulai mengambil sesuatu yang tadi dibawa oleh mereka sebelum kemari. Sebuah obor yang belum dinyalakan.
Rachel menyerahkan obor itu pada Cak Dika. Ketika obor sudah dipegang. Rachel pun mulai menyalakan apinya.
"Berhenti, atau pesugihanmu ini lenyap di tanganku!" ujar Cak Dika menatapnya serius.
Obor menyala itu menjadi pusat perhatian Lina saat ini. Dia benar-benar terpojok sekarang. Dia tidak mau mengakui kesalahannya.
Namun di sisi lain dia juga tidak mau harta kekayaannya lenyap. Aldo melepaskan diri dari Laras lalu berjalan tertatih menghampiri Cak Dika perlahan.
"Al!" panggil Laras padanya.
"Gak apa, aku cuma mau ngomong aja! Kamu tenang dan diam aja di sana!" ucap Aldo berusaha menenangkan Laras yang khawatir.
"Lapo le?" tanya Cak Dika pada Aldo yang saat ini berada di sampingnya.
Aldo menyentuh bahu Cak Dika lalu mengangguk dan tersenyum. Kemudian netranya kembali menatap ke arah Lina.
"Aku sudah tau semuanya, buk!" ujar Aldo sambil menatap Lina yang diam di sana.
"Perempuan macam apa kamu ini berani menukar nyawa anakmu lalu mengorbankan hidup ibu kandungku. Kamu, bukan cuma seorang pelakor atau pelacur! Tapi kamu, lebih rendah dari mereka! Kamu iblis yang lahir dalam wujud manusia! Betapa mengerikannya kamu ini, sungguh!" ucap Aldo murka padanya.
Sekejap Lina tertegun mendengar apa yang Aldo katakan. Tapi setelah itu dia tertawa keras.
"Aku tidak peduli kamu mau bicara apa! Kalau kenyataannya sudah seperti itu, ya sudah! Pergilah jauh dari kami dan jangan pernah pulang!" ucap Lina padanya.
Cak Dika semakin dibuat benci saja rasanya mendengar itu. Ketika obor itu didekatkan pada kepala kuyang.
"Jangan!!!" ucap Lina tegas.
Cak Dika berseringai mendengar itu. Hatinya tidak tega melihat Aldo yang sengsara di sini. Rasanya dia ingin membalaskan lara hatinya saja.
"Simbahmu itu, sudah waktunya istirahat dan mati! Dia hidup berulah malah buat susah orang-orang. Jadi biar dia mati saja!" ujar Cak Dika mendekatkan lagi obornya.
Tapi di sini, Aldo menahannya. Cak Dika pun menoleh ke samping tepat ke arah Aldo.
"Jangan Cak, manusia juga masih butuh kesempatan kedua!" ujar Aldo berbisik pelan.
Ucapan itu membuat Cak Dika ingat pada buyutnya. Buyut memang banyak sekali saingannya. Dan sering juga dicelakai.
Tapi ketika musuhnya jatuh dan kalah. Buyut selalu memberi peringatan lalu membiarkannya kabur.
Tapi ketika musuhnya kembali berulah dan tertangkap untuk kedua kalinya. Maka buyut tidak akan mentoleransi itu.
Cak Dika melempar kepala kuyang itu keras sampai menatap tepat di tembok. Lina terkejut melihat kepala Simbahnya yang jatuh lalu masuk terbang lagi ke dalam ruang ritual.
"Rungokne aku yo mbak!" ucap Cak Dika serius kali ini.
(Dengarkan aku ya mbak!)
"Bocah Iki, saiki dadi salah satu keluargaku! Yen sampean wani, ngotak-atik keluargaku. Tak goreng Kuyangmu!" ucap Cak Dika murka sambil menunjuk-nunjuk Lina.
(Anak ini sekarang jadi salah satu anggota keluargaku! Jika kamu berani ngotak-atik keluargaku. Tak goreng kuyangmu!)
Setelah mengucapkan itu Cak Dika pun berbalik pergi sambil meraih tangan Aldo. Mereka semua pergi dari sana meninggalkan Lina seorang diri dengan segala kekesalannya.
Sejak saat itu baik Laras dan Aldo. Mereka berdua memilih mengikuti Cak Dika dalam berkelana mengobati pasien.
Mereka masih tetap menjadi seorang penyiar radio. Tapi jika ekspedisi, maka Laras dan Aldo juga ikut serta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
@Risa Virgo Always Beautiful
Ternyata Aldo sudah mengetahui semua kebusukan Lina
2023-04-08
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦𝐀⃝🥀𝑰voᷠnͦeͮℛᵉˣ
Ho'o wis itu pilihan yang tepat buat Laras & Aldo untuk mengikuti cak Dika.
2023-04-08
1
🍁𝐀𝐑𝐀❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
hahaha kaget kagak kayaknya takut banget
2023-04-01
3