Turunan tanjakan berulang kali Bella dan temannya lewati. Waktu terus berjalan dan jam terus berputar. Tenaga mereka semakin terkuras.
Ditambah sejak tadi Rio menggigau tak karuan perihal seseorang. Dia tidak mengatakan namanya, namun dia hanya menunjuk ke atas pepohonan.
"Berhenti dulu! Aku lapar, Bel!" ucap Pram kedua tangannya berada di lutut. Dengan nafas terengah-engah dia menatap ke arah Bella yang membawa logistik.
"Ya sudah, kita makan dulu!" ujar Bella lalu melepas tasnya.
Namun di sana Tyas menahannya. Sambil menatap ke arah Bella serius. Bella hanya mampu menatap Tyas dengan penuh tanda tanya.
"Apa?" tanya Bella padanya.
"Katamu kita cuma punya batas waktu sampai jam tiga loh!" jawab Tyas mengingatkan perihal kejadian mistis yang mereka alami di atas puncak sana.
"Kamu gak lapar, Tyas?" tanya Bella pada Tyas.
Bella memperhatikan raut wajah Tyas begitu ketakutan. Bahkan tangannya yang berada di bahu Bella kini mencengkram kuat.
"Gak Bel! Lebih baik kita turun sekarang!" jawab Tyas tegas.
Melihat itu, Bella pun menoleh ke belakang memerhatikan ketiga temannya.
"Tyas, gak apa kita berhenti dulu di sini! Masak cuma setengah jam saja kenapa harus ribut sih?" tanya Yono pada Tyas.
Tyas hanya mampu menunduk mendengar itu. Argumennya tidak didukung oleh para temannya. Bella kembali memperhatikan Tyas yang menunduk. Melihat itu, Bella hanya mampu menghela nafas panjang.
"Kita berhenti setengah jam saja! Setelah itu baru kita lanjutin lagi," ujar Bella pada Tyas.
Tak ada yang mampu Tyas ucapkan lagi saat ini. Dia hanya mampu menuruti apa yang temannya inginkan. Baginya juga tidak mungkin jika turun seorang diri sekarang. Apapun yang terjadi, mereka harus tetap berlima.
Pada akhirnya mereka pun berhenti. Pepohonan besar itu mengapit mereka. Di bawahnya saat ini mereka sedang memasak. Andalan para pendaki adalah mie instan.
Ketika makanan sudah matang. Mereka pun melahapnya. Kelaparan rasanya, namun hanya Rio yang masih diam sambil menatap ke atas pepohonan. Rio sama sekali tidak memakan makanannya.
"Tatapannya tambah kosong saja dia, Mas!" ucap Bella sambil menyenggol Yono yang duduk di sampingnya.
"Yang seperti ini itu bener-bener di luar nalar dan kemampuan kita, Bella! Jadi, mau gak mau Rio harus turun dari gunung ini!" jelas Yono pada Bella.
"Yowes, Ndang habiskan makanmu itu! Ndang turun kita!" tegas Bella pada Yono.
Yono mengangguk mendengar itu. Hawa di sana semakin dingin saja rasanya. Cuaca kebetulan masih cerah.
Langit di atas tidak ada pertanda mendung sama sekali. Lawu indah dengan segala lekuk beluk bentuknya. Tetapi menyimpan misteri teramat dalam yang cukup membuat bulu kuduk meremang.
Carrier sudah berada di pundak mereka masing-masing. Jam tangan mereka menunjukkan pukul dua belas siang. Perjalan turun biasanya akan memakan waktu lebih pendek daripada naik. Ketika seluruh barang bawaan sudah mereka bereskan. Mereka pun kembali berjalan.
Tyas berada di bagian tengah rombongan bersama dengan Bella. Sejak tadi dia mengusap-usap tengkuknya. Bella yang merasa aneh pun bertanya padanya.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Bella pada Tyas, antusias.
Mas Yono mendengar percakapan itu pun menoleh dan berhenti. Mereka memperhatikan Tyas yang masih saja mengusap-usap belakang lehernya sendiri.
"Panas Bel!" jawab Tyas padanya.
Bella yang merasa aneh pun menyingkap Surai Tyas yang terurai itu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat bekas merah serupa tangan yang seperti mencengkram leher Tyas.
"Loh!" pekik Bella ketika melihat itu.
Sontak beberapa temannya pun merapat ikut melihat apa yang Bella lihat. Mereka tertegun tak percaya melihat itu.
"Ada apa Mas?" tanya Tyas yang mulai ketakutan.
Ketika Pram hendak menjawab apa yang terjadi padanya. Bella memberi isyarat padanya untuk tetap diam.
Sebab mereka masih berada di gunung. Mengatakan hal yang terjadi di sini itu tidak benar. Pengalaman mistis di gunung boleh dikatakan ketika mereka sudah berada jauh dari gunung itu.
"Kenapa, Bel?" tanya Tyas lagi pada Bella.
Bella hanya tersenyum mendengar itu. Dia menepuk pelan bahu Tyas yang masih membelakanginya sambil berusaha melihat apa yang terjadi padanya.
"Gak apa kok! Itu bekas gigitan semut rangrang!" jawab Bella mencoba menenangkan.
Di tengah sibuknya yang saat ini mencoba menenangkan Tyas. Suara teriakan Rio membuat mereka serentak menatap ke belakang.
"Ampun... Ampun... Ampun Mbah, ampun!!!" teriaknya histeris sambil menatap ke depan.
Kedua bola mata itu membulat penuh dengan teriakan yang sama yang terus di ulang berulang kali.
Bella dan Mas Yono saling tatap sejenak. Lalu bersamaan mereka menatap ke depan. Kira-kira jaraknya sekitar sepuluh langkah dari tempat mereka berdiri.
Seorang lelaki tua berpakaian adat Jawa dengan topi caping, berdiri tepat di hadapan mereka. Kakek itu membawa celurit yang dia sematkan di sisi tubuhnya.
"Nyapo Mas, Mbak? Nyasar ya?" tanya Kakek tua itu pada mereka.
Baik Bella dan temannya hanya diam mendengar itu. Namun di sana Rio masih terus saja berteriak tak karuan sambil menatap takut ke arah Kakek Tua itu.
"Nggih Mbah, kita mau turun ini kebetulan!" jawab Pram sopan sambil membungkuk.
"Cah kae iku tinggal ae Mas! Cah kae iku kudu tanggung jawab!" ucap Kakek tua itu pada mereka.
Sejenak dari kejauhan Bella mencoba memperhatikan kakek tua itu dengan kemampuannya.
Dia mencoba fokus pada kakek tua itu. Perlahan wujud kakek tua itu berubah dalam pandangannya. Kakek itu tak lain adalah orang yang sama yang mereka temui di atas puncak gunung.
"Mbah, maaf apabila kami mengganggu ketenteraman Mbah! Maaf jika teman kita buat salah di sini! Kalau memang bisa tolong biarkan kita turun sesuai dengan batas waktu yang Mbah berikan!" ujar Bella memberanikan diri untuk bicara di sini.
Kakek Tua itu tertawa kencang sekali tawanya, besar. Tawanya seperti memenuhi seluruh area. Bahkan suaranya membuat Bella dan temannya menutup telinga mereka.
Kakek Tua itu kemudian menatap mereka tajam. Kedua matanya memerah. Celurit yang tadi bersemayam di samping pinggangnya terbang ke arahnya. Gigi-gigi yang mirip manusia perlahan berubah menjadi taring-taring panjang.
Jari jemari yang tadinya milik manusia, berubah panjang dengan kukunya. Bulu-bulu hitam memenuhi tubuhnya. Langit yang tadinya cerah seketika menghitam mendapatkan malam tanpa purnama. Hutan ini menggelap dan mereka diterjang kebutaan seketika.
Ya Allah!. Ucap Bella dalam hatinya. Was-was rasanya dia melihat sosok itu berubah menjadi tinggi besar.
"Kalian sudah kusuruh turun, kan? Turun ***!" ucap sosok tinggi besar itu murka.
Tyas menangis terisak dia ketakutan melihat apa yang ada di hadapannya itu. Begitupun dengan Pram yang memegangi Rio yang masih berteriak-teriak.
Mas Yono masih terpaku tidak mampu bergerak melihat apa yang ada di hadapannya itu. Sadar jika seluruh temannya ketakutan, Bella pun menepuk-nepuk tubuh Mas Yono.
"Mas.. Mas... Ayo Melayu!" ucap Bella padanya.
Ditepuk berulang kali oleh Bella membuat Yono sadar. Mereka berlima pun segera melarikan diri dari hadapan sosok tinggi besar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Ipank Surya
lohh opoo seng si Rio perbuat iku ,kok Sampek kngkn tanggung jawab kyok ngunuu kui
2025-04-03
0
Ipank Surya
njirr Bella tiba tiba aja , ngomong ampun ampun, kesurupan kann?
2025-04-03
0
Ipank Surya
itu masih mending loh turunan daripada naik lohh,bener gak?
2025-04-03
0