Bab 20
"Lo tidur sama gue lagi, Bang?" tanya Rain yang sudah berganti pakaian tidur.
"Nggak boleh?"
Rean sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di ranjang. Sementara Rain sibuk dengan ponselnya. Dia duduk di sofa yang terletak di dekat kaca besar pembatas balkon itu.
"Kamar Lo kenapa emang?"
"Sepi! Gue pengen aja deket sama Lo!"
Rain terkekeh, "Bilang aja takut di gangguin Livia!" tebak Rain.
Gadis itu kemudian mengernyitkan keningnya saat menemukan sesuatu yang mengejutkan. Ini benar-benar di luar dugaannya.
"Kenapa Lo!" Rean melihat mimik wajah Rain yang terkejut.
"Eng-nggak ... Itu Kak Radit banyak banget ngirim pesan!" kilahnya.
"Jiah, bucin dasar!" Rean juga asyik bermain dengan ponselnya.
Dia sedang berbalas pesan di Instagram dengan seorang gadis yang sudah dia kenal selama hampir satu bulan ini.
"Iri bilang bos!" ledek Rain.
"Bentar lagi gue nggak jomblo!"
Rain memekik, "Serius Lo!" Rain menghambur ke arah Rean dan merebut ponsel lelaki itu.
Dia membaca semua pesan di aplikasi tersebut.
"Renata?"
Rean mengangguk, "Cantik kan?" tanyanya.
"Cantikan juga gue!" jawab Rain percaya diri. Dia mengembalikan ponsel Rean.
Lelaki itu menarik tangan Rain yang sedang berdiri di sampingnya. Hingga gadi itu jatuh tepat di dada Rean.
"Lo emang cantik, sayangnya Lo adek gue. Masa iya gue pacarin!" bisiknya. Napas Rean yang menyapu seluruh wajah Rain, membuat gadis itu merinding.
Saat Rain hendak bangkit, Rean mencegahnya dan terus menatap kedua manik mata Rain.
"Dimata gue Lo tetep cantik. Nggak ada duanya. Gue sayang banget sama Lo, melebihi sayang pada diri gue!" Rean mengecup kening Rain.
"Gue harap Lo akan terus bahagia seperti dulu."
Rean pun mengecup kening Rain seperti dulu. Gadis itu terpaku sesaat karena mendapatkan perlakuan manis seperti ini. Biar bagaimanapun dia bukan Rain tapi Lea meski tubuh itu milik Rain. Ada rasa yang aneh tentunya.
"Jadi ... Gimana sama Renata? Lo setuju kalau gue jadian sama dia?" Rean mengusap kepala Rain. Menunggu jawaban adik kembarnya.
Rain masih terdiam, dia belum terbiasa sama semua perlakuan Rean. Takut nanti kalau jatuh cinta gimana?
"Rain?" panggil Rean.
"Eeeh .... Iya. Terserah Abang aja kalau memang cocok!" jawab Rain.
"Lo kenapa sih ngelamun?" tanya Rean curiga.
"Lo ngapain cium gue?" Wajah Rain cemberut dan itu terlihat lucu.
Rean mengerutkan keningnya, biasanya juga dia sering kecup kening dan itu bukankah hal yang wajar ya? Kenapa Rain malah marah?
"Kecup kening kan wajar. Lo adik gue! Bukan cium bibir ini, Rain." Rean geleng kepala, agak aneh juga sama sikap Rain akhir-akhir ini yang banyak perubahan.
Rain menghentakkan kakinya, dia memilih duduk di sofa kembali dan meraih ponselnya.
"Hey, jangan marah!"
"Gue nggak mau Abang pacaran sama Renata!"
Bibir Rean menganga. Kenapa Rain ini labil sekali? Tadi bilangnya terserah dan sekarang nggak boleh. Sejak Rain selalu ribut sama cewek yang dekat dengan Rean, jadi Rean selalu menunggu persetujuan Rain untuk pacaran sama cewek yang dia suka. Sejak apa yang Rain katakan selalu benar, Rean jadi memilih jalan aman saja.
"Lo aja pacaran sama Radit. Masa gue nggak boleh punya pacar!" Kini Rean balik protes. Dia duduk di sebelah Rain. Padahal itu single sofa.
"Gue nggak suka. Coba aja sana ajak ketemuan. Minimal deketin dulu, kalau jahat sama gue, Lo nggak boleh lanjutin itu. Blokir akunnya!"
"Agak laen nih bocah!"
"Terserah! Gue bakal gangguin Lo kalau Lo nggak mau nurutin perintah gue!"
Rean menghela napasnya. Kenapa banyak sekali aturan? Sementara dia saja memiliki hubungan dengan Radit, tidak ada aturan apapun darinya.
"Lo aja gue bebasin asal jangan keblabasan kenapa Lo kasih aturan?" Tentu saja Rean protes.
"Ya udah. Mending Lo keluar dari kamar gue gih. Gue males ketemu sama Lo lagi!" Rain bangkit dari duduknya dan memilih untuk tidur.
Rean hanya menggeleng kepala saja. Mungkin itu bentuk kasih sayangnya pada dirinya. Selama ini Rain memang tidak pernah melihat Rean dekat dengan seorang cewek. Lalu sekarang Rean dekat dengan seorang cewek bernama Renata. Rain sudah melihat profil gadis tersebut dan langsung bisa menyimpulkan. Gadis itu matre, pintar sandiwara dan pokoknya Rena pasti akan dimanfaatkan.
"Iya gue turutin, jangan marah ya!" Rean mengalah daripada Rain akan memusuhinya.
Lebih baik menurut saja daripada dimusuhi oleh Rain, itu sangat tidak enak.
***
Livia membuka kedua matanya, dia merasakan sekujur tubuhnya yang terasa sakit. Apalagi area sensitifnya yang perih. Livia membuka selimutnya dan tubuhnya masih polos. Dia juga melihat begitu banyak tanda merah di area perut dan dadanya. Sementara Dion sudah tertidur pulas di samping sambil memeluknya. Livia perlahan memindahkan lengan kekar lelaki itu yang melingkar di pinggangnya. Dia hendak membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket.
Dion benar-benar membuatnya lemas karena bermain sampai malam dan tiga ronde sekaligus. Lelaki itu seakan tidak ada lelahnya. Padahal tadi pagi Dion sudah meminta jatahnya.
"Mau kemana, sayang?" tanya Dion yang rupanya sudah membuka kedua mata.
Livia yang baru turun dari tempat tidur pun terkejut. Apalagi dia tidak memakai apapun.
"Kak, aku mau mandi. Lengket banget!"
Di ruangan itu memang ada kamar mandi. Memang itu adalah kamar yang digunakan untuk Dion menyimpan foto-foto yang dia ambil. Kamar itu sangat privasi jadi siapapun tidak ada yang boleh masuk.
"Jangan panggil gue kakak kalau kita hanya berdua!" Dion mencekik leher Livia.
Lelaki itu sangat benci dipanggil 'Kakak' oleh Livia. Kecuali jika sedang bersama keluarga dia akan dengan senang hati dipanggil 'Kakak'.
"I-iya ... Sa-sa-yang!" Napas Livia seakan hampir habis karena Dion mencekiknya. Seakan hendak membunuh gadis itu.
"Bagus!" Dion melepas tangannya yang mencekik Livia. Dia pun kemudian membopong gadis itu untuk mandi bersama.
Livia sudah pasrah dan akhirnya pergulatan panas itu pun kembali terulang di dalam kamar mandi. Selama satu jam.
Livia menuju lemari untuk mengambil pakaiannya yang memang sudah tersedia di sana. Selain tempat barang penting Dion, tempat ini juga sering mereka gunakan untuk berhubungan badan.
"Gue mau nyusu!" ucap Dion tegas.
Livia pun kembali ke ranjang dengan memiringkan tubuhnya. Dia menaikan bajunya dan membuka bra yang dia kenakan. Dion seperti bayi yang sangat kehausan, dia pun menikmati p*y*d*r*a milik Livia yang ukurannya pas di telapak tangannya. Meskipun tidak memiliki asi, Livia tetap mematuhi perintah Dion.
"Kapan keluar susunya?" Pertanyaan itu jelas membuat wajah Livia memerah, sang kakak memang doyan sekali menyusu.
***
Rain kembali menemukan fakta baru. Bahwa Livia dan Dion telah menjalani hubungan menyimpang. Dia langsung menyimpan rekaman cctv yang semalam di dapatkannya. Rain juga sudah mengemasi barang-barang yang dia temukan di ruang rahasia Rain asli. Sekarang dia akan menjalankan aksi selanjutnya.
Malam ini adalah acara ulangtahun Livia di sebuah ballroom hotel mewah milik Damian. Banyak tamu undangan yang akan datang termasuk para kolega. Rain akan mengambil kesempatan ini.
"Rain, Lo ngapain?" tanya Rean yang sudah memakai pakaian santainya dan sedang mengibas-ngibaskan rambut basahnya dengan handuk.
"Bang, gue ada sesuatu buat Lo!"
"Apa?"
Rain mengambil kotak kalung yang dia temukan di laci meja kerja Damian. Selama di sini Rain sama sekali tidak mengobrol dengan lelaki itu.
"Nih buat Lo dari mamah!" Rain memberikan kalung milik Rean dengan liontin matahari.
"Ini buat gue!" Rain memperlihatkan kalung bulan sabit itu yang sudah dia pakai.
"Mama bilang kalau gue adalah bulan yang selalu bersinar di kegelapan. Lo matahari yang selalu menyinari di siang hari. Jadi kita selalu melengkapi dalam kesedihan maupun kebahagiaan," lanjut Rain.
"Lo ... Dapet darimana?" Rean mengambil kalung emas berwarna putih itu.
"Ruang kerja papa," bisik Rain. Mereka di kamar hanya berdua tapi Rain tetap berbisik karena takut ada yang dengar.
"Kok bisa?"
"Ceritanya panjang. Sekarang bantu gue buka ini kotak. Tanggal lahir kita sama mama nggak cocok!" Rain memberikan kotak itu pada Rean.
Lelaki itu pun mencoba membuka kotak tersebut dengan beberapa angka. Satu kali percobaan dan itu gagal.
Rean kembali mencoba dan ...
"Berhasil!" ucap Rean dan Rain bersamaan.
"Perpaduan tanggal lahir mama dan nenek!" jawab Rean yang mengerti tatapan Rain.
Rain hanya mengangguk. Dia membuka kotak itu, dimana ada sebuah surat di dalamnya.
*Anakku, Rean dan Rain. Ketika mama telah tiada, tolong carilah nenek kalian dan pergilah dari kehidupan papamu. Jangan pernah kembali setelah pergi. Papa bukan orang baik seperti yang kalian kenal. Papa telah dihasut oleh Shely yang tidak lain adalah sahabat mama sendiri. Kalian ... Anak kandung papa. Mama sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok. Begitu juga dengan Abang Ando. Kalian satu darah, satu mama dan satu papa. Nak, papa sebenarnya sangat menyayangi kalian. Hanya saja dia terpengaruh oleh Shely dan percaya begitu saja. Di dalam kotak ini ada sebuah bukti yang mungkin kalian perlukan suatu hari nanti!*
Tubuh Rean bergetar hebat ketika membaca surat tersebut. Jadi ... Shely yang mempengaruhi sang papa? Akhirnya lelaki itu percaya jika mereka bukan anak kandungnya?
Jahat sekali Tante Shely itu! batin Rean.
Suara ketukan pintu membuat mereka saling memandang. Rain segera memasukkan kembali surat itu dan meletakkan kotak di laci meja belajarnya.
Tok
Tok
Tok
"Ada apa?" tanya Rean pada Livia. Lelaki itu yang membuka pintu.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Livia.
"Bukan urusan Lo! Ada perlu apa Lo!" Rean setengah menutup pintu kamar Rain.
Livia memicing curiga. Dia berpikir jika Rean dan Rain juga melakukan hubungan yang sama sepertinya.
"Kalian ... Nggak lagi ngelakuin sesuatu yang__"
"Lo ngapain ketok kamar gue!" Rain menarik lengan Rean.
Gadis itu terkejut saat melihat Rain. Nyalinya menjadi ciut. Jika dulu dia sangat berani dengan Rain, kini Livia tidak berani melakukan apapun pada gadis itu. Rain sangat berbeda bahkan aura dingin pun terpancar dari wajahnya.
"Itu ... Kita di suruh untuk kumpul di ruang keluarga!"
"Oh, ya udah tar kita nyusul!"
"Kenapa nggak sekarang aja?"
Rain menatap tajam gadis itu, "Apa urusan Lo? Suka-suka gue lah!" ketus Rain.
"Kalian ... Nggak sedang melakukan__"
Rain mendorong bahu Livia, "Memangnya elo sama abang Lo itu, hah! Nggak usah nuduh jadi orang!" Rain menutup pintunya dengan kasar.
Membuat Livia kaget. Dia menghentakkan kakinya dan memilih pergi. Tentu saja mengadukan hal ini pada mamanya.
"Lo ke bawah gih. Jangan lupa buat pake itu kalung tar malem."
Rean mengangguk lalu mengecup bibir Rain sekilas. Gadis itu sudah terbiasa sekarang dengan perlakuan Rean.
"Jangan lama-lama ya!" Rean mengacak rambut Rain.
Rain hanya mengangguk saja.
Seperginya Rean, gadis itu segera menghubungi Radit yang sejak tadi terus menelponnya.
"Darimana aja?" tanya Radit dengan aura dingin yang kentara saat panggilan telepon tersebut tersambung.
"Maaf, tadi aku lagi sibuk."
Terdengar suara helaan napas dari lelaki itu. "Oh, sorry kalau ganggu!" ucapnya.
Rain merasa jika Radit tidak seperti biasanya. Mungkin sikapnya keterlaluan yang jarang sekali membalas pesan dari Radit.
"Enggak kok, maaf ya kalau aku nggak bales pesan kakak!" Rain berusaha untuk menjadi gadis yang manis. Meski sebenarnya dia sangat jengkel karena Radit tiba-tiba bicara seperlunya seperti itu. Ingin sekali dia menjitak kepala lelaki itu.
"Hmmm."
Hening, tidak ada pembicaraan lagi. Rain yang fokus pada layar laptopnya dan Radit entah sedang apa di seberang sana.
"Kak Radit!" Terdengar suara seorang perempuan.
Bunyi krasak krusuk pada telepon tersebut dan setelahnya panggilan itu dimatikan oleh Radit.
Rain melotot saat mendengar suara tadi.
"Apa dia selingkuh?" tebaknya.
Mood Rain mendadak buruk. Dia memilih mematikan laptopnya dan menuju ruang keluarga. Tidak lupa dia mengunci pintunya.
"Kok nggak ada ya? Perasaan gue udah pasang di sana!" gerutu Dion yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia berdiri di depan pintu kamar miliknya.
"Oh, cctv ya? Kenapa bisa ilang?" tanya Rain yang memang sengaja melihat ke arah layar ponsel Dion.
Rupanya lelaki itu sedang mengecek cctv yang Rain pasang di ruang kerja milik Damian.
"Jadi ... Lo yang masang tuh cctv di kamar mandi gue!"
Dion terkejut bukan main, karena Rain sudah tahu itu.
"Elo!" tunjuk Dion dengan jari telunjuknya. "Ikut gue! Sekarang Lo nggak bakal bisa kabur!" Dion menarik tangan Rain.
Tentu saja gadis itu langsung bisa memberontak dan memberikan sebuah tendangan di kaki Dion. Lelaki itu langsung terjatuh. Bukan hanya itu saja, Rain memberikan bogeman di wajah dan perut Dion.
"Lo berani macem-macem sama gue? Gue bakal kasih liat ke bokap kalau Lo sama Livia melakukan hubungan seksual!" ancam Rain. Gadis itu mendorong bahu Dion.
"Rain sialan! Gue nggak bakal lepasin Lo!" teriak Dion frustasi.
Rain hanya menanggapi dengan senyuman miring saja.
Saat Rain berjalan menuju lorong-lorong lantai dua menuju tangga, gadis itu berpapasan dengan Damian. Rain diam saja dan pura-pura tidak melihat ada lelaki itu.
"Rain," panggil Damian.
"Masih inget sama gue?"tanya Rain.
Membuat Damian terkejut, Rain banyak berubah. Biasanya dia tetap menjadi anak yang manis meski selalu diperlakukan kasar olehnya. Kini Rain bersikap dingin padanya. Bahkan sejak berada di rumah ini, Rain tidak pernah lagi menemuinya. Jika bertemu dia tidak akan mengajak bicara seperti biasanya. Menanyakan kabar pun tidak.
"Kenapa diem aja? Bukankah gue ini hanya anak haram yang bakal Lo singkirkan, Damian?"ucapan Rain membuat hati Damian tercubit. Dia sudah tidak lagi memanggil dirinya dengan sebutan papa.
"Kalau Lo lelaki pintar seharusnya Lo bisa lakuin tes DNA. Bukan malah percaya sama wanita jalang seperti Shely!" bisik Rain dan pergi begitu saja.
Damian terdiam dengan ucapan Rain. Memang benar, dia bisa melakukan itu semua. Hanya saja Damian takut jika kehilangan Shely, karena wanita itu sangat dia cintai. Damian juga takut jika Shely membeberkan rahasianya kalau sampai menceraikan wanita itu.
Damian memilih masuk ke ruang kerjanya untuk melakukan sebuah pekerjaan. Rain sudah berada di ruang keluarga.
Para anak muda itu sedang terlibat pembicaraan dengan para orangtua. Livia juga menjadi bahan pujian. Sesekali mereka tertawa. Tidak ada yang menyadari kedatangan Rain. Hanya Shely yang melihat itu. Wanita itu buru-buru bangkit dari duduknya.
"Cepat bantu para pelayan menyiapkan makan siang!" bisik Shely penuh penekanan. Shely menarik tangan Rain dan mendorong gadis itu untuk masuk ke dapur.
Rain tidak perduli. Dia membuka kulkas dan mengambil camilan juga minuman kaleng. Gadis itu memilih keluar menuju pintu dapur dan duduk di sebuah ayunan.
"Rain ... Banyak berubah ya, Ren?"tanya Heru yang melihat Rain di tarik paksa oleh Shely.
"Dia sekarang keren ya, bisa lawan Tante Shely," sambung Jihan. "Hanya dengan diam saja dia udah keliatan keren. Bukan lagi cewek lemah," imbuhnya.
"Iya, dia makin cantik dan jago beladiri sekarang," ujar Rean.
"Apa? Jago beladiri?" Alterio balik bertanya. Dia tentu saja tidak percaya ini.
"Iya, gue juga kaget. Dia juga ikutan balapan dan ngalahin Kenan!"
"Gila, Rain keren banget. Gue jadi pengen jadi cewek setangguh Rain," puji Jihan.
"Sayang kita saudara, kalau enggak udah gue pacaran!" celetuk Heru.
Rean menjitak kepala Heru. "Gue nggak ngebolehin Lo jadi pacar Rain btw!" pungkas Rean.
"Haha, gue bakal coba dong. Tampang cakep gini masa iya Rain nggak suka! Sayangnya aja kita saudara!"
"Nggak bakal dia lirik! Rain susah di deketin sekarang. Bahkan dia aja udah cuekin Kenan. Malah pertunangan itu batal!"
Mengejutkan tentu saja. Namun, tanpa ada yang menyadari Alterio tersenyum kecil mendengar hal itu. Dia merasa lega jika Rain tidak menikah dengan lelaki seperti Kenan.
"Gila, cowok setampan Kenan di tolak sama Rain? Dulu dia kejar-kejar!" Jihan ikut menyahut.
"Gue juga bingung. Sekarang dia punya cowok yang lebih baik. Semoga aja Rain juga jatuh cinta sama dia."
"Gimana konsepnya sih! Nggak ngerti gue!" Jihan menggaruk kepalanya yang memang gatal.
Al sejak tadi diam saja karena dia memang irit bicara. Hanya dengan Rain saja dia mau berbicara panjang dan bercanda.
"Jadi Radit memang suka sama Rain sejak dulu. Dia nolak karena hubungan dengan Kenan tunangan. Terus sejak amnesia Rain terima tuh tawaran si Radit buat jadi pacarnya. Alasan Rain karena Radit tajir dan beliin dia iPhone keluaran terbaru juga laptop. Bahkan tas, baju dan cemilan. Banyak deh," jelas Rean.
Heru dan Jihan tertawa mendengar cerita itu.
"Rain matre juga!" sahut Jihan.
"Apa amnesia itu bisa mengubah seseorang?" tanya Rean.
Heru mengangkat kedua bahunya. "Tapi gue suka Rain yang sekarang!" pujinya.
Al bangkit dari duduknya tanpa sepatah katapun. Jihan, Heru dan Rean saling pandang. Lalu mereka berbincang kembali. Mereka sudah paham dengan sikap saudaranya yang satu itu.
"Rain," panggil Al. Rupanya lelaki itu menemui Rain.
"Boleh gue duduk?" Rain belum menjawab tapi lelaki itu sudah duduk di hadapannya. Mengayunkan sedikit ayunan itu.
"Lo ngapain di sini sendiri?"
"Males gue sama Mak lampir! Nyuruh-nyuruh terus. Dia pikir gue ini pelayan kalik!" protes Rain.
Alterio terkekeh. Tangannya terulur untuk mengusap bibir Rain. Gadis itu membeku.
"Kalau makan kayak anak kecil," ucap Al. Rupanya ada remahan camilan di bibir Rain.
Gadis itu menundukkan kepala karena malu. Kenapa saudaranya itu semua romantis? Bahkan mereka juga tampan. Pikir Rain.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rain menghilangkan kecanggungan.
"Temenin lo, takut kesambet!"
Rain tertawa, Al sangat mengagumi Rain yang sekarang. Dia bahkan bisa sedekat ini. Berbeda dengan Rain yang dulu, selalu sibuk di dapur jika sedang ada saudara yang berkunjung. Tidak mau berkumpul dengan alasan Damian akan marah atau Tante Shely melarangnya.
"Rain!" teriak Shely yang sudah berada di belakangnya.
"Ngapain kamu di sini, hah! Aku sudah bilang buat bantuin para pelayan!" Shely mendekat dan menarik tangan Rain.
"Bibi, bukannya pelayan banyak?" Al membuka suara.
"Kamu ini mau belain anak sial ini? Jangan dekat-dekat sama dia! Kalau kamu tidak mau ketularan sial!" Shely menoyor kening Rain.
"Cepat bantu para pelayan!"
Rain dengan cepat memelintir tangan Shely.
"Sekali lagi Lo berbuat seenaknya sama gue, gue bakal buat tangan Lo patah!"
"Aduh! Sakit ... Lepasin tangan aku, anak sial." Meski tangan Shely dipelintir oleh Rain, tetap saja dia mengomel.
Al hanya memandangi itu, dia takjub dengan gerakan cepat Rain.
"Gue udah peringatkan sama Lo buat jangan gangguin gue! Apa Lo lupa!" Kini Rain melepas tangan Shely membuat wanita itu merintih sakit.
Tangannya terlihat memerah karena kulit Shely yang putih.
"Awas kamu, anak sial!" ancam Shely. Dia tidak akan pernah ada kapoknya.
Al bertepuk tangan, "Wuihh, gue suka gaya Lo, Rain!" Al mengacak rambut Rain.
Rain kembali memakan camilannya. Dia tidak haus akan pujian jadi biasa saja saat dipuji.
"Jadi ... Bener Lo sekarang bisa beladiri? Belajar darimana? Kenapa nggak dari dulu?"
Rain terdiam mendengar ucapan Al yang panjang. Ini pertama kalinya Al berkata panjang lebar. Biasanya anak itu akan irit bicara seperti kemarin. Rain dibuat melongo karena Al bertanya banyak padanya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Gencya
kayaknx ceritanya pangalaman pribadi author
2024-12-12
0
Keyraaleyababy Keyraaleya
cerita anjing babi.yng bikin novel orang setres mna ada adek KK kandung kembar cium cium bibir goblok apa yng buat novel
2024-06-14
1
Rin Rs
Ini ceritany apa sih? bebas gitu cium2 sma sodara sndri heran sya.. 😪😪 knpa ada harus cerita seperti ini
2024-03-16
1