Bab 11

Bab 11

Radit terus memandangi wajah Rain yang sejak tadi dingin. Bahkan mie ayam yang ada dihadapannya pun hanya di aduk-aduk saja. Suasana hati Rain memang sedang tidak baik sejak tadi pagi bertemu Kenan. Hati kecilnya masih ada rasa, ini perasaan Rain asli yang dulu hinggap. Rupanya Rain asli sangat mencintai Kenan. Namun, Rain yang sekarang tetap membencinya, perasaan itu beralih pada lelaki yang kini ada di hadapannya.

"Cerita sama aku, ada apa?" tanya Radit akhirnya buka suara.

Sudah hampir lima belas menit Radit membiarkan Rain seperti itu. Bahkan Radit sudah menghabiskan mie ayam miliknya.

Saat Rain hendak memakan mie ayamnya, Radit segera mengambil mangkok berisi mie ayam yang sudah mekar dan tidak sedap di pandang. Radit memesankan kembali untuk Rain.

"Padahal itu juga masih enak," gerutu Rain. Memandangi mangkok mie ayam yang masih utuh.

"Kamu sejak tadi melamun. Makanannya juga di aduk terus. Ada apa?" Radit mengelus pipi Rain.

Tentu saja membuat kulit putih Rain memerah. Ah, ini sangat memalukan. Bahkan rasa kesal Rain pun hilang begitu saja.

"Kenan!"

Radit menghela napas, "Dia lagi? Apa mau anak itu?" geram Radit.

"Soal Ella. Gue ... Eum ... Aku nggak tahu kenapa Ella selalu saja gangguin aku," adu Rain.

Tidak ada salahnya kan mengadukan ini pada kekasih sendiri? Rain merasa ini wajar-wajar saja. Sebelumnya Rain akan selalu mengatasinya sendiri dan tidak perduli bagaimana Ella mengganggunya.

"Apa Rean tidak berpihak padamu? Bukankah dia saudara kembarmu? Rain, sebaiknya kamu katakan saja pada Rean tentang Ella." Radit menggenggam tangan Rain.

Beberapa saat hening karena pelayan datang membawa mie ayam beserta es teh manis untuk Rain.

"Makan saja dulu, perutmu nanti sakit. Sejak tadi kamu tidak mengisi apapun."

Radit ingat saat istirahat tadi Rain tidak makan apapun. Radit ingin menghampirinya tapi gadis itu sudah mengatakan untuk menjaga jarak di sekolah. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan Kenan. Dia ingin menemui Papanya untuk membatalkan pertunangan mereka. Rain sudah mengantongi bukti Kenan yang hendak menamparnya tadi hanya karena Ella.

"Kakak perhatian sekali!"

"Tentu saja, karena kamu calon istri aku!"

Mendengar itu hati Rain seperti ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran. Jantungnya pun berdebar tidak karuan. Rain menghabiskan mie ayamnya karena memang dia sangat lapar. Suasana hatinya sudah membaik dari sebelumnya.

"Rean sudah tahu, dia juga mengatakan pada Kenan untuk menyelidiki Ella. Hanya saja ... Entahlah, perasaan Kenan pada Ella sangat besar jadi dia tidak perduli tentang nasehat Rean."

"Kamu cemburu?" Radit takut jika Rain masih sangat mencintai Kenan. Apalagi Rean bilang ingatan Rain mulai kembali.

Rain meraih jemari Radit yang tadi di lepas saat Rain hendak makan.

"Tidak! Aku ... Sudah tidak menyukainya lagi. Percayalah, Kak. Mungkin kak Radit benar, jika perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu."

Radit tersenyum lega mendengar penjelasan Rain. Dia yakin jika Rain sudah mulai menyukainya. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Meski terkadang Rain sangat cuek padanya.

"Kak, Kenan tadi hampir menamparku. Beruntung saja ada Rean di sana."

Radit sebenarnya sudah tahu tentang hal ini. Dia memang selalu memantau Rain dari kejauhan. Hubungan mereka masih di rahasiakan karena tidak mau jika Kenan akan merusaknya.

"Kenapa bisa terjadi? Aku yakin kamu pasti bisa melawannya. Pacarku ini kan jagoan!" Radit mencubit pipi Rain.

Rain tersenyum. Senyum yang tidak akan pernah terlihat oleh siapapun. Kecuali Rean dan Radit.

"Ella, dia selalu membuatku kesal dan memancing emosi Kenan padaku."

"Apa rencanaku selanjutnya? Eum ... Bagaimana jika kamu balas dengan mengalahkan Kenan di sirkuit?"

Kedua mata Rain membulat sempurna dan berbinar ketika mendengar nama sirkuit. Dia sangat rindu balapan. Bagaimana pun di dalam tubuh Rain adalah jiwa Lea. Sejak menjadi Rain dia baru satu kali balapan. Itu pun diam-diam karena takut jika Rean tahu.

"Kapan? Aku sudah tidak sabar menunggunya."

"Nanti malam. Aku akan membantumu keluar dari rumah nenek."

Rain mengangguk antusias. Mereka pun akhirnya pulang setelah selesai makan dan berbincang-bincang. Radit mengantarkan ke rumah nenek Sania. Kebetulan rumah Radit bersebelahan, bahkan hubungan nenek Sania dengan Radit pun sangat dekat. Seperti seorang cucu pada neneknya. Radit sering bermain dan membantu Alber. Radit tidak tahu jika Rean dan Rain adalah cucu mereka.

"Dunia memang sangat sempit ya?" ucap Albert saat duduk di teras bersama Radit dan Rain.

Sementara Rean berada di apartemen. Berkumpul dengan geng Aksara dan Ella ikut bergabung. Beruntung Rain tidak ada di sana jadi Ella tidak akan pernah tahu jika Rain adalah adik Rean.

"Jadi kakek tidak perlu menjodohkan kamu dengan Radit ya, karena kalian sudah memiliki hubungan istimewa. Kakek akan menunggu hari itu tiba."

Rain dan Radit tertawa. Kehadiran Rain telah mengubah hari-hari Albert menjadi berwarna. Sudah lama dia menantikan hal ini.

Radit berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore.

"Kek, Radit izin pulang ya."

Radit mencium punggung tangan Albert. Anak itu memang sangat sopan.

Rain pun ke kamar untuk membersihkan dirinya. Dia ingat perkataan Ella yang harus menjauhi Rean. Jika tidak Ella akan menyebarkan foto-foto miliknya bersama Tomy.

Rain bergegas untuk menyelesaikan ritual mandinya dan berkutat dengan laptop dan juga ponselnya. Dia akan terus meneror Ella, juga memastikan jika Ella dan Jeny tidak lagi menyimpan foto-foto miliknya.

Sementara itu di apartemen Rean. Kenan dan Lando sedang asyik bermain PlayStation. Reno dan Sandy tertidur pulas. Sementara Rean berada di dapur membuat mie instan.

"Sayang, aku ke kamar mandi sebentar ya?" ucap Ella yang duduk di sebelah Kenan.

Kenan hanya mengangguk. Ella tersenyum puas. Akhirnya rencananya berhasil.

Ella menuju dapur karena di sana ada kamar mandi. Melihat Rean yang sedang memasak Mie instan membuat Ella semakin terpesona.

"Rean, aku ... Juga mau dong," kata Ella.

Rean menoleh dan membuka lemari untuk melihat stok mie instan.

"Pilih aja!" jawab Rean.

Ella berjinjit untuk memilih mie instan. Dia pura-pura terjatuh dan dengan sigap Rean menahan tubuh Ella.

Sesaat pandangan mereka bertemu. Ella mendekatkan wajahnya, tapi Rean segera membantu Ella untuk berdiri. Dia takut jika Kenan melihat dan malah menjadi salah paham.

"Ma-maaf. Aku nggak sengaja. Soalnya nggak nyampe." Ella menundukkan wajahnya.

"Nggak apa-apa," ucap Rean. Dia mengambilkan mie instan seperti miliknya.

"Aku ... Bikin sendiri aja!" Ella mencegah Rean saat hendak membuatkannya mie instan.

Rean membiarkan gadis itu membuat mie instan. Dia hendak pergi dengan mangkuk mie instan yang sudah lengkap dengan telur dan sayuran.

"Rean, tunggu!" Ella meraih tangan Rean dan menghentikan langkahnya.

"Aku takut, tolong temani aku dulu," rajuk Ella.

Rean menghela napas panjang. "Iya!" sahutnya.

Namun, tiba-tiba listrik padam. Membuat Ella ketakutan. Dia langsung menarik tangan Rean yang memang sejak tadi belum dia lepaskan. Ella memeluk Rean.

"Rean, aku takut. Biarkan aku seperti ini saja sampai listrik menyala."

Rean mematung. Ini tidak benar, Rean takut jika Kenan datang dan melihat semua ini. Rean mencoba melepaskan pelukan Ella. Namun, gadis itu justru semakin mengeratkan pelukannya.

"Lepasin! Gue nggak mau Kenan salah paham!"

Ella menggeleng, "Aku takut, Rean!"

rengek Ella. Gadis itu memang takut dengan gelap.

"Ken, Lo dimana!" teriak Rean.

Rean terus berusaha melepas pelukan Ella. Beruntung listrik kembali menyala. Rean berhasil melepas pelukan Ella di saat Kenan baru saja datang.

"Ella, kamu nggak apa-apa?" tanya Kenan khawatir.

Ella langsung menghambur ke dalam pelukan Kenan dan menangis.

"Sudah, tidak apa-apa. Ini sudah menyala." Kenan mengelus kepala Ella.

Sementara Rena membawa mangkuk mie instannya dan meninggalkan dua sejoli itu. Sebenarnya Rean masih sangat marah pada Kenan yang sudah lancang hendak menampar Rain. Meski lelaki itu sudah meminta maaf tetap saja Rean masih jengkel.

"Aku mau buat mie, tapi lampu mati ... Aku ... Meminta Rean untuk menemani. Dia menolak ... Karena takut kamu salah paham ... Hiks ... Aku minta maaf, Kenan. Karena aku tadi peluk Rean saking takutnya. Dia malah marah," jelas Ella di sela tangisannya.

Kenan tersenyum, dia sangat gemas jika Ella bersikap manja seperti ini. Entah mengapa semakin hari rasa cintanya semakin besar. Namun, saat Rain hadir dalam pikirannya bersama dengan Radit hatinya merasa kesal. Kenan segera menepis perasaan itu. Kenan melepas pelukannya dan menghapus jejak air mata di wajah Ella. Di kecupnya bibir Ella yang kemerahan itu. Kenan merasa tidak ada penolakan. Kenan kemudian ******* bibir Ella.

Selama berpacaran Ella tidak pernah mau di cium oleh Kenan. Hanya sebatas pipi dan kening saja. Kenan tidak tahu saja sikap Ella dibelakangnya.

Ella membuka bibirnya dan menikmati ciuman dari Kenan. Ciuman yang membuatnya dimabuk kepayang. Kenan merasakan bibir Ella yang begitu manis, bibir yang selalu membuat Kenan gemas dan ingin mencicipinya tapi selalu dia tahan. Ella melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kenan.

"Pemandangan yang luar biasa," bisik Lando yang segera menutup mata Reno.

Lando malah terus menatap Kenan yang sedang menikmati bibir Ella.

Reno mencubit tangan Lando yang terus menutupi kedua matanya.

"Aww! Sakit, Ogeb!" pekik Lando, membuat kedua sejoli itu melepaskan ciumannya.

Ella menunduk malu, dia langsung bersembunyi dibalik tubuh Kenan.

"Lo berdua ngapain?" tanya Kenan dengan suara yang serak akibat menahan hasratnya.

Kalau saja Lando tidak memekik mungkin Kenan sudah keblabasan.

"Ngg ... Gue mau bikin mie juga. Lo lanjut aja. Sorry ya kita ganggu!" Reno segera menarik tangan Lando untuk pergi.

"Kok balik lagi?" tanya Rean saat melihat Lando dan Reno kembali.

"Itu ... Ada___"

"Adegan dewasa 17 plus plus. Nggak boleh dilihat sama kita yang dibawah umur," ujar Lando yang dihadiahi pukulan di lengan oleh Reno.

Rean mengernyit. "Maksudnya?" Rean tidak paham dengan ucapan Lando.

"Gini, Lo kita kan jomblo kecuali Sandy yang sudah berpengalaman. Jadi sebaiknya kita di sini dulu!" kata Reno.

"Anjir! Apartemen gue buat mesum!" pekik Rean.

Rean yang hendak bangkit segera ditahan oleh Lando. Sementara Sandy melayangkan tatapan tajam pada Reno dan bersiap memberikan sebuah pukulan.

"Cuma ciuman, Ren. Lo tenang aja!" Lando mengambil alih mangkok mie instan Rean.

"Lo bilang sekali lagi coba, No! Gue pukul sini!" Sandy mengacungkan kepalan tangannya.

"Gue kan bicara jujur, San!" Kekeh Reno yang merebut mangkok Rean di tangan Lando.

Rean hanya menggeleng saja. Dia tidak sadar jika mangkok mie instannya sudah beralih tempat.

"Woy, mie gue!"

Lando dan Reno terkekeh. Sementara Kenan dan Ella datang dengan empat mangkok mie instan. Mereka datang seolah tidak terjadi apa-apa baru saja.

***

Rain bersiap-siap untuk pergi balapan. Dia sudah berada di balkon dan mengunci pintu kamarnya. Rain menunggu kedatangan Radit yang akan membantunya keluar. Sementara Rean sudah izin pada Kakek dan neneknya untuk tidak pulang malam ini karena ada balapan. Rean tidak tahu saja jika Rain juga ikut balapan dan menjadi saingannya.

"Pelan-pelan!" bisik Radit.

Rain sudah biasa pergi mengendap-endap dan turun dari balkon dengan sebuah tali. Dulu saat menjadi Lea dia akan selalu melakukannya ketika ada balapan. Meski berakhir ketahuan. Terkadang Lea mendapatkan hukuman karena pulang larut malam dengan wajah yang bonyok-bonyok.

"Jago juga pacar aku!" puji Radit.

"Ck, kayak gini doang kecil!" Rain menjentikkan jarinya.

"Nanti kamu pakai motor aku yang ada dimarkas ya."

Rain mengangguk. Dia pun membonceng Radit. Rain juga sudah memakai helm yang diberikan oleh Radit sebagai hadiah kemenangannya. Helm itu Rain sembunyikan agar Rean tidak tahu.

Radit mampir ke markas miliknya. Mengambil motor untuk digunakan Rain.

"Semangat ya, kalahkan dia supaya hati kamu nggak jengkel lagi," ujar Radit. Saat memberikan kunci motornya.

Rain mengangguk, dia sudah tidak sabar untuk segera ke sirkuit dan mengalahkan Kenan untuk kedua kalinya.

Rain dan geng black devil sudah berada di sirkuit. Mereka sudah siap dengan pakaian balap dan pelindung diri masing-masing. Ada Rean yang berada di sebelah Rain. Sementara sebelah Rean adalah Kenan dan sisanya anggota geng lain. Seluruh teriakan penonton menggema, terdengar nama Kenan yang mendapatkan support lebih banyak. Mereka para kaum hawa memang sangat mengidolakan Kenan dan ....

Radit?

Lelaki itu berada di dekat Rain. Gadis itu sangat terkejut karena Radit juga ikut. Kini supporter Kenan, Rean dan Radit saling bersahutan. Memang ketiga lelaki itu adalah para idola. Ketampanan mereka selalu membuat meleleh setiap kaum hawa.

Pertama kalinya Rain melawan kekasihnya sendiri.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

HNF G

HNF G

pasti nanti radit ngalang2in rean n kenan biar rain bebas meluncur 😄😄😄😄😄

2024-06-09

1

SweetiePancake

SweetiePancake

Ini rain gimana sih, gamau videonya kesebar tapi hari harinya masih aja trus di abaikan, bukannya minta tolong Ama Radit kek atau apalah

2024-02-17

2

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussemangat

2024-02-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!