Perempuan berpakaian seksi datang ke arena balap dengan membawa bendera lalu menghitung mundur.
Tiga ...
Dua ...
Satu ...
Motor Rean lebih dulu melesat meninggalkan garis start, sementara Kenan berada di belakangnya dan di susul oleh Radit juga Reno dan Sandy. Rain?
Dia masih duduk santai di atas motor milik Radit sambil memperhatikan semua lawannya yang sudah mulai menjauh. Hal itu mengundang banyak tanya para penonton.
"Si Queen ngapain sih?" tanya Reno.
"Itu taktik dia buat mengecoh lawan, pinter!" sahut Sandy.
Saat mereka sudah menjauh, Rain segera melesatkan motornya dengan kecepatan tinggi.
Wuuussshhhh ....
Rain berhasil melewati Sandy dan Reno. Sementara motor Rain berada tepat dibelakang motor Radit. Dia sudah bersiap untuk menyalip lelaki itu.
"Lo bakal merasakan kekalahan untuk kedua kalinya, Ken!" gumam Rain.
Gadis itu terus melajukan motornya. Dia sudah melewati Rean yang kini berada di urutan nomor dua. Sementara Kenan menjadi pemimpin. Kenan terus menambah kecepatan agar orang yang ada dibelakangnya tidak bisa menyalip. Kenan tersenyum puas karena berhasil membuat lawannya tidak bisa menyalip. Garis finish pun sudah terlihat dengan jelas. Kenan pun tersenyum karena kali ini dia akan memenangkan pertandingan ini.
Wuuussshhhh ....
Sial!
Penonton bersorak ramai saat motor Rain telah meraih garis finish. Tidak lama kemudian motor Kenan pun menyusul.
"Kenan!" panggil Ella saat Kenan sudah menghentikan laju motornya.
Kenan menatap Rain yang dikenal dengan nama Queen sedang mengacungkan jari jempolnya berbalik ke bawah. Menandakan orang itu sedang meledek Kenan. Tentu saja Kenan terbakar emosi, sayangnya lelaki itu tidak tahu saja jika orang yang telah mengalahkan adalah Rain.
"Kok Lo di sini?" tanya Kenan yang menyadari jika Ella berada di sampingnya.
"Aku juga pengen lihat kamu balapan!" Bibir Ella mengerucut. Membuat Kenan gemas.
Dia mencubit pipi Ella, mengabaikan rasa kesalnya pada orang yang telah mengalahkannya.
Lagi?
Dua kali Kenan telah dikalahkan oleh seorang Queen yang misterius itu.
"Selamat ya, Lo menang lagi!" ujar Rean sambil berjabat tangan pada gadis itu.
Rain mengangguk dengan helm yang masih dipakainya.
"Nih hadiahnya!" Reno memberikan amplop cokelat berisi uang seratus juta.
"Gue juga harus relain mobil gue!" Sandy mendengus kesal sambil memberikan kunci mobil kesayangannya.
"Gue penasaran sama Lo, secantik apa sih? Boleh nggak Lo lepas tuh helm?" tanya Sandy.
Rain menggelengkan kepalanya.
"Lo ... Bisa bicara kan?"
"Nih hadiah buat Lo!" Rean menyodorkan sebuah kotak berisi jam keluaran terbaru dan hanya diproduksi lima biji saja. Itu berarti hanya ada lima orang yang beruntung dan harganya juga lumayan mahal.
"Thanks!" ucap Rain yang membuat Sandy tersenyum.
"Sorry ... Gue kira Lo__"
"Bisu?"
Sandy mengangguk, sementara Radit menghampiri Rain yang sedang dikerumuni oleh geng Aksara.
"Queen, selamat ya Lo menang lagi!" Radit memeluk pinggang Rain.
Rean menatap tajam Radit, "Oh, ini yang namanya setia?" sindir Rean.
Radit segera menarik tangannya. Dia lupa jika ada Rean. Padahal yang dipeluk Radit adalah Rain. Hanya saja gadis itu bersembunyi dibalik helm full facenya.
"Rean, gue bisa jelasin. Dia ini__"
"Jadi ini si Queen yang udah ngalahin gue?" Suara lelaki itu memotong ucapan Radit.
Kenan bersama Ella yang kini memakai jaket milik Kenan memeluk lengan lelaki itu. Ada rasa sakit dari lubuk hati Rain yang paling dalam. Dulu, saat Rain asli mengejarnya Kenan tidak pernah meminjamkan jaketnya disaat dia kedinginan karena kehujanan. Dia tidak perduli dan kini Rain melihat betapa perhatiannya Kenan kepada Ella.
"Kenapa?" jawab Rain. Aura dingin itu bisa dirasakan oleh orang sekitarnya.
"Jago juga Lo! Siapa sih sebenarnya Lo itu?"
"Orang!"
Kenan mengepalkan kedua tangannya. Kalau saja tidak ada Ella di sini, dia sudah ingin menghajar gadis sombong yang ada dihadapannya.
"Cih, jangan bangga dulu! Ini bukan apa-apa. Masih ada pertandingan selanjutnya dua hari lagi!" Kenan mendorong pundak Rain dan melempar amplop cokelat berisi uang tiga ratus juta. Lelaki itu pun melangkah pergi.
"Gue nggak butuh duit Lo!" teriak Rain. Membuat lelaki itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
Rean juga menoleh menatap Queen. Suaranya tidak asing. Rean seperti pernah mendengarnya.
"Baru ngalahin gue aja udah sok!"
Rain hendak menghajar lelaki itu, tapi Radit menahan lengan Rain.
"Tahan, jangan sampai dia tahu kamu siapa!" bisik Radit.
"Ambil tuh duit, nggak Sudi gue mungut duit dari orang angkuh kayak Lo! Dasar b*r*ng*ek!"
Kenan tidak perduli dan memilih meninggalkan Rain. Dia tidak mau ada keributan malam ini. Sementara Sandy mengambil amplop itu dan menyerahkannya pada Rain.
"Maafin Kenan ya, dia memang lagi sensi!" ujar Sandy.
"Bilang sama ketua Lo itu supaya menerima kekalahan!" ujar Rain kemudian. Dia juga tidak mau menerima amplop itu.
Baginya hadiah malam ini sudah sangat cukup. Rain mengajak Radit untuk pergi, sementara Rean masih menatap gadis itu. Dia merasa tidak asing dengan suaranya.
"Gue pergi bentar. Lo duluan aja!" Rean pergi meninggalkan kedua sahabatnya dan mengejar Rain.
Reno dan Sandy pun memilih pergi dan menemui para fansnya untuk berfoto bersama. Tentu saja sambil ....
"Boleh?" ucap Reno.
Gadis yang ada dihadapannya ini mengangguk. Lalu Reno membawanya masuk ke dalam ruangan yang sepi. Mereka tengah asyik menikmati malam indah yang panjang. Hal yang pertama kali Reno lakukan, meski bukan pertama untuk gadis itu.
Sandy pun juga melakukan hal yang sama. Menikmati setiap momen bersama seorang perempuan seksi yang selalu menunggu kedatangannya.
Ruangan itu dipenuhi oleh ******* kedua anak remaja hanya untuk kesenangan semata.
Sementara Rean menarik tangan Queen. Di saat Radit sedang pergi untuk mengambil motornya.
"Lo Rain, 'kan? Lo mungkin bisa bohongin semua orang tapi Lo nggak bisa bohongin gue!" Rean mencoba melepaskan helm gadis itu.
Rain berusaha agar Rean tidak berhasil melepaskannya. Rain seharusnya sadar jika Rean adalah saudara kembarnya jadi pasti Rean tahu jika itu dirinya.
"Mau Lo nyamar kayak apapun gue tetep tahu itu Lo, Rain! Buka atau gue paksa!"
Rain mencubit lengan Rean, hingga tangan Rean terlepas dari helmnya. Saat Rain hendak pergi, Rean kembali menariknya.
"Rain, gue tahu itu Lo! Buka nggak!"
Rain pasrah dan akhirnya membuka helm yang sejak tadi dia pakai. Rain mengibaskan rambut panjangnya.
"Cantik!" batin Rean.
Rain menghela napas dan menundukkan kepalanya.
"Bener kan dugaan gue! Lo mau sembunyi kayak apapun gue bisa nemuin Lo, Rain! Lo lupa kita itu kembar?"
"Maaf," ucap Rain.
Rean menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir jika Rain bisa menaklukkan sirkuit. Mengalahkan Kenan yang selalu menjadi juara setiap kali balapan.
"Lo kenapa sih nyamar segala, hah!" Rean bertanya dengan nada yang rendah. Tidak seperti tadi.
"Gue takut nggak Lo bolehin ikut. Motor baru yang nenek beliin aja Lo simpen kuncinya." Rain menggembungkan pipinya. Dia jengkel dengan sikap Rean yang terlalu berlebihan.
Rean meletakkan kedua tangannya di bahu Rain.
"Gue cuma takut Lo kenapa-kenapa! Lo nggak boleh ikut lagi, ini nggak baik buat Lo, Rain!"
Radit yang baru saja datang pun terkejut karena Rean sedang berbicara dengan Rain. Gadis itu juga sudah membuka helmnya.
"Lo jadi cowok juga bego! Kenapa Lo bolehin adik gua ikutan balapan, hah!" Rean menunjuk ke arah Radit.
Dia tidak peduli jika usia Radit lebih tua darinya. Ini demi menjaga sang adik kesayangannya.
"Bang, bukan salah Kak Radit. Ini kemauan gue!" Rain mendorong bahu Rean. Dia tidak mau jika Radit dihajar oleh Rean.
"Gue minta maaf, seharusnya gue nggak melibatkan Rain."
"Maaf kata Lo? Dengan membuat Kenan marah? Nyawa Rain bakal terancam!" bentak Rean.
Tatap Rean sudah dipenuhi oleh emosi, wajahnya juga memerah. Rain segera berdiri di tengah-tengah dua lelaki itu dan memeluk erat Rean untuk meredakan emosinya.
"Abang, udah. Ini bukan salah Kak Radit. Gue yang maksa dia buat bolehin ikut balapan. Salahin gue, pukul gue, bang!"
Rean menghela napasnya. Dia mati-matian menahan emosinya untuk tidak memukul lelaki yang telah menyeret Rain dalam masalah.
"Gue nggak bakal peduli kalau Kenan nyerang markas Lo! Tapi gue nggak bakal biarin Lo hidup kalau sampai Rain kenapa-kenapa!" ancam Rean yang langsung menarik tangan Rain untuk dibawanya pergi.
"Naik!" perintah Rain yang kini sudah memakai helmnya kembali.
Beruntung Reno dan Sandy tidak melihat Rean. Juga arena balapan sudah sepi. Jadi tidak ada orang yang melihat Rean bersama Queen atau Rain.
Sepanjang perjalanan Rean hanya diam. Dia hanya berusaha untuk menghilangkan emosinya. Rain yang membonceng lelaki itu pun memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepala di punggung lelaki itu. Agar Rean tidak lagi emosinya padanya.
Rean membawa Rain kembali ke apartemen. Dia tidak mau mengganggu orang-orang di rumah Albert yang sedang beristirahat. Apalagi ini sudah hampir jam dua pagi.
"Gue balikin." Rain mengembalikan kotak berisi jam tangan itu pada Rean.
"Gue sengaja beli buat Lo karena gue yakin itu Lo, Rain." Rean membelai pipi Rain.
Kini keduanya duduk di sofa.
"Bisa nggak? Jangan bikin gue khawatir lagi?"
Rain mengangguk lemah. Rupanya kekhawatiran Rean begitu besar padanya. Rain paham kenapa Rean melarangnya kembali balapan karena Kenan yang mungkin bisa saja mencelakainya.
Keduanya saling diam dengan pemikiran masing-masing. Rain memikirkan nasib hubungannya dengan Radit. Dia takut jika Rean tidak memperbolehkan lagi berhubungan dengan Radit.
"Lo belajar balap darimana?" Akhirnya Rean buka suara.
"Eum ... Itu ... Dari orang! Banyak hal yang gue pelajari!" jawab Rain asal.
Masa iya mau jawab kalau dia bukan Rain jadi bisa sejago ini! Mana mungkin kan dia jujur pada Rean. Sebenarnya Rain juga bahagia karena melihat Rean yang begitu khawatir. Rean sudah berubah dan menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi Rain.
"Berhenti!"
"Bang, Lo mau gue gimana lagi? Pulang sama Kak Radit Lo larang. Jalan bareng Mia juga Lo larang. Bahkan gue kayak anak pingit tahu nggak! Lo boleh khawatir sama gue, tapi nggak gini juga!"
Rean menatap wajah adiknya itu sendu. Apa yang Rain katakan memang benar. Dia akhir-akhir ini terlalu overprotektif pada Rain. Sejak saat Kenan marah padanya karena Radit mendekati Rain. Juga saat Kenan hendak menampar adiknya itu. Rean semakin mengetatkan diri untuk melindungi Rain.
"Gue seharusnya nggak bikin Lo tertekan. Gue hanya takut Lo kenapa-kenapa. Rain, gue cuma nggak mau Kenan melakukan kekerasan sama Lo!"
"Gue bisa jaga diri sendiri!" bela Rain.
Rean mengalah, seharusnya dia juga memberi Rain kebebasan. Dia juga tahu kalau Rain sekarang pandai bela diri. Bisa melindungi dirinya sendiri dari orang-orang yang mengganggunya. Hanya saja Rean takut jika Rain pergi meninggalkannya.
"Gue minta maaf, Rain!" Rean memeluk erat Rain.
"Gue cuma takut Lo pergi ninggalin gue ... Lo nggak mau lagi kenal sama gue!"
Hati Rain seakan tercubit mendengarkan ucapan Rean. Rupanya Rean mengalami ketakutan yang teramat dalam. Sikap Rain yang asli dulu membuat lelaki itu trauma.
"Gue nggak akan ninggalin Lo, Bang. Maafin gue juga ya bikin Lo khawatir."
***
Rain membuka matanya dan baru menyadari jika dirinya sudah berada di kamar. Padahal semalam dia tertidur di sofa dengan posisi memeluk tubuh Rean. Rain melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ini ... Sudah kesiangan jika untuk pergi ke sekolah. Rain segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia bergegas keluar tapi suasana sepi.
Dimana Rean?
Rain membuka pintu kamar Rean, tapi laki-laki itu sudah tidak ada. Rain ke lantai dasar dan melihat ke arah dapur. Dia menghela napas lega karena lelaki itu sedang memasak.
"Pagi," sapa Rean yang sedang meletakkan masakannya di piring.
"Abang, kita nggak sekolah?" tanya Rain.
Rean tersenyum, "Hari ini libur kan ada tanggal merah!"
Rain melirik kalender yang ada di meja pantry. Ah, iya dia lupa jika hari ini libur.
Rain mendekati Rean dan membantu lelaki itu menyiapkan sarapannya. Rean mengecup bibir Rain tiba-tiba. Hal itu membuat tubuh Rain menegang.
"Gue udah selesai jadi Lo nggak perlu bantuin." Rean membawa nampan berisi dua gelas susu dan dua piring kosong. Lalu dia meletakkan di meja depan televisi.
Rean kembali dengan membawa capcay, ayam goreng dan mie goreng juga nasi. Lalu meletakkan di meja dan menatanya. Sementara Rain? Masih berdiri mematung di tempat semula. Rain masih syok dengan yang terjadi baru saja.
"Rain? Lo mau di situ terus?" panggil Rean.
Lelaki itu seolah tidak merasa bersalah. Ini tadi Rean mengecup bibir Rain lho! Rain itu adiknya dan bibirnya belum pernah di sentuh siapapun. Ah, iya lupa. Tomy sudah mengambil ciuman pertamanya. Hanya saja itu dia tidak sadarkan diri. Ini dia secara sadar dicium oleh kakaknya?
"Bang, Lo nyebelin!" Rain menuju ruang televisi dengan wajah cemberut.
"Kenapa?" Rean menyusul dan duduk di samping Rain.
"Kita sedarah, Abang! Lo nggak boleh gitu!" gerutu Rain.
Rean terkekeh, "Kecupan tadi? Rain ... Rain ... Kita udah biasa melakukannya. Bahkan dulu saat mama masih hidup juga selalu mendapatkan kecupan di bibir. Apa salahnya hanya kecupan?"
Rain semakin syok, jadi hal ini sudah biasa terjadi? Ah, iya memang ada sih hal yang seperti itu. Hanya saja Rain baru pertama kali merasakan sebuah kecupan dari seorang lelaki. Bahkan Radit saja tidak pernah melakukannya.
"Udah ayo makan, apa mau lebih dari kecupan? Biar aku ajarin." Rean menyeringai.
Rain mencubit lengan Rean, membuat lelaki itu malah tertawa geli.
***
Radit terus mencoba menghubungi Rain sejak semalam tapi gadis itu tidak kunjung mengangkat teleponnya atau membalas pesannya. Radit khawatir jika Rean sudah melarang hubungannya. Namun, Radit tidak perduli, dia akan memperjuangkan cintanya. Meski sekarang Radit tidak akan memperbolehkan Rain ikut balapan lagi.
Radit menyambar jaketnya yang dia letakkan dibelakang pintu. Dia akan menemui Rain ke rumah kakek Albert. Namun, saat hendak membuka pintu, ponsel Radit berdering panjang. Radit segera mengangkat telepon itu. Senyum mengembang saat mendengar suara seorang gadis di seberang sana.
"Aku minta maaf ya, semalam ada perdebatan panjang dan langsung tidur. Aku juga baru selesai sarapan karena kesiangan," jelas Rain di sebrang sana.
Radit berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya. Dia mematikan sambungan telepon tersebut dan menggantinya dengan video call.
"Ah, ya ampun. Aku lupa jika tadi bukan video call ya?"
Terlihat dengan jelas wajah Rain memenuhi layar benda pipih itu. Rain menepuk keningnya.
Radit terkekeh melihat tingkah menggemaskan gadis yang selalu saja memenuhi hati dan pikirannya.
"Kamu ... Nggak di rumah kakek?" tanya Radit.
Rain menggeleng, "Di apartemen. Semalam Rean tidak mau kalau kakek dan nenek mendengar perdebatan kita." Rain menghela napas panjang.
"Tadi nenek juga kaget karena aku nggak ada di kamar. Nenek panik dan menghubungi Rean. Makanya aku lupa hubungi kamu."
"Nggak apa-apa, terus gimana tadi?"
Rain tertawa geli sebelum menjelaskannya. "Nenek ngomel karena Rean berbohong. Rean bilang kalau dia yang membawa aku."
Radit membayangkan lelaki dingin dan posesif itu dimarahi oleh nenek Sania. Radit jadi ikut tertawa.
"Terus ... Gimana hubungan kita?" tanya Radit, raut wajahnya berubah sendu.
Rain menghentikan tawanya. Dia juga terdengar menghela napas dan menundukkan kepala sesaat.
"Baik-baik saja. Rean bilang kalau aku juga boleh balapan lagi, tapi harus minta izin dan berangkat juga pulang sama dia."
Radit tersenyum, dia sangat bahagia jika Rean masih memperbolehkan dirinya menjalin hubungan dengan adiknya.
"Posesif sekali. Terus sekarang boleh nggak aku bawa kamu jalan-jalan?"
"Benarkah?" Kedua mata bulat Rain berbinar.
"Aku akan minta izin dulu sama Rean!"
Rain melangkah keluar kamar tanpa mematikan sambungan teleponnya.
Cklek ...
Rain membuka pintu kamar Rean. Memperlihatkan lelaki itu yang sedang berbaring di atas ranjang sembari bermain game.
"Bang, gue mau jalan sama Kak Radit!" ucap Rain.
Rain menoleh ke layar ponselnya dan mematikan sambungan tersebut.
"Kemana?" tanya Rean tanpa menoleh ke arah Rain.
Gadis itu sudah duduk di tepi ranjang.
"Ya mana gue tahu. Boleh apa enggak? Bosen nih di rumah terus. Emangnya Lo yang jomblo!"
Kening Rean mengerut. Bisa-bisanya dia diledek oleh adiknya. Memang selama ini Rean belum pernah menjalin hubungan asmara dengan gadis manapun.
"Jangan-jangan Lo gay ya?" tebak Rain.
Rean memukul wajah Rain dengan bantal.
"Sembarangan! Gue normal asal Lo tahu! Lo mau buktiin?" Rean menyeringai dan meletakkan ponselnya asal.
"Apa yang mau gue buktiin ke elo Rain?" bisik Rean.
Rain segera mendorong wajahnya. Dia merinding dengan Rean yang tiba-tiba mengerikan.
"Abang! Ih, gue adik Lo kalau Lo lupa!"
Rean terkekeh dan mencubit pipi Rain dengan gemas.
"Gemesin kalau lagi takut!"
Dengan santainya Rean mencium pipi Rain dan meraih jaketnya.
"Ayo, gue ikut kemanapun Lo pergi!"
Rain mencebik, "Nggak deh, mending di rumah aja!" Rain menghentakkan kakinya.
Kalau Rean ikut namanya bukan kencan. Kenapa lelaki itu jadi seposesif ini? Kemanapun Rain pergi dia akan ikut.
"Radit itu bisa jaga aku, Abang. Dia nggak bakal macem-macem!"
"Itu kan penilaian elo, belum tentu Lo tahu apa yang akan terjadi. Gue juga lelaki, Rain!"
"Makanya punya cewek gih! Kalau Abang kencan terus gue ikut emang mau?"
Rean menimbang ucapan Rain dan membayangkan dia berkencan dengan gadis idamannya. Ah, nggak asyik juga.
"Baiklah, Lo boleh pergi asal jangan malem-malem pulangnya. Minta Radit anter ke rumah nenek. Nanti gue kesana."
Rain memeluk Rean karena mendapatkan izin untuk pergi.
"Makasih, Abang!" Rain mengecup pipi lelaki itu.
"Itu doang? Yang ini juga dong!" Rean menunjukk bibirnya yang kemerahan.
Rean memang tidak suka Alkohol apalagi merokok. Maka dari itu bibirnya terlihat kemerahan dan juga seksi.
Rain memberanikan diri untuk mengecup bibir lelaki itu. Mungkin Rain asli sering melakukannya tapi kini Rain yang sekarang baru pertama kali melakukannya. Ada debaran yang bisa Rain dengar sendiri. Ketika Rain melepas kecupannya, Rean menahan tengkuk Rain dan membalas kecupan itu. Menyesap bibir bawah Rain yang terasa ...
"Manis," ucap Rean santai dan kembali melanjutkan bermain game.
Napas Rain tercekat saat kejadian yang baru saja diluar pikirannya. Rean mencium bibirnya? Ini tidak benar! Lalu lelaki itu merasa biasa saja?
Bugh
Bugh
Bugh
Rain memukuli wajah Rean dengan bantal. Lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Abang! Lo ambil ciuman pertama gue!"
Rean hanya terkekeh. Ciuman pertama katanya.
"Mana ada? Ciuman pertama gue aja diambil sama mamah. Apalagi Lo!"
"Hah?"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Reni Ajja Dech
kalau masih lanjut cerita jijih antara sedara.gk mw lanjut lagi thor.mw muntah jd ny
2024-08-07
0
R yuyun Saribanon
thor ko ceritanya jd najis gini ...
2024-06-18
0
HNF G
ya ampuuunnnn.... woiii nyebuut.... 🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2024-06-09
0