Bab 2

"Rain Lo kesambet apa sih saat koma?"

Lea tidak memperdulikan pertanyaan Rean, dia tidak tahu saja Rain asli itu tidak bar-bar seperti sekarang. Bahkan dia paling takut untuk mengendarai motor sendirian. Rean selalu mengajaknya untuk belajar, tapi Rain asli selalu menolak.

"Bang, rumah kita ke mana?" Lea baru sadar dia tidak tahu jalan pulang.

Rean menggelengkan kepala dan menghela napas. Bisa-bisanya si adik tidak bertanya dan itu sudah sangat jauh dari jalan pulang ke rumah.

"Berhenti!" perintah Rean yang langsung dituruti oleh Lea.

Lea menghentikan motor sport milik Rean di pinggir jalan.

"Lo berubah, Rain!" ujar Rean. Sejak tadi dia dibuat terkejut oleh Rain yang sebenarnya adalah Lea.

"Berubah gimana sih, Bang? Nggak ada yang berubah! Gue cuma pengen jadi orang yang lebih baik aja."

Rean memukul kepala Rain yang memakai helm, lalu menggantikan posisi Rain. Gadis itu memeluk Rean dari belakang, jika ada yang melihat maka mereka akan mengira sepasang kekasih bukan adik-kakak.

"Turun!" Rean mengehentikan motornya di basemen.

"Heh, kita nggak tinggal di rumah?" tanya Lea.

"Hah heh hah heh!" protes Rean yang langsung pergi begitu saja.

Lea mengejar langkah Rean yang cepat itu. Bisa-bisanya dia pergi begitu saja meninggalkan sang adik yang baru saja sadar dari koma.

"Bang, maaf ya. Gue nggak sengaja!"

Sepanjang perjalanan menuju unit apartemen milik Rean, Lea terus membujuk Rean supaya memaafkan dirinya. Namun, lelaki itu diam dan tidak perduli dengan ucapannya. Padahal Lea tidak pernah membujuk seseorang yang sedang ngambek. Selalu diem aja dan nggak peduli. Berhubung dia sedang menjadi orang lain jadi ya mengikuti kata hatinya saja. Lea pikir ini adalah perasaan Rain yang asli, nggak mau kalau Rean marah.

"Dengar, gue ini kakak Lo. Meski Lo kembaran gue tapi Lo harus sopan sama gue!" kata Rean kesal meski begitu Rean benar-benar nggak marah kok.

Lea tertegun mendengar penuturan Rean! Rain dan Rean kembar? Bagaimana bisa mereka kembar.

"Kembar?" gumam Lea.

Rean menoleh ke belakang, dimana Lea masih berdiri di ambang pintu.

"Lo mau masuk apa mau berdiri terus di situ!"

Lea tersadar dari lamunannya dan segera masuk ke apartemen mewah dua lantai milik Rean. Apartemen yang jauh lebih mewah dari miliknya saat hidup menjadi Lea. Itu juga dia dapat dari Aldi, sebab pekerjaan yang dia jalani bukan pekerjaan biasa. Lea harus melakukan itu karena bosan di rumah. Dia memang orang berada tapi tidak sekaya Rean dan Rain. Kedua orang tuanya sibuk bekerja karena memiliki usaha sendiri.

"Wuih keren, Lo orang kaya ya ternyata!"

Rean menggeleng pelan, tingkah adiknya yang amnesia ini benar-benar absurd dimatanya.

"Kita, Rain. Bukan hanya gue!" ralat Rean

Lea hanya nyengir saja. Oke baiklah, Lea harus terbiasa sekarang untuk menjadi adik dari Rean. Meski sebenarnya usia Lea lebih tua dari Rean. Dia juga harus terbiasa dengan tubuh milik Rain. Gadis itu sudah berpesan untuk menggunakan tubuhnya dengan baik. Dia berharap suatu saat bisa kembali ke tubuhnya yang asli. Meski itu kemungkinan yang mustahil. Lea sangat penasaran kenapa Rain menyerah dengan kehidupannya. Padahal jika dilihat tidak terjadi apa-apa. Rain memiliki kakak yang sangat sayang dan perhatian padanya. Rain orang kaya dan tentu saja bergelimang harta.

Apa yang membuat Rain menyerah dan memilih Lea untuk menggantikan perannya?

"Bang, kamar gue dimana ya?" tanya Rain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Rean yang sedang duduk di sofa pun menunjuk ke arah tangga.

"Ada dua kamar di sana, Lo bisa baca kamar milik Lo yang mana," ujar Rean santai.

Rain bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia akan mencari informasi mengenai Rain asli dimasa lalu. Sungguh rasa sakit di kepala juga pergelangan tangannya mendadak hilang berganti rasa penasaran yang luar biasa.

"Rain. G" gumam Lea.

Gadis berambut kecokelatan itu pun membuka perlahan pintu bercat cokelat itu. Lagi dan lagi Lea dibuat kagum oleh kamar tersebut. Rapih dan wangi, menandakan kepribadian Rain yang bagus. Rain memang sangat merawat dengan baik barang-barang miliknya.

"Lo cantik dan rapih, tapi kenapa Lo rapuh, Rain?" ujar Lea saat memandangi setiap sudut kamar Rain.

Dia menutup pintu dan merebahkan diri di kasur empuk dengan sprei motif sapi. Banyak boneka sapi yang tertata rapih di rak dekat jendela. Kamar khas anak gadis remaja. Pandangan Lea tertuju pada meja belajar warna putih hitam itu. Rupanya Rain asli sangat menyukai motif sapi. Kamar miliknya di desain seperti warna sapi.

"Gue jadi berasa lagi di kandang sapi!" celetuk Lea seraya tersenyum.

Di atas meja belajar itu ada tas dan buku-buku milik Rain asli. Ada juga laptop dan ponsel. Lea segera menyalakan ponsel milik Rain. Mencari informasi tentang Rain asli.

"Cantik juga gue! Hehe sekarang gue Rain jadi boleh dong memuji diri sendiri!"

Jemarinya berhenti pada sebuah aplikasi berlogo hijau itu. Hanya ada dua pesan dari dua nomor yang berbeda. Kenan dan Ella.

Rupanya Rain yang mengirim pesan untuk Kenan. Pesan sebagai bentuk perhatiannya pada Kenan, tapi lelaki itu hanya menjawab 'oke dan ya' saja. Lea heran kenapa Rain tetap saja memberi lelaki itu perhatian. Padahal lelaki bernama Kenan ini tidak perduli padanya.

Lea membuka pesan dari Ella.

Lo masih berani deketin Kenan, gue nggak akan segan-segan bongkar kebusukan lo! Dasar wanita murahan!

Lo lihat aja, gue bakal sebarin foto-foto Lo ke Kenan. Biar dia tahu seberapa busuknya Lo!

Foto? Apa yang telah terjadi antara Ella dan Rain? Apa ini penyebab Rain asli menyerah? Lea bergegas ke bawah dan menemui Rean untuk menanyakan tentang Ella.

"Abang!" teriak Rain seraya berjalan menuruni anak tangga.

Rean sedang sibuk dengan ponselnya pun mendesah kesal. Ruangan yang tidak jauh saja Rain sudah berteriak-teriak seperti di hutan.

"Lo bisa nggak sih, manggil tanpa teriak-teriak!"

"Nggak bisa!" Rain duduk di sebelah Rean. Menatap lekat lelaki yang mengaku kembarannya itu.

Ditangan Rain sudah ada cermin kecil yang dia temukan di dekat meja belajar. Lalu dia menatap pantulan dirinya, Lea masih tidak percaya dengan semua ini. Wajah Rain asli sangat cantik dengan rambut panjang berwarna kecoklatan. Mata bulat dengan manik mata berwarna kecokelatan dan bulu mata lentik. Hidung mancung dan bibir berwarna merah Cherry. Sungguh indah bak bidadari.

Lalu Lea mengalihkan pandangan ke arah Rean. Lelaki itu diam memperhatikan tingkah aneh adiknya. Biasanya dia akan terus berada di kamar dan tidak akan keluar jika tidak ada keperluan.

"Lo yakin kita kembar?" Pertanyaan yang konyol membuat Rean menoyor kepala Rain.

"Ih, apaan sih, Bang. Gue nanya emang kita asli kembar apa Lo pura-pura bilang kita kembar gara-gara amnesia! Lo bohongin gue? Muka kita nggak mirip sama sekali!"

Rean mengambil cermin yang dipegang oleh Rain. Lalu meletakkannya di meja. "Kita kembar fraternal, lebih tepatnya tidak identik. Jika tidak dilihat secara seksama memang tidak ada kemiripan. Mana mungkin gue bohongin elo, makanya Lo cepet pulih biar percaya!" jelas Rean.

"Terus kenapa kita tinggal di sini?" Banyak pertanyaan yang ingin Lea tanyakan. Dia sangat tidak sabar untuk mencari informasi mengenai Rain asli.

Rean menghela napas panjang, dia sebenarnya merasa senang karena Rain amnesia. Itu artinya tidak ada kenangan buruk dalam ingatannya. Jika dia menjawab pertanyaan Rain, Rean tidak yakin jika Rain akan bersedih atau justru malah sembuh dari amnesia.

"Bokap mana mau kita tinggal di rumahnya. Udah Lo tenang aja, Rain. Gue yang bakal jamin hidup Lo, gue punya banyak tabungan dan kita bisa hidup tanpa uang dari bokap. Pemberian mama sangat berharga dan bisa untuk masa depan kita!" ujar Rean.

Rain terdiam, kehidupan Rain asli sangatlah rumit seperti di novel saja.

"Bang, nama Lo itu Rean ya?" Rain mengalihkan topik dia paham dengan suasana hati Rean. Sebenarnya ingin menambah pertanyaan tapi, itu pasti akan membuat Rean semakin sedih jika menjelaskan semuanya.

Biarlah apa yang terjadi itu akan Lea cari tahu sendiri, mungkin nanti akan bertanya lagi jika suasana hati Rean sudah membaik.

"Iya, gue Reandra Gabriel Klopper. Kalau Lo Raina Grittella Klopper. Mama kita bernama Kimberley Griena Rose. Kalau bokap Damian Klopper."

Rain mengangguk, "Ella itu siapa?" tanya Rain yang penasaran tentang Ella.

"Dia itu anak baru di kelas kita, Lo benci banget sama dia. Gue heran deh sama Lo." Rean mengubah posisi duduknya menjadi sedikit miring.

"Sebenarnya kenapa sih Lo benci banget sama Ella. Gara-gara dia deket sama Kenan? Rain, biarin deh mereka mau pacaran apa enggak, Lo nggak usah perduli. Toh nanti Kenan nikahnya sama elo!" jelas Rean.

Rean tidak ingin adiknya ini selalu ada masalah dengan Ella. Apalagi Rain selalu mendapatkan hukuman di sekolah.

"Mana gue tahu, Bang. Gue lupa semuanya malah Lo nanya gitu!" Rain melipat kedua tangannya. Dia benar-benar gemas dengan Ella dan juga Rain asli yang ribut hanya karena cowok. Lea juga mengurungkan niatnya untuk memperlihatkan pesan ancaman Ella.

"Oh, iya gue lupa!" Rean menepuk keningnya.

Rain hanya memutar kedua bola matanya malas. Dia akan mencari tahu penyebab Rain asli bunuh diri. Dia tidak akan melepaskan siapapun yang telah menyakiti Rain asli. Lea yang ada di dalam tubuh Rain sangat bersemangat membalaskan dendam dan mengubah takdir Rain. Dia berharap jika usahanya telah selesai maka dia bisa kembali ke tubuhnya.

"Istirahat gih, kita besok udah sekolah." Rean bangkit dari duduknya karena harus pergi sekarang juga.

"Ck, jadi kita masih sekolah? Males banget harus kembali lagi ke masa putih abu-abu," celetuk Rain tidak sadar dengan ucapannya itu.

"Kembali lagi? Apa maksudnya?"

Rain hanya bisa nyengir, dia lupa bahwa sekarang ini kehidupannya berbeda. Berada di tubuh remaja yang berusia 15 tahun!

Lea, kamu harus ingat itu! Berada di dalam tubuh gadis lima belas tahun! batin Lea.

"Ng-nggak ada maksud apa-apa. Gue ke kamar dulu!" Rain berlari ke kamarnya. Dia tidak ingin memperpanjang masalah itu.

***

Keesokan harinya, Rain telah bersiap dengan seragam sekolah. Menatap dirinya di pantulan cermin. Rain masih saja terkagum melihat bayangan dirinya saat ini. Bagaimana bisa dia terpental jauh entah dimana dan hidup pada tubuh gadis yang sempurna ini.

Gadis ini sepertinya blasteran, melihat Rean yang juga memiliki manik mata yang sama, hanya saja rambutnya hitam tidak kecoklatan seperti dirinya. Rain juga penasaran bagaimana rupa kedua orangtuanya Rain.

"Oke, kita mulai kehidupan ini, Rain! Gue janji bakal mengubah kehidupan elo, meskipun gue belum tahu apa yang membuat elo menyerah!" gumam Rain saat bercermin. Rain juga memastikan tampilannya sudah rapih dan tidak terlalu mencolok.

Saat hendak mengetuk pintu kamar Rain, Rean dikejutkan oleh Rain yang telah lebih dulu membuka pintu.

Rean menatap adiknya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia benar-benar tidak percaya ini.

"Apa ini, Rain? Lo berubah?"

Rain heran, apanya yang berubah? Bukankah sejak kemarin memang dirinya seperti ini?

"Maksud Abang gimana sih? Apanya yang berubah?"

Rean mendorong tubuh Rain untuk masuk ke dalam kamar. Menuju cermin besar di tempat meja rias.

"Ini, penampilan Lo sebelum amnesia bukan seperti ini! Lo yakin bakal ke sekolah dengan panampilam seperti ini?" Raut wajah Rean sangat khawatir.

Semakin kesini Lea yang berada di tubuh Rain di buat bingung. Penampilannya tidak ada yang salah. Dia juga memoles make up tipis di wajah Rain. Terkesan natural malah, dasarnya kulit Rain yang bersih jadi tidak perlu make up berlebihan. Juga karena Lea yang tomboy tidak tahu penggunaan make up.

"Lo kayak anak tomboy, woi! Lo kelihatan cantik. Gue suka Lo tampil apa adanya dan pede. Gue mau Lo pertahankan seperti ini," ucap Rean yang kini tersenyum. Raut wajah yang khawatir itu telah berganti binar bahagia.

"Memangnya gue dulu gimana?" tanya Rain yang masih menatap dirinya dan Rean di pantulan cermin.

"Lo malu kalau tampil apa adanya. Lo selalu pakai Wig ini. Lo bilang kalau penampilan Lo yang nerd orang jadi ilfil dan nggak akan ada yang deketin. Kacamata tebal dan juga wajah sedikit kusam. Lo selalu seperti itu kalau sekolah. Sekarang dengan penampilan Lo yang seperti ini gue bangga. Akhirnya Lo berani jadi diri Lo sendiri. Lo selalu malu dengan rambut Lo yang mirip Mama."

Rain tersenyum dan tanpa sengaja memeluk Rean dengan erat.

"Terima kasih, Abang."

"Sama-sama, tetap seperti ini ya?"

Rain mengangguk. Penampilan yang sederhana tapi telah membuat Rean bangga. Juga menunjukkan sisi tomboy Lea saat dulu. Lea itu memang gadis tomboy, selain pandai bela diri saat masa putih abu-abu dia sangat ditakuti oleh murid-murid lain. Dia juga anak motor dan selalu ikut balap motor dengan menyembunyikan identitasnya.

"Sekarang kita sarapan, gue udah masakin buat Lo!" Rean menarik lengan Rain.

"Lo bisa masak?" tanya Rain ragu.

Rean tidak menjawab, dia menuju ruang makan yang juga menjadi ruang televisi itu. Di meja kecil itu sudah tersaji dua piring nasi goreng dan juga dua gelas susu.

" Besok biar gue yang masak."

Rean mengangguk, dia akan lihat seberapa bisa Rain ke dapur. Mungkin berakhir dengan membuat dapur seperti terkena gempa bumi, atau masakan yang tidak bisa dimakan. Selalu seperti itu dan akhirnya Rain menyerah. Namun, Rean tidak tahu saja bahwa saat ini Rain telah menjadi gadis yang kuat dan serba bisa. Keahlian Rain akan membuat Rean terkejut nantinya.

"Lo kenapa sih, Bang? Lihatin gue kayak gitu! Jangan-jangan Lo naksir ya sama gue?"

Rean menoyor kepala Rain. "Bosen yang ada gue sama Lo! Selera gue bukan cewek kayak Lo!"

Rain tertawa renyah, seperti ini saja membuat hatinya bahagia. Selama ini Lea selalu hidup sendiri. Kedua orangtuanya sibuk dengan pekerjaan, hanya dengan Aldi saja dia bisa tertawa lepas. Selebihnya sikap Lea akan dingin pada yang lainnya.

Kira-kira di sekolah nanti Lea bisa bersikap dingin juga nggak ya? Sejak kemarin dia bersikap seperti Tom and Jerry ketika bersama Rean.

Usai sarapan, Rain membawa piring dan gelas ke wastafel. Dia juga mencucinya. Rean melongo melihat kejadian ini. Piring dan gelas berakhir bersih dan tertata rapih di rak piring, tidak seperti Rain yang dulu, dia akan memecahkan semuanya. Sikap Rain yang dulu itu teledor dan penakut.

Bahkan saat ini Rain tidak memakai roknya. Dia memakai celana jeans dan atasan putih juga dasinya saja. Almamater sekolah dan juga roknya pun ada di dalam tas. Jadi hal ini juga tadi yang membuat Rean terkejut.

Rain ke atas untuk mengambil tas dan jaketnya. Saat menuruni anak tangga, Rean lagi-lagi dibuat terkejut.

"Lo beneran mau berangkat bareng sama gue?" tanya Rean. Jika dulu Rain memilih naik angkutan umum. Dia tidak mau berangkat bersamanya.

Rain juga tidak mau jika orang lain tahu jika dirinya kembar. Hanya saja teman-teman Rean sudah tahu kalau mereka ini kembar. Karena, teman-teman Rean sering main ke apartemen.

"Gue udah siap! Emang kenapa kalau gue bareng sama elo?" tanya Rain heran. Memang biasanya bagaimana sih!

"Lo mirip anak motor kalau penampilan Lo begini!"

Hoodie warna hitam itu Rain gunakan saat ini. Beruntung Rain asli memiliki stok hoodie yang banyak jadi Rain yang sekarang tidak perlu bingung. Lea dulu lebih suka pakai hoodie, karena itu sangat nyaman.

"Gue yang bawa, Lo tinggal kasih arah ntar!" Rain keluar terlebih dahulu.

Rean menggeleng lemah, dia juga bangga dan bahagia melihat perubahan Rain saat ini. Entah darimana Rain belajar motor, tapi melihat keahliannya kemarin Rean tidak ragu dan takut lagi jika Rain yang membawa motornya.

"Belok ke kiri terus Lo lurus aja nanti kita sampai. Ada gerbang sekolah dengan tulisan SMA Pelita Bangsa," ujar Rean saat di bonceng oleh Rain.

Semua mata tertuju pada pemandangan yang tidak biasa pagi ini. Seorang Rean di bonceng entah oleh siapa. Rean memang tidak pernah memperbolehkan siapapun menaiki motornya dan bahkan memboncengkan seseorang. Apalagi seorang cewek. Mereka terus mengira-ngira. Siapa lelaki yang bersama Rean itu?

Namun, saat berhenti di parkiran dan membuka helm, mereka terkejut karena yang bersama Rean adalah seorang gadis. Keempat teman Rean juga dibuat terkejut. Mereka terus memperhatikan Rean dan gadis itu di parkiran.

"Bang, anterin gue ke toilet ya. Gue mau ganti celana nih. Habis itu anterin ke kelas juga," ucap Rain.

Rean mengangguk meski tanpa seulas senyuman. Dalam hati Rean dia bahagia karena sang adik telah mau bersamanya di sekolah. Rean di sekolah itu tidak pernah memperlihatkan senyuman. Dia adalah murid populer dan menjadi incaran para murid perempuan. Saat ini murid perempuan yang melihat Rean bersama seorang gadis pun seperti cacing kepanasan.

"Itu yang sama Rean siapa sih?" tanya Reno, teman Rean yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.

Kenan mengedikkan bahu, sementara Lando nampak sedang berpikir.

"Itu Rain bukan sih?" sahut Sandy yang membuat ketiga temannya menoleh.

"Lo yakin dia Rain?" tanya Kenan.

Teman-teman Rean belum pernah melihat penampilan asli Rain. Meski sering main di apartemen, Rain selalu berpenampilan nerd.

Kenan, Lando, Reno dan Sandy pun saling pandang. Mereka pun segera mengikuti Rean yang termasuk anggota inti Aksara.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

이삭 프라이데이

이삭 프라이데이

katanya ngasih ingatan.. ini kok kayak orang linlung

2024-06-21

2

Fitrian

Fitrian

😁😁😅

2024-06-05

0

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussabar

2024-02-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!