Bab 1
Rain menoleh, "Dia temen Lo, 'kan? Bilang ke dia supaya buka mata lebar-lebar dan jangan asal menuduh!" Rain menunjuk ke arah Kenan.
Rain baru tahu jika lelaki yang sejak tadi menatapnya saat Rain bersama Rean itu adalah Kenan. Lelaki yang selalu dipuja Rain asli. Bahkan isi galeri ponsel Rain asli adalah Kenan. Jika dulu Rain asli sangat mencintainya, kini Lea yang ada ditubuh Rain sangat membencinya. Dia akan memberikan perhitungan pada lelaki itu.
Rean menatap Kenan dan Rain bergantian, dia tidak tahu apa yang terjadi sampai membuat Rain semarah ini. Seluruh murid yang ada di kelas diam. Menjadikan mereka sebuah tontonan yang menegangkan. Mia yang sejak tadi duduk pun beralih berdiri di samping Rain. Merangkul gadis itu agar tenang.
"Lo apain dia?"tanya Rean penuh penekanan.
Kenan tahu jika Rean sedang emosi. Lelaki itu memilih tetap tenang, dia paham jika Rean sangat marah karena ini pertama kalinya Rain semarah ini.
"Dia nyakitin Ella. Membuat tangan Ella terkilir dan mendorong Ella hingga terjatuh!"
Lagi dan lagi Rain mendapatkan masalah karena Ella. Sebenarnya Rean tidak menyukai Ella. Dia wanita yang membuat hubungan Kenan dan Rain tidak baik-baik saja. Kenan selalu menatap Rain kesal karena terus mengganggu Ella. Rean selalu ingin meyakinkan Kenan bahwa Ella itu gadis yang manipulatif. Namun, dia belum memiliki bukti untuk ditunjukkan kepada Kenan. Rean tidak mau persahabatannya dengan Kenan hancur hanya karena wanita.
"Ikut gue!" Rean menarik tangan Rain.
"Kita ke rooftop" bisik Rean pada Kenan.
Para inti anggota aksara yang terdiri dari lima orang itu pun mengikuti langkah Rean.
Saat sampai di rooftop Rain dibuat kagum oleh pemandangan dibawah sana. Namun, gadis itu segera menyembunyikan wajah kagumnya. Dia masih kesal dengan Kenan dan juga Lando. Lelaki yang telah Rain buat babak belur itu ada di sana juga.
"Lo kenapa?" tanya Rean pada Lando.
Lelaki itu melirik ke arah Rain, dia tidak berani menatap Rain lama-lama. Baginya Rain lebih mengerikan daripada Kenan ketika marah.
Rean mengikuti pandangan mata Lando yang ternyata tertuju kepada Rain.
"Dia? Lo yakin?" Rean paham dengan maksud tatapan itu. Rean juga tidak percaya jika Rain bisa melakukan ini semua. Setahu Rean, adiknya itu tidak bisa bela diri.
"Dia memukul Lando karena gue nyuruh dia minta maaf." Kenan akhirnya buka suara.
Reno dan Sandy tidak percaya itu, mana mungkin Rain bisa membuat Lando babak belur. Mereka menatap Rain dan Lando bergantian.
"Ck, jadi masih karena Ella? Gue udah bilang berkali-kali sama Lo, 'kan? Untuk selidiki gadis itu! Lo juga jangan maksa Rain untuk minta maaf karena masalah yang Lo aja nggak lihat sendiri kejadiannya!" tegas Rean.
"Jangan mentang-mentang dia kembaran Lo jadi Lo belain, Rean!" Kenan tidak kalah tegas.
"Jangan mentang-mentang dia cewek Lo jadi Lo seenaknya sama Rain!" Rean semakin geram karena Kenan masih saja membela Ella.
"Reaaan," desis Sandy, jengkel karena Rean malah bocorin rahasia ini dihadapan Rain. Sengaja sekali dia. Bukannya menyelesaikan masalah malah memperkeruh suasana.
Kenan diam menatap Rain yang santai saja seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal jelas-jelas Rean membocorkan sebuah rahasia kalau Ella adalah kekasih Kenan. Sementara Lando mencuri pandang ke arah Rain. Gadis itu lagi-lagi menatap tajam Lando. Seakan memberikan perhitungan padanya.
Reno dan Sandy juga menatap Rain, mereka takut kalau Rain akan menangis atau marah jika mendengar kenyataan ini. Capek juga mereka sama sikap Rain yang menurut para lelaki itu berlebihan dan menye-menye.
"Oke, mereka salah! Gue nggak akan maksa Rain minta maaf, tapi dia udah bikin Lando babak belur!" Final Kenan. Dia tidak mau Rean membencinya karena terlalu membela Ella.
Kenan dan Rain saling tatap, kali ini tatapan yang ditujukan penuh kebencian bukan lagi tatapan penuh kasih sayang seperti biasanya. Bahkan Lando, Reno dan Sandy juga terkejut dengan tingkah Rain yang biasa saja saat Rean membocorkan rahasia. Mereka tadinya udah ketar-ketir.
"Rain, Lando cerita ke gue apa yang terjadi!"
Rain diam saja sementara Lando menjelaskan apa yang terjadi tadi. Jadi dari cerita Lando, Rean bisa menyimpulkan tentang Rain yang diselimuti emosi.
"Lo denger sendiri kan, Bang! Dia duluan yang bikin gue emosi. Kalau Lo nyuruh gue buat bunuh dia, gue bakal bunuh dia!" Rain kembali emosi dan hendak memukul Lando.
Namun, Rean dan Kenan segera mencegah Rain. Mereka masing-masing memegangi tangan Rain.
"Lando, Reno, Sandy, sebaiknya kalian keluar dari sini. Gue sama Rean yang urus Rain!"
"Biarin gue bikin dia babak belur, Bang!" Rain terus berontak.
Ketiga lelaki itu segera pergi karena melihat Rain yang emosi benar-benar mengerikan.
"Rain tenang dulu, dengerin Abang!" ucap Rean pelan. Agar Rain tenang.
"Lo nggak perlu minta maaf sama Lando, dia yang salah dan Abang akan menyuruh Lando minta maaf sama Lo."
Rain pun menuruti ucapan Rean. Kini Kenan melepaskan tangan Rain dan menatap gadis itu dengan tatapan entah.
"Gue mau bicara sama Rain berdua!" Kenan paham dan memilih pergi meninggalkan Rean dan Rain.
Setelah Kenan pergi, Rean memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Entah kenapa hatinya terasa sakit melihat Rain semarah ini. Emosi Rain perlahan hilang.
"Kenapa adik Abang jadi berubah gini sih? Tiba-tiba bisa bernatem sama naik motor. Siapa yang mengajarinya?" Rean menatap Rain dengan lembut agar emosi Rain hilang. Nggak mau kalau sampai Rain emosi dan melakukan hal yang tidak diinginkan.
Gadis bermata bulat itu nampak bingung dengan pertanyaan Rean. Mau berkata jujur tapi pasti Rean tidak akan percaya, jika jiwa Rain telah pergi dan di dalam tubuh itu adalah seorang Lea si wanita tangguh.
"Itu ... Anu ... Eum, gue udah lama belajar tapi gue takut Lo marah jadi sekarang mungkin saatnya nunjukin ke mereka kalau mereka nggak bisa lagi semena-mena sama gue!" jelas Rain yang tentu saja itu sebuah kebohongan.
Berharap Rean akan percaya dengan ucapannya. Jika Lea pelajari dengan kejadian hari ini, Rain asli banyak yang benci. Entah karena sifatnya atau karena Rain yang terlalu lemah. Apa Rain dulu sering di bully Ella juga? Lea jadi penasaran dan ingin bertanya kepada Rean lain waktu.
"Kenapa nggak dari dulu? Kenapa Lo nggak buat Ella takut dan mundur gangguin elo?"
"Memang Ella dulu suka gangguin gue ya, Bang?" Kebetulan sekali Rean bahas ini jadi Lea akan bertanya dan seolah-olah Rain lupa ingatan.
Banyak pertanyaan yang ingin Lea tanyakan. Kenapa Rean nggak bantu Rain dan kenapa juga Rain menyerah sampai mencoba bunuh diri. Apakah dia nggak tahan dengan semua perlakuan Ella? Lea juga ingat ucapan Rean kemarin jika papa mereka ini nggak suka kalau mereka tinggal di rumah. Ah, hidup Rain benar-benar memusingkan.
"Ya, gue awalnya percaya sama ucapan Ella tapi sebelum Lo bertengkar hebat dengan Kenan lalu bunuh diri Lo cerita ke gue kalau selama ini Ella adalah cewek yang manipulatif dan dia selalu bully Lo." Rean meletakkan kedua tangannya di pundak Rain.
"Maafin gue ya, kalau gue nggak bisa jagain Lo dengan baik sampai dapat perlakuan buruk aja gue baru tahu setelah Lo masuk rumah sakit. Gue cari semua rekaman cctv di sekolah ini dan ucapan Lo benar. Ella cewek manipulatif dan Kenan tertipu sama kepolosannya."
Rean menyesal karena dia terlambat menolong Rain dan merasa gagal jadi seorang kakak. Bahkan Rean nggak pernah tahu kalau Ella sekejam itu demi mendapatkan Kenan yang sudah di jodohkan dengan Rain.
Tiba-tiba Rain memegangi kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya tiba-tiba gelap.
"Rain, Lo nggak apa-apa?" tanya Rean panik sambil menopang tubuh Rain yang hendak terjatuh.
"Gue__" belum sempat Rain melanjutkan ucapannya, gadis itu sudah tidak sadarkan diri.
"Rain, bangun!" Rean sangat khawatir, dia langsung membopong Rain menuju UKS.
*"Rain, ini akibatnya Lo berani sama gue!"*
Plak
Plak
Ella menampar kedua pipi Rain, sementara Jeny memegangi kedua tangan Rain supaya gadis itu tidak berontak. Ella menjambak rambut Rain. Meski memakai rambut palsu Ella menjambak tepat mengenai rambut aslinya. Kepalanya sakit, seakan kulit kepala akan terlepas. Bukan hanya itu saja, Ella kembali menyerang Rain. Dia sedang di kuasai emosi. Ella merobek seragam Rain.
"Gue akan bikin hidup Lo hancur, Rain!"
Tamparan kembali mendarat di pipinya. Kali ini lebih keras sehingga sudut bibir Rain mengeluarkan darah. Penampilan Rain acak-acakan, tapi gadis itu tetap diam saja. Ella melempar kacamata Rain begitu saja.
"Ikat dia, Jen! Telanjangi dia juga!" perintah Ella.
"Ella, ja-jangan ... Aku mohon jangan lakuin itu. Aku janji nggak akan deketin Kenan." Rain terus meronta-ronta saat Jeny menyeretnya.
"Basi! Lo selalu bilang janji tapi nyatanya Lo masih kirim pesan buat Kenan dan deketin dia!" Ella melipat kedua tangannya. Dia puas melihat Rain yang kini sudah tidak memakai pakaian. Hanya tersisa dalaman saja.
"Kita main-main, Rain! Jangan harap gue bakal lepasin elo!" Ella membenturkan kepala Rain di tembok.
Kedua kaki Rain terikat di sisi ranjang, begitu juga dengan kedua tangannya.
"Panggil Tomy!" perintah Ella pada Jeny saat gadis itu telah selesai mengikat Rain.
Tomy adalah saudara sepupu Jeny, dia ini lelaki yang sering bergonta-ganti pasangan.
"Ka-kamu mau apa, Ella. Aku mohon jangan lakuin ini. Aku janji nggak akan ganggu Kenan. Jika kamu menyuruh pertunangan itu batal, maka aku akan membatalkannya. Aku mohon lepasin!" Tubuh Rain bergetar hebat. Dia tidak bisa menahan lagi tangisnya.
Rain terkejut saat ada lelaki berdiri di hadapannya dengan tatapan yang dipenuhi hawa nafsu.
"Waww sexy!" pujinya.
Ella menyeringai, dia menarik dagu Rain. "Lo bakal terima akibatnya karena udah bikin gue kesel hari ini!" Ella kembali membenturkan kepala Rain.
"Lo boleh sentuh dia. Gue bakal videoin kalian. Inget jangan sampai Lo ambil kesucian dia!" ucap Ella pada Tomy.
"Tanggung amat, kalau gue lagi tinggi Lo ya yang harus puasin!" jawab Tomy yang sudah membuka seluruh pakaiannya. Hanya tersisa celana boxer saja.
Jeny membuang wajahnya melihat kelakuan Tomy. Wajahnya memerah entah malu atau marah. Dia memilih pergi dari kamar itu. Ella yang tahu hanya menyeringai saja. Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan bersiap merekam aksi bejat Tomy.
"Lepasin! Jangan sentuh aku! Ella tolong!" Rain terus memberontak. Kepalanya terus bergerak saat Tomy hendak menciumnya.
"Diem! Nikmatin aja, Sayang." Tomy pun mencengkram rahang Rain.
Rain terus menangis, hatinya terasa sakit. Tidak ada yang bisa menolongnya. Andai saja dia tadi tidak mengabaikan perkataan Rean untuk pulang bersamanya, mungkin semua itu tidak akan terjadi.
"Diam, gadis bodoh!" umpat Ella. Gadis itu membenturkan kepala Rain berkali-kali hingga jatuh pingsan.
"Dia pingsan, Woy!" Tomy terlihat takut. Tapi Ella diam saja.
"Lakukan tugas Lo! Gue bakal turutin apa yang Lo minta. Inget jangan sampai Lo ambil kesucian gadis itu. Gue cuma butuh foto Lo lagi nikmatin tubuh dia!"
"Dia pingsan, sebaiknya buka tuh ikatan supaya lebih natural dan seolah kita lakuin suka sama suka!"
Ella mengangguk, dia melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Rain. Pergelangan tangan gadis itu memerah. Ella juga melihat beberapa sayatan di pergelangan tangannya.
Tomy segera melahap bibir gadis yang sedang tidak sadarkan diri itu, lalu turun ke batas dada. Tomy terbawa suasana karena menikmati area yang sangat dia sukai saat bermain dengan para gadisnya.
"Cukup! Lo bisa keblabasan!" Ella menjewer telinga Tomy.
Tomy terpaksa menyudahi permainnya. Meski sebenarnya dia sangat kecewa. Hanya sebatas dada saja yang Ella perbolehkan.
Rain merasakan sesak di dadanya, napasnya memburu seiring dengan air mata yang mengalir juga keringat sebesar biji jagung itu bercucuran. Rean melihat itu, menggenggam tangan Rain kuat.
"Br*ngs*k!" teriak Rain.
Tubuhnya menegang saat dia membuka mata. Itu hanya mimpi buruk atau sepenggal cerita dari Rain asli.
"Rain, Lo kenapa?" Rean sangat khawatir, sejak tadi dia telah membangunkan Rain tapi gadis itu tidak meresponnya.
"Abang!" pekik Rain, gadis itu langsung menghambur dalam pelukan Rean.
Rean merasakan tubuh Rain bergetar hebat. "Lo mimpi buruk? Minum dulu ya," tawar Rean.
Rain mengangguk, lalu Rean menyodorkan botol air mineral yang dia ambil di meja. Rain meneguknya hingga setengah.
"Lo mimpi apa?"
Rain menggeleng, dia tidak mungkin cerita apa yang dia alami dimimpi. Rain mengingat ancaman Ella itu, lantas menyambungkannya dengan mimpi yang barusan. Ini bukan mimpi tapi nyata!
*"Jadi ini penyebab Lo menyerah, Rain?"* batin Rain.
Sekarang Lea paham kenapa Rain asli menyerah dengan hidupnya. Dia akan menyelidiki apa yang terjadi setelah itu. Apakah Rain telah kehilangan kesuciannya atau tidak. Rain akan ceritakan semuanya kepada Rean jika dia memiliki bukti yang kuat. Untuk sementara ini Rain akan merahasiakan dari Rean. Dia akan membuat perhitungan kepada Ella juga Jeny dan akan membalas perbuatan mereka jika itu memang benar terjadi.
"Lo yakin?"
Rain mengangguk, "Bang, laper," rengek Rain sambil memegangi perutnya.
"Satu jam pingsan bikin Lo laper?"
Rain tersenyum. Rean mencubit hidung Rain gemas.
"Yaudah kita ke kantin, kebetulan ini lagi jam istirahat."
Rain mengangguk dan menggandeng tangan Rean. Lelaki itu tidak masalah dengan ini. Bahkan dia tidak perduli dengan tatapan para fans fanatiknya.
"Mau makan apa?" tanya Rean saat sampai di kantin.
Suasana ramai hingga semua meja dan kursi itu penuh.
"Ba_"
"Rean!" panggil Kenan. Lelaki itu melambaikan tangannya.
Rean mengajak Rain untuk duduk bersama anggota Aksara.
"Duduk sini, biar gue pesenin ya," ucap Rean penuh perhatian.
Melihat itu membuat Kenan dan kawan-kawan terkejut. Rean sangat perhatian dengan adiknya, bahkan sekarang Rain juga mau dekat-dekat dengan Rean. Selama ini mereka seperti musuh meski kembar. Namun, setelah Rain masuk rumah sakit Rean memang sangat perhatian, itu terlihat saat dia menunggu Rain di rumah sakit.
"Lo udah mendingan, Rain?" tanya Reno.
Rain hanya mengangguk singkat.
"Rain," panggil Lando.
Rain menoleh, menatap tajam lelaki itu. Sepertinya dia masih kesal.
"Gue minta maaf ya," ujar Lando.
"Gue juga, seharusnya gue nggak maksa Lo minta maaf ke Ella," sambung Kenan.
Rain merasa heran dengan sikap mereka. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba minta maaf dengannya.
"Oke," sahut Rain santai.
Kenan dan Lando dibuat bingung. Segampang itu Rain memaafkannya?
"Makanan buat tuan putri sudah datang," ucap Rean.
Rain segera mengambil mangkok bakso di nampan. Lalu menambahkan sambal yang banyak juga kecap. Lagi-lagi para anggota aksara dibuat bingung dengan Rain.
"Rain, sambel banyak banget, nanti sakit perut!" Rean tidak mau jika adiknya sakit lagi.
"Ck, bakso kalau nggak pedes mana enak, Bang!"
"Jadi ... Udah manggil Abang nih sekarang?" celetuk Sandy yang dihadiahi lirikan maut oleh Rain.
Sandy pun meneguk salivanya susah payah.
"Lo nggak doyan sambel, Rain," kata Rean. Dia sangat paham dengan adiknya itu.
"Karena Lo selalu bilang kalau gue bakal sakit makan pedes!"
Rean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang sih dia selalu melarang Rain makan pedas karena tidak mau gadis itu sakit. Rean dulu selalu mewanti-wanti Rain untuk jaga kesehatan.
"Lo selalu bilang kalau gue sakit bikin Lo repot!" ucapan Rain memang santai tapi membuat hati Rean tercubit. Rain bisa berkata seperti itu karena membaca buku diary milik Rain asli.
Rean juga heran kenapa Rain ingat dengan kata-kata itu. Apa amnesianya akan pulih? Pikir Rean.
Kenan mencicipi kuah bakso milik Rain tanpa permisi.
"Monyet! Nggak sopan banget sih, Lo!" Rain memukul tangan Kenan.
Reno, Lando dan Sandy menahan tawa, sekarang Rain sudah berani main fisik sama Kenan. Lando berharap jika Kenan akan babak belur seperti dirinya.
"Lo gila ya? Ini pedes banget!" ujar Kenan.
"Tuker aja sama punya gue!" Rean yang hendak mengambil mangkok bakso milik Rain pun mendapatkan pukulan.
Pletak
Rain menjitak kepala Rean.
"Aduh! Lo kesambet apa sih dari tadi mukulin orang mulu." Rean mengelus kepalanya.
"Serah Rain aja, Rean! Daripada Lo babak belur kayak Lando." Reno pun menengahi.
Rain menikmati baksonya tanpa ada rasa kepedasan sedikitpun.
Perlu di ingatkan jika Lea ini pecinta pedas. Jadi kalau memberi kuah bakso hanya lima atau enam sendok saja bukan apa-apa bagi Lea. Nah, sekarang ditubuh Rain adalah Lea. Jadi kebiasaan Rain ya berbeda jauh dari Rain yang asli. Berbanding terbalik malah.
Rean merasa curiga jika yang duduk di sebelahnya itu bukanlah kembarannya, tapi mana mungkin Rain orang lain. Sementara dari awal Rain masuk rumah sakit, dialah yang terus menjaganya. Mungkin pengaruh amnesia membuat Rain berubah. Rean juga menyadari dirinya salah, Rain suka pedas tapi selalu dilarang olehnya. Mungkin sekarang Rain ingin merasakan kebebasan. Rean tidak ambil pusing itu. Biarlah Rain menata hidupnya kembali. Membuka lembaran baru dan melupakan semuanya. Rean juga berharap ingatan Rain tidak akan pulih, dia takut jika Rain mengingat tentang keluarga. Rean belum siap menceritakan itu semua.
Hingga bel masuk berbunyi, tepat disaat makanan Rain dan anggota Aksara telah habis. Mereka pun masuk ke kelas. Ella terus menatap Rain kesal karena dia bisa makan bersama Kenan dan kawan-kawan dengan penuh canda tawa. Ella ingin memberi pelajaran kepada Rain, tapi sayangnya gadis itu terus bersama Kenan dan teman-temannya.
"Gadis sialan!" Ella menghentakkan kakinya kesal.
"Lo kenapa?" tanya Jeny. Dia ini sangat mengagumi Rean. Bisa dibilang terobsesi. Perasannya bukan lagi sebatas kagum dan cinta.
"Lihat gadis cupu itu!" Ella menunjuk ke arah Rain dengan dagunya.
"Lo tenang aja. Kita bakal sebarin foto dia. Kita buat malu, nanti pulang sekolah beri dia peringatan. Gue usahain dia nggak bakal pulang bareng Kenan apalagi Rean."
Ella tersenyum sinis, rencananya tidak boleh gagal. Tangannya sudah gatal dan ingin sekali memukul Rain agar gadis itu kembali jera. Selama seminggu Ella tidak bisa mengganggu Rain karena gadis itu tidak masuk sekolah.
"Beruntung dia diem aja soal kepalanya yang bocor itu, kalau sampai dia buka suara kepada Kenan atau Rean kita bisa mampus!" ujar Ella.
Jeny mengangguk dan mengajak Ella untuk kembali ke kelas karena suasana kantin sudah sepi.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Warijah Warijah
Memang sekolahanya ga ada cctv y..masa gengnya Rean g bisa buktiin tingkah Ella si..
2024-03-17
5
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-02-07
0
Kosong
Akunbingung sama novel yg suka sembunyikan kesalahan musuh
Bisa mengatasi kagak
Sok kuat iyaaa
Aduuh drama bangat sumpah
2024-02-04
1