Bab 9
Rean dan Rain mengunjungi makam Kimberley. Rean terkejut karena makam sang Mama terlihat bersih dan ada taburan bunga yang sepertinya baru saja di tabur. Entah siapa yang datang mengunjunginya. Rean menebak jika itu adalah Ando, tidak mungkin Damian.
"Mana mungkin Papa dateng ke sini. Dia udah bahagia sama istrinya!" batin Rean.
Rain duduk dan mengelus batu nisan yang bertuliskan Kimberley Griena Rose.
"Tante, aku Lea. Tante udah bahagia di sana, 'kan? Tante bisa peluk Rain sepuasnya. Maaf ya, Lea harus gantiin posisi Rain. Lea janji bakal buat Rain bahagia di sana dan mengubah takdirnya. Membalas dendam pada orang yang benci dia. Sampaikan salamku buat Rain ya, Tante!" batin Rain.
Rean menatap Rain yang melamun. Dia beranggapan jika Rain sedang bercerita di dalam hatinya. Rean membiarkan sejenak. Setelah itu dia berjongkok di sebelah Rain.
"Mah, maaf ya Rean baru dateng. Rain amnesia dan Rean harus merawatnya. Rain lupa sama mamah tapi Rean bahagia karena Rain banyak berubah. Lihat sekarang ? Dia jadi gadis tomboy. Mama pasti bahagia karena Rain jadi gadis yang pemberani." Rain memukul lengan Rean.
Lalu mereka terdiam sesaat dengan pemikiran masing-masing.
"Pulang yuk!" ajak Rain.
Rean mengangguk. Saat Rain hendak bangkit dia melihat seorang lelaki yang tidak jauh dari tempatnya berjongkok. Lelaki itu sedang memandangi makam seseorang yang sepertinya masih baru.
"Rain, ayo!" Rean menarik tangan Rain.
Tatapan Rain terus tertuju pada lelaki itu, dia seperti tidak asing dengan wajah lelaki itu.
"Sebentar ya, Bang!" ujar Rain.
Rain segera mendekati lelaki itu, sebelumnya dia melirik ke arah batu nisan yang bertuliskan ....
Lea Anandita.
"Makam gue? Bisa-bisanya kejadian ini terjadi? Gue berdiri disamping makam gue sendiri. Astaga!" batin Rain.
Lelaki yang sejak tadi berjongkok itu menyadari jika ada seseorang dibelakangnya. Dia menoleh dan menatap gadis itu.
"Maaf, anda siapa?"
Deg
Rain mematung saat menatap sosok lelaki yang pernah ada di dalam kehidupan ketika menjadi Lea. Lelaki yang sangat dia rindukan.
"A-aldi?" pekik Rain.
Lelaki itu mengernyit, kenapa bisa gadis itu mengenalinya. Sementara Aldi sendiri belum pernah melihat gadis itu.
"Anda siapa ya? Saya tidak kenal dengan anda atau mungkin kita pernah bertemu?" tanya Aldi.
Rain terkesima dengan wajah Aldi sesaat hingga tersenyum tanpa sadar. Rain ingin memeluk lelaki itu tapi dia segera sadar dari semua yang ada dipikirannya. Dia bukan Lea dia Rain dan harus bisa menjaga sikap. Ada Rean yang bersamanya.
"Ah, maaf aku Rain!" Gadis itu mengulurkan tangannya.
Aldi mau tidak mau pun harus membalas uluran tangan itu.
"Aku ... Tidak menyangka jika Kak Lea meninggal dengan cepat. Aku turut berdukacita ya. Aku ... Sebenarnya fans novel Kak Lea." Tanpa sadar air mata Rain menetes.
Aldi tersenyum getir. Dia menatap makam Lea sesaat. Lalu kembali menatap Rain.
"Ya, ini sudah takdirnya. Aku yakin Lea sudah bahagia di sana. Aku kehilangan sosok cewek seceria dia. Kalau saja aku tidak terlambat ...." Aldi tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya sangat sakit ketika mengingat itu semua.
Rain menepuk pundak Aldi. " Sudah jangan bersedih. Ini bukan salah kakak. Ini adalah takdir dan berhenti untuk menyalahkan diri sendiri!" Rain berusaha membujuk lelaki itu.
Dilubuk hati Rain yang terdalam dia juga ikut bersedih saat melihat Aldi seperti ini. Dia ingin Aldi bahagia seperti dulu. Penampilan Aldi sangat jauh berbeda. Tubuhnya lebih kurus, kantung mata yang terlihat dan penampilan acak-acakan. Rain yakin dia selalu melalui setiap harinya dengan tidak baik-baik saja. Ada rasa bersalah yang selalu hinggap di dalam hatinya. Rain ingin Aldi kembali lagi seperti Aldi yang dia kenal. Aldi yang tampan dan selalu menjaga penampilannya.
"Kau seperti sangat mengenal sosok Lea ya?" ujar Aldi yang tersenyum. Ekspresinya tidak sesedih tadi.
"Tentu saja. Mungkin Kak Lea tidak pernah cerita. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Apa lain waktu kita bisa bertemu?"
Lidah Rain terasa kaku saat menyebut nama Kak Lea. Dia menyebut dirinya sendiri. Ah takdir yang lucu. Rain memanggil kakak karena memang usia mereka lebih tua dari Rain.
"Oh, begitu ya. Baiklah aku akan bersedia bertemu denganmu." Aldi mengulurkan kartu namanya.
"Hubungi saja jika kamu ingin bertemu."
"Terima kasih." Rain memasukkan kartu nama Aldi di dalam tas kecilnya.
Rain pun pergi meninggalkan Aldi yang masih menatapnya. Aldi merasa jika Lea hidup kembali. Penampilan Rain mirip dengan Lea. Gadis yang tomboy.
Selama di mobil Rain terus diam, dia tidak menyangka jika tubuhnya dimakmkan di tempat pemakaman yang jauh. Kota yang dia tinggali saat ini bukanlah kota tempat tinggalnya dulu saat menjadi Lea. Dia mengingat-ingat siapa yang pernah tinggal di sini?
Ingatan itu tertuju pada rumah neneknya. Dia baru menyadari jika ini adalah kota kelahiran sang nenek. Ah, dunia sempit itu dan Rain menertawakan takdirnya.
Rean sesekali menatap Rain yang lebih banyak diam sehabis dari pemakaman. Bahkan saat bertemu lelaki tadi. Rean belum sempat bertanya tapi wajah Rain yang menunjukkan ekspresi dingin itu, Rean mengurungkan niatnya untuk bertanya. Membiarkan gadis itu menenangkan diri.
Rean mengemudikan mobil menuju kawasan perumahan elit. Rain mengerutkan keningnya karena Rean tidak membawanya ke apartemen. Sementara Rean sudah dua kali ke tempat itu. Di saat Rean membutuhkan biaya untuk Rain. Saat itu Rain ditemukan tidak sadarkan diri karena seharian tidak diperbolehkan makan oleh Damian. Lalu pergelangan tangan Rain juga bersimbah darah. Dia mencoba melakukan bunuh diri, tapi gagal karena Rean segera membawanya ke rumah sakit.
Sialnya semua kartu ATM maupun kartu kredit miliknya telah diblokir oleh Damian. Rean juga di usir karena telah berani masuk ke kamar Rain yang sedang di hukum. Meski Rean sudah mengatakan jika Rain mencoba bunuh diri, tapi Damian tidak perduli dan memilih mengusir kedua anak kembarnya.
Rean masih menyimpan berkas-berkas yang diberikan oleh mendiang mamanya. Dia kemudian menuju rumah mewah yang rupanya milik mamanya itu.
"Kita mau kemana?" tanya Rain.
"Ke rumah mamah. Kita udah sampai."
Seorang satpam membuka gerbang untuknya. Rean menghentikan mobil di carport. Lalu membuka pintu mobil di susul oleh Rain. Mereka menuju rumah yang besar dan sangat mewah itu. Halamannya juga sangat luas. Rain sangat takjub melihat pemandangan yang memanjakan mata.
"Selamat sore, Den Rean, Nona Rain," sapa empat orang pelayan secara bersamaan. Mereka telah berdiri di ambang pintu sambil membungkuk hormat.
"Tuan muda dan nona Rain," sapa seorang lelaki yang baru saja keluar dari rumah tersebut.
Rain dan Rean mengangguk.
"Dia paman John. Orang kepercayaan almarhumah mama," ucap Rean.
"Paman, Rain mengalami amnesia," jelas Rean pada John.
John, lelaki berusia empat puluh lima tahun itu menatap Rain dengan sendu. Dia juga sempat terkejut melihat penampilan nona mudanya itu yang jauh berbeda.
"Nona Rain ... Banyak perubahan."
Rean mengangguk, menyetujui ucapan John.
"Ah, iya, Tuan Albert sudah menunggu di ruang tengah," ucap John kemudian.
Rean menggandeng tangan Rain menuju ruang tengah dimana sang kakek sudah menunggu. Albert adalah ayah dari Kimberley. Sejak dulu ayah Albert memang tidak pernah menyetujui pernikahan putri semata wayangnya dengan Damian.
"Kakek," panggil Rean.
Lelaki yang sudah tidak muda lagi itu pun meletakkan dokumen yang sedang dibacanya kemudian menoleh.
"Rean?" Albert tersenyum bahagia dan langsung merentangkan kedua tangannya.
Rean langsung memeluk lelaki yang Rean panggil kakek itu. Sudah sangat lama sekali dia tidak berjumpa. Sekitar lima bulan. Sementara Rain melangkah dengan ragu. Albert melirik ke arah Rain dan menatap Rean yang sudah duduk di sebelahnya.
"Rain ... Hilang ingatan, Kek."
Kedua mata Albert membulat sempurna. Dia sangat terkejut, dia ingin penjelasan dari Rean tapi di urungkannya karena Albert ingin memeluk Rain untuk pertama kalinya.
"Rain, sini peluk kakek," ucapnya.
Rain pun memeluk Albert erat, dia sebenarnya juga rindu dengan sosok kakeknya saat menjadi Lea.
"Apa kabar, Kek?" tanya Rain. Dia langsung merasa nyaman saat duduk dan bergelayut manja di lengan Albert.
"Baik. Cucu kakek yang ini sangat cantik. Mirip sekali dengan mamamu," puji Albert.
Rain tersenyum, "Aku memang cantik, Rean saja sangat posesif bila ada lelaki yang mendekatiku, Kek," keluh Rain.
Rean hanya terkekeh. Dia tidak menyangka jika Rain akan secepat itu akrab dengan Albert. Selama ini Rean belum pernah mengajaknya ke rumah sang kakek karena Rain tidak pernah mau berbicara pada Rean. Bahkan bertanya soal apartemen saja tidak pernah.
Hanya dengan Kenan saja Rain sangat lengket. Bahkan Rean harus menyuruh Kenan jika ingin memberikan sesuatu. Namun, sekarang Rain sudah benar-benar jauh berbeda.
"Rean memang kakak yang tepat untuk melindungi mu."
"Katakan pada Kakek, apa yang terjadi?" tanya Albert beralih menatap Rean.
Rean menghela napas panjang.
"Ah, ya ampun. Cucu nenek akhirnya datang juga," ujar seorang wanita paruh baya yang baru saja menuruni anak tangga.
Meski usianya sudah tidak lagi muda dan seluruh rambutnya memutih, tapi tidak melunturkan kecantikan dan keanggunannya.
Sania, ibu Kimberley itu masih saja awet muda. Kedua orangtua Kimberley memang masih hidup tapi sayangnya putri semata wayang mereka lebih dulu meninggalkannya. Harta satu-satunya Albert dan Sania hanya kedua anak kembar Kimberley.
"Nenek?" Rean langsung berhambur ke dalam pelukan Sania. Begitu juga dengan Rain.
"Apa ini Rain?" tanya Sania sambil menangkup wajah Rain.
Rain mengangguk, "Ya aku Rain. Maaf jika Rain lupa padamu, Nek!"
"Oh, ya ampun. Kamu begitu cantik dan sangat mirip sekali dengan mamamu, sayang. Tidak apa-apa, kamu kemari baru sekarang."
Rain mengernyit, banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Namun, Sania membawanya untuk duduk kembali di sofa ruang tengah itu. Ruang yang juga menjadi ruang televisi.
Seorang pelayan datang memberikan empat cangkir teh hijau dan beberapa toples camilan.
"Jadi apa yang terjadi?" tanya Albert lagi.
"Dua bulan setelah Rean kemari, Rain mengalami kecelakaan ringan sepulang sekolah. Ada yang hampir saja menabraknya. Beruntung saat itu Kenan melihat dan menolongnya. Hanya ada luka lecet dan kaki terkilir saja. Lalu malam harinya Rean menemukan Rain dengan pergelangan tangan bersimbah darah dan kepala yang terluka. Entah apa yang Rain lakukan. Mungkin dia mencoba untuk bunuh diri kedua kalinya."
Rain menatap Rean, wajah lelaki itu terlihat sangat sedih. Rain hanya diam saja menyimak kejadian apa yang terjadi sebelum Rain asli menyerah dengan kehidupannya dan meminta Lea untuk menggantikan dirinya.
"Kek, Nek, maafkan Rean ya yang nggak bisa jaga Rain. Di sekolah Rean sudah berusaha untuk memantau Rain, tapi dia selalu menolak Rean. Dia memusuhi Rean karena ..." Rean menghentikan ucapannya. Kedua mata Rean terpejam sesaat. Ada cairan bening yang menetes di sudut matanya.
"Dia membenci Rean karena selalu diam saja ketika papa memarahinya dan selalu membela Livia." Suara Rean terdengar parau.
Albert dan Sania pun merasakan hatinya sangat sakit. Apalagi Rain, dia juga merasakan betapa sedihnya Rean. Posisi Rean memang serba salah saat itu.
Albert mengelus puncak kepala Rean. Dia membiarkan cucu lelakinya itu menangis. Damian? Sejak dulu selalu mendidik Rean sangat keras, dia tidak diperbolehkan untuk menangis. Bahkan saat kepergian Kimberley saja, Rean dan Ando tidak menangis sama sekali.
Ando adalah putra sulung Damian, tapi dia tidak tahu tentang Albert dan Sania. Sebelum kepergian Kimberley, memang wanita itu memberikan pesan pada Rean saja. Bahkan dia mewanti-wanti agar Ando jangan sampai tahu tentang sebuah rahasia yang Kimberley miliki.
"Sudah, jangan di sesali, kakek lihat sekarang Rain lebih ceria dan bahkan dia tidak memusuhi mu lagi," ucap Albert mencoba menenangkan cucu lelakinya.
Rean mengangguk, sementara Rain mendekati kakaknya dan memeluk erat lelaki itu. Dia merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukan oleh Rain asli. Kakak yang begitu menyayanginya selalu dia sia-siakan. Bahkan Rain asli tidak bisa membedakan mana lelaki yang benar-benar mencintainya dan mana yang hanya pura-pura saja.
"Apa kalian akan tinggal di sini?" Sania mengalihkan pembicaraan. Agar tidak ada lagi kesedihan yang terpancar di mata kedua cucunya.
Rean menatap Rain, dia meminta keputusan Rain demi kenyamanannya.
"Gue mau di sini kalau Lo juga mau," ujar Rain.
Rean menghapus jejak air mata Rain. Lalu menatap sang nenek yang duduk di hadapannya.
"Rean dan Rain akan menemani kakek dan nenek."
Albert dan Sania merasa senang. Kini rumah mereka tidak akan sepi.
"Sudah tinggalkan saja barang yang ada di apartemen. Di sini pakaian kalian sangat banyak," jelas Albert.
Memang Sania selalu membelikan baju untuk kedua cucunya, dia berharap mereka akan mau tinggal di rumah mewahnya suatu saat nanti. Jadi Sania sudah menyiapkan semuanya.
"Tidak, kek. Kami harus kembali untuk mengambil perlengkapan sekolah dan barang penting lainnya," kata Rain.
"Besok saja karena ini sudah hampir malam. Menginaplah di sini, bukankah kalian besok masih libur?" bujuk Sania.
"Baiklah, kami akan menginap di sini," ujar Rean.
Mereka pun akhirnya menikmati teh hijau itu sambil bercerita.
**
Rain masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Dia menatap Rean yang sibuk dengan ponselnya. Entah sedang mengirimkan pesan pada siapa. Bahkan sejak tadi ponsel Rain pun berdering. Ada beberapa pesan masuk tapi Rain malas untuk membalasnya. Dia lebih menyukai menatap wajah Rean. Lelaki itu sedang tengkurap di sampingnya.
"Sibuk banget!" sindir Rain.
"Ada apa?" tanya Rean tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Rain berpindah posisi menjadi terlentang dan menatap langit-langit kamar. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Rean.
"Ando ... Dia siapa?"
Rean berhenti menatap layar ponsel dan meletakkan benda itu di dekat bantal. Satu tangannya dia gunakan untuk bantal dan satu tangan lagi untuk memeluk Rain.
"Dia kakak kita, hanya saja mama nggak bolehin gue bilang apapun tentang rahasia ini," jelas Rean.
"Rahasia apa?"
"Mama orang berada. Bahkan lebih kaya dari papa. Mama merahasiakan ini dari papa. Hubungan mereka dulu tidak di restui karena papa adalah seorang duda. Bukan hanya itu saja, kata nenek dulu pernah lihat papa bersama wanita lain saat masih berpacaran dengan mama. Gue nggak tahu kisahnya. Lebih jelasnya itu nenek menekankan sama mama untuk tidak memberitahu siapa sebenarnya mama dan menyuruhnya pergi dari rumah ini kalau tetap mau menikah dengan papa. Jadi Ando itu ... Bukan anak kandung mama yang sebenarnya."
Terjawab sudah rasa penasaran Rain. Ando bukan anak kandung Kimberley. Itu sebabnya Ando tidak diperbolehkan tahu tentang keluarga wanita yang telah merawatnya. Ando dulu tidak tahu jika Kimberley adalah ibu tiri. Dia baru berusia satu tahun saat itu.
"Begitu ya, lalu Livia?"
"Gue nggak tahu jelasnya. Saat Lo lagi jalan sama mama, Lo liat papa, Livia dan Tante Shely di mall. Mereka terlihat bahagia. Di situlah awal mula pertengkaran dimulai hingga mama meninggal dan papa membenci Lo. Tiga bulan kepergian mama, papa dateng bawa Livia. Papa bilang jika itu anaknya dari Tante Shely dan kita harus menyayanginya."
"Papa selalu bandingin Lo sama Livia. Mama meninggal saat kita berusia 12 tahun. Tepat dimana kita baru duduk di kelas satu SMP dan baru saja merayakan ulangtahun. Livia dengan kita hanya beda satu tahun saja. Kehadiran Livia membuat hidup Lo makin hancur."
Rain tidak habis pikir dengan sikap Damian. Rain menyimpulkan jika Damian membencinya bukan karena kematian Kimberley. Pasti ada penyebab lainnya.
Rain akan terus mencari bukti soal kematian Kimberley. Entah memang kecelakaan itu di sengaja atau tidak.
"Gue lebih suka tinggal di sini. Apa Lo keberatan? Gue nggak mau pisah sama Lo, kalau Lo keberatan gue bakal ikut sama Lo," ujar Rain yang mengubah posisinya menjadi menyamping.
Rean menggeleng. "Gue akan ikutin Lo. Kalau Lo mau di sini kita akan tinggal di sini. Jarak ke sekolah lebih deket malah. Lo juga bisa sering ketemu Radit," Jawa Rean. Dia memainkan rambut panjang milik adiknya.
"Memang rumah dia dimana?" tanya Rain.
"Besok gue kasih tahu, sekarang tidur ya ngantuk gue." Rean memeluk adiknya posesif.
Dia memejamkan kedua matanya begitu juga dengan Rain yang terlelap dengan posisi saling berpelukan. Mereka selalu seperti itu jika sedang banyak pikiran. Sania membuka pintu kamar Rean dan mendapati kedua cucunya sudah terlelap dan saling berpelukan. Dia pun mengganti lampu tidur dan menyelimuti tubuh kedua cucunya itu. Sania menatap haru dengan pemandangan yang disajikan malam ini. Akhirnya apa yang dia impikan pun tercapai.
"Kim, kau pasti senang jika melihat anak-anakmu hidup akur seperti ini. Kau pasti juga bahagia karena mereka akhirnya tinggal bersama kami. Maafkan Ibu yang tidak pernah menjengukmu."
Sania mengecup kening Rean dan Rain bergantian. Lalu pergi meninggalkan kedua cucunya yang sudah berada di alam mimpi.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
HNF G
visualnya dong
2024-06-09
1
Noorjamilah Sulaiman
masi byk Teka teki
2024-02-21
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabsr
2024-02-07
0