Siang ini Rain menemui Aldi untuk meminta bantuan. Aldi juga seorang hacker tapi dia lebih ahli dari Rain. Dia akan meminta bantuan Aldi untuk mengungkap kejanggalan yang terjadi. Apa hubungannya Ella dengan Damian. Lalu kecelakaan yang menimpanya. Juga siapa Tante Shely yang sebenarnya. Rain akan mencari informasi itu sebelum acara ulangtahun Livia.
Di sebuah kafe dekat dengan sekolahnya Rain sudah menunggu Aldi sambil menikmati spaghetti dan segelas jus alpukat.
"Hai," sapa lelaki yang memakai kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan celana kerja berwarna hitam. Lengan kemeja itu ia gulung hingga sebatas siku.
Rain tersenyum ramah. Lalu mempersilahkan Aldi untuk duduk di bangku yang kosong. Tepat di hadapannya. Aldi memanggil pelayan untuk memesan makanan. Kebetulan saat ini adalah jam makan siangnya. Kantor tempat dia bekerja juga tidak jauh dari kafe itu.
"Jadi ... Ada perlu apa?" tanya Aldi setelah memesan makanan.
"Kak Aldi ... Seorang Hacker kan?" bisik Rain.
Kedua mata Aldi membola. Darimana Rain tahu jika dia seorang hacker. Saat kuliah dulu hanya Lea yang tahu. Beberapa teman juga tahu hanya saja mereka tutup mulut karena Aldi sering membantu mereka. Sebenarnya Aldi memang sudah lulus kuliah. Dia belum bekerja kantoran seperti sekarang. Pekerjaannya selain mengurus geng motor miliknya juga seorang hacker. Entah apa yang membuat Aldi berubah. Rain juga terkejut saat melihat penampilan Aldi. Berbalut setelah kemeja dan tatanan rambut lebih rapih. Namun, dia sedikit kurus.
"Kamu ... Tahu darimana?" tanyanya.
Rain meringis, "Kak Lea. Panjang ceritanya. Apa saya bisa minta bantuan?" Rain menatap lelaki itu penuh harap.
Aldi nampak berpikir sebentar. Dia ragu karena belum mengenal anak itu. Hanya sekali bertemu di pemakaman saja.
"Jangan takut, Kak. Saya bukan orang jahat!" Rain paham arti tatapan Aldi.
Ah, bicara seformal ini membuat Rain sedikit canggung. Banyak perubahan pada Aldi. Biasanya dia akan memakai bahasa formal ketika bertemu dengan orangtua saja.
"Aku Raina Grittella Klopper. Putri Damian Klopper yang tidak pernah dianggap!"
Mengejutkan!
Tentu saja Aldi terkejut dan hampir saja kedua bola mata itu keluar. Beruntung pesanan Aldi datang. Dia segera menyeruput minumannya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Aldi tidak menyangka jika Damian yang tidak lain adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, mempunyai anak selain gadis manja yang selalu datang ke kantor dan merepotkan beberapa karyawan lainnya.
Namun, jika dilihat-lihat ... Rain memang lebih pantas menjadi anak Damian. Tatapan tajam, misterius dan wajah mirip Damian. Berbeda dengan gadis yang sering ke kantor. Tidak ada kemiripan sama sekali.
"Mungkin Kakak terkejut, karena memang ... Aku dan kembaranku tidak pernah dipublikasikan. Kami dibilang anak sial dan ya ... Saya semakin dibenci oleh Papa karena menyebabkan mama meninggal."
"Ya, saya sedikit terkejut! Kebetulan saya bekerja di perusahaan miliknya. Ada gadis yang sering datang dan selalu menyebalkan." Aldi memakan makanannya.
Rain mengulum senyum, sudah dipastikan jika itu adalah Livia. Rean saja terkadang malas meladeni anak itu yang terlampau manja dan semua harus dituruti.
"Dia adik tiri saya!"
Aldi semakin tidak mengerti. Rupanya ada banyak hal mengejutkan tentang Damian. Setahu dia ... Shely adalah istrinya. Ah, mungkin karena dia baru di sana dan ketinggalan banyak cerita. Anehnya para karyawan juga tidak pernah menceritakan hal itu. Jika Shely adalah isteri kedua.
"Baiklah, apa yang bisa saya bantu?"
Mereka berbicara sambil menikmati makan siangnya. Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata lelaki terus menatap Aldi dan Rain tidak suka. Melihat mereka tertawa lepas dan begitu akrab. Kedua tangan lelaki itu mengepal kuat. Hingga buku-buku jarinya memutih.
***
Rain mengganti seragamnya dengan pakaian rumah. Lalu dia berbaring di atas ranjang sambil bermain ponselnya. Rean sedang ada acara dengan teman-temannya. Dia akan melihat pergerakan Ella sebentar dan setelah itu bersiap-siap untuk pergi ke rumah Damian.
"Kenan?"
Layar ponselnya menampilkan nama Kenan dari kontak yang tersimpan. Kenan melakukan sebuah panggilan. Rain dengan malas menggeser tombol hijau itu.
"Ada apa?" tanya Rain ketus.
"Rain, siap-siap. Gue jemput Lo buat ke rumah bokap Lo!" Suara Kenan terdengar biasa saja. Seolah tidak ada permasalahan apapun diantara mereka.
"Males! Gue mau sama Rean bukan sama Lo!"
"Nggak bisa! Rean lagi ada kerjaan di bengkel!"
Jika Kenan berada dihadapannya sudah pasti Rain hajar sampai babak belur.
"Gue nunggu dia selesai! Lo bisa nggak sih nggak usah ganggu gue lagi!"
"Sayangnya ngga bisa! Gue di suruh bokap gue buat jemput Lo. Kedua orangtua kita lagi kumpul!"
"Nggak akan pernah mau gue pergi sama Lo!"
Kenan mendengkus kesal. Kesabarannya menghadapi Rain di telepon sudah habis. Kalau saja sedang tidak sibuk dia akan segera menemui Rain dan memaksanya pergi saat ini juga.
"Setengah jam lagi gue jemput!"
"Bodo amat!" Rain mematikan sambungan teleponnya.
Dia memilih untuk kembali mengecek cctv di apartemen milik Ella. Tentu saja apartemen itu adalah pemberian daru sugar Daddy nya.
"Cih, menjijikan!" Rain kembali menutup aplikasi berwarna hitam itu. Adegan yang tidak seharusnya Rain lihat.
Pantas saja Kenan mau menjemputnya. Rupanya sang kekasih sedang menemani sugar Daddynya, yang ternyata adalah Papa Kenan.
Rain memilih menghubungi Rean. Namun, tidak ada jawaban. Berkali-kali mencoba menghubungi lelaki itu tetap saja hasilnya sama.
Kemana Rean?
Rain memilih keluar kamar dan menuju dapur untuk membuat jus.
"Rain, apa Rean sudah pulang?" tanya nenek yang sedang berkutat dengan benang dan alat rajutnya.
"Belum, Nek. Anak itu sejak tadi aku hubungi nggak bisa!" gerutu Rain.
Nenek Sania tersenyum melihat wajah Rain yang menggemaskan ketika cemberut. Rain meminta pelayan untuk membuatkan jus alpukat dan kue bolu.
Rain memilih duduk di sebelah neneknya dan memperhatikan sang nenek yang sedang merajut sebuah topi.
"Apa kakek pergi?"
"Tidak, kakek sedang bermain dengan tanamannya di kebun belakang."
Rain mengangguk, meski ada pelayan tapi kakek Albert selalu mengurus kebunnya sendiri. Dia tidak akan bersantai-santai ria. Ketika usianya yang sudah tua, mereka akan beristirahat untuk bekerja. Hanya melakukan aktivitas kecil seperti berolahraga dan aktivitas lainnya. Mereka kini sedang menikmati hasil jerih payahnya saat muda dulu.
"Nenek, aku akan pergi ke rumah papa. Rean bilang Livia ulang tahun dan kami harus ke sana. Seluruh keluarga datang," ujar Rain berhati-hati.
Sania menghentikan aktifitasnya dan meletakkan rajutan di sisinya. Lalu menyeruput teh hijaunya. Sania tidak habis pikir pada Damian. Dia telah menelantarkan cucunya. Anak dari putri tunggal mereka, tapi malah begitu sayang pada anak orang lain yang bukan darah dagingnya sendiri. Bahkan kedua cucunya itu belum pernah merasakan apa itu pesta ulangtahun.
"Apa kau yakin?"
Rain mengangguk. Berusaha meyakinkan neneknya.
"Aku akan baik-baik saja. Dua hari di sana. Jadi nenek tidak perlu khawatir."
"Bagaimana jika ulangtahunmu nanti kita rayakan?"
Kedua mata Rain berbinar, "Benarkah?" tanya Rain penuh haru.
Sania mengangguk.
Rain memeluk neneknya erat.
"Terima kasih, Nek. Akhirnya aku bisa merasakan pesta ulang tahunku!" ucapnya bahagia.
Sania pun turut bahagia. Dia akan membuat kedua cucunya itu bahagia di usianya yang sudah tidak lagi muda. Menghabiskan waktu bersama kedua cucunya, melakukan hal apapun untuk menggantikan waktu yang telah lama hilang. Rain dan Rean harus menjalani kehidupan yang mandiri. Dipaksa dewasa oleh keadaan. Sekarang Sania ingin mereka menikmati kehidupan tanpa sebuah beban. Seperti layaknya remaja pada umumnya.
Rain menikmati jus alpukat dan brownies sambil bercengkrama dengan sang nenek. Ponsel Rain yang sejak tadi berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Rean dia abaikan. Rain sudah sangat sebal karena sejak tadi diabaikan oleh Rean.
Dua puluh panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan dari Rean, tidak ada satu pun yang Rain pedulikan.
Suara mesin motor mengalihkan atensi kedua wanita berbeda generasi itu.
Sosok lelaki menyebalkan datang dengan membawa bingkisan. Lelaki itu tersenyum dan menyapa nenek Sania ramah.
"Siang, nek!" Lelaki itu mengulurkan tangan kepada nenek Sania untuk bersalaman dan mencium punggung tangan nenek Sania.
Sementara Rain membuang wajah, hatinya bergemuruh. Kedua tangan mengepal kuat. Untuk apa lelaki itu datang kemari? Siapa yang memberikan alamat tempat tinggalnya?
"Jadi ini Kenan? Dimana Rean?" tanya Nenek Sania.
Kenan tersenyum ramah, "Rean sedang ada pekerjaan di bengkel. Rean bilang untuk menjemput adiknya dan mengantarkannya ke rumah paman Damian." Kenan menatap Rain penuh arti.
"Oh, begitu ya?" Nenek Sania menoleh ke arah Rain yang sejak tadi diam. "Rain, ayo siap-siap. Jangan membuat Kenan menunggu lama," bujuk nenek Sania.
Nenek Sania tidak tahu saja permasalahan apa yang terjadi diantara Kenan dan dirinya. Nenek Sania juga tidak tahu jika Kenan sudah dijodohkan padanya. Bahkan sudah bertunangan.
"Rain ... Nunggu Rean saja, Nek. Dia janji buat bareng ke sana. Rain nggak mau terjadi sesuatu karena Rain juga tidak mengingat dimana rumah papa!"
"Aku janji bakal anterin Rain dengan selamat, Nek." Kenan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Bersamaan dengan itu ponsel Rain berdering. Rain berjalan menuju kamarnya, tidak perduli ada Kenan di sana. Nenek Sania mengira Rain akan bersiap-siap dan dia mengajak bicara Kenan yang baru saja dia kenal.
"Bang, Lo jadi kakak becus nggak sih! Lo pikir gue mau apa dianter sama Kenan?" protes Rain saat panggilan terhubung.
Orang yang menelponnya itu adalah Rean. Lelaki itu bahkan belum mengatakan apapun.
"Pulang! Gue nggak mau berangkat sama dia!"
Rain mematikan teleponnya secara sepihak. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Rean berbicara.
Setengah jam berlalu dan Rain masih berbaring di atas ranjangnya tanpa melakukan sesuatu. Rain tidak perduli ada Kenan dibawah sana.
Cklek ...
Suara pintu terbuka membuat Rain menoleh. Memperlihatkan wajah Rean yang terlihat ... Begitu lelah?
Apa memang banyak banget kerjaan yang dia kerjakan hari ini?
"Dimana lelaki menyebalkan itu?"
"Sudah pulang, baru saja. Saat gue dateng dan bujuk dia karena Lo marah." Rean duduk di tepi ranjang milik Rain.
Gadis itu menjepit hidungnya dengan jari jempol dan telunjuk. Satu tangannya mendorong tubuh Rean.
"Bau banget! Mandi gih. Lo habis ngapain!"
Tanpa menjawab Rean segera membuka kaosnya yang basah karena berkeringat. Menampilkan perutnya yang seperti roti sobek. Rain susah payah menelan salivanya.
"Lo kenapa?" tanya Rean menyeringai.
"E--enggak! Lo mandi sana!" titahnya.
"Lo terpesona ya sama gue?" Rean mendekatkan wajahnya.
"Abang!"
Rean terkekeh dan berlalu ke kamar mandi. Rain melepas jepitan hidungnya dan menyemprotkan pengharum ruangan untuk menghilangkan bau badan Rean tadi.
"Habis ngapain sih dia! Sampe lelah gitu!" gumamnya.
Rain menunggu Rean dengan duduk di ranjang. Kedua kakinya bersila dan tangan menopang dagu dengan siku yang bertumpu di pahanya.
Pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Rean memakai bathrobe yang membungkus tubuhnya. Lalu rambut yang basah dia keringkan dengan handuk kecil. Membuat kedua mata Rain tidak berkedip. Pemandangan ini terlalu sempurna untuk dia lewatkan.
Dia tidak menyangka jika Rean benar-benar lelaki idaman dengan tubuh yang banyak di dambakan kaum perempuan.
"Lo kesambet?" Tanpa Rain sadari Rean sudah berada di hadapannya.
"Ha?" Rain segera tersadar dari lamunannya."Enggak! Buruan deh gue capek nungguin Lo dari tadi!" Rain mengalihkan pandangannya. Dia sudah tidak kuat menatap Rean dengan penampilan seperti itu.
"Gue ganti baju dulu. Lo siap-siap!"
Rain bernapas lega saat Rean sudah keluar. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena saat Rean berada dihadapannya tadi napasnya terasa tersendat-sendat.
"Gila sih ini. Kalau dia bukan Abang gue udah gue kekepin!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
HNF G
wajar, dia kan aslinya bukan rain, tp lea, yg gak ada hubungan darah sama rean😅😅😅
2024-06-09
2
Zanzan
aneh ih...
2024-05-24
0
Fifid Dwi Ariyani
trussehat ku
2024-02-08
1